
Sejak kata-kata ibudua hari yang lalu, aku belum lagi mampu membahas tentang keberangkatanku.
Beliau belum memberikan izin sampai aku menerima syarat-syaratnya. Hal membuatsemangatku hilang. Jelas aku tidak akan pergi tanpa restunya.
Siang ini, Paman Hasan dari Cirebon datang berkunjung. Tapi tanpa membawa anak istrinya. Rencananya
dia akan menginap disini dan kembali ke Cirebon besok pagi. Katanya dia mampir
sekaligus mengantar pesanan meubel ke pemalang dengan mobil sendiri.
Ibu menyambut Paman dengan senang. Beliau mengabaikan masalahku dan berbicara sebagaimana biasanya.
Ibu memang luar biasa. Mampu memendam semua unek-unek dalam hati. Sehingga melihat kehebatan ibu, timbul penyesalanku memaksakan kehendak mengambil pekerjaan di desa. Aku janji, setelah Paman Hasan pulang, akan mengklarifikasi soal pekerjaan dengan ibu.
Di saat makam malam,Paman Hasan membuka percakapan.
“Aldi, apa kamu sudah mendapat surat panggilan mengajar?”
Aku yang sedang makan agak terkejut.
“Bagaimana Pamantahu?”
“Maaf Paman belum memberitahu.” Paman Hasan melirik Ibu. “Ceritanya, beberapa bulan yang lalu,
Paman pergi ke pemalang untuk membicarakan pesanan meubel. Tepatnya di daerah Watu Kumpul, Pemalang selatan. Nah, secara kebetulan yang mau pesan meubel adalah seorang kepala sekolah. Langsung saja Paman iseng-iseng tanya lowongan mengajar buat kamu. Lalu beliau meminta nama dan alamatmu, ya Paman kasih saja kepadanya.”
“Jadi Paman Hasan ada dibalik semua ini?” sambung Ibu kurang senang.
“Mbak Yu ini bagaimana. Kan, Mbak Yu sendiri yang minta dicarikan lowongan untuk Aldi.”
Ibu menghela nafas dalam-dalam.
“Aku senang, karena paman-lah yang sudah membantuku,” ujarku senang.
“Sama-sama. Tapi kira-kira kamu betah nggak, mengajar didesa terpencil. Kalau nggak salah, nama desanya Karanganyar, Watu Kumpul. Nani kalau salah, kamu bisa cari di geogle maps atau tanya langsung sama Pak
kepala sekolah. Tapi sayang, paman lupa namanya.”
“Beres Paman.”
“Terus kapan kamu
akan berangkat?”
“Insya Allah akhir pekan ini.”
Sebelum Paman selesai bicara, Ibu pergi meninggalkan meja makan. Alasannya sih katanya sudah mengantuk.
“Ada apa dengan Ibumu?” tanya Paman Hasan.
Lalu secara detail aku ceritakan semuanya. Termasuk keinginannya untuk menikahkan aku dengan
wanita karir bernama Nima.
Paman Hasan tiba-tiba tertawa.
“Kok, ibumu bisa senaif itu sih. Apa dia sudah mengenal calon mantunya itu?”
Aku mengangkat kedua bahu.
“Katanya hanya pernah datang kesini sama ibunya. Sejak itu ibu langsung sreg sama dia.”
Paman mangguk-mangguk.
“Nanti paman akan bicara sama dia,” sahutnya.
“Semoga ibu bisa mengerti prinsipku, Paman.”
Paman Hasan mengangguk.
***
Matahari mengelincir turun ke barat. Sinarnya masih menghangatkan keindahan di awal bulan Juli. Aku turun dari ojek pangkalan yang membawaku dari terminal kecil di Watu Kumpul sampai ke desa kecil Karanganyar, di pinggiran selatan kabupaten tegal. Perlahan ku ayunkan kaki menapaki jalan aspalberlubang. Aku sengaja memilih jalan kaki sambil menikmati keindahan sore hari.
Selama berjalan menuju perkampungan, perhatianku lebih
tertuju pada lingkungan sekitar. Desa dengan ekosistem yang sempurna. Pertanian yang seolah tak terbatas. Ladang jagung luas tak terkirakan. Jalan dengan dibatasi pohon mahoni dan asem. Dibahu jalan berserakan bunga matahari liar tapi tetap menyempurnakan pemandangan alam menjelang sore.
Pemandangan tersebut sangat kontras dengan di kotaku. Semakin hari, semakin pada toleh bangunan proyek saluran air dan talud. Sehingga pohon-pohon sebagai paru-paru kota sudah mulai berkurang. Akibatnya
polusi semakin memperburuk kesehatan orang-orang kota.
Sambil menikmati suasana desa, aku memikirkan lagi tentang ibu. Terus terang aku merasa berdosa
sudah meninggalkan ibu dengan cara yang kurang tepat. Disaat ibu belum benar-benar ikhlas, aku tetap nekad
berangkat juga. Padalah Paman Hasan sudah membicarakan soal prinsipku panjang ebar.
Aku memang harus memenuhi panggilan hati. Menjadi seorang guru sudah menjadi keinginanku
sejak lepas dari SMA. Sejak itu aku terobsesi menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Meski cita-cita mulia itu terbentur
dengan harapan Ibu. Aku janji, setelah menjadi seorang guru, aku
akan kembali dan akan menuruti keinginan ibu, termasuk menikahi wanita pilihannya.
Di saat pikiranku sedang asyik
mengembara, tiba-tiba sebuah sepeda keluar dari gang kecildan terkejut melihat kehadiranku. Di arah lain nampak
sepeda motor yang melaju dengan ngebut. Tak ayal lagi. Kecelakan ringan tak dapat
dihindarkan. Entah disengaja atau tidak, sepeda motor menyerempet gadis itu
hingga terjatuh dan kabur seketika.
spontanb erusaha menolong gadis itu. Dan aku mendapati sudah tak sadarkan
diri. Sejenak aku panik harus berbuat apa. Aku juga tidak sempat melihat
pengedara motor ugal-ugalan yang tak bertanggung jawab itu.
Beberapa saat,
pertolongan baru tiba. Dua orang warga sekitar iktu membantu.
“Rumah sakit
terdekat sebelah mana, Pak?” Dengan gugup aku bertanya kepada mereka berdua.
“Disini jauh dari
rumah sakit. Sebaiknya dibawa ke klinik saja,” saran salah satu dari mereka.
“Tapi tidak ada
angkutan atau taksi,” keluhku sambil kebingungan.
“Pakai itu saja,
Mas.” Bapak-bapak itu kembali menyarankan. Sambil menunjuk sebuah angkutan
gerobak motor terparkir di pinggir jalan.
“Mari saya antar,
Mas,” lanjutnya seraya bergegas kearah kendaraan itu.
Tidak membuang
waktu, aku pun segera membawa gadis itu ke klinik. Sesampainya sampai di sana,
aku langsung bawa gadis itu ruang pasien. Dokter membawa masuk
gadis itu untuk diperiksa, sementara menunggu di depan.
***
Sekitar setengah
jam aku menunggu. Rasa jenuh dan letih
menyergapku. Aku lirik jam ditangan kiri. Pukul 15.30. Cukup sore dan aku belum
menemukan sekolah atau tempat teduh yang dituju.
Setengah jam
menunggu, baru dokter pemeriksa keluar dari ruang IGD.
“Keluarga
Anissa!” Seorang dokter perempuan memanggil.
“Saya Dok,” spontan aku menjawab.
Lalu dokter itu
menyuruhku masuk ruangannya.
“Anda siapanya Anissa,” tanya
Aku tergagap. Bingung harus menjawab apa.
“Aku bukan siapa-siapanya Dok.”
Kemudian aku menceritakan secara singkat kronologis kejadiannya.
Dokter itu
mengangguk.
“Untuk pasien ada
masalah serius. Luka di bagian wajah
tidak begitu seriys. Namun kakinya—tepatnya
engsel kaki perlu penangangan intensif.
Karena ada pergeseran sendi engsel dan proses penyembuhannya membutuhkan waktu
panjang.”
“Perlu berapa lama
dia istirahat, Dok?”
“Di klinik butuh
tiga hari perawatan. Namun setelah itu dia memerlukan waktu beberapa
bulan untuk pemulihan.
Aku cukup
tercengang mendengarnya. Tak disangka kehadiranku di desa ini membawa
petaka—setidaknya terlibat dengan masalah yang tidak diinginkan. Aku jadi
teringat ibu. Jangan-jangan ini karena beliau belum ikhlas merelakan
kepergianku.
“Tapi kira-kira
tidak sampai cacat kan?”
“Tidak. Dia akan
kembali normal. Asal bisa menjaga
gerakan kakinya,” saran Bu Dokter. Lalu dia meneruskan. “Oh ya untuk biaya
admistrasi bagaimana? Apa menunggu
keluarganya?”
Aku tidak berpikir
untuk menunggu keluarganya. Yang ada diotakku saat ini adalah segera
membereskan masalah yang melibatkanku..
“Begini saja. Anda bantu kami menemukan keluarganya?” ujar
Dokter itu.
Aku berpikir
sejenak.
“Tidak perlu. Biar
aku yang menanggung biayanya.”
Dokter itu
tersenyum.
“Anda baik sekali. Silakan ke ruang administrasi.”
Sebelum pergi, aku
mendapat izin menjenguk pasien. Sebelah
wajahnya diperban. Dan kakinya dibalut perban.
Begitu sampai di
ruang lobi, dua orang seorang lelaki setengah baya datang bersama pemuda. Mereka menunjukkan luapan emosi.
“Apa yang kau lakukan pada sepupuku!” damprat pemuda itu.
“Maaf.....”
Plakkk!
Aku melenguh. Pipiku
terasa panas menerima tamparan keras dari lelaki muda bernama Dorman.
Seumur-umur, baru kali ini ditampar orang.
“Kalau terjadi
apa-apa sama dia, kau harus tanggung jawab!” sambung lelaki setengah baya. Dia
bernama Pak Rudi, ayah korban.
Aku diam saja
sambil menahan perih.
“Semuanya tenang.
Jangan ada keributan disini!” Tiba-tiba
Bu Dokter menjelaskan.
“Tapi dia sudah
mencelakai sepupu saya Dok!” ketus Dorman.
“Kalian jangan main
hakim sendiri. Bukan dia pelakunya. Justru dia yang menolong putri anda dari
pengendara motor yang tidak bertanggung jawab!”
Pak Rudi menatapku
dalam-dalam. Raut wajahnya menunjukkan rasa malu dan penyesalan. Namun tidak
dengan Darmon. Pemuda berusia dua puluh lima tahun itu terlihat acuh tak acuh.
“Maafkan saya.” Pak Rudi menemuiku sambil
mengulurkan tangan sebagai pertanda minta maaf. “Saya tidak tahu. Tadi keponakan saya terbawa emosi.”
Aku menyambut ulurannya. Meski dengan hati
kesal. Permintaan maafnya tidak bisa
mengobati pipiku yang lebam serta harga
diriku yang sudah diinjak-injak.
“Tidak apa-apa,”
jawabku singkat. “Yang penting sekarang putri Bapak ditangani dokter.”
“Iya. Terima kasih
atas semua kebaikan anda,” ujar Pak Rudi.
Atas saran dokter,
Annisa dirawat selama tiga hari. Hal itu
dikarenakan tulang-tulang sendi kaki belum benar-benar menyatu seperti semula. Selama itu, Annisa menjadi
tanggung jawabku. Hampir separuh waktu dihabiskan menjaga gadis berusia sembilan belas tahun itu. Sesekali
aku sempatkan waktu mencari tempat kos
atau kontrakan selama tinggal di desa Karanganyar.
***