
Tiga jam Alva pergi menemui seseorang yang bahkan tidak Adelia ketahui siapa orangnya dan dimana mereka bertemu. Otak wanita itu mulai kembali berpikir tidak jelas hingga menghasilkan beberapa asumsi buruk.
Bagaimana dengan bayang-bayangan pria itu menemui beberapa wanita yang berniat akan dijodohkan dengannya oleh beberapa rekan bisnis Alva. Apa suaminya tertarik untuk menikahi mereka dan memiliki istri selain dirinya. Lagi pula alva sudah ketahuan normal kan? Sebentar lagi badannya akan terlihat jelek karena sedang hamil, adelia mulai takut suaminya mulai selingkuh dan melihat wanita lain.
Mengerikan sekali. Adelia benar-benar takut sekarang. Sesuatu yang bahkan kebenarannya pun belum di ketahui itu, berhasil membuat wanita ini berpikir bodoh. Apa dia akan benar-benar di dua-kan?
‘Ting tong ting tong’
Adelia terlonjak di tempatnya karena terlalu fokus melamun memikirkan suaminya. Suara bel berhasil membawa kesadarannya kembali, kepalanya mendongak malas kearah ruang tamu. Siapa yang datang?
Kalau itu Alva, Dia tidak mungkin menekan bel, tapi kalau Ervan, ‘aku harap bukan dia’ doa adelia dalam hati, dia masih marah pada pria yang sudah membuat sahabatnya masuk ke dalam rumah sakit, ditambah adelia sedang malas berdebat dengan pria itu.
Kebiasaanya membuka pintu tanpa melihat layar Introcom terlebih dulu tak pernah berubah. Sudah berapa kali Alva mengingatkan adelia tentang itu, tapi tetap saja adelia mengabaikan peringatan dari suaminya itu. Sebuah kata ‘lupa’ selalu menjadi andalan adelia untuk berkilah pada suaminya.
“halo nona Adelia” sapa pria tua yang sedang menunggu di depan pintu apartemennya.
“Ohh, pak adi!” Pria tua berjas hitam itu membungkuk semakin dalam begitu adelia menyapanya, wanita itu memang mengenal Pria tua yang sudah alva beritahu sebagai salah satu pelayan terpercaya yang alva miliki. “ada apa pak?” tanya adelia heran.
“Maafkan saya mengganggu waktu nona, tapi saya diperintahkan ke sini untuk menjemput nona adelia” ujar pelayan itu hormat, jangan tanya kenapa adelia masih di panggil nona seharusnya nyonya, itu semua karena adelia tidak suka dengan panggilan yang terkesan tua.
“Kemana?” tanya adelia spontan.
“maafkan saya, saya tidak bisa memberitahukan anda akan kemana, tapi nanti nona akan tau tempatnya” ujar pelayan itu penuh sopan santun.
Adelia menatap lekat kesana, matanya mendelik ke wajah pria yang menjadi salah satu orang kepercayaan suaminya. Jika tebakannya benar, orang di depannya terlihat sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Oh, tentu saja. Bukannya dia sendiri yang berkata tidak bisa memberitahu. Pernyataan itu sudah cukup jelas membuktikan jika ada sesuatu yang di rahasiakan oleh pelayan itu.
“Apa terjadi sesuatu pada suamiku?” seru adelia yang tiba tiba cemas, pikiran negative nya memang lebih dulu ‘on’ di saat saat seperti ini.
“Sebaiknya anda ikut dengan saya terlebih dahulu. Nona akan mengetahui jawabannya nanti” jawab pelayan itu sopan.
Helaan kasar ketara jelas di sana. Percuma saja bertanya, Adelia tetap tak menemukan jawaban seperti yang dia inginkan. Mungkin mengikutinya akan menjawab rasa penasarannya. “Baiklah. Tunggu sebentar, aku akan menganti pakaian” ujar adelia pasrah.
Adelia melangkah menjauh dari pintu tanpa menunggu jawaban dari pria yang saat itu menunduk hormat mempersilahkan Nona mudanya pergi.
.
“Perjalanan kita akan cukup lama. Sebaiknya anda istirahat saja, nanti akan saya bangunkan setelah kita sampai” pelayan itu memberikan penjelasan pada adelia agar beristirahat, karena alva sudah memberi perintah padanya agar istrinya tidak kecapekan di jalan, atau nyawanya yang akan dalam bahaya jika istrinya kenapa kenapa.
Adelia tidak berniat untuk menjawab. Percuma saja dia berbicara, karena ujung-ujungnya dia hanya akan bertanya ‘Kemana kita akan pergi?’ Dan sudah dapat dipastikan dia tidak akan mendapatkan jawaban dari pria yang saat ini duduk didepannya dibalik kemudi.
~satu jam kemudian~
Adelia terjaga dengan sendirinya. Rasa pegal menjalar terasa begitu jelas ditubuh wanita hamil itu, dengan malas dia mengerjab, memperbaiki posisi duduknya agar lebih tegak, tangannya bergerak lembut memijat bagian mana saja yang terasa cukup kaku. Mata wanita itu mendelik sekeliling, lalu melirik jam di pergelangan tangannya sendiri.
Sudah satu jam. Mereka masih dalam perjalanan. Matanya melirik lagi keluar kaca mobil. Dia merasa asing dengan jalan yang dia lalui di depannya.
“pak adi” panggil adelia tiba tiba.
“Ya nona?” jawab pelayan itu.
“ini jalan menuju rumah mertua saya kan?” tebak adelia.
“hampir benar nona, ini memang jalan menuju rumah orang tua tuan muda, tapi kita bukan ke arah sana” terang pelayan itu.
“Apa? Jadi kita akan kemana?” tanya adelia semakin penasaran. Kalau memberitahu tentang kehamilannya pada orang tua dan mertuanya memang akan mereka lakukan sebentar lagi tapi akan kemana adelia semakin membuat wanita itu bingung.
“Maafkan saya nona, saya_”
“Aku mengerti” Buru-buru Adelia menyela kalimat pria itu yang sangat jelas akan memberi jawaban seperti apa. Mungkin hanya tinggal menunggu dia akan segera mendapatkan jawabannya. Adelia yakin sebentar lagi dia akan segera sampai.
Setelah kurang lebih dari sepuluh menit, akhirnya mereka tiba di istana megah milik Alva, rumah itu lebih megah dari rumah milik orang tua alva dan rumah orang tuanya, adelia mengakui sekarang bahwa suaminya super duper kaya.
“Silahkan nona, masuk saja ke dalam sana, tuan muda sudah menunggu anda” Ujar pelayan itu sambil membuka pintu mobil dan pintu rumah itu.
Tidak berbeda dari apartemennya, rumah itu juga terlihat sangat mewah dan indah bahkan lebih indah rumah yang baru dia masuki itu, adelia seperti sedang berada dalam negeri dongeng karena seperti sedang memasuki istana mewah. Beberapa pelayan yang melihat adelia menunduk hormat dan memberikan petunjuk arah pada wanita itu untuk berjalan, hingga adelia sampai di taman belakang rumah.
Adelia cukup terkejut melihat hamparan luas taman yang dipenuhi bunga, dan pepohonan, serta ada danau kecil di ujung sana, terlihat sangat indah dan seperti memang sedang ada di negeri dongeng.
“Silahkan nona” seorang pelayan menarik kursi untuk adelia agar wanita itu bisa duduk untuk menikmati pemandangan indah melihat danau.
“Alva mana?” tanya adelia begitu sudah duduk.
“Mohon tunggu sebentar nona, saya akan memanggil tuan muda, silahkan nona nikmati makanannya” ujar pelayan itu. Memang banyak cemilan dan kue serta ada minuman hangat di hadapan adelia, dia di jamu layaknya seorang putri bangsawan, adelia tersenyum manis mengucapkan terima kasih, lalu pelayan itu menghilang mencari alva seperti permintaan ibu hamil itu.
...🎭🎭🎭🎭🎭...