
*Flashback On*
Ervan menatap Alva yang sedang memegang dokumen kerjanya, Pria itu duduk dan sedikit menimbulkan suara keras agar Alva menyadari keberadaannya.
“Mau sampai kapan kamu di sini Al?” sindir Ervan.
Alva menutup dokumen pekerjaannya dan menatap Ervan serius, “emang kenapa?” tanya balik Alva.
“kau disini terus apa kau tidak merindukan istrimu?”
Alva diam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Ervan, “Aku masih sakit, aku tidak mau membuat adelia khawatir”.
“Benarkah kau takut membuat khawatir adelia atau jangan jangan kau sedang menghindari adelia, menghindar dari perasaan yang kau rasakan untuk gadis itu?” sindir Ervan.
“Van apa yang kau bicarakan! Aku tidak mencintai adelia” elak Alva.
Ervan tersenyum sinis, “Benarkah? Apa kau yakin kata kata yang kau sampaikan pada Jeremy adalah kebohongan, apa kau akan terus menyangkal itu alva? Jangan hidup untuk bayangan masa lalu alva, mulailah hidup dengan baik bersama gadis itu” ujar Ervan sengaja mengungkit masa lalu alva dan menyindir kejadian beberapa hari yang lalu.
“kau gila, aku tidak mencintai dia” elak Alva sekali lagi.
“kalau begitu belajarlah untuk mencintai adelia, kau tidak bisa selamanya hidup dalam bayang bayang masa lalu, Dia sudah lama mati kau tidak bisa terus hidup hanya menetap dan melihat kebelakang! Kau masih hidup alva!” bentak Ervan.
“Tutup mulutmu Ervan! Aku tidak bisa melakukan itu!” bantah Alva.
“Cukup alva, dia hanya masa lalu-mu, dia sudah mati! Kau tidak seharusnya membawa masa lalu untuk masa depanmu, hidup itu terus berjalan alva! Apa selamanya kau dan adelia hidup tanpa cinta? Apa kau yakin wanita itu akan tetap ada di sisimu jika kau masih menyangkal perasaanmu?” Sindir Ervan sekali lagi.
“berhenti van” Alva memandang Ervan sendu, “kau bahkan tau bagaimana perasaanku, aku tidak boleh menyukai adel” sambung alva.
“Kenapa tidak boleh? Kau hanya berjanji pada dirimu sendiri, dia bahkan sudah tidak ada lagi di dunia ini dia sudah mati, kau harus sadar itu Alva!” amuk Ervan, dia tau Alva tidak bisa selamanya hidup dalam bayang masa lalu, maka dari itu ervan ingin membuka kembali lembaran yang membuat Alva sakit, agar Adelia bisa menyembuhkan pria itu.
“Baik itu benar! Dia sudah mati dan itu karena kesalahanku! Aku yang sudah membuatnya mati dari dunia ini! itu kan yang ingin kau katakan padaku!” Lirih alva.
“Al, aku tidak pernah mengatakan itu, aku hanya ingin sahabatku bahagia dan bisa bahagia, kau masih hidup alva, kau belum mati, kau berhak untuk mendapatkan kebahagiaan, jangan menyalahkan dirimu terus atas kematiannya” Ervan kini merendahkan nada suaranya melihat wajah alva yang sendu.
Alva menggeleng pelan sambil menutup wajahnya pria itu frustasi, “karena kesalahanku, itu semua karena kesalahanku, dia mati karena aku” lirih Alva berulang kali.
*Flashback Off*
Ervan baru saja menceritakan pembahasannya semalam pada adelia, pria itu menunggu tanggapan Adelia yang sedang mencerna ceritanya.
“Dia?” Adelia akhirnya membuka mulutnya ragu, “dia siapa?”
Ervan menoleh lagi ke arah Adelia setelah tadi menceritakan sepenggal kejadian dirinya bersama Alva semalam di apartemen miliknya. Perdebatan dengan pria itu yang berhasil mengundang kemarahan Alva dan membuat pria itu pergi begitu saja dengan kemarahan.
Adelia membeku di tempatnya, Dunianya seakan berhenti berputar saat itu juga.
Tunggu! Apa? Jadi maksudnya Alva mencintai seorang wanita. Apa dia tidak salah dengar?
“Alva? Alva mencintai seorang wanita?” Adelia bergumam lirih dalam pertanyaannya. Begitu pelan, jika saja Ervan tidak benar benar berada didekatnya, mustahil jika pria itu bisa mendengar ucapan Adelia. Matanya menerawang kosong dalam kesadaran yang tak sepenuhnya utuh. Dia mulai merasa tubuhnya melemas.
“Kenapa? Alva adalah seorang pria, wajar bukan jika dia mencintai seorang wanita” ujar Ervan seolah olah itu memang hukum pasti.
Tapi ucapan ervan rasanya terdengar tidak wajar di telinga adelia, Adelia mengernyitkan keningnya, Wanita ini merasakan nyawanya pergi dari dalam raganya sendiri. Sesuatu yang adelia mustahil kan justru terjadi tanpa dia duga, karena selama ini rencana yang dia lakukan selalu gagal, ‘Apa dia memang benar benar normal? Atau aku yang tidak memiliki daya tarik’ lirih adelia dalam hati.
Adelia menggelengkan kepalanya pelan, Apa yang sebenarnya terjadi, bukankah mengharapkan pria itu menjadi normal memanglah harapan adelia, dan saat harapan itu benar benar terjadi, adelia merasakan ketidak percayaan itu sendiri, itu terlalu mustahil baginya.
Tunggu, Adelia menyadari sesuatu, Jika Alva mencintai wanita itu sejak lama bahkan sebelum dirinya masuk dalam kehidupan pria itu, itu artinya?
“Kalian menipuku!” Pekik adelia setelah sadar dengan pemikirannya sendiri.
“kami? Apa?” Entah berpura pura atau memang pria ini tidak tahu arti dari pertanyaan Adelia. Ervan hanya membeo polos.
“kau pura pura tidak tahu! Kau telah menipuku dengan mengatakan kalian pria tidak normal kalian seorang gay!” Pekik adelia kesal.
Ervan diam beberapa detik, dan menatap Adelia dengan tatapan tak terbaca, “aku tidak pernah mengatakan hal itu begitupun dengan Alva”.
Adelia menghela nafas panjang, pundaknya merosot jatuh. ‘benarkah seperti itu?’ adelia membatin. “lalu berita itu? Rumor tentang kalian?”
Ervan tersenyum kecut, “itu berita yang hanya kau percayai sendiri sama seperti orang orang di luar sana” aku ervan.
Jadi maksudnya selama ini adelia yang sudah salah menuduh dan salah paham dengan rumor itu tanpa adanya bukti yang benar, “Setidaknya kau memberitahuku kebenarannya” lirih adelia.
“Apa kau akan percaya?” tantang Ervan.
Adelia mematung lemas. Benar, apa dia akan percaya jika ervan ataupun Alva memberitahunya. Adelia bahkan tidak yakin akan hal itu. Tentu saja dia akan lebih percaya berita berita itu dari pada ucapan yang keluar dari mulut kedua pria itu.
“kau bahkan tidak pernah menanyakan itu berita benar atau bohongan pada kami” kata Ervan lagi.
Sekali lagi, Adelia merutuki kebodohannya. Semua yang Ervan katakana memang benar. Adelia bahkan sama sekali tidak mencari tahu sendiri bahkan hanya sekedar bertanya tanya. Dia hanya jadi orang bodoh yang mempercayai berita itu tanpa bukti dan dia juga yang tiba tiba melamar Alva.
“lalu sikap kalian berdua? Kemesraan yang selalu kau tunjukkan?” tanya adelia.
Dengan senyum kecil, ervan menanggapi pertanyaan wanita itu. Ervan rasa adelia terlalu polos dan mudah dikerjai, “Aku hanya melakukannya di depanmu”.
...🎺🎺🎺🎺🎺...