
Saat ketiga anak itu menemukan jalan buntu di depannya, Dimas dengan buru-buru menaiki sofa yang saat itu menjadi penghalang kemana lagi dia harus lari. Sementar Axel dan Alexa terpojok di sana, lebih tepatnya di bawah sofa, di depan Ervan yang sudah menujukan mulutnya terbuka lebar.
“Uncle akan memakan kalian Aaaa!!” Ujar Ervan dengan berpura pura layaknya harimau yang sedang mengaum.
PLTAK!!
“Aaww!!” Ringisan itu keluar dari bibir Ervan. Kepalanya mengadah ke atas dimana dia yakin pukulan itu berasal dari sana.
Di sana tampak terlihat Dimas berdiri di atas sofa dengan sebuah remote Tv di tangannya. Ervan yakin, benda itu yang baru saja menghatam kepalanya hingga berdeyut sakit. Bukan bantal atau benda lembut lainnya yang digunakan Dimas untuk melindungi kedua adiknya, tapi itu adalah remote tv bayangkan betapa kerasnya bend aitu jika di pukulkan dengan kuat ke arah kepala.
“Haaaa? kenapa memukul Uncle?” ringsis Ervan kesakitan dia yakin sebentar lagi kepalanya akan benjol.
“Uncle mau memakan Axel, aku tidak akan membiarkannya terjadi” ujar Dimas dengan polosnya.
“Wahhh gila bocah ini, aku kan hanya bercanda. Lagi pula dia yang menyuruhku melakukan ini” Ervan merutuk bodoh kelakukannya sendiri. Sepertinya ide bermain dengan ketiga anak ini bukalah ide bagus, buktinya belum apa apa dia sudah mendapatkan benjolan di kepala. “Kalau begitu Uncle akan memakanmu saja” sambung Ervan dan mengarah pada Dimas.
“Aaaa…”
Dimas dengan cepat loncat dari atas sofa, Dimas segera berlari mencari pelindungannya sendiri, mejauh dari kejaran Ervan. Pria itu tampak terlihat seperti balas dendam. Ervan benar-benar mengejar Dimas. Astaga dia kekanak-kanakan sekali.
“Jangan uncle! Jangan..” Dimas dengan cepat berlari menghindari Ervan. Mulutnya tidak berhenti berteriak seolah-olah dia benar-benar akan di makan. Matanya bergantian menoleh ke depan dan ke belakang, saat matanya hanya tertuju pada jarak antara dirinya dan Ervan, Dimas tidak melihat arah di depannya.
“akkhhhh!!” teriak Keanu.
YOU LOSE
Layar datar besar di depan Keanu dan Alva menunjukan pernyataan itu dari sisi kiri tepat di jajaran tubuh Keanu.
Pria itu kalah lagi.
“Aku hampir mengalahkannya.” Keanu berujar dengan sangat menyedihkan, dia tampak mendramatisir keadaanya. Disamping tubuhnya tampak Dimas yang diam berdiri dengan wajah polos tak berdosa, tanpa menyadari jika kekalahan ayahnya adalah karena ulahanya yang menabrak tubuh Keanu, membiarkan stick game di tangannya lepas saat tubuhnya di tubruk cukup kuat oleh anaknya sendiri.
Sedangkan Ervan mendelik-delik ke segala arah menghindari dirinya disalahkan. Dengan mengendap-ngendap Ervan mencoba menjauh dari lingkup mengerikan itu.
“Akkkhhhh!!!”
“Oh astaga.” Ervan memegang dadanya sendiri. Teriakan itu berhasil membuat jantungnya hampir copot. Dia menoleh kebalik tubuhnya, Keanu tidak tampak mengarahkan teriakannya kepada Ervan, pria itu justru terlihat menunjukan raut wajah frustasinya. Entah kepada siapa. “wahhh dia berlebihan, hanya kalah bermain game dia sudah tampak terlihat seperti orang gila” Ervan berguma dengan suara yang begitu pelan.
Tidak akan ada yang mendengarnya, kecuali satu orang. Axel, bocah itu sudah terlihat berdiri disamping Ervan yang posisinya masih dalam keadaan merangkak. Membuat wajahnya dan wajah Axel terlihat sejajar.
“Oh astaga, bocah ini mengejutkanku.” Ervan berguma sendiri tanpa di mengerti oleh pria kecil disampingnya.
“Jangan berlari-lari seperti itu. Lihat Ayah kalah lagi” peringat Keanu pada Dimas.
“Jangan mengomeli anakku”.
“Aww, yank yank sakit yank…” Keanu meringis memegang telinganya sendiri yang dalam jeratan tangan Fira. Tarikan wanita itu pada telinganya tidak main-main. “A-a-a.. sayang itu sakit” ulang Keanu.
“Katakan”
“Baik sayang baik, aku yang salah. Maafkan aku”.
“Tanpa Dimas menabrakmu, kau pasti akan tetap kalah ditangaku Keanu” kekeh Alva.
“Aish, diam kau Alva!!” protes Keanu.
“Mereka itu sebenarnya sedang apa? kenapa ribut sekali?” Adelia hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Nara. Tangannya sibuk menata sushi ke atas piring.
“Kau akan lebih sering melihatnya saat mereka berkumpul seperti itu” ujar Adelia santai.
“Benarkah? sepertinya aku akan mati berdiri jika hal itu benar-benar terjadi.”
Nara membeo tidak dengan sungguh-sungguh. Keduanya sama-sama terkikik geli. Berbeda dengan Adelia yang sibuk menata sushi, Nara memiliki kesibukan mengaduk sup yang hampir mendidih diatas kompor.
“hei! itu kotor Ervan!” Nara yang posisinya membelangi Adelia terundang oleh suara itu. Di sana, di meja counters dapur, Adelia terlihat sedang memarahi Ervan yang mencomot sushi dengan tangan kosong tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.
Pemandangan itu cukup terlihat aneh jika dilihat dari masa lalu pria itu. Tidak bisa di pungkiri, Nara merasa cukup takut dengan kedekatan Adelia dan juga Ervan. Bagaimanapun, pria itu pernah menaruh hati pada sahabatnya. Bahkan sampai saat inipun, Nara tidak tahu bagaimana perasaan pria itu terhadap Adelia sekarang. Apa Ervan masih mencintainya?
“Aku hanya mencintaimu sekarang. Singkirkan pikiran licikmu dari sana.” Entah sejak kapan, pria itu sudah berdiri di sampingnya, tangannya mengetuk-ngetuk kecil di atas kepala Nara, mendorong pikiran buruknya agar menyingikir.
“Kau membaca pikiranku lagi Ervan” gerutu Nara berpura pura kesal.
“Aku bisa menebaknya dengan mudah. Matamu berbicara di sana.”
“Cih, kau mau membodohiku”.
Tidak hanya Ervan, Adelia ikut tertawa di sana. Wanita itu, sampai saat inipun masih bingung mengenai kemampuan pria itu yang kadang terlihat menakutkan. Adelia juga pernah mengalami hal yang sama seperti Nara saat pria itu masih sering berkeliaran di sekitarnya. “Aku curiga kau memiliki kekuatan supranatural” ujar Adelia curiga.
“Benar! kau juga berpikir seperti itu Adel!” seru Nara cepat.
“Hmm.” Adelia mengangguk pasti. Pria yang dibicarakan hanya diam tak memberi respon apapun. Hanya saja ekspresinya menunjukan susuatu, kebanggaan pada dirinya sendiri.
“Pria ini menyebalkan” gerutu nara lagi.
“Tapi kau mencintaiku” Ervan berbisik penuh percaya diri di depan wajah Nara yang jaraknya begitu dekat. Tanpa mempedulikan orang lain di sekitarnya, pria itu mengecup bibir Nara.
“Astaga, mataku sakit” teriak Adelia kesal.
“Jika begitu pergi dari sini” usir Ervan.
“Ini dapurku Ervan” Protes Nara.
“Ini dapur mantan kekasihku” balas Ervan tidak mau kalah.
“Wooiii!!! Jangan pernah ungkit itu lagi!” teriak Alva dari belakang Adelia.
Mereka berempat lalu tertawa serentak mengingat kebodohan mereka tentang rumor gay antara Alva dan Ervan.
...🥰END🥰...