
Pikiran pikiran negative mulai muncul dalam kepala pria itu, ketakutan kehilangan adelia membuatnya semakin tersiksa.
Jadi apa bila adelia benar benar tertekan hidup bersamanya, lalu alva harus berbuat apa? Sanggupkah alva melepaskan wanita itu agar dia bisa kembali hidup seperti dulu? Tapi adelia sedang hamil, ‘siapa wanita yang mau hidup dengan pria emosian sepertimu alva!’ rutuk alva dalam hati.
Alva seperti merasa dirinya telah melakukan kesalahan besar, dengan membuat istrinya itu hamil. ‘Apa nantinya adelia akan marah mendengar dirinya yang sekarang sedang mengandung, lebih tepatnya mengandung anakku, anak pria yang selalu membuatnya hidup tertekan’ alva kembali membatin, dia mengusap wajahnya kasar dan memejamkan mata memikirkan semua kesalahannya pada istrinya.
Sepertinya alva akan meledak sekarang, otaknya benar benar panas tak terkendali. Alva butuh menenangkan diri, pria itu menghembuskan nafasnya dengan berat akhirnya dia memilih pergi dari sana, dari samping wanita yang saat ini terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Alva keluar dari ruangan itu berjalan tanpa tahu arah tujuan sendiri. Hanya mengikuti saja arah sepanjang Lorong rumah sakit, melewati beberapa kamar tanpa ia pedulikan tatapan orang orang ke arahnya yang seperti menampakkan wajah dan ekspresi yang sama seperti dokter sinta.
“Alva? Kau kah itu?”
Meskipun otaknya memikirkan banyak hal, alva masih bisa menangkap suara pria yang memanggil namanya, suara yang begitu sangat familiar baginya, bahkan ia dengar hampir setiap hari. Alva akhirnya mendongak menatap sosok pria di depannya.
“ervan~?”
Ervan cukup tertegun dengan nada suara itu, nada suara yang sudah sangat lama tidak dia dengar nada suara keputusasaan dari seorang alva, terakhir dia seperti itu saat kematian Lana dan itu sudah beberapa tahun yang lalu, di saat pria itu kehilangan cinta pertamanya, dan semenjak itu alva mulai menjadi semakin dingin bahkan sangat sangat dingin, jika ada yang lebih dingin dari es, mungkin ervan akan mengatakan seperti itulah sifat alva berubah.
“Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa kau ada disini? Lalu ada apa dengan tanganmu?”
Rentetan pertanyaan yang keluar dari mulut Ervan bahkan rasanya enggan untuk alva jawab, dia benar benar malas berbicara sekarang. Tapi alva ingin memberitahunya, memberitahu pada pria di depannya jika adelia istrinya sedang hamil, dia sedang mengandung anaknya, “Apa yang harus aku lakukan van” lirih Alva dengan suara yang terdengar sangat putus asa.
“Apa?” ervan tersentak bodoh. Alva sama sekali tidak memberi jawaban dari salah satu pertanyaannya. Pria itu justru memberinya pertanyaan yang bahkan sulit ervan mengerti. “kau bicara apa? Sebenarnya apa yang kau lakukan disini? Kau sakit? Dan kenapa tanganmu terbalut perban?” sambung ervan lagi.
Alva menggeleng kecil, meskipun dalam keadaan kacau, wajah datar dan dinginnya sama sekali tidka menghilang dari sana, ekspresi wajahnya masih tetap sama, tapi Ervan masih bisa menebak dengan baik jika sesuatu terjadi pada pria itu. Tidak ada yang mengenal alva sebaik dirinya sendiri, ervan selalu paham dengan kondisi pria itu.
“aku telah melakukan kesalahan” gumam alva pelan.
Ervan menatap lekat mata alva, lalu dia menghembuskan nafas beratnya, “duduklah dulu, ceritakan semuanya padaku” ujar ervan sambil menepuk bahu alva pelan, di lorong itu tidak ada siapapun hanya ada kursi tempat orang duduk untuk beristirahat sejenak. “kesalahan apa yang telah kau lakukan” lanjut Ervan setelah mereka duduk di salah satu sudut rumah sakit.
Alva mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto yang dikirim Jeremy padanya. “aku menerima ini dan aku sangat marah, dibutakan oleh emosi aku melimpahkan semuanya pada adelia, aku memarahinya tanpa membiarkan dia memberikan penjelasan_” Alva menghentikan ucapannya dan mengusap wajahnya dengan kasar. “tanpa sadar aku mengucapkan kata perpisahan_” lanjut alva.
“lalu apa yang terjadi?” tanya Ervan karena sekarang alva benar benar menghentikan ucapannya dan terdiam cukup lama, ‘dia sama sekali tidak memberiku petunjuk, ini nih kalau bicara sama manusia kulkas 2 pintu, bicaranya ngelantur dan terpotong potong’ gumam ervan dalam hati.
“Adelia pingsan di depan mataku, dan sekarang dia sedang dirawat di sini” ujar alva.
Tatapan yang diberikan alva berhasil membuat ervan diam. Benar benar diam bahkan sepertinya pria itu ragu jika dia harus kembali lagi berbicara. Sepertinya kali ini cukup serius sehingga dia tidak boleh bercanda.
Ervan meneguk saliva nya merasakan ada batu yang tersendat di tenggorokannya, pria itu ikut diam untuk beberapa saat. Diam dalam kecemasan yang sama seperti alva. ‘jadi wanita itu beneran sakit? Apakah parah?’ ervan bertanya dalam hati.
“Tatapanmu terlalu berlebihan, aku hanya bercanda” Akhirnya ervan memutuskan untuk kembali lagi membuka mulutnya, dia mencoba mencairkan suasana panas di tubuh pria itu, “Jadi apa yang terjadi pada wanita itu hingga dia harus dirawat?” tambah ervan lagi dengan cengiran yang dibuat semanis mungkin, berharap alva akan memberikannya kesempatan untuk hidup.
“Adelia hamil” jawab alva singkat.
“Ohh..” ervan mengangguk angguk paham tidak lebih dari tiga detik, kemudian matanya membulat sempurna dan mulutnya menganga lebar, “APA??! ADELIA HAMIL???!” pekik Ervan begitu sadar dengan maksud ucapan Alva.
“kecilkan suaramu bodoh” umpat alva.
“Astaga, benarkah itu? Kau serius?” tanya Ervan dengan suara pelan
Alva memang menyuruh pria itu untuk mengecilkan suaranya. Tapi tidak dengan cara seperti sekarang ini, Ervan bicara begitu pelan hingga dia benar benar mendekatkan kepalanya sendiri kea rah alva. Memastikan jika Alva mendengarnya.
“Jauhkan kepalamu, orang orang akan beranggapan yang tidak tidak”
“Yang tidak tidak?” ervan menoleh ke segala arah Lorong rumah sakit, dan ada beberapa orang di sana menatap mereka berdua. “Ahh kau benar, aku lelah jika harus di gosipkan lagi memiliki hubungan asmara denganmu” gumamnya menjauh dari tubuh alva, dia cukup paham dengan tatapan orang orang ke arahnya.
“jadi adelia benar benar hamil? Anak siapa?” tanya Ervan dengan polosnya.
“Anakku” jawab alva sekali lagi dengan singkat.
Ervan menatap tubuh alva di bagian bawah lalu menatap wajah alva mata pria itu melotot lalu beberapa detik kemudian dia berteriak kencang.
“APA??!” bukan hanya membuat orang orang di sekitar kembali menatapnya, Ervan berhasil membuat beberapa orang yang sedang berjalan menghentikan langkah kakinya secara reflek. Teriakannya barusan benar benar tak terkontrol, ervan melupakan fakta jika dirinya berada di rumah sakit. Pria itu bahkan harus dengan rela membiarkan dirinya sendiri di peringatkan secara langsung oleh salah satu perawat agar tidak berisik, benar benar memalukan.
Sementara yang alva lakukan hanya mendesah kecil, tanpa ikut meminta maaf kepada orang orang seperti yang Ervan lakukan, padahal jelas karena dirinyalah Ervan melakukan Tindakan bodoh seperti tadi. Harusnya dia ikut andil dalam insiden itu, Alva mengabaikannya.
...🎭🎭🎭🎭🎭...