Trapped in Love

Trapped in Love
57. Gosip



“Tidak mau, aku sudah punya abang yang lebih baik dari pria menyebalkan dan menjengkelkan sepertimu” tolak adelia dingin.


“kenapa? Aku ini kan kakak yang sudah mempertemukan mu dengan Alva” canda ervan.


“Kau melantur Ervan” ketus Adelia, Mata gadis itu masih menatap Luna dengan pandangan yang sulit di artikan.


‘Kalau saudara kembar berarti wajahnya mirip, apa alva tidak akan mengejarnya’ adelia membatin.


Ervan tertawa kecil, kekesalan adelia selalu menjadi hiburan khusus bagi pria itu, “Tidak perlu takut, Luna tidak akan pernah bisa mendapatkan alva, kalau dia bisa sudah dari dulu alva menikah dengan Luna, walau saudara kembar mereka memiliki sifat dan temperamental yang berbeda” ujar Ervan tiba tiba, seperti bisa membaca isi hati adelia.


“Jangan membaca pikiranku pak tua cenayang” gerutu adelia.


Ervan kembali tertawa kecil, “sudah aku bilang kau sangat mudah terbaca” kekeh Ervan.


‘Apa Luna menyukai alva?’ adelia kembali membatin.


“Luna memang menyukai alva, tapi sudah aku katakan di hati alva hanya ada Lana, jadi walau pun mirip dia tetap tidak menyukai Luna” ujar ervan.


Adelia langsung menatap sinis Ervan yang kembali bisa membaca isi hatinya, “katakan padaku, kau belajar ilmu membaca pikiran dimana” sindir adelia.


Ervan kembali tertawa pelan, “kau lucu sekali adel, raut wajahmu sudah terpancar jelas kamu sedang cemburu, kenapa tidak mendekati alva saja sana, dari pada disini”


“benar juga, kenapa juga aku disini bersama pria tidak normal, dari pada bersama suamiku” keluh adelia, tapi kakinya tidak juga melangkah maju, dia masih betah di sana melihat alva dari kejauhan.


“bagaimana tawaranku kemarin? Apa kau mau menerimanya?” tanya ervan tiba tiba.


Adelia diam, dia mengingat permintaan Ervan yang belum dia jawab sama sekali dan Ervan memberikan waktu pada wanita itu untuk berpikir, ‘kan ada luna, yang wajahnya mirip dia pasti bisa membahagiakan Alva’ pikir adelia.


“Luna tidak akan membahagiakan alva, karena dia hanya akan membuat alva semakin menderita dengan rasa penyesalannya” ujar Ervan tiba tiba.


Adelia kembali menatap Ervan dengan mata menyipit.


“Aku tidak membaca pikiranmu, semua sudah terlihat jelas dari wajahmu, kamu pikir kenapa aku tidak memaksa alva untuk menikahi Luna, padahal setiap rumor beredar aku memaksa alva untuk menikah dengan wanita?”


Adelia mengangkat sebelah alisnya tanya bertanya balik pada Ervan.


“Pertama, luna hanya obsesi pada alva, aku tau wanita itu tidak mencintai alva dengan sungguh sungguh, kedua alva akan selalu dihantui rasa bersalah setiap melihat wajah luna, hanya ada mimpi buruk jika mereka bersama, ketiga karena dia bukan wanita yang baik, apa sudah jelas? Apa perlu aku menjabarkan kenapa aku memilihmu?”


“tidak perlu” dengus adelia kesal.


“beneran kau tidak mau tau? Apa kau ingin tau bagaimana perasaan alva padamu?” goda ervan.


“Cihh, bagaimana kau bisa membaca si kulkas dua pintu itu” gerutu adelia.


“Apa?!” adelia geleng geleng kepala dan menatap kesal ervan, “kau bercanda? Kau itu iblis jahat Ervan, tidakkah kau menyadari itu!” umpat adelia kesal.


Ervan terkekeh, “jaga ucapanmu sayang” tanpa ragu ervan mencubit gemas pipi adelia, pria itu hampir mencium pipinya, dia juga merangkul kembali adelia, sementara adelia hanya bisa mengerjab tak percaya, antara sadar dan tidak. Kejadian di sofa saat ervan yang tiba tiba ingin mencium bibirnya. Rasa takut kini kembali menyerang lagi, walau ervan sahabat Alva, tapi sentuhan fisik seperti itu masih membuat adelia takut, entah kenapa kalau alva berbeda.


“Jaga kelakuanmu!” suara dingin alva terdengar.


Tiba tiba saja Ervan terhempas beberapa jarak dari adelia. Alva menatap pria itu dengan tatapan membunuh. Sementara Ervan merenggut kesal karena harus di depak secara tidak sopan oleh sahabatnya sendiri. Sedangkan Adelia tersenyum meledek ke arah pria itu dalam rangkulan Alva.


Sepertinya adelia hanya asik dalam pertarungannya bersama Ervan tanpa menyadari posisinya yang dalam pelukan suaminya sendiri.


“Kau menyebalkan Alva, kau tidak liat aku sedang kesepian” gerutu ervan.


“walau kesepian tapi jangan mengambil istri orang” ujar alva dingin.


“Rasain weeekkk, salah sendiri kenapa gak bawa Nara ke sini, ya merana deh” ledek adelia.


Mereka akhirnya berakhir dengan percakapan yang membuat mereka tertawa lepas, tidak ada Jeremy dan luna, hanya ada alva, ervan dan Adelia.


Dalam percakapan hangat yang sudah berjalan lebih dari dua puluh menit itu, tiba tiba saja rusak dengan sebuah kalimat yang entah datang dari mulut siapa. Rasanya adelia ingin sekali mencabik cabik mulut itu saat ini juga, sekarang, disini. Dan sepertinya bukan hanya adelia yang ingin melakukan itu, ervan pun terlihat marah sama seperti adelia.


Adelia memfokuskan wanita yang membuatnya kesal itu, di sana ada Fira sedang berbincang dengan beberapa wanita seumurannya.


“aku belum yakin jika alva memanglah pria normal” kekeh Fira.


“benar, itu juga aku meragukannya, karena sampai saat ini tidak ada berita mengenai kehamilan istrinya” ujar wanita dengan rambut diikat seperti pramugari.


“Aku bahkan yakin pria itu tidak pernah menyentuh wanita yang berstatus istrinya itu” ujar fira penuh keyakinan.


“Aku yakin alva mungkin menikah hanya untuk menutupi status gay nya saja, kalau tidak bagaimana bisa dia menikahi seorang wanita” tambah salah satu wanita dengan dandanan paling menor.


“sayang sekali kenapa pria setampan dan sekaya dia harus menjadi pria tidak normal” lirih wanita dengan rambut diikat.


‘Sebenarnya mereka bertiga sadar tidak, jika posisi mereka berada tepat di belakang kami? Pria yang bahkan sedang mereka bicarakan hanya berada beberapa jarak saja dari mereka’ gerutu adelia dalam hati.


Percakapan ketiga wanita itu memang terlalu blak blakkan dan mengundang tamu yang juga ikut berada di dekat posisi meraka ikut mendengarkan pembicaraan itu, sebagian dari orang orang juga sadar jika Alva mendengar pembicaraan itu, ada sebagian yang menatap horror ke arah tiga gadis muda itu dan ada sebagian yang merasa iba pada mereka, ada juga yang merasa tertarik melihat apa yang akan alva lakukan pada tiga gadis yang berbicara cukup keras di acara itu.


Karena tidak ada satupun dari ketiga gadis itu yang berhenti membicarakan alva dan tidak ada yang berusaha menghentikan mereka, Adelia akhirnya kehilangan kesabarannya. Dia melangkah cepat mendekati ke tiga gadis itu. Adelia mencengkram lengan Fira dengan kuat, fira memang saat itu sedang membelakangi adelia, alva dan ervan. Fira kemudian melotot melihat adelia yang ada di hadapannya, dan juga terkejut karena melihat alva yang tegak tidak jauh dari mereka.


Ketiga wanita itu mematung, semangatnya yang menggebu gebu saat membicarakan alva lenyap tertelan bumi.


...🪕🪕🪕🪕🪕...