
Langit di SMA Hari senin yang cerah seperti biasanya. Pelaksanaan upacara berjalan lancar. Setelah
itu pelajaran langsung dimulai setelah istirahat lima belas menit. Jam pertama aku kosong dan memilih baca-baca
buku referensi di perpustakaan.
Aku masih sibuk membolak-balik buku ketika alarm pergantian jam berbunyi. Spontan aku beranjak melewati rak-rak buku. Tiba-tiba….
Brukkkk!
Aku menabrak seorang siswi yang sedang terburu-buru. Beberapa buku dalam pelukannya jatuh berserakan ke lantai.
Aku terkejut dan bergegas memberesi buku. kemudian langsung mengembalikannya seraya minta maaf.
“Maafkan Bapak. Aku tidak sengaja,” ucapanku terhenti saat melihat siswi di hadapanku.
“Jangan repot-repot, Pak. Saya yang salah.” Siswa perempuan itu mengemasi buku.
“Kamu kelas berapa, Dik?” tanyaku.
“Aku kelas XII Pak.”
“Kok, saya tidak pernah melihatnya?”
“Ya ela, Bapak. Nama saya Rada Rentana. Kelas IPA. Masa Bapak lupa.”
“Oh, mungkin karena aku baru,” gumamku.
“Oh ya Bapak tidak apa-apa. Apa baju Bapak ada yang kotor?” Rada tanpa malu membersihkan kotoran di lengan kemejaku. Aku merasa risih diperlakukan seperti itu. Anak-anak yang lain melihat kejadian ini.
“Sudah, sudah, Da. Saya tidak apa-apa.” Aku bergegas keluar dari ruang perpustakaan. Hati ini rasanya kacau balau.
Setelah itu aku kembali masuk ke kelas. Dan kali ini jadwalku masuk kelas XII C. Disana aku terkejut. Ternyata Rada Rentana berada disana.
“Selamat siang Bapak ganteng...” sapa Rada dihadapan semua siswa.
“S—siang juga.” Aku menjawab tanpa ekspresi. Lalu meneruskan perlajaran. Tiba-tiba dimeja nampak
sebuah tulisan yang terlipat. Aku buka kertas tersebut.
Terima kasih sudah membantu saya. Saya tidak akan melupakan kebaikan Bapak. Kalau boleh saya minta nomor
handphone Bapak. Supaya mempermudah komunikasi antar guru dan murid. Murid Tercantik, Rada Rentana
Aku menghela nafas
dalam-dalam. Ada-ada saja muridku ini. Rupanya dia tipe siswa yang tidak bisa
tinggal diam. Sepintas, aku melirik Rada. Dan dia menatapku juga. Malah
tatapannya sungguh tidak sopan. Aku jadi salah tingkah sendiri.
****
Minggu ini kesibukanku bertambah. Mengajar kelas XII banyak memakan waktu. Sehingga tidak
sempat menjenguk Annisa. Martabak kesukaannnya pun aku titipkan melalui anak Bu
Hadi yang masih SD, namanya Gino.
Disaat sedang sibuk-sibuknya aku harus pergi mencari foto kopian. Di Desa Krangnyar sendiri tidak ada. Yang ada di desa sebelah dan artinya untuk kesana harus pakai kendaran.
Kebetulan, Firman,keponakannya Bu Hadi lewat dan aku berusaha meminta bantuannya.
“Kalau begitu saya bayar.”
“Hey, jangan mentang-metang punya uang ya. Nyuruh orang seenaknya!”
“Tapi aku tadi sudah minta tolong. Kenapa nyolot begitu?” jawabku heran.
“Itu urusanku. Mulut-mukutku sendiri!” katanya sambil menggeber motor knalpot rassingnya.
Aku heran dengan sikap Firman. Kenapa tidak suka denganku. Apa salahku. Apa karena aku ngontrak di rumah bibinya? Pertanyaanku tak terjawab ketika melihat Dion.
“Mau kemana Dion?”
“Mau pergi warung. Kak Annisa mau dibelikan bakso!”
Karena aku lama belum menjenguk Annisa, maka secara kebetulan aku mengajak serta Dion mengambil
bakso. Sekaligus tanya-tanya ke Pak Rudi, siapa yang bisa mintai tolong mengcopy berkas-bekas di desa sebelah.
“Kok repot-repot Pak Aldi.” Pak Rudi yang baru pulang dari kerja, merasa tidak enak dengan kedatanganku.
“Tidak apa-apa, Pak. Lagian saya sudah lama tidak mendengar keadaan Dik Annisa.”
“Oh begitu. Dia sekarang sudah sembuh. Jalannya normal.”
“Syukurlah. Terus kapan dia mulai sekolah? Kalau sudah sembuh sebaiknya jangan terlalu lama di
rumah. Sayang pelajarannya. Apalagi ujian nasional tidak lama lagi.”
“Katanya sih besok mau berangkat,” jawab Pak Rudi.
Aku mengangguk.
“Sekarang Dik Annisa-nya kemana?” tanyaku penasaran.
“Lagi pergi ke toko buku. Sebenar lagi kembali. Lah, tuh dia kembali.” Bersamaan dengan itu, sebuah
sepeda motor memasuki halaman rumah. Annisa turun dari motor bersama seorang
lelaki.
Entah kenapa dadaku terasa sesak. Tidak nyaman melihat
Annisa jalan dengan cowok lain.
Annisa masuk sementara cowok itu pergi dengan motornya.
“Eh, ada Pak Aldi.” Annisa menyambutku dengan salaman.
Tanganku bergetar menyambut uluran tangan gadis berusia sembilan belas tahun
itu.
“Ya, lumayan lama. Ini juga hampir pulang.” Aku sengaja meminta diri, agar bisa mengatur hati yang
sedang kacau ini.
Sesampainya di rumah, Rasa heran menyelimuti diriku sendiri. Kenapa jadi aneh. Merasa hati ini berubah. Kenapa suasana hati terasa nyaman jika dekat dengan Annisa. Dan tadi sempat kacau gara-gara dia diantar
seorang lelaki.
Ada apa denganku. Kenapa jadi begini. Apa jangan-jangan.....
Tidak! Tidak mungkin.... Dia masih belia untuk menjadi.....
Aku mendesahdalam-dalam. Berusaha mengatur hatiku kembali ke jalan yang semula.
***