Trapped in Love

Trapped in Love
92. Kembali



“Dimas sayang, ayah punya sesuatu untukmu.”


“Apa itu?” Dimas dengan cepat kembali menghampiri ranjang. Suaranya terdengar begitu sangat bersemangat.


Keanu tanpa beranjak hanya mengulurkan tangannya, memberikan kotak kecil yang langsung di terima Dimas dengan mata berbinar. “Makan itu sambil menonton Tv. Sekarang katakan pada bunda jika ayah tidak akan bangun.”


Tidak sepenuhnya mengerti memang. Dimas tanpa menjawab hanya memberi anggukan, bocah itu langsung berlari keluar dari kamar orang tuanya dengan sekotak coklat kecil di tangannya.


Pasalnya pria kecil itu begitu sangat menyukai coklat, tapi Fira selalu memiliki banyak alasan agar anaknya tidak mengkonsusmi makanan itu dalam kadar yang terlalu banyak. Jadi perasaan senang seperti apa yang Dimas dapatkan sekarang.


“Ayah bilang dia tidak mau bangun” teriak Dimas


“benarkah?!”


Dimas yang masih polos hanya mengangguk. Pria kecil itu menjauh dari bunda-nya tanpa repot-repot memikirkan reaksi wanita itu. Dia berlari kecil menghampiri layar televisi yang memang sejak tadi sudah menyala memperlihatkan acara film kartun yang menjadi dominasi kesukaan anak-anak. Matanya mendelik-delik lucu seperti pencuri sebelum dia mengeluarkan coklat di balik baju yang dia sembunyikan agar tidak diketahui ibunya. Astaga rasanya mustahil anak berusia dua tahun sudah memiliki otak seperti itu.


Sedangkan di dapur, Fira sibuk merengut. Memikirkan bagaimana sifat suaminya yang kekanak-kanankan selalu saja berhasil membuatnya emosi. Bagaimana bisa ada pria dewasa yang susah di bangunkan seperti anak kecil. Pria itu benar-benar sukses menguji kesabaran Fira selama dua tahun sejak kelahiran anaknya.


Akhirnya dengan berat hati Fira meninggalkan pekerjaannya, amarahnya yang hampir meledak berhasil mengabaikan keberadaan Dimas yang saat itu terlihat asik dengan layar televisi dan sepotong coklat di tangannya.


“Keanu!!”


Pria dibalik selimut itu tak bergeming. Keanu dengan sengaja tetap memejamkan matanya menanti amukan Fira yang menurutnya akan terdengar sangat menyenangkan, terlebih di pagi hari.


“cepat bangun! jangan membuatku berteriak dua kali.” Fira dengan kesal menarik selimut yang membungkus tubuh suaminya. Kain tebal itu berhasil tertarik sama halnya seperti Fira yang tertarik jatuh keatas tubuh suaminya, dalam dekapan pria itu. “Kean! apa yang sedang kau lakukan?”


“Aku perlu bercinta denganmu dulu sayang.”


“apa Keanu gila!! Eummpp…”


...🏑🏑🏑🏑🏑...


Terik matahari langsung menyengat menyambut Nara yang baru saja keluar dari dalam mobil. Matanya yang sipit mendelik tajam ke arah pintu kaca besar dihadapannya, sinar matahari berhasil membuat matanya semakin tak terlihat. Jika bukan karena ulah pria itu yang mendadak menghubunginya, Nara pasti akan lebih menyiapkan diri agar terlihat lebih baik, bukan malah terlihat konyol seperti sekarang.


Sial, bagaimana bisa pria itu sampai mengerjainya seperti ini? Lihat saja kondisimu saat ini Nara. Kau memang cantik, tapi tidakah terlihat pantas datang ke airport dengan pakaian seperti ini. Nara menggigit bibirnya merutuk kebodohannya sendiri.


‘Lebih dari dua puluh menit aku akan kembali terbang meninggalkan Indonesia’ ujar pria yang menelponnya.


Apa-apaan pria itu. Apa sekarang dia sedang mengancamku. Setelah dua tahun menghilang tanpa kabar, suaranya muncul di telepon secara tiba-tiba bagai malaikat maut yang mengancam keselamatanku.


Nara tidak akan lagi memikirkan kondisi pakaiannya yang hanya mengenakan hotpants dan kaos hitam polos. Bahkan wanita itu tak sempat menganti sandal rumahnya dengan sandal yang lebih pantas untuk di pakai keluar rumah.


Setelah mendapat telepon dari pria tidak bertanggung jawab itu, Nara buru-buru loncat dari tempat tidur dan menyambar kunci mobilnya tanpa memikirkan apapun lagi seperti orang bodoh. Jadi beginilah dia sekarang, menjadi tatapan orang-orang.


“Aku akan langsung mencekiknya saat satu menit wajahnya muncul di hadapanku” omel nara kesal.


Suara itu? Nara hanya mematung di tempatnya, suara itu menggema dekat di gendang telinganya tepat di belakang tubuhnya. Katakan dia berlebihan, tapi Nara benar-benar merindukan suara itu secara nyata, tidak hanya melalui telepon. Melihat wajahnya saat pria itu bersuara, itu yang Nara inginkan.


Tidak ingin terlalu lama membuang waktu, Nara memutar tubuhnya. Rasanya dia ingin menghentikan waktu saat itu juga, pria itu benar-benar ada dihadapannya sekarang, seperti mimpi. Ervan, pria yang sangat dirindukannya tersenyum manis ke arahnya.


“Ini bahkan sudah lebih dari satu detik. Kau tidak jadi mencekikku Nona Nara__” Suara Ervan tertahan di udara ketika tubuhnya di terjang secara tiba-tiba. Nara, wanita yang merutuknya beberapa waktu itu justru kini memeluknya begitu erat dan hampir membuatnya terjungkal. “Aku tidak tahu jika cara mencekikmu semanis ini” lanjut Ervan sambil tersenyum manis.


Ervan mengulum senyum di balik tubuh Nara, tangan pria itu ikut terulur membalas pelukan Nara. Tidak bisa di pungkiri, dia juga merindukan gadis ini.


“Dasar pria jahat!!” gerutu Nara kesal.


“Katakan sesukamu, aku akan mendengarkannya” balas Ervan pasrah.


Bukan makian yang keluar tapi justru suara isakan yang terdengar. Ervan mengeratkan pelukannnya, tangannya bergerak lembut dan teratur mengelus rambut Nara yang saat itu di biarkan terurai. “Maafkan aku” gumam Ervan.


Nara membiarkan dirinya sedikit menjauh dari tubuh Ervan saat pria itu menariknya. Setidaknya Ervan perlu melihat keadaan gadis di depannya, air mata di wajah Nara justru menarik bibirnya menghasilkan senyuman simpul.


“Kau tidak berubah.” Ujar pria itu yang di ikuti tangannya bergerak membingkai wajah Nara, menghapus jejak air mata gadis itu. “Kita pulang?” lanjut pria itu.


Nara mengangguk menyetujui ajakan pria itu dengan perasaan meluap bahagia. Rasanya dia seperti bermimpi bisa melihat pria ini lagi setelah dua tahun menghilang tanpa kabar.


“Sebenarnya kau kemana?” Nara bertopang dagu menatap lekat pria disampingnya, pria yang saat ini sedang terlihat berkonsentrasi mengemudi. Rasanya Nara tidak akan pernah puas jika hanya menatap wajah Ervan seharian. Nara membutuhkan waktu yang lebih banyak dari seharian.


“Astaga Nara, aku takut sekali sekarang” ujar ervan.


“kenapa? Ada apa?”


Ervan menoleh sebentar memberi tatapan seolah-olah dia benar-benar ketakutan. “Tatapanmu, aku takut melihatnya” canda ervan yang diakhiri dengan tawa jenaka pria itu.


BUG!


“Aahh!”


Pukulan Nara di bahu pria itu sukses membuat Ervan merengut. Tidak lebih dari lima detik pria itu justru tersenyum tak menyenangkan.


“Katakan padaku” desak Nara.


“Apa?” tanya Ervan berpura pura tidak mengerti dengan ucapan nara.


“Dua tahun kau menghilang, sebenarnya kau kemana?” Ulang Nara sekali lagi.


Ervan benar benar menghilang, dia juga mengundurkan diri dari perusahaan Alva dan selama itu pria itu tidak pernah memberikan kabar pada siapapun termasuk Nara, entah kemana dia pergi karena ponselnya tidak bisa dihubungi, Nara hanya bisa berharap pria itu masih hidup dan bernapas saat ini, karena memang dia tidak memberikan kabar pada siapapun.


...🎷🎷🎷🎷🎷...