
“Berhenti disana Nara!!” Teriak Ervan sekali lagi.
Lagi-lagi tubuh Nara bekerja seperti budak yang mampu mengikuti semua perintah pria itu. Nara dapat mendengar saat bunyi sepatu menghentak lantai koridor, setelahnya dia tertarik memutar ke arah pria itu. Mereka berada dalam satu pandangan mata lagi. “Siapa yang menyuruhmu untuk berhenti?” suara Ervan terdengar sangat mengerikan saat ini.
“Kak___ aku?” Nara tampak tidak mengerti dengan ucapan Ervan.
“Aku tidak akan membiarkanmu berhenti, coba saja jika kau bisa”.
Setelah kalimat itu, Ervan dengan cepat membungkam bibir wanita di depannya. Matrial lembut keduanya bergerak saat Ervan menuntut bibir Nara agar terbuka membalas ******* bibirnya, tangan wanita itu mengepal kuat di permukaan dada Ervan saat pria itu mengulum bibirnya semakin dalam. Nara bisa merasakan getaran aneh itu lagi di tubuhnya, sama seperti saat bibir itu menyatu dengan bibirnya untuk pertama kalinya di rumah sakit dua tahun yang lalu.
Nafas pria itu tercekat diwajahnya, begitupun dengan dirinya, mereka masih dalam jarak yang begitu dekat. Nara masih memejamkan matanya, membiarkan sapuan nafas hangat pria itu menerpa kulit wajahnya.
“Jangan pernah berhenti mencintaiku” ujar Ervan memberi perintah.
Entah dorongan dari mana kepala Nara mengangguk. Tubuhnya terasa membeku dan menyengat di waktu bersamaan saat pria itu memeluknya begitu erat. Dengan sendirinya tangan Nara terulur membalas pelukan pria itu, menyeruakan wajahnya di dada Ervan. Merasakan bagaimana bahagianya saat pria itu mencium puncuk kepalanya.
“Menikahlah denganku” ujar Ervan terdengar sangat tulus dan tegas.
...🎺🎺🎺🎺🎺🎺...
“Sayang sayangnya mommy, ayo ganti baju dulu” Adelia tertawa bahagia melihat kedua buah hatinya yang sedang asik belajar makan sendiri, Wanita itu mengganti pakaian kedua anaknya secara bergantian, karena keduanya sudah belepotan dengan makanan.
Sesekali Adelia mencubit gemas pipi Axel dan alana bergantian, mengajak kedua buah hatinya bercanda hingga menghasilkan kekehan dari bibir itu. Axel putra pertamanya yang lahir lebih dulu, memiliki wajah yang lebih mirip dengan dirinya disbanding Alva, sedangkan Alexa putri pertamanya yang lahir setelah Axel lebih banyak mengambil wajah Alva. Tapi walau begitu kedua anak anaknya tetap terlihat tampan dan cantik serta sangat menggemaskan, walau wajah yang dipakai mereka bertolak belakang dengan orang tuanya.
“Alexa! Jangan lari sayang!” Adelia sedikit kesusahan jikamengatur putrinya, entah keturunan siapa bocak kecil itu sedikit lebih sulit diatur, liat saja sekarang dia malah berlari dengan hanya menggunakan celana pampers nya, padahal Adelia hanya meleng sedikit saja untuk mengurus abang Alexa. Untung saja ada babysitter yang membantu adelia kalau tidak dia akan kesulitan menjaga kedua bocah yang masih berumur 1 tahun lebih.
“Hup, tertangkap” Alva yang baru keluar dari kamar mandi segera menangkap putri kecilnya yang sedang berlari kecil, “Ganti baju dulu baru lari lari cantik” lanjut alva sambil mendekat ke arah adelia yang sedang memakaikan baju Axel.
Alva ikut duduk di sebelah adelia sambil mengusap puncak kepala adelia dan memberikan kecupan singkat pada pipi wanita itu. “ini dia si putri nakal sayang” kekeh alva sambil menyerahkan Alexa pada Adelia, putri kecil itu ikutan tertawa saat daddy nya memberikan dia pada mommy nya.
“Kenapa putra kita tampan sekali sayang, dan putri kita cantik” tanya alva saat Axel sudah diserahkan padanya.
“Karena bibit unggul” jawab adelia sambil tertawa kecil.
“Apakah sudah siap?? Kita pergi sekarang?” tanya Alva.
“ayo” angguk adelia yang sudah siap mendandani putri kecilnya.
.
Jadi di sinilah mereka berempat pergi, di sebuah supermarket di dalam salah satu mall milik Alva. Keranjang troli yang Alva dorong sudah hampir penuh terisi oleh beberapa belanjaan. Di dalam sana juga ada Axel yang duduk manis sambil mengutak ngatik mainan robotnya. Sementara Alexa tidak mau dilepas dari gendongan daddy nya. Memang alexa sangat dekat dengan daddy Alva sedangkan Axel dekat dengan mommy Adelia.
“Apa lagi yang harus kita beli?” tanya alva.
Troli yang Alva dorong terlihat berbelok kearah kiri melewati rak-rak makanan menuju kasir, tanpa sengaja Alva membiarkan trolinya menabrak troli lain dari arah yang berlawanan.
Sebuah tabrakan kecil tanpa menimbulkan kecelakan itu membuat ke-empat orang dewasa yang berdiri di sana diam beberapa saat. Tidak bisa di pungkiri, keterkejutan tampak terlihat jelas di sana. Terlebih pada diri Alva dan juga salah satu pria di hadapannya.
“Van?”
“Alva”
Terlepas dari pandangan kedua pria itu, Adelia justru terlihat senang menemukan keberadaan sahabatnya di sana. Kedua wanita itu terlihat berpelukan sebentar. Meskipun kerja di butik yang sama intensitas pertemuan mereka menjadi berkurang sejak adelia melahirkan. Nara sibuk membantu ayahnya dan juga mengurus butik adelia, sedangkan adelia sibuk mengurus si kembar, bisa dihitung pakai jari intensitas pertemuan mereka dalam 1 bulan. Hal itu tentu saja menimbulkan rindu dari keduanya.
“Hai kembarnya auntie kok makin lucu sih” Nara berseru lucu menyapa pria kecil di dalam troli keranjang belajaan dan gadis manis dalam gendongan Alva. Di sana Axel dan Alexa tampak tersenyum menggemaskan yang mengundang Nara mencubit pipi tembem mereka satu persatu.
“Anakmu?”
“iya” Alva menjawab cepat pertanyaan pria di depannya. Rasanya aneh saat suasana canggung terjadi diantara mereka. “Kau ada waktu Van?”
“kenapa? apa perlu kita berbicara sebentar untuk melepas rindu?” Ke-empat orang di sana tampak tersenyum bersamaan. Ervan terlihat tidak berubah.
...🎤🎤🎤🎤🎤...
“Bagaimana kabarmu?” Alva memulainya lebih dulu. Disini mereka sekarang, di tempat yang sama seperti terakhir kali mereka bertemu. Taman depan apartemen milik alva.
Tidak ada keberadaan Adelia ataupun Nara di sana. Mereka hanya berdua tanpa kedua wanita itu. Setidaknya Alva dan Ervan memerlukan waktu untuk berbicara tanpa adanya orang lain.
“Baik. Sangat baik.”
Alva tampak mengangguk. Dia menyesap kopi di tanggannya tanpa mengalihkan pandangannya pada Ervan. Pria yang saat ini justru menatap lurus kearah taman yang sudah dia rindukan, tampak tidak banyak yang berubah dari taman itu selama 2 tahun dia tinggalkan.
Ervan bukannya tidak mau menanyakan kabar pria itu. Dari apa yang sudah dilihatnya, Alva tampak terlihat hidup dengan baik. Tidak di pungkuri, Ervan senang melihat hal itu.
“Maafkan aku” Suara Alva terdengar lagi.
Kali ini pria itu ikut mengalihkan pandangannya ke arah taman yang sama seperti yang Ervan lakukan. Malam ini seperti malam yang sama saat mereka terakhir bertemu.
“Rasanya sangat aneh memiliki suasana seperti ini denganmu”.
Pria itu menoleh kesamping tubuhnya, di sana Alva juga ikut menatapnya. Entah siapa yang memulai, lekukan bibir keduanya nampak terlihat jelas di wajah Alva maupun Ervan.
Ekspresi wajah itu menjadi jawaban akhir. Ketika senyuman terlihat di wajah kedua pria itu, saat itu mereka tahu, semua masalah di antara mereka telah berlalu.
...🥍🥍🥍🥍🥍...