Trapped in Love

Trapped in Love
50. Membuka Rahasia



“Maaf ya nar, sudah menyuruhmu ke sini dan kamu sekarang harus pulang” ujar adelia merasa bersalah, sebenarnya dia sama sekali tidak mau berduaan saja dengan Ervan di apartemen, dia sangat benci dengan hal itu.


“Tidak apa, adel, ingat jangan melarikan diri dari masalahmu, hadapi itu, kalau kau perlu bantuanku, telepon saja ya” pamit Nara.


“maaf ya Nar, nanti ada saatnya aku akan memberitahumu tapi maaf tidak bisa sekarang” ucap Ervan yang merasa bersalah telah mengusir nara secara tidak langsung.


Adelia menatap sinis Ervan dan mendengus kesal pada pria itu.


“iya tidak apa, kau sudah janji ya padaku, aku tunggu kapan kau akan menceritakan padaku juga” kekeh Nara.


Ervan tersenyum membalas Nara yang tersenyum padanya, dia sudah masuk dalam kelembutan nara, “iya aku janji” balas Ervan.


.


Setelah mengantar nara pulang, adelia menutup keras pintu karena Ervan langsung masuk dan sudah duduk di sofa dengan wajah polos tanpa dosanya.


Sekarang pria itu sedang berbaring di atas sofa ruang televisi, merasa jika dirinyalah pemilik apartemen ini.


Tentu saja apartemen itu adalah miliknya, bukankah Alva adalah kekasihnya. Yang sangat menyedihkan adalah jika saja Ervan seorang wanita, Adelia pasti sudah menangis histeris mendapatkan suaminya berselingkuh dengan wanitalain, terlabih jika suaminya lebih mencintai wanita itu dari pada istrinya sendiri.


Tapi apa bedanya sih, ini tetap sama saja, Alva menghianatinya, menghianati pernikahan mereka dengan adanya orang ketiga. Tunggu, jika bicara orang ketiga bukankah yang seharusnya pantas disebut orang ketiga itu adalah adelia. Entah kenapa wanita itu selalu dihadapkan dengan perselingkuhan, pertama calon suaminya yang berselingkuh, sekarang apakah dia bisa dikatakan sebagai selingkuhan alva? Bukankah dia orang ketiga di antar hubungan alva dan Ervan. Mengenaskan sekali hidupmu adelia.


“Sedang apa kau? Sedang mengagumi pesonaku?” tanya Ervan saat melihat Adelia hanya menatapinya saja dengan berkacak pinggang.


Tanpa kata kata dan keraguan adelia segera melayangkan bantal sofa dan melemparkannya kea rah wajah pria itu, selama ia mengenal Ervan, adelia sudah tidak akan segan segan lagi memperlakukan pria itu dengan sangat tidak layak, karena menurut adelia dia pantas mendapatkan itu.


“Adel! Sebenarnya kenapa kau ini? kenapa kau terlihat sangat membenciku?” protes Ervan yang selalu mendapatkan penganiayaan dari Adelia.


“Benar! Aku memang sangat membenciu Ervan! Sangat sangat membencimu” tekan adelia dengan mata memancarkan kebencian.


Pria yang sudah menyeret adelia masuk ke dalam dunia mengerikan itu, pria yang sudah memerangkap Adelia pada pesona seoarang Alva, pria tidak normal yang membuat adelia gila bahkan lebih gila saat dia tau perselingkuhan Keanu. Pria yang sudah membuat adelia merutuki perasaan salah yang dia miliki untuk sang suami.


Ervan duduk dan memejamkan matanya, “baiklah, sekarang aku akan menyerahkan diri padamu, lakukan apapun yang kau mau lakukan padaku, aku tidak akan melawan” ucap ervan pasrah.


“Bagaimana jika aku ingin membunuhmu” ancam Adelia.


Ervan langsung membuka matanya sambil tersenyum, “yang itu nanti saja aku belum menikah, setidaknya biarkan aku merasakan sebuah pernikahan dulu, baru kau boleh membunuhku” kekeh Ervan.


‘Memangnya kau mau menikah dengan siapa? Alva? Buang jauh jauh harapan indahmu itu, karena aku tidak akan membiarkannya’ rutuk adelia tanpa sadar di dalam hati.


“Lalu siapa lagi kalau bukan kau? Setan?” sindir Adelia dingin.


Lenyap sudah senyuman Ervan yang terbit begitu manis akibat kalimat tidak menyenangkan yang keluar dari mulut berbisa Adelia. Pria itu mendengus menatap tidak terima dengan ucapan wanita yang saat ini sudah duduk di sampingnya.


“Sebenarnya kenapa kau mencariku kesini? Harusnya kau bekerja bukan? Untuk apa kau susah susah mencariku? Mau bicara apa?” tanya delia beruntun.


Ervan mulai dengan mode serius, “aku hanya ingin menanyakan beberapa hal padamu” ujar Ervan tegas, raut wajah pria itu sudah tidak ada senyuman atau candaan yang keluar dari mulutnya.


“Apa?!” sedangkan adelia masih tetap sama dingin dan ketus.


Keduanya kini saling tatap dengan mode serius, sudah tidak ada lagi perdebatan, Adelia mulai tampak cemas melihat ervan yang dalam mode serius karena seperti bukan ervan saja, pria itu biasanya tidak pernah berekpresi seperti itu.


“Ini tentang Alva, apa semalam dia baik baik saja?” tanya Ervan dengan manatap Adelia sangat serius.


Adelia terdiam beberapa saat sebelum menjawab ucapan ervan, “memangnya kenapa?” bukannya menjawab pertanyaan Ervan, Adelia malah balik bertanya pada pria itu.


Ervan menoleh ke samping, untuk fokus menatap mata adelia, “kami bertengkar kemarin malam” ungkap ervan, terdengar suaranya terdengar frustasi.


‘Jadi benar dia bertengkar semalam dengan alva? Mereka bertengkar hingga alva sakit karena memikirkan pertengkaran mereka, begitu besarkah cinta diantara mereka berdua, astaga kenapa aku rasanya ingin menangis’ rintih adelia dalam hatinya.


“Dia sakit, dia pulang dalam keadaan demam tinggi” jawab adelia kali ini lebih datar dari biasanya.


Ervan menghela nafas berat, Seharusnya semalam dia tidak mengunkit lagi masalah itu. ‘aku pasti sangat melukai alva karena mengungkitnya lagi bahkan semalam aku juga membiarkan alva pergi sendiri membawa mobilnya dalam keadaan marah, dia juga masih perlu istirahat karena pukulan dari Jeremy, beruntungnya sesuatu yang aku takuti tidak terjadi, setidaknya semalam Alva sampai di apartemen dengan selamat meskipun dalam keadaan sakit’ lirih ervan dalam hatinya.


“Boleh aku tau apa yang terjadi dengan kalian berdua?” tanya adelia takut takut.


Sebenarnya adelia tidak ingin menanyakan hal itu dia ingat dengan peraturannya, tapi justru dia dilingkupi rasa ingin tahu. Apa yang membuat alva terlihat begitu menyedihkan, apa yang membuat pria itu ketakutan hingga sampai menangis.


“Aku telah membahasnya lagi, Aku mengingatkan dia pada kejadian yang seharusnya tidak dia ingat lagi, harusnya aku membantunya untuk melupakan itu, tapi aku justru membuatnya kembali mengingat hal itu” ungkap ervan dengan suara pelan dan rasa penuh bersalah.


“kejadian apa?” adelia tampak mendesak ervan, dia tidak pernah seingin tahu seperti sekarang ini, terutama menyangkut urusan orang lain. Tapi bukankah alva adalah suaminya, dia bukanlah orang asing di hidup adelia, dia adalah suami yang mencintai seorang pria, suami tidak normal milik adelia.


Ervan menatap adelia dengan wajah sendu, dia tau cepat atau lambat dia harus mengungkapkan rahasia milik alva agar wanita itu mampu menyembuhkan alva dari luka hati yang dia miliki, wanita yang mulai mengukir namanya di dalam hati Alva, walau alva selalu menyangkal akan hal itu, “Aku akan mengungkapkan semuanya, tapi kau harus berjanji membantuku” ujar ervan.


...🩰🩰🩰🩰🩰...