Trapped in Love

Trapped in Love
89. Bertemu Jeremy



“Sayang~ bangun” panggil alva dengan lembut, adelia benar benar tertidur saat wanita itu memejamkan matanya.


Perlahan mata adelia terbuka, wanita itu mengerjab dan keningnya berkerut bingung. “dimana?” tanya adelia dengan suara khas orang baru bangun tidur.


“Kita di restoran jepang, bukannya tadi kamu bilang mau makan disini” ujar alva, tadi sebelum menjenguk Nara, adelia memang terus membicarakan tentang ingin sekali makan di restoran jepang yang baru dia tonton di youtube. “bisa bangun sendiri? Atau mau aku gendong ke dalam?” tambah alva dengan mengelus pipi istrinya yang masih setengah sadar.


“Bisa sendiri” jawab adelia, alva membantunya melepas seftybelt dan pria itu langsung menggenggam tangan istrinya dengan erat seolah takut kehilangan adelia.


.


“Hai alva!” baru saja Alva dan adelia memasuki restoran itu, alva di panggil tiba tiba, dan alva sangat mengenal orang yang memanggilnya.


Adelia sempat terdiam melirik orang yang memanggil alva lalu melirik suaminya, “kita tidak ke sana?” tanya adelia.


Alva menggelengkan kepalanya, “tidak perlu, kita makan di meja terpisah saja” ujar alva dingin.


Baru saja alva hendak melangkah pergi melewati Jeremy dan Luna, kedua orang itu kembali berbicara, “kau tidak melarikan diri karena takut istrimu tau tentang Lana kan?” sindir Jeremy.


Adelia yang berada tepat disebelah alva juga mendengar sindiran dari Jeremy dengan sangat jelas, emosi tiba tiba menguasai adelia, wanita itu menarik tangan suaminya dan dengan terang terangan duduk di hadapan Jeremy dan Luna. “Halo kalian yang mengajak kami makan bukan? Berarti kalian harus mentraktir ibu hamil ini, tiba tiba aku mengidam ingin makan baaaannnnyaaaaaak tapi kalian yang harus membayarkannya” ujar adelia sambil tersenyum lebar.


“apa ibu hamil? Kau ha-mil?” ulang Luna tidak percaya.


“Benar banget, dan anakku kembar sudah pasti porsinya banyak bukan, karena aku mengidam jadi kalian harus menuruti ibu hamil ini” tantang adelia.


“Tidak mungkin, mana mungkin kau hamil” Luna menolak untuk percaya, sampai sekarang dia masih menganggap pernikahan alva dan adelia hanya sebuah perjanjian untuk menghilangkan rumor yang alva miliki.


“kenapa tidak bisa? Kami suami istri, sudah jelas kalau pria dan wanita melakukan reproduksi pasti menghasilkan anak, kamu pernah belajar biologi gak sih?” sindir adelia.


“Pasti itu bukan anak alva, pasti anak dari mantan kekasihmu kan” sindir luna.


“jaga mulut luna, hanya aku yang pernah menyentuh istriku, jangan pernah kau merendahkan istriku” amuk alva, dia memang diam sejak tadi, tapi mendengar luna menghina istrinya alva tidak bisa diam lagi.


“kau yakin alva? Kau ihat sendiri foto yang aku tunjukkan kemarin bukan” Jeremy ikutan berbicara.


“Kau jahat alva! Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaan Lana! Kau mengkhianati adikku!” potong Jeremy.


“Maaf menyela, bukannya lana sudah mati? Orang mati dan orang hidup tidak bisa bersama, cara satu satunya mereka bersama yang hidup mesti mati, baru bisa bersama, kenapa alva jadi disindir mengkhianati lana?” sela adelia dengan tatapan polosnya.


“adikku mati karena melindungi alva! Seharusnya dia bisa melindungi adikku, kalau kau di posisi adikku kau pasti sedih saat orang yang sudah kau lindungi mencintai orang lain” bentak Luna pada adelia.


“Adik mu saja yang bodoh, kalau aku jadi adikmu, aku tidak akan menjadikan tubuhku sebagai penghalang untuk melindungi alva, tidak taukah dia, bagaimana tersiksanya orang yang di tinggalkan, kalau aku jadi dia, aku akan memeluk alva dan kalaupun tertabrak kami akan mati bersama dengan begitu tidak aka nada yang ditinggalkan dan meninggalkan, kenapa alva harus bertanggung jawab atas kematian adikmu, kalian berdua orang gila” ujar adelia to the point.


Luna dan Jeremy sempat terkejut dengan pernyataan adelia yang ceplas ceplos, wanita hamil itu bicara panjang lebar dengan sangat cepat dan ucapan yang sangat menyindir.


“Kau! Kau tidak pernah ditinggal oleh orang yang kau sayangi kan! Makanya kau seperti ini! Dasar manusia jahat tidak punya belas kasih!” sindir Luna.


“Maaf, aku punya belas kasih sesama makhluk hidup, tapi aku tidak punya belas kasih pada makhluk yang sudah mati, mati ya mati aja, ngapain ganggu ganggu urusan orang yang masih hidup, kenapa kalian seperti ini terus? Bukannya simpati yang datang tapi sindiran orang orang yang datang, hidup it uterus maju ke depan tidak ada yang mundur ke belakang, kalian tidak akan pernah menemukan kebahagiaan kalau hanya terus hidup dengan berjalan mundur” balas adelia, dia sama sekali tidak takut melawan luna yang beberapa tahun lebih tua darinya.


Alva mengulum senyumnya, istrinya memang berani, wanita itu memang wanita yang berbeda alva saja sempat kewalahan melawannya, baru baru ini saja alva bisa menjinakkan singa betina disebelahnya.


“Jadi kamu sama sekali tidak ada rasa bersalah telah mengambil pria yang adikku cintai” tanya Jeremy dingin.


“Tidak” jawab adelia siangkat dan sangat tegas, “kecuali dia masih hidup, baru aku merasa bersalah, dimana mana mana ada hubungan antara orang mati dan orang hidup, kalau ada maka dunia akan hancur, kalian harus coba ke psikiater sana, kasian nanti lama lama jadi gila” lanjut adelia.


“Kalau adikku matinya normal aku mungkin akan merelakan alva bersama orang lain tapi adikku mati karena melindungi dia, seharusnya adikku masih hidup sekarang kalau dia tidak melindungi dia” suara Jeremy mulai terdengar lemah.


“Dari tadi aku dengar kalian terus saja menyalahkan kematian adik kalian karena alva, tidak pernahkah kalian berfikir itu karena takdir? Siapa yang tau takdir tuhan, kita tidak akan pernah bisa membayangkan seperti apa takdir tuhan, aku tidak akan meninggalkan alva dan aku tidak akan merasa bersalah telah mengambil cinta alva untukku, aku juga perlu bahagia, menurut kalian orang mati perlu bahagia kan? Aku yang masih hidup juga mau bahagia, aku juga mau mendapat cinta dari suamiku, tuntutlah suamiku nanti kalau dia sudah mati, kalian datangi dia dan minta pertanggung jawabannya pada adik kalian yang mati, jangan mengganggu suamiku yang masih hidup karena sekarang dia adalah milikku” ujar adelia tegas.


Luna tegak dan menarik tangan Jeremy untuk pergi dari sana, dia tidak suka cara adelia berbicara hampir mampu mempengaruhi Jeremy jika benar begitu luna takut Jeremy akan mulai melihat asa depan.


“Cobalah melepaskan dengan Ikhlas, anda adalah orang yang pintar, seperti sekarang anda yang sangat menyangi luna karena takut kehilangannya seperti lana, cobalah pikirkan ucapanku, adikmu memang kasian karena dia mati hanya untuk melindungi pria yang dia cintai, tapi tidakkah kau pernah berfikir bagaimana jika kau yang ada di posisi adikmu, apa kau akan membiarkan orang yang kau cintai mati di depan matamu atau mengikuti caraku? Kau tidak pernah merasakan cinta makanya kau tidak tau besarnya pengorbanan untuk cinta, carilah kebahagiaan bersama orang yang kau cintai, maka kau akan mengerti artinya mengorbankan hidup demi dia yang kau cinta” ujar adelia pada Jeremy.


Pria itu mendengar dari awal hingga akhir lalu dia baru mengikuti Luna untuk pergi dari sana.


...🎸🎸🎸🎸🎸...