
Ervan menatap Adelia yang sekarang terlihat sangat menyedihkan, “kau siap untuk mendengar ceritaku?” tanya ervan tidak yakin. “ceritanya sedikit menyakitkan, kalau kau belum siap aku akan menceritakannya nanti” lanjut ervan.
“iya” Adelia menatap Ervan dan tidak menyembunyikan linangan air matanya yang tiba tiba saja sudah melesat jatuh tanpa izin. Entah untuk alasan apa air mata gadis itu jatuh, “Apa yang terjadi padanya sehingga dia meninggal? Sambung adelia.
Ervan menatap sendu gadis yang menangis di depannya, mengingat bagaimana Lana mati, dia kembali mengingat kenangan buruk yang dia saksikan saat itu.
*Flashback On*
“Kak Alva!” teriak Lana dengan senyum yang merekah di bibirnya.
Dari sebrang jalan Alva melambaikan tangannya sambil tersenyum pada gadis itu, pria itu mengisyaratkan ponsel yang sedang dia tempelkan pada telinga, bahwa dia sedang menelpon dan tidak bisa berbicara.
Lana yang mengerti dengan isyarat alva mengangguk cepat, setelah itu alva mulai fokus berbicara dengan kliennya melalui telepon.
Pria itu tidak sadar dari arah kejauhan ada Mobil yang mengarah padanya, entah si supir sedang tertidur atau karena kesengajaan, mobil itu mengarah cepat kearah alva, alva yang kebetulan membelakangi Lana tidak sadar akan keberadaan mobil itu.
“Kak Alva!” Teriak lana kencang, tapi alva tidak mendengarkan dan masih fokus berbicara dengan orang yang ada di dalam telepon.
“Kak Alva! Alva” baru pada panggilan ketiga Alva menoleh, namun semua sudah terlambat, yang alva saksikan adalah Lana menghadang mobil itu hingga tubuh alva tidak terkena dengan mobil itu.
Mata alva terbelalak kaget, gadis yang dicintainya tertabrak mobil di depan matanya karena berusaha melindungi dirinya.
“LANA!!!” Teriak Alva, pria itu berlari kencang ke arah Lana yang sudah terkapar di jalanan dengan darah sudah mengalir deras keluar dari tubuhnya.
*Flashback Off*
“Apa yang terjadi pada nya?” ulang adelia karena Ervan baru saja masuk dalam lamunannya mengingat kematian Lana yang juga dia saksikan.
Ervan menoleh ke arah Adelia, Wanita yang saat ini sudah tidak bisa berbicara apapun lagi. “Lana Antonio adalah gadis yang sangat alva cintai, gadis yang memberikan alva semangat untuk hidup, kau tau orang orang seperti kami ini sebenarnya sudah tidak mempunyai semangat hidup lagi, Alva sudah harus belajar mengurus bisnis milik keluarganya sejak dia berumur 10 tahun, umur dimana orang orang masih bermain bersama teman teman sebayanya tapi Alva harus menanggung kesalahan orangtuanya untuk mengemban sebuah warisan keluarga, papa Alva tidak memiliki hak untuk warisan dari orang tuanya karena dia menikah dengan wanita yang bukan pilihan orang tuanya, tapi karena hanya ada papa alva seorang yang menjadi pewaris, hak waris jadi di alihkan pada alva, kakek alva yang sudah sangat tua mulai mengajarkan alva dengan sangat keras, dan kedua orang tuanya tidak bisa melakukan apapun, bertemu dengan Lana adalah sebuah warna baru dalam hidup alva, dia gadis periang yang suka mengganggu alva dan tidak kenal lelah mengejar alva, dia adalah cinta pertama alva, mungkin karena itu juga alva tidak bisa menggantikan posisi lana dengan orang lain”.
Satu tetes air mata adelia kembali jatuh, ternyata itulah rahasia besar yang selama ini Alva simpan, bahkan mungkin sampai saat ini alva masih sangat mencintai gadis itu, dan tidak bisa melupakan cintanya pada gadis itu, “jadi Lana lah yang juga menjadi alasan kenapa alva tidak bisa mencintai wanita lain? Dia lebih memilih hidup dengan kesendiriannya dan juga status pria tidak normal?”
Ervan menganggu, Pria itu tersenyum miris menatap adelia yang terlihat sangat rapuh, “Menurut Alva, Lana mati karena kesalahannya sendiri, dia tidak bisa menjaga lana dengan baik, Alva menyalahkan dirinya sendiri bahkan sampai saat ini, itulah kenapa alva tidak bisa membuka hatinya untuk wanita manapun. Bahkan ia berpikir, jika saja dia bisa jatuh cinta dengan wanita lain, apa Lana akan memaafkannya, padahal aku sangat tau, Alva belum sama sekali mengungkapkan perasaannya pada gadis itu, dan itu membuat penyesalannya semakin menjadi” ujar ervan.
Mereka berdua diam beberapa saat, Adelia memang sudah tidak bisa lagi mengatakan apapun hanya diam dan mendengar semua cerita ervan tentang Lana dan Alva. Apa yang harus dia katakan sekarang pun dia tidak tau, bahkan dia sendiri masih sibuk menangani perasaannya sendiri.
Apa dia harus senang menerima kenyataan jika alva yang selama ini dia kenal adalah pria normal? Atau dia harus sedih mendengar jika pria itu begitu sangat mencintai Lana? Tapi kenapa? Adelia bingung dengan perasaannya sendiri saat ini, begitu banyak kejutan yang adelia dapatkan dari mulut Ervan.
“Adel~ adelia” panggil Ervan pelan, karena wanita disebelahnya yang sedang melamun.
“Ya?” jawab adelia pelan.
“Apakah kau mau membantuku?” tanya Ervan sambil tersenyum pada Adelia.
“Apa?” bukannya menjawab tapi adelia malah bertanya balik.
“Alva, dia banyak mengalami masa yang sangat sulit, dia mempunyai orang tua tapi seperti tidak memilikinya, sejak umur 10 tahun pria itu harus tinggal bersama kakeknya dan mulai belajar tentang cara berbisnis, karena hanya dia satu satunya pewaris dia harus mampu menanggung itu semua, kalau dia tidak bisa maka akan banyak orang yang kehilangan pekerjaannya, kau bisa bayangkan bagaimana kehidupan seorang anak 10 tahun yang harus mengemban tanggung jawab besar di pundaknya, seorang anak yang harusnya bermain tapi sudah sibuk mengurusi tumpukan berkas berkas pekerjaan yang seharusnya bukan dia yang mengerjakan itu, alva baru bebas dari kekangan kakek nya saat kakeknya meninggal dan mewariskan semua harta warisan padanya, di saat itu baru kedua orang tua alva boleh muncul dihadapan alva, mereka baru membantunya, tapi sayang, Alva sudah berubah menjadi pria dingin dan pendiam, dia dipaksa harus menjadi dewasa disaat umurnya yang masih kanak kanak” ujar ervan.
Adelia menatap bingung ke arah ervan, dia bingung dengan arah pembicaraan Ervan. Terlebih pembicaraan itu sangat panjang dan memusingkannya.
...🎤🎤🎤🎤🎤...