Trapped in Love

Trapped in Love
Episode 2 Asa Baru di Krang Anyar



Sejak kata-kata ibudua hari yang lalu, aku belum lagi mampu membahas tentang keberangkatanku.


Beliau belum memberikan izin sampai aku menerima syarat-syaratnya. Hal membuatsemangatku hilang. Jelas aku  tidak akan pergi tanpa restunya.


Siang ini, Paman Hasan dari Cirebon datang berkunjung. Tapi tanpa membawa anak istrinya. Rencananya


dia akan menginap disini dan kembali ke Cirebon besok pagi. Katanya dia mampir


sekaligus mengantar pesanan meubel ke pemalang dengan mobil sendiri.


Ibu menyambut Paman dengan senang. Beliau mengabaikan masalahku dan berbicara sebagaimana biasanya.


Ibu memang luar biasa. Mampu memendam semua unek-unek dalam hati. Sehingga melihat kehebatan ibu, timbul penyesalanku  memaksakan kehendak mengambil pekerjaan di desa. Aku janji, setelah Paman Hasan pulang, akan mengklarifikasi  soal pekerjaan dengan ibu.


Di saat makam malam,Paman Hasan membuka percakapan.


“Aldi, apa kamu sudah mendapat surat panggilan mengajar?”


Aku yang sedang makan agak terkejut.


“Bagaimana Pamantahu?”


“Maaf Paman belum memberitahu.” Paman Hasan melirik Ibu. “Ceritanya, beberapa bulan yang lalu,


Paman pergi ke pemalang untuk membicarakan pesanan meubel. Tepatnya di daerah Watu Kumpul, Pemalang selatan. Nah, secara kebetulan yang mau pesan meubel adalah seorang kepala sekolah. Langsung saja Paman iseng-iseng tanya  lowongan mengajar buat kamu. Lalu beliau meminta nama dan alamatmu, ya Paman kasih saja kepadanya.”


“Jadi  Paman Hasan ada dibalik semua ini?” sambung Ibu kurang  senang.


“Mbak Yu ini bagaimana. Kan, Mbak Yu sendiri  yang minta dicarikan lowongan untuk Aldi.”


Ibu menghela nafas dalam-dalam.


“Aku senang, karena paman-lah  yang sudah membantuku,” ujarku senang.


“Sama-sama. Tapi kira-kira kamu betah nggak, mengajar didesa  terpencil. Kalau nggak salah, nama desanya Karanganyar, Watu Kumpul. Nani kalau salah, kamu bisa cari di geogle maps atau tanya langsung sama Pak


kepala sekolah. Tapi sayang, paman lupa namanya.”


“Beres Paman.”


“Terus kapan kamu


akan berangkat?”


“Insya Allah  akhir pekan ini.”


Sebelum Paman selesai bicara, Ibu pergi meninggalkan meja makan. Alasannya sih katanya sudah mengantuk.


“Ada apa dengan Ibumu?” tanya Paman Hasan.


Lalu secara detail aku ceritakan semuanya. Termasuk keinginannya untuk menikahkan aku dengan


wanita karir bernama Nima.


Paman Hasan tiba-tiba tertawa.


“Kok, ibumu bisa senaif itu sih. Apa dia sudah mengenal  calon mantunya itu?”


Aku mengangkat kedua bahu.


“Katanya hanya pernah datang kesini sama ibunya. Sejak itu ibu langsung sreg sama dia.”


Paman mangguk-mangguk.


“Nanti paman akan bicara sama dia,” sahutnya.


“Semoga ibu bisa mengerti prinsipku, Paman.”


Paman Hasan mengangguk.


***


Matahari mengelincir  turun ke barat. Sinarnya masih menghangatkan  keindahan di awal bulan Juli.  Aku turun dari ojek pangkalan yang membawaku dari terminal  kecil di Watu Kumpul sampai ke desa kecil Karanganyar, di pinggiran selatan  kabupaten tegal.  Perlahan ku ayunkan kaki menapaki jalan aspalberlubang. Aku sengaja memilih jalan kaki sambil menikmati keindahan sore hari.


Selama berjalan menuju perkampungan, perhatianku lebih


tertuju pada lingkungan sekitar. Desa dengan ekosistem yang sempurna. Pertanian yang seolah tak terbatas. Ladang jagung luas tak terkirakan. Jalan dengan dibatasi pohon mahoni dan asem. Dibahu jalan berserakan bunga matahari liar tapi tetap menyempurnakan pemandangan alam menjelang sore.


Pemandangan tersebut sangat kontras dengan di kotaku. Semakin hari, semakin pada toleh bangunan proyek saluran air dan talud. Sehingga pohon-pohon sebagai paru-paru kota sudah mulai berkurang. Akibatnya


polusi semakin memperburuk  kesehatan orang-orang kota.


Sambil menikmati suasana desa, aku memikirkan lagi  tentang ibu. Terus terang aku merasa berdosa


sudah meninggalkan ibu dengan cara yang kurang tepat. Disaat ibu  belum benar-benar ikhlas, aku tetap nekad


berangkat juga. Padalah Paman Hasan sudah membicarakan soal prinsipku panjang ebar.


Aku memang harus   memenuhi panggilan hati. Menjadi seorang guru sudah menjadi keinginanku


sejak lepas dari SMA. Sejak itu aku terobsesi menjadi pahlawan tanpa tanda  jasa. Meski cita-cita mulia itu terbentur


dengan  harapan Ibu.  Aku janji, setelah menjadi seorang guru, aku


akan kembali dan akan menuruti keinginan ibu,  termasuk menikahi wanita pilihannya.


Di saat pikiranku sedang asyik


mengembara, tiba-tiba sebuah sepeda keluar dari gang kecildan terkejut melihat kehadiranku. Di arah lain nampak


sepeda motor yang melaju dengan ngebut.  Tak ayal lagi. Kecelakan ringan tak dapat


dihindarkan. Entah disengaja atau tidak, sepeda motor menyerempet gadis itu


hingga terjatuh dan kabur seketika.


spontanb erusaha menolong gadis itu. Dan aku mendapati sudah tak sadarkan


diri. Sejenak aku panik harus berbuat apa. Aku juga tidak sempat melihat


pengedara motor ugal-ugalan yang tak bertanggung jawab itu.


Beberapa saat,


pertolongan baru tiba. Dua orang warga sekitar iktu membantu.


“Rumah sakit


terdekat sebelah mana, Pak?” Dengan gugup aku bertanya kepada  mereka berdua.


“Disini jauh dari


rumah sakit. Sebaiknya dibawa ke klinik saja,” saran salah satu dari mereka.


“Tapi tidak ada


angkutan atau taksi,” keluhku sambil kebingungan.


“Pakai itu saja,


Mas.” Bapak-bapak itu kembali menyarankan. Sambil menunjuk sebuah angkutan


gerobak motor terparkir di pinggir jalan.


“Mari saya antar,


Mas,” lanjutnya seraya bergegas kearah kendaraan itu.


Tidak membuang


waktu, aku pun segera membawa gadis itu ke klinik. Sesampainya sampai di sana,


aku langsung bawa gadis itu ruang pasien. Dokter membawa masuk


gadis itu untuk diperiksa, sementara menunggu di depan.


***


Sekitar setengah


jam aku menunggu.  Rasa jenuh dan letih


menyergapku. Aku lirik jam ditangan kiri. Pukul 15.30. Cukup sore dan aku belum


menemukan sekolah atau tempat teduh yang dituju.


Setengah jam


menunggu, baru dokter pemeriksa keluar dari ruang IGD.


“Keluarga


Anissa!” Seorang dokter perempuan memanggil.


“Saya Dok,” spontan aku menjawab.


Lalu dokter itu


menyuruhku masuk ruangannya.


“Anda siapanya Anissa,” tanya


Aku tergagap. Bingung harus menjawab apa.


“Aku  bukan siapa-siapanya Dok.”


Kemudian aku menceritakan secara singkat kronologis kejadiannya.


Dokter itu


mengangguk.


“Untuk pasien ada


masalah serius.  Luka di bagian wajah


tidak  begitu seriys. Namun kakinya—tepatnya


engsel kaki  perlu penangangan intensif.


Karena ada pergeseran sendi engsel dan proses penyembuhannya membutuhkan waktu


panjang.”


“Perlu berapa lama


dia istirahat, Dok?”


“Di klinik butuh


tiga hari perawatan. Namun setelah itu  dia memerlukan waktu  beberapa


bulan untuk pemulihan.


Aku cukup


tercengang mendengarnya. Tak disangka kehadiranku di desa ini membawa


petaka—setidaknya terlibat dengan masalah yang tidak diinginkan. Aku jadi


teringat ibu. Jangan-jangan ini karena beliau belum ikhlas merelakan


kepergianku.


 “Tapi  kira-kira


tidak sampai cacat kan?”


“Tidak. Dia akan


kembali normal. Asal  bisa menjaga


gerakan kakinya,” saran Bu Dokter. Lalu dia meneruskan. “Oh ya untuk biaya


admistrasi bagaimana? Apa  menunggu


keluarganya?”


Aku tidak berpikir


untuk menunggu keluarganya. Yang ada diotakku saat ini adalah segera


membereskan masalah yang melibatkanku..


“Begini saja.  Anda bantu kami menemukan keluarganya?” ujar


Dokter itu.


Aku berpikir


sejenak.


“Tidak perlu. Biar


aku yang menanggung biayanya.”


Dokter itu


tersenyum.


“Anda baik sekali. Silakan ke ruang administrasi.”


Sebelum pergi, aku


mendapat izin menjenguk pasien.  Sebelah


wajahnya diperban. Dan kakinya dibalut perban.


Begitu sampai di


ruang lobi, dua orang seorang lelaki  setengah baya datang bersama pemuda. Mereka menunjukkan luapan emosi.


 “Apa yang kau lakukan pada  sepupuku!” damprat  pemuda itu.


“Maaf.....”


Plakkk!


Aku melenguh. Pipiku


terasa panas menerima tamparan keras dari lelaki muda bernama Dorman.


Seumur-umur, baru kali ini ditampar orang.


“Kalau terjadi


apa-apa sama dia, kau harus tanggung jawab!” sambung lelaki setengah baya. Dia


bernama Pak Rudi, ayah korban.


Aku diam saja


sambil menahan perih.


“Semuanya tenang.


Jangan ada keributan disini!”  Tiba-tiba


Bu Dokter menjelaskan.


“Tapi dia sudah


mencelakai sepupu saya Dok!” ketus Dorman.


“Kalian jangan main


hakim sendiri. Bukan dia pelakunya. Justru dia yang menolong putri anda dari


pengendara motor yang tidak bertanggung jawab!”


Pak Rudi menatapku


dalam-dalam. Raut wajahnya menunjukkan rasa malu dan penyesalan. Namun tidak


dengan Darmon. Pemuda berusia dua puluh lima tahun itu terlihat acuh tak acuh.


 “Maafkan saya.” Pak Rudi menemuiku sambil


mengulurkan tangan sebagai pertanda minta maaf. “Saya tidak tahu. Tadi  keponakan saya terbawa emosi.”


 Aku menyambut ulurannya. Meski dengan hati


kesal.  Permintaan maafnya tidak bisa


mengobati pipiku yang lebam serta  harga


diriku yang sudah diinjak-injak.


“Tidak apa-apa,”


jawabku singkat. “Yang penting sekarang putri Bapak ditangani dokter.”


“Iya. Terima kasih


atas semua kebaikan anda,” ujar Pak Rudi.


Atas saran dokter,


Annisa dirawat selama tiga hari.  Hal itu


dikarenakan tulang-tulang sendi kaki  belum benar-benar menyatu seperti semula. Selama itu, Annisa menjadi


tanggung jawabku. Hampir separuh waktu dihabiskan menjaga gadis  berusia sembilan belas tahun itu. Sesekali


aku sempatkan waktu  mencari tempat kos


atau kontrakan selama tinggal di desa Karanganyar.


***