Trapped in Love

Trapped in Love
90. Penguntit Nara



“haaah” adelia dan alva serentak menghela nafas panjang lalu mereka berdua saling tatap dan tertawa pelan. Adelia dan alva baru saja pulang dari rumah orang tua dan mertua mereka.


“Sayang makasih ya” ujar alva tiba tiba sambil mendekatkan dirinya pada adelia.


“Hmm?” adelia tampak bingung dengan ucapan alva.


“Makasih untuk tetap bersamaku, makasih untuk tidak bertanya lebih banyak lagi soal di mobil, dan terima kasih untuk hadiah mu” tangan alva terulur untuk mengelus perut rata adelia.


Adelia mengangguk tapi dalam hati dia berkata lain, dia akan mencari tau apa yang terjadi tentang ponselnya dan kenapa alva bisa marah seperti itu. Adelia yakin ponselnya tertinggal di kamar inap nara tetapi kenapa alva tidak bisa menemukannya? Hal itu yang membuat adelia menjadi semakin penasaran.


“sayang~ sedang memikirkan apa?” tanya alva, sangking penasaran dengan apa yang teradi pada alva membuat wanita itu tidak sadar alva sudah berada sangat dekat dengannya, detik berikutnya bibir alva sudah menempel pada bi_birnya, adelia hanya bisa mengikuti alur yang sudah suaminya buat.


...🏒🏒🏒🏒🏒...


Adelia mengulum senyum melihat menu sarapan lengkap yang sudah suaminya buatkan untuknya, Alva benar benar memanjakan adelia, dia melarang adelia memasak bahkan pagi pagi sekali dia memasak dan menyiapkan semua keperluan adelia, seperti sekarang ini.


Tiba tiba saja adelia teringat tentang keinginannya kemarin yang ingin mencari tau apa yang terjadi dengan alva, dia tidak bisa menghubungi Ervan atau Nara karena ponselnya hilang, jadi adelia hanya bisa berharap besok suaminya akan membelikan ponsel baru baru.


‘ting tong ting tong’


Pikirannya pecah, Adelia berhenti. Matanya menoleh bergantian kearah pintu kamar dan pintu utama Apartement. Belum ada tanda-tanda Alva keluar dari kamar itu sejak pria itu memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Akhirnya dengan malas Adelia beranjak dari tempat duduknya. Membukakan pintu untuk seseorang yang sejak tadi menekan bel.


“Ervan?” seru adelia sedikit kebingungan.


“Hai.” Sapa Ervan.


Pria itu tersenyum canggung mendapatkan Adelia berdiri dihadapannya, berbeda dengan Adelia yang sepertinya menemukan air di sebuah gurun pasir. Harapan yang menjadi kenyataan dalam sekejap mata. Mata wanita itu terlihat berbinar takjub penuh syukur, berpikir bisa bertanya pada pria itu apa yang terjadi.


Sedangkan Ervan, pria itu justru terlihat kaku. Sapaan pria itu saja terdengar aneh, mimik wajah yang di tampakan Ervan tak membuat Adelia mencurigainya. Rasanya aneh sekali, dia tidak pernah memiliki suasana seperti ini sebelumnya. Bukankah keributan selalu terjadi saat kedua orang itu bertemu.


“Kebetulan kau kesini” seru adelia senang.


“Ada apa?”


Sebelum Adelia benar-benar mengizinkan pria itu untuk masuk kedalam, Gerakannya sudah lebih dulu tertahan. Adelia terhempas mundur ketika Alva menarik tangannya kebelakang, menyembunyikan tubuhnya dibalik tubuh pria itu, menghalangi pandangan wanita itu untuk dapat melihat Ervan yang sedang di ajaknya berbicara.


“Alva?” protes adelia pada suaminya yang tiba tiba saja mengganggu dia berbicara.


“Pergilah.” Alva mencegah mulut itu untuk berbicara lebih lanjut, bahkan tanpa basi-basi dia mengusir Ervan. Mengabaikan tatapan wanita yang sudah menatapnya penuh tanya.


“Kita perlu bicara” ujar Ervan datar.


“Masuklah ke dalam del” Tanpa menoleh, Alva menyuruh Adelia pergi dari sana. Wanita itu tanpa melakukan protes melangkah meninggalkan kedua pria itu di depan pintu.


Tentunya dengan membawa perasaan penuh tanya.


Entah apa yang terjadi. Adelia sendiri yakin jika ada yang tidak beres dengan kedua pria itu. Apa mereka bertengkar? Kenapa?


.


Taman di dekat alva dan adelia tinggal menjadi pilihan Alva dan ervan untuk berbicara. Alva memilih tempat itu karena tidak terlalu jauh dari apartemen tempat dia tinggal dan adelia juga tidak mungkin bisa mendengar ucapannya dengan ervan.


Kedua pria itu masih duduk di salah satu bangku dalam keadaan diam, tidak ada satu orangpun yang mau memulai pembicaraan keduanya sama sama terdiam membisu dengan pikiran mereka masing masing.


“maafkan aku” ervan yang pertama kali berbicara dan memecahkan kebisuan mereka. Alva masih tak menanggapi suara yang keluar dari mulut orang disampingnya. Tatapannya masih sama, lurus kedepan tanpa menoleh ke arah Ervan.


“Aku tidak berniat melakukannya, sungguh perasaan ini muncul dengan sendirinya tanpa aku duga.” Ervan memulainya lagi. Pria itu berusaha sangat keras agar tidak mengeluarkan kalimat yang membuat emosi Alva terpancing. Sebisa mungkin, Ervan menyaring ucapannya terlebih dulu. “Aku tak berniat merebutnya darimu. Sungguh Alva, kau bahkan tidak tahu bagaimana bahagianya aku bisa melihatmu hidup seperti itu lagi. Aku sama sekali tidak berniat untuk merusak kebahagianmu” lanjut Ervan lagi.


Alva tetap tak bergeming. Pria itu memang tak memberi respon, tapi Alva mencerna ucapan pria disampingnya dengan baik. Bagian mana saja yang memang patut dia renungkan.


“Aku akan pergi jika kehadiranku membuatmu terganggu” tambah ervan lagi.


Entah dengan membawa perasaan seperti apa, Alva pergi menjauh dari sana dengan begitu saja. Meninggalkan Ervan seorang diri yang di lingkupi perasaan yang beraneka ragam. Penyesalan dan rasa sakit itu memenuhi perasaannya.


Bagaimanapun, Alva adalah sahabat yang dianggapnya seperti adik. Seorang sahabat dan kakak mana yang perasaannya tidak sakit melihat orang yang disayanginya bersikap seolah-olah dirinya bukanlah siapa-siapa. Sesuatu yang bahkan tak terlihat berarti.


Haruskah Ervan menyalahkan perasaannya? Atau dia harus membenci wanita itu? Wanita yang secara tidak langsung berhasil merusak hidup dan hatinya secara bersamaan.


Kenapa perasaan seperti ini harus muncul pada orang yang tidak tepat.


Ervan memejamkan matanya rapat. Bayangan bersama dengan wanita itu muncul dengan tanpa dia inginkan. Dia sudah berusaha sekeras mungkin menyangkal perasaannya, tapi lambat laun, perasaan itu justru semakin tak terkendali. Matanya selalu tidak ingin lepas menjangkau gadis itu saat Adelia berdiri di jarak yang sama dengannya. Hingga tanpa dia sadari, perasaan itu berubah menjadi sebuah perasaan terlarang. Entah sejak kapan?


“Astaga disini dingin.”


Ervan menghela samar tanpa diketahui oleh orang yang sudah pasti berada dibelakang tubuhnya. Matanya terbuka, tanpa menoleh untuk memastikanpun, Ervan tahu siapa pemilik suara lembut itu. Hanya saja sejak kapan orang itu ada disana, dibelakang tubuhnya.


“Tapi disini indah__ dan cukup tenang.”


Kali ini matanya menjalar kesamping saat gadis itu mengulurkan satu kaleng minuman hangat tepat didepan wajahnya. “Kau mengikutiku?”


Ervan menerima minumannya dan kembali membuat tatapannya lurus kedepan. Tangannya bergerak membuka minuman kaleng yang diberikan Nara kepadanya.


“Aku mengikutimu sejak kau keluar dari tempat persembunyianmu beberapa hari.”


“Kau baru saja mengakui dirimu seorang penguntit Nara.”


Nara tersenyum hambar dalam perasaannya yang tidak menentu. Entah bagaimana bisa lelucon Ervan kali ini terdengar begitu kaku dan menyedihkan.


...🥍🥍🥍🥍🥍...


bonus pict