
Dua puluh menit akhirnya berlalu, Alva keluar dari kamar mandi dan masih menemukan istrinya dalam keadaan dan posisi yang masih sama dengan terakhir dia lihat. Entah apa yang dilakukan oleh wanita itu dengan hanya menatap hamparan gedung gedung tinggi di depannya yang menurut Alva sendiri sama sekali tidak menarik.
Alva menghela nafas sedikit berat dia hendak melangkah mendekat ke arah adelia, baru saja kakinya hendak melangkah ke arah balkon gagal dilanjutkan saat bunyi bel nyaring terdengar menggema di dalam kamar itu. Alva mengubah arah jalannya, membalikkan tubuhnya dan membelakangi wanita yang saat itu menoleh ke arahnya.
Wanita yang hanya menatap punggung tegap milik Alva itu hanya menatap datar tanpa ekspresi.
‘bagaimana aku tidak berpikir negative sekarang saja dia masih acuh padaku Nara’ batin adelia.
Adelia tersenyum hambar. Dia kembali membalikkan tubuhnya menatap gedung gedung tinggi jan jalan jalanan kota tempat dia tinggal yang begitu riuh. Dari lantai tinggi ini dia bisa melihat banyak hal. Adelia yakin jika jatuh dari sana dia pasti tidak akan selamat lagi.
Apa perlu dia mencobanya? Apa nanti alva akan memegang tangannya untuk menahan dirinya dan menyelamatkan dirinya, adelia masih melamun memikirkan hal hal gila lagi di dalam kepalanya.
Adelia tiba tiba tersenyum bodoh. Kejadian memalukan itu seperti bunuh diri adalah hal bodoh yang pernah dia pikirkan, jika mengingat lagi, pertemuan pertama dia dengan alva adalah di jembatan dimana dia dan alva hampir bunuh diri, tapi gagal. Pria yang dulunya bukanlah siapa siapa dalam kehidupannya, pria yang adelia kenal sebagai pria gay itu yang justru membuat hatinya sekarang bekerja tidak jelas, seperti takdir sedang mempermainkan wanita itu.
“apa yang sedang kau lakukan!” Suara pria yang dipikirkannya menggema bebas menembus gendang telinganya. Lihat saja, hanya suaranya saja adelia kehilangan lagi pengendalian dirinya. Hatinya lagi lagi bekerja tak menyenangkan.
Adelia menoleh sedikit tanpa membalikkan tubuhnya. Dia menggeleng kecil sambil menjawab dengan suara pelan “Tidak ada”.
“Ganti pakaianmu kita akan kembali sekarang” ucap Alva datar.
Lihat saja sekarang pria itu, dia tidak juga menyadarinya, kejadian tadi malam, apa alva tidak memikirkan kejadian itu? Apa adelia harus kembali berpura tidak terjadi apapun seperti malam pertama mereka.
Adelia lagi lagi harus tersenyum miris. Dia seperti wanita yang sudah kehilangan harga diri di depan suaminya sendiri, hebat sekali bukan? Kisah macam apa yang sedang dia jalani sekarang?
“. . .” Tanpa menjawab perintah pria itu, Adelia berlalu begitu saja melewati Alva yang berdiri di samping pintu jendela kaca. Berjalan memasuki kamar dan melakukan apa yang alva perintahkan padanya. Untuk mengganti pakaian yang sudah dibawakan untuknya.
Butuh sekitar tiga puluh menit untuk kedua pasangan itu sampai di apartemen mereka. Adelia dan Alva hanya diam sepanjang perjalanan. Begitu sampai gadis itu berjalan lebih dulu dari Alva. Membiarkan pria itu hanya mengekor di belakangnya.
Wanita itu sengaja bergerak lambat, dia membiarkan alva menunggu saat jari jarinya menekan beberapa kombinasi angka membentuk sebuah kombinasi password di pintu apartemen itu.
Adelia masuk lebih dulu dari alva. Dia sama sekali tak merasakan kehadiran alva disekitarnya, atu memang sengaja membiarkan pria itu layaknya orang bodoh yang tak di anggap oleh istrinya sendiri, bahkan selama perjalanan dari hotel hingga sampai di tempat itu, Adelia yang biasanya cerewet dan menatapnya penuh arti kini hanya diam menatap jalanan, dia memang berusaha untuk mengabaikan suaminya, Adelia berlalu begitu saja emasuki kamar. Setidaknya adelia butuh waktu sendiri. Untuk penjelasan yang sama sekali tidak ia dapat dari pria itu. Wanita it uterus menunggu penjelasan dari alva layaknya orang bodoh dan kebingungan.
Tapi alva masih saja mengikutinya. Bahkan pria itu pun sama seperti adelia, kondisinya tak jauh berbeda dengan wanita itu. Alva sendiri juga bingung dengan apa yang seddang dilakukannya sekarang. Dia hanya terus mengikuti wanita itu kemanapun, seperti ingin menyampaikan sesuatu, tapi apa?
Mengucapkan maaf dan penyesalan mungkin. Tapi alva hanya layaknya orang bodoh yang bahkan merangkap menjadi seorang pria bisu.
Merasa mulai tidak nyaman dengan keadaannya, Alva dengan gerakan refleks yang lagi lagi tidak ia sadari menahan pergelangan wanita itu saat akan memasuki kamar mandi.
Adelia menatapnya, menatap pergelangan tangannya sendiri dalam rangkulan tangan Alva. Pria itu tanpa bicara apapun menarik tangan adelia dengan gerakan yang lembut. Membawanya mendekati sofa yang tergeletak persis di sudut kanan kamar mereka, disamping tempat tidur di sisi jendela kamar. Alva menarik istrinya untuk duduk. Mereka duduk satu jajar dengan saling berhadapan. Dengan tangan alva sendiri yang masih menggenggam tangan adelia.
“Kita butuh bicara” ujar alva berusaha tenang walau hatinya sedang berdetak cepat.
“apa?” jawab adelia dingin, gantian istrinya yang sekarang bersikap layaknya kulkas dua pintu.
Alva bahkan bingung harus memulainya dari mana. Pria ini benar benar kehilangan akal sehatnya, separuh otaknya seperti menghilang. Tidak pernah dia merasa segila itu jika berhadapan dengan wanita. Haruskah dia meminta maaf terlebih dahulu untuk kesalahannya meniduri wanita itu lagi. Astaga kesalahan jenis apa yang seorang suami lakukan dengan meniduri istrinya sendiri, ap aitu masih bisa disebut sebuah kesalahan? Bahkan alva sama sekali tidak menyesal melakukan itu, hanya takut adelia meminta bercerai darinya.
“kau marah padaku?”
“tidak” jawab adelia singkat.
“lalu kenapa kau diam sejak tadi?”
“Aku hanya sedang malas berbicara” jawab adelia dingin.
Coba lihat saja wanita ini sedang menirukan alva. Adelia bahkan membuatnya terlihat seperti orang bodoh. Alva seperti berubah menjadi pribadi yang buruk jika berhadapan dengan wanita ini. Dia bahkan banyak bicara, dan memiliki inisiatif, dan itu termasuk sebuah kemajuan buatnya.
“aku tau kau sedang marah”
“aku bilang tidak” jawab adelia sekali lagi dengan dingin.
“baiklah, aku menganggapnya begitu jika itu yang kau inginkan” alva menyerah.
Pria itu beranjak dari duduknya, berdiri berniat meninggalkan wanita itu duduk di sana. Pria itu mulai kehilangan kesabarannya menghadapi sikap adelia. Alva menghembuskan nafas beratnya. Berlama lama berhadapan dengan adelia hanya membuat dirinya terlihat semakin bodoh.
Dia ingin marah karena wanita itu menjawabnya seperti itu, alva berniat membiarkan adelia seperti itu jika memang itu keinginan istrinya.
Alva berhenti ketika baru dua langkah menggerakkan kakinya. Pria itu menghela nafas frustasi, mengacak rambutnya kasar. Ada sesuatu yangterus mengganggu pikirannya saat ini. Sepertinya cara seperti ini tidak akan berhasil untuk memulihkan kondisinya. Dia tidak ingin memiliki keadaan seperti itu bersama wanita itu. Alva kembali membalikkan tubuhnya. Dia kini kembali duduk di hadapan adelia sekali lagi. Pria itu menatap adelia lekat lekat.
...🧩🧩🧩🧩🧩...