
Sudah dua hari Alva tidak pulan dan itu membuat adelia semakin berpikiran negatif tentang alva dan Ervan. Sekarang sudah malam dan kembali alva belum pulang, “sebenarnya apa sih yang sedang mereka berdua lakukan” gerutu adelia memikirkan alasan kenapa alva tidak pulang dan memilih menginap di rumah Ervan.
Biasanya adelia tidak akan se khawatir itu menunggu alva pulang, bahkan saat alva beberapa kali pulang tengah malam adelia bersikap biasa saja, ditelepon alva bilang ada masalah.
‘Apa karena aku tidak suka Ervan datang kesini makanya dia sedang menenangkan Ervan di apartemen milik pria itu?’ tebak adelia dalam hati.
‘atau mungkin mereka lupa diri dan melakukan malam yang panas berdua?’ pikiran pikiran negative semakin berkeliaran bebas dalam otak kecil adelia. Gadis itu selalu curiga dengan Ervan dan selalu menganggap pria itulah penyebab masalah Alva, memang apa yang salah dengan Ervan? Dia selalu mendapat cap buruk dari adelia.
Oh.. jangan lupakan itu semua karena Ervan mengaku menjadi pasangan hidup alva, makanya adelia sudah berpikiran buruk tentangnya.
‘Apa mereka benar benar melakukannya? Apa untuk menenangkan ervan yang cemburu padaku, Alva harus melakukan hubungan itu?’ adelia cepat cepat menggeleng dan memukuli kepalanya sendiri karena telah memikirkan hal negative sekali lagi.
“astaga tidak! Jangan berpikir macam macam adelia!” teriak adelia histeris layaknya orang yang tidak waras akibat ulah fantasinya sendiri. Rambutnya sudah tidak lagi tertata rapi, malah terlihat lebih mengerikan. Dia bertanya dan dia sendiri yang menjawab, bayangan adelia terlalu liar dan vulgar serta sangat berlebihan. ‘Bagaimana aku bisa memikirkan hal itu?’ batin adelia berteriak.
Gadis itu mengipas ngipas dirinya sendiri, merasa sangat kepanasan sekarang, otaknya seperti sedang mengeluarkan asap yang tebal, Adelia butuh minum untuk menetralkan pikiran buruknya. Beranjak dari atas tempat tidur lalu keluar kamar mencari sesuatu yang dicarinya. Air, Adelia meraih satu botol air mineral di dalam lemari pendingin dan langsung meneguknya seperti orang kesetanan tanpa sisa.
Dengan kesal dia membanting botol kosong itu ke arah tempat sampah yang sayangnya justru mendarat bebas di lantai. Tanpa memperdulikan nasib benda itu, dia berjalan keluar dari dapur. Berharap kali ini dia bisa terlelap dan tidak lagi memikirkan pria itu.
“memangnya siapa dia?! Hah! Dasar gila dia suamimu bodoh” kembali gadis itu bertanya dan menjawab pertanyaannya sendiri seperti orang gila, kepergian alva lebih membuat gadis itu gila dibanding saat dia mengetahui Keanu selingkuh darinya.
“ahh masa bodoh dengan apa yang sedang alva dan Ervan lakukan, aku tidak akan peduli lagi, aku tidak akan peduli apapun yang mereka lakukan” gumam adelia pasrah.
“tapi kenapa otakku tidak bisa berhenti memikirkannya?” ucap adelia lagi. “sial” Adelia mengerang frustasi. Dia benar benar merasa gila sekarang. Mulutnya merutuk tanpa henti. Tetapi otaknya sama sekali tidak mau di ajak bekerja sama.
Kaki jenjang dalam balutan tubuh mungilnya mengentak tak jelas sepanjang langkah dia keluar dari dapur. Baru melewati ruang tengah adelia menghentikan langkahnya. Suara otomatis peringatan pintu apartemen yang terbuka berhasil mengundang perhatiannya untuk menoleh ke sana.
Meskipun lampu utama sudah dimatikan, tapi dalam penerangan minim dari lampu meja adelia masih dapay melihat jelas siluet alva yang berjalan masuk. Pria itu berjalan begitu saja melewati adelia dengan mata setengah terbuka. Adelia menatap bengong alva yang sudah melewatinya padahal saat itu dia berdiri di pembatas antara ruang tamu dan ruang tengah. Alva berjalan seperti tidak menyadari kehadirannya, adelia mungkin dianggap hantu oleh pria itu.
“Wuuaahhh hebat! Selain tidak punya mata hati dia juga tidak mempunyai mata untuk indra penglihatan! Tuhan benar benar adil” omel adelia yang merasa dirinya di cuekin oleh alva. Alva mungkin memang pantas mendapatkan itu karena selama dua hari sudah tidak memberi kabar pada wanita itu.
Adelia mengomel tanpa dosa, dia mengekori alva yang berjalan masuk ke dalam kamar utama mereka. Tanpa mengganti pakaiannya, pria itu membaringkan tubuhnya disisi ranjang yang memang biasa alva tempati, disisi adelia.
Tanpa ragu adelia mendekati sisi tempat tidur alva. Mengulurkan tangannya, mendaratkan di dahi pria itu. “kenapa dia panas sekali” pekik adelia tidak percaya.
Adelia kembali memastikan sekali lagi dengan tangan satu memegang dahi alva lalu satu tangannya yang lain memegang dahinya sendiri. Lalu sekali lagi dengan kali ini menempelkan dahinya di dahi alva, menyingkirkan poni keduanya terlebih dahulu agar kulit mereka bisa bersentuhan.
Beberapa detik Adelia bertahan dengan posisi itu, memejamkan matanya. Benar benar memastikan jika suhu tubuh mereka berdua memang berbeda. Setelah memastikan hasil diagnosa nya, adelia membuka matanya perlahan dengan posisi yang masih sama. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya ketika gadis itu membuka mata, matanya justru bertatapan dengan mata alva yang sudah terbuka sempurna.
Pria itu menatapnya. Tatapan yang bahkan tidak pernah adelia lihat dari mata pria itu kini terlihat jelas di sana, adelia merasa grogi dan mengerjapkan matanya beberapa kali.
‘Deg deg deg’ detak jantung gadis itu sudah mulai bergemuruh hebat.
Adelia berusaha mundur perlahan berniat untuk menjauh dari alva. Gadis itu berusaha menghalau perasaannya agar tidak kembali semakin tersesat dalam tatapan dalam milik alva. Dia harus mengontrol dirinya sendiri dari perasaan perasaan yang tak seharusnya ada. Perasaan yang dia akui akhir akhir ini selalu muncul dengan sendirinya tanpa dia inginkan dan dapat dia kendalikan.
Bukannya berhasil menjauh, justru gerakan alva yang tak terbaca olehnya berhasil menghentikan niat adelia untuk berhenti menjauh. Kepalanya tertahan akibat ulah tangan alva. Pria itu masih menatapnya dalam, tanpa sepatah katapun gerakan alva selanjutnya berhasil membuat mata adelia melebar sempurna.
Ciuman kedua mereka, ralat ciuman ketiga yang di ketahui oleh adelia. Alva baru saja melakukan ciumannya pada adelia.
‘ini yang kedua, ehh tidak yang ketiga adelia! Kau lupa ciuman saat di pernikahan’ batin adelia memberontak.
Adelia mengerjab kaku, tubuhnya tersihir seperti tidak tahu caranya bergerak. Lalu di detik berikutnya mata bulatnya terpejam, tangannya mengepal kuat di atas dada alva. Adelia menikmati ******* lembut dari bibir alva, yang menempel pada permukaan bibirnya. Alva menyesap bibir adelia dengan hati hati. Getaran aneh tiba tiba muncul ditubuh adelia. Tapi belum juga adelia mulai memikirkan apa itu, Alva sudah berhenti. Adelia membuka matanya ragu, gadis itu melirik alva yang sudah terpejam. Gadis itu bergerak kecil yang tidak sengaja menjatuhkan tangan alva yang berada di tengkuknya.
‘Suamiku pingsan’ gumam adelia dalam hati.
“WAHHH alva! Alva!” teriak adelia berkali kali tapi pria itu tidak juga membuka matanya.
...🎺🎺🎺🎺🎺...
Bonus Spoiler : Chapter besok malam pertama alva dan Adelia ditunggu ya up nya besok