
Adelia menatap bingung ke arah ervan, dia bingung dengan arah pembicaraan Ervan. Terlebih pembicaraan itu sangat panjang dan memusingkannya.
“Alva, dia harus belajar banyak hal tentang perusahaan bagaimana cara mengembangkan perusahaan di usianya yang masih sangat muda, 10 tahun. Kau bisa bayangkan itu adalah sesuatu yang sangat sulit dan mustahil untuk aku lakukan, tapi dia dengan patuh mengikuti semuanya agar kedua orang tuanya di maafkan oleh kakeknya, sesuatu yang mustahil dilakukan tapi dapat alva lakukan karena bimbingan dari kakeknya, pria tua penuh wibawa, dia musuh sekaligus guru bagi alva, siapa yang tidak memusuhi pria tua itu, karena dia alva kehilangan masa kecilnya, dan harus menjadi dewasa sebelum waktunya” Lanjut ervan.
Adelia memang harus mengakui ucapan ervan, kekayaan Alva adalah salah satu bukti jika pria itu sukses dalam segala hal, pria itu pasti berusaha sangat keras untuk mencapai semua itu.
“bantu aku mengembalikan kebahagiaan alva, kebahagiaan yang sudah lama sekali menghilang” ujar ervan lagi.
“Aku? kenapa aku? aku bahkan bukan siapa siapa bagi alva” adelia menjawab dengan wajah sedih.
“Kau istrinya, dan menurutku kaulah orangnya. Kaulah orang yang tuhan kirim untuk mengembalikan kebahagiaan Alva, aku yakin itu” ujar ervan penuh keyakinan.
“Aku tidak yakin” balas adelia.
“Tolonglah del, aku berharap banyak padamu” pinta ervan sekali lagi dengan sedikit memohon.
“Tapi…”
“kau membawa perubahan bagi alva” potong ervan.
Adelia diam dan menatap Ervan menunggu lanjutan ucapan pria itu.
“Aku melihatnya del, aku meminta bantuanmu bukan dengan sembarangan saja, aku tau alva mulai tertarik padamu, dan kau juga istrinya jadi aku yakin kau bisa membantu adel” sambung Ervan.
...🪕🪕🪕🪕🪕...
Adelia berbaring di sana, di samping Alva. Kenyataan jika mereka berdua telah melakukan hubungan suami istri tidak membuat keduanya terpisah dalam satu tempat tidur. Adelia maupun Alva memang hampir memiliki sikap yang sama dalam hal berpura pura. Mereka hanya menganggap jika kejadian itu tidak pernah terjadi dengan tidak membahasnya.
Mata Alva sudah terpejam sejak satu jam yang lalu. Tapi adelia? Wanita itu bahkan seperti tak menemukan minatnya untuk tidur.
Percakapannya dengan Ervan siang tadi masih menjadi bayang bayang pengganggu dalam pikirannya saat ini. Bahkan mengenai keadaan pria di sampingnya, pria yang sebenarnya seratus persen normal. Adelia sampai saat ini masih belum bisa mempercayai itu semua.
Alva mencintai seorang gadis? Itu tidak mungkin. Akan tetapi pria itu mencintai Lana. Gadis yang menjadi alasannya untuk tetap bertahan di dalam kesendirian. Gadis yang membuat alva tidak mau membuka hatinya untuk wanita manapun. Apakah itu berarti dirinya juga termasuk di dalamnya, wanita yang tidak akan pernah di cintai Alva.
Di satu sisi Adelia memang merasakan kelegaan itu, karena memang selama ini dia berharap Alva adalah pria normal. Suaminya bukanlah pria tidak normal seperti rumor yang orang orang katakana.
‘Seharusnya aku menyadari Alva adalah pria normal sejak alva menci-um ku, lalu kejadian malam di mana aku menyerahkan seluruh harta berhargaku pada alva, tidakkah aku menjadi orang yang begitu bodoh’ lirih adelia dalam hatinya.
Memikirkan itu semua, adelia semakin pusing, tapi kalau adelia boleh jujur, dia juga merasakan sesuatu yang aneh. Sesuatu yang kadang ingin membuatnya menangis saat harus kembali membayangkan jika alva hanya mencintai satu wanita dalam hidupnya seumur dia hidup.
Dan itu berarti tidak aka nada tempat atau kesempatan bagi adelia untuk bisa masuk ke dalam hati Alva.
Lalu bagaimana bisa adelia membuat pria itu bahagia seperti yang Ervan minta padanya. Alva bahkan selalu membuatnya tidak terlihat, mengabaikannya bahkan tidak menganggapnya wanita.
Dengan refleks Adelia menangkupkan ke dua tangannya di atas wajah. Air matanya tiba tiba saja kembali jatuh. Kenapa? Apa yang sebenarnya kau tangisi?
Dan tiba tiba saja Adelia merasakan sebuah tangan melingkari tubuhnya. Membawa tubuh itu lebih dekat dengan tubuh alva, pria itu baru saja memeluk adelia. Membiarkan wanita itu menyembunyikan wajahnya pada dada bidangnya.
“Maaf” hanya satu kata itu yang adelia dengar, dan setelah kata itu juga dia tidak lagi merasakan pergerakan apapun, hanya ada deru nafas yang teratur yang adelia rasakan di atas permukaan kepalanya, Alva kembali terlelap dalam tidurnya.
‘Apa tadi itu? Apa Alva kembali mengigau? Lalu pelukan apa ini?’ kepala adelia kembali dipenuhi pertanyaan yang membuatnya semakin bingung.
“tidurlah” ucap alva lagi. Jadi dia belum benar benar sepenuhnya tertidur.
Adelia tidak lagi menangis, dia mulai bisa menerima pelukan alva dan pergerakan lembut tangan alva yang terus mengelus kepalanya hingga membuat wanita itu terlelap pergi menuju alam mimpi.
Dan Alva menyadari itu semua, dia menyadari jika istri nakalnya sudah terlelap. Alva membuka matanya perlahan, menurunkan sedikit pandangannya ke bawah untuk dapat menatap wajah wanita yang berada dalam pelukannya, tatapannya tak terbaca.
“maafkan aku, menarikmu terlalu jauh ke dalam kehidupanku” lirih alva dengan suara pelan.
...🏒🏒🏒🏒🏒...
Pagi harinya Adelia bangun sedikit kesiangan, wanita itu merona malu karena ketika dia membuka mata dia melihat alva sedang menatapnya lekat dalam diam.
“Hmm pa-gi” sapa adelia sambil cepat cepat menjauh dari tubuh alva, karena pasalnya dia masih berada dalam pelukan alva.
“Mau mandi duluan atau aku lebih dulu?” Tanya Alva lembut.
Adelia melihat jam dan sudah menunjukkan pukul Sembilan pagi, mata gadis itu terbelalak kaget, karena pasalnya alva seharusnya sudah sampai di kantor pada jam segitu.
“kenapa tidak membangunkan ku dengan cepat?” tanya adelia.
“Aku tidak tega membangunkan istriku yang sedang tidur nyenyak” balas Alva.
“Kalau gitu kamu saja duluan yang mandi, aku bisa menunggu atau mandi di kamar mandi depan” ujar adelia.
“bagaimana kalau mandi bersama?” ucap alva tiba tiba.
Adelia sempat terdiam dan membelalakkan matanya kaget dengan ucapan alva. Pria itu kini duduk dan tertawa pelan. Tangannya terulur mengelus puncak kepala adelia, “aku Cuma bercanda” kekeh alva sambil keluar dari dalam selimut dan berjalan menuju kamar mandi.
Sementara adelia masih diam tidak mengeluarkan suara apapun.
.
Di dalam kamar mandi alva tersenyum miris, ‘apa kamu akan marah jika aku mengungkit tentang malam pertama kita? Apa kamu akan lari dariku, karena aku telah melanggar perjanjian kontrak kita, adel, kenapa kamu tidak mengatakan apapun tentang malam itu, aku harus bagaimana sekarang adel?’ lirih alva dalam hatinya.
...🎻🎻🎻🎻🎻...