Trapped in Love

Trapped in Love
94. Nara mulai berubah



Entah siapa yang memulai lebih dulu, bi_bir keduanya sudah terpa_ut menjadi satu. Bergerak teratur saat bi_bir itu terpisah dan kembali bersatu untuk sekedar mencari udara.


Pria itu dengan gerakan hati-hati mengangkat tubuh Adelia dalam gendongannya, tanpa melepaskan cum_bu_annya pada bi_bir wanitanya. Melangkah mendekati sofa coklat di dalam ruangan itu. Posisinya duduk dan membiarkan Adelia berada dipang_kuan_nya.


Hawa dingin langsung menyerang tubuh telan_jang Adelia, semua helaian benang di tu_buhnya lepas tak tersisa, membiarkan benda itu tergeletak asal di atas lantai. Berbeda dengan pria itu yang masih menyisakan celana kainnya.


Tangan wanita itu bergerak membingkai wajah suaminya, Hembusan nafasnya dan nafas pria itu beradu dalam atmosfer yang sama, panas dan meng_gebu, begitu dekat tanpa jarak. Kein_ti_man begitu terasa, sepertinya tu_buh wanita itu tidak bisa bertahan lebih lama, dia menginginkan pria ini sekarang, di dalam tu_buhnya.


“Al~ahh__”


“Aku tau”


Setelah keduanya berada dalam keadaan tu_buh yang sama, gerakan itu menghantam masuk ke dalam tu-buh Adelia. Alva bergerak menyentuh bagian mana saja yang di inginkannya, merekatkan lagi lingkaran tangannya di tu-buh Adelia saat wanitanya bergerak diatas pang-kuan-nya, mengikuti irama wanita itu. Bi-birnya bermain di atas bahu te-lan-jang Adelia saat jari-jari wanita itu bergerak di sela-sela helaian rambutnya, melampiaskan bagaimana nik-matnya gerakan itu berefek pada tu-buh mereka.


Na-fasnya yang terasa di telinga Adelia, sentuhan tangannya yang begitu terasa di da-danya, dan suhu tu-buhnya yang terasa di seluruh tu-buh Adelia membuat Alva gila. Dia tidak menghentikan ge-rakan bi-bir dan tangannya di tu-buh te-lan-jang itu sampai Adelia kesulitan mengendalikan seluruh tu-buhnya sendiri dari ujung kepala hingga ujung kaki. Wanita itu sama gilanya seperti Alva, seluruh tu-buhnya seperti tersengat beberapa kali yang sialnya justru terasa begitu menakjubkan, saat Alva bergerak semakin cepat menurun naikan tu-buhnya, Adelia merasakan dunianya akan runtuh saat itu juga.


Suara e-rang-an pelan terdengar di udara yang seketika itu me-ma-nas, desa-han berat Adelia tertelan bi-bir Alva, na-fasnya yang kasar dan cepat pecah keluar begitu saja sekaligus dalam satu desa-han panjang. Kepala wanita itu ter-kulai begitu saja dipermukaan ba-hu suaminya, matanya terpejam merasakan bagaimana sem-protan kuat itu masih begitu terasa di dalam tu-buhnya yang ber-getar.


“Lihat aku” kata alva lembut.


Pada akhirnya kepala wanita itu mendogak membiarkan matanya bertemu dengan mata Alva. Suara pria itu mengundangnya. Alva tersenyum sangat lembut, kepalanya bergerak mendekati dirinya, men-ci-um dahi Adelia lama. “Aku mencintaimu sayangku” bisik Alva lembut.


...🎭🎭🎭🎭🎭...


“Aku bilang untuk tidak menyentuhku” teriak Nara keras.


“Apa?! Hah! Dasar gadis ini” umpat Ervan tanpa sadar.


Ervan merengut tidak percaya dengan apa yang baru saja di dapat dan di dengarnya. Perlakuan Nara yang bahkan di luar nalar pemikirannya itu terjadi dengan sangat sempurna tanpa dia duga. “Dia sudah bisa menolakku sekarang” umpat ervan sekali lagi.


Ervan bahkan tersenyum dan menertawakan dirinya sendiri. Gadis itu terus berjalan tanpa mempedulikannya, tangannya lagi-lagi di tepis saat terulur meraih tangan gadis itu. Rasanya dua tahun meninggalkan Nara, wanita itu terkesan lebih sensitif.


Hanya sebuah kesalahan kecil saja gadis itu sudah bisa uring-uringan seperti ini. “Ayolah kenapa harus marah?” ujar Ervan lagi.


“Apa?!” Nara berujar tak percaya. Menghentikan langkahnya berbalik kearah Ervan, matanya memincing tajam mencoba menyadarkan ucapan pria itu. Tapi Ervan tetaplah Ervan, pria yang selalu terlihat tidak memiliki kesalahan. “Kau pikir aku menunggumu berapa jam?” protes nara.


“Memangnya berapa?”


“ERVAN!!!”


Ervan menutup matanya saat teriakan itu menggema. Bayangkan saja, mereka berada ditempat umum, Didepan pintu masuk sebuah hotel. “Baik aku mengerti, maafkan aku ya” bujuk Ervan.


“Hanya kata maaf untuk empat jam yang membuatku terlihat seperti orang bodoh?” sindir nara dengan delikan tajam.


“Lalu apa lagi? Ayolah, kenapa kau kekanak-kanakan sekali”.


‘Dia bilang apa barusan? kekanak-kanakan? Ervan kau benar-benar sukses membuatku terlihat idiot. Empat jam menunggunya seperti orang bodoh hanya di anggap masalah sepele, lalu dia mengklaim diriku kekanak-kanakan’ umpat adelia dalam hati. “Lalu kau apa? kau bahkan lebih kekanak-kanakan dariku.”


“Baik baik, aku yang salah. Aku benar-benar lupa Nara.” Ervan benar-benar membual sekarang. Keterlambatannya empat jam menemui Nara di tempat yang sudah di janjikan untuk makan siang bersama bukanlah unsur dari kelupaannya, tapi kebodohannya. Kebodahannya yang terlalu lama berada di dalam toko perhiasan karena bingung memilih.


Tarikan nafas Nara terdengar kasar. Sangat jelas dia sedang menekan emosinya untuk meringsut turun ketitik lebih rendah. Percuma saja berdebat dengan pria ini, Ervan selalu tidak mau disalahkan. Akhirnya dengan malas Nara hanya menanggapi semuanya tidak pernah terjadi. Kakinya melangkah memasuki hotel yang di ikuti Ervan dari belakang.


Nara tidak lagi menolak saat tangan pria itu menggenggamnya. Tidak lebih dari satu menit, wanita itu harus menahan emosinya lagi. Beberapa menit yang lalu pria ini merengek-rengek minta maaf, tapi lihat sekarang kelakuannya.


“Dia benar-benar cantik.” Ervan tanpa dosa mengarahkan pandangannya pada wanita lain, memuji gadis itu didepan Nara. Benar benar tidak peka. Baiklah, kau memang bukan siapa-siapa pria ini Nara.


Tapi setidaknya pria ini menghargai dirinya sedikit saja. Bukankah Ervan tahu bagaimana perasaan Nara kepadanya. “Jika begitu sana dekati dia” sindir nara dengan tatapan tajam.


‘Astaga pria ini benar-benar mengujiku’ umpat Nara dalam hati.


Ervan benar-benar melakukan apa yang di katakannya. Mendekati seorang wanita yang saat itu berdiri di depan meja resepsionis. Kelakukanya di perlihatkan dengan jelas di depan mata Nara yang jaraknya hanya tiga langkah.


Hebat bukan! pria itu benar-benar tahu caranya membuat wanita menderita.


Hilang sudah kesabaran wanita itu. Pria itu benar-benar membuatnya nampak terlihat seperti gadis tidak waras. Bodohnya dia terus mengharapkan sesuatu yang tidak pasti bakal terjadi. Memiliki hati pria itu rasanya sebuah kemustahilan.


Tidak ingin berlama-lama melihat kelakukan kurang ajar pria itu, Nara akhirnya memutuskan untuk menjauh meninggalkan tempat berdirinya. Setidaknya dia harus menghindari yang namanya ‘mati berdiri’


“Nara?”


Suara itu berhasil menghentikannya yang baru berjalan beberapa langkah. Kepalanya menoleh kesamping kiri dimana dia menemukan seorang pria yang baru saja menyapanya.


“Bobby?” Nara mencoba meyakinkan apa yang di lihatnya saat ini. “Apa yang anda lakukan disini?” Nara melempar pertanyaan yang buru-buru dia sela sendiri. “Apa terjadi masalah dengan kontrak kerja kita kemarin?”


“Tidak.” Pria yang sudah di ketahui bernama Bobby yang tak lain rekan bisnis ayahnya itu tersenyum lembut menanggapi gadis di depannya. Senyuman itu terlihat cukup mematikan untuk kaum hawa. Sudah dua tahun Nara memberikan modal kepada orang tuanya untuk membangun perusahaan impian milik ayahnya.


“Lalu?”


“Aku hanya memenuhi panggilan ayahmu untuk makan siang.”


“Ah, begitu rupanya.”


Dari jarak yang tidak jauh dari sana, Ervan tampak diam-diam memperhatikan semua gerak-gerik Nara dan pria yang tidak dia ketahui itu. Dari sudut pandangannya, Nara menunjukan ekspresi yang menyenangkan saat berbicara dengan pria itu.


Ervan mengabaikan wanita yang tadi sempat diajaknya berbicara, bukan untuk berkenalan ataupun meminta nomer ponsel. Ervan hanya berniat memberitahu wanita itu mengenai sesuatu yang jatuh dari dalam tas wanita itu saat mengeluarkan dompetnya. Sekarang justru dia sendirilah yang dimintai nomer contact oleh wanita itu.


“Kau lihat, bukankah mereka terlihat baik saat bersama?”


“Apa maksudmu?”


“Kau ini bodoh? Nara bersama Tuan Bobby.”


“Ah itu.. tentu saja. Mereka terlihat serasi.”


“Aku dengar Tuan Alva berniat menjodohkan Nara dengannya.”


“Bernahkah?!”


“Aku mendengarnya dari sekretaris tuan alva”


“Hebat! mereka akan menjadi pasangan yang luar biasa.”


Cih! luar biasa katanya. Ervan merengut tanpa suara. Bisikan-bisikan yang tidak sengaja di dengarnya dari balik meja resepsionis itu seketika membuatnya muak. Rasanya Ervan ingin menyumpal mulut-mulut tidak bertanggung jawab itu.


“Kalian sebaiknya menjadi host diacara gosip saja.” Setelah mengeluarkan pernyataan yang membuat kedua resepsionis itu tercekang, Ervan melangkah menjauh dari sana. Begitu saja. Meninggalkan juga wanita disampingnya yang sebenarnya cukup tertarik kepadanya.


“Kau ada waktu, bagaimana jika kita minum teh?”


“Tidak! dia tidak punya waktu.”


Nara tercekang di tempatnya berdiri. Sebelum dia berhasil mejawab ajakan pria itu, Ervan sudah menyelanya lebih dulu dengan sangat tidak sopan. Terang-terangan Nara menyikut lengan pria itu, menekan nada suaranya sepelan mungkin. “Hei, apa yang kau lakukan?”


...🎻🎻🎻🎻🎻...