Trapped in Love

Trapped in Love
78. Sadar



“Kau membutuhkan sesuatu? apa kau lapar?” Tanya Keanu.


“Tidak” tolak Fira.


Keanu terlihat lebih mendekatkan tubuhnya kearah Fira. Tubuhnya berhenti tepat disamping ranjang yang ditempati Fira, membiarkan tubuh itu duduk di kursi yang berada persis di samping ranjang.


“Terima kasih” ujar fira pelan.


Ucapan terima kasih Fira terdengar janggal di telinga pria itu. Bukankah yang seharusnya berterima kasih adalah dirinya. ‘Terima kasih kau hidup dan menyelamatkan bayi kita’ Bukankah seharusnya begitu Keanu? “Untuk apa? aku bahkan tak melakukan apapun” tanya Keanu


“Semuanya” gumam Fira pelan


“Semuanya?” beo Keanu


Fira mengangguk. Semua yang dia maksud adalah pengorbanan pria ini yang mau bertanggung jawab padanya walau belum mau menikahinya tapi dia sudah menjaganya dan hidup bersama meskipun tidak ada cinta dari diri pria itu. Melepaskan bahkan mengorbankan kebahagiannya sendiri.


Kejadian dimana dia merencanakan kejahatan pada sahabatnya dengan menyuruh kekasihnya sendiri untuk mendekati adelia itu semua adalah rencananya, dan sekarang rencananya malah membuat dia kehilangan cinta pria itu, walaupun begitu Keanu tetap mau bertanggung jawab padanya, menjaganya dan akan menikahinya, memang pernikahan mereka di tunda karena permintaan dari para orang tua, tapi setelah anak mereka lahir, pernikahan itu akan kembali dilanjutkan.


Pria ini, suaminya, Pria yang begitu sangat dicintanya. Keanu, dia terlalu mencintai pria itu. Tapi cintanya justru harus berakhir karena kesalahan yang dia buat sendiri, andai saja dia tidak memulai semua itu, mungkin Keanu akan dengan senang hati menunggu kelahiran bayi mereka, mungkin Keanu hanya akan mencintainya.


“Keanu” panggil Fira pelan.


“Apa?”


“Jika kau memiliki alasan untuk pergi karena kau tidak mencintaiku. Bolehkan bayi kita menjadi alasan untuk kau tetap tinggal?” tanya Fira.


...🎷🎷🎷🎷🎷...


Hari panjang berlalu, berganti hari yang lain. Matahari sudah menunjukkan sinarnya setinggi langit berada. Cahayanya yang tidak bisa dibandingkan dengan Cahaya apapun mampu menerangi dunia tanpa cela, menerobos masuk bahkan ke lobang kecil sekalipun.


Adelia mengerjab, berulang kali hingga retinanya mampu menyesuaikan diri dengan sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah jendela besar di samping ranjang. Wanita itu menatap ragu sekelilingnya, Sepertinya dia mengalami sesuatu yang aneh, dia seperti merasakan tidur panjang yang tak berujung. Matanya mendelik mencari sesuatu untuk ia jadikan jawaban atas segala pertanyaan yang muncul di dalam otaknya. Jam dinding tepat di depannya memberikan dia petunjuk waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi.


Jika ini pagi? Lalu kejadian siang itu? Apa semuanya hanya mimpi? Pertemuannya dengan Keanu, lalu tamparan Fira dan pertengkarannya dengan Alfa. Ucapan pria itu yang bahkan tidak ingin di dengarnya justru melekat jelas dalam ingatannya saat membuka mata.


‘Pergilah, jika memang itu yang kau inginkan mari kita berpisah’ suara Alva terus terngiang di telinganya.


Itu bukan mimpi, mereka semua nyata, Lalu bagaimana bisa dia berada ditempat itu? Adelia memejamkan matanya beberapa saat, ingatannya akan sesuatu kembali terbesit. Saat dirinya bertengkar dengan Alva, saat pria itu mengucapkan kata perpisahan, lalu pria itu mencoba pergi meninggalkannya, dan dia sendiri mencoba mencegah pria itu untuk melangkah, memanggilnya… dan tiba-tiba saja semuanya gelap. Adelia tidak mengingat apapun lagi selain itu semua. Yang dia tahu kepalanya saat itu berdenyut cukup kuat yang membuat dirinya tidak mampu bertahan untuk tetap tersadar.


Jadi apa dia pingsan? selama itu?


“Selamat pagi, anda sudah bangun?”


Adelia mengerjab lagi. Kali ini dia mencoba untuk bangun, mendudukkan tubuhnya bersandar di kepala ranjang rumah sakit saat menemukan seorang perawat masuk kedalam kamarnya.


“Biar saya periksa dulu kondisi anda.” Ujar perawat itu


“apa?” tanya adelia tidak mengerti.


Perawat itu menyuruh Adelia kembali terbaring. Mengecek beberapa bagian tubuh Adelia, dari denyut nadi hingga jantung dan bagian perut.


Ada apa dengan perutnya?


Setelah itu perawat mengecek tekanan darah, lalu selang infus. Perawat wanita itu tersenyum lembut. “Sepertinya sudah cukup membaik, nanti akan ada dokter yang memeriksa kondisi anda lebih lanjut. Apa anda merasakan sesuatu yang sakit?”


Pertanyaan Adelia yang terdengar seperti hujatan sontak membuat perawat mengulum senyum gelinya. “Nona adelia memang pingsan, suami anda sendiri yang membawa anda ke rumah sakit. Dokter memberi anda sedikit obat tidur karena kondisi anda saat itu terlihat cukup buruk sehingga anda harus memiliki istirahat cukup. Itu yang membuat nona Adelia tertidur panjang. Dan untuk masalah perut, anda tidak memiliki masalah selain bayi yang ada di dalam perut anda sekarang” jelas perawat itu dengan sopan.


“Apa? bayi?” Adelia berujar tak percaya. Sepertinya yang ini baru mimpi. Dia yakin jika dirinya belum terbangun sekarang.


“Benar bayi. Anda sekarang sedang mengandung, usia kandungannya menginjak tiga minggu” ulang perawat itu sekali lagi.


Astaga, siapapun itu tolong bangunkan aku sekarang juga. Dia hamil? anak siapa? Bodoh tentu saja anak Alva. Apa benar begitu? Bagaimana bisa? Tuhan apa boleh seperti ini?


“bagaimana? Apa kau merasakan sesuatu?”


“Tidak” Adelia mendongak kearah perawat di sampingnya setelah tatapan kosong bersama pikiran anehnya hilang. “Lalu dimana Alva?”


“Suami anda?” Tanya perawat memastikan. Adelia mengangguk. “Dia di sana” perawat itu menunjuk ke arah alva.


Kepala Adelia berputar 60 derajat tepat ke arah tangan perawat tersebut mengarah. Ke arah sofa putih rumah sakit yang saat itu ditempati seseorang untuk membaringkan tubuhnya. Alva tertidur, di sofa.


“Sepertinya Tuan Alva lelah, dia menjaga anda sepanjang malam” jelas perawat itu.


Benarkah seperti itu? Jadi Alva tidak meninggalkannya? atau mungkin belum meninggalkannya. Cepat atau lambat pria itu akan tetap pergi juga bukan? bahkan kata perpisahan sudah melesat keluar dari bibir tebal pria itu. Tapi aku hamil, Alva. Bagaimana ini? Segala macam pikiran buruk muncul daam benak adelia.


“Apa dia tahu?” tanya adelia ragu dan sedikit takut.


“apa?” gantian perawat itu yang tidak mengerti dengan ucapan adelia.


“Kehamilanku apa dia tahu?” ulang adelia.


“Tentu saja, dokter memberitahu Tuan Park Alva lebih dulu dari siapapun.”


Astaga lalu apa tanggapan pria itu? apa dia terkejut? marah? atau bahkan membenci dirinya. Tapi ini anaknya, anak kita berdua. Bukankah seharusnya kami bahagia. Tentu saja aku bahagia, sangat. Tapi pria itu?


“Nona Adel?”


“Apa? Ahh.. maafkan aku”


Perawat itu tersenyum kecil menangapi ekspresi wajah Adelia yang sepertinya kebingungan. “Sepertinya anda terkejut, dan saya rasa itu wajar karena ini kehamilan pertama anda.”


“apa?” sekali lagi adelia seperti orang bodoh dalam berbicara, mungkin karena dirinya yang terguncang.


“Apa anda memerlukan sesuatu sebelum saya keluar.”


“Tidak ada.”


“Baiklah jika begitu saya permisi.”


Adelia hanya mengangguk kecil menyahuti perawat tersebut, membiarkan wanita berpakaian putih itu menghilang dibalik pintu keluar kamar. Dia kembali lagi kesana, ke arah sofa dimana Alva berada. Pria itu terlihat cukup nyenyak dibalik selimut yang tidak terlalu tebal milik rumah sakit.


Kenapa Alva tidak pulang saja dan justru lebih memilih tidur ditempat seperti ini? apa dia merasa nyaman?


...🎸🎸🎸🎸🎸...