
Dengan senyum kecil, ervan menanggapi pertanyaan wanita itu. Ervan rasa adelia terlalu polos dan mudah dikerjai, “Aku hanya melakukannya di depanmu”.
“Apa?” Adelia membeo tanpa sadar. Dia sama sekali tidak mengerti maksud ucapan pria itu, “tapi untuk apa? Untuk alasan apa kalian melakukannya?” lanjut adelia sambil mengacak rambutnya frustasi.
“Bukan kalian, hanya aku yang melakukan itu semua” ralat Ervan.
Tiba tiba semua bayangan Ervan dan Alva yang selalu bersikap mesra di depan adelia berputar dalam pikiran adelia. Jika Adelia mem-flashback ulang, memang hanya Ervan yang sering bersikap berlebihan terhadap Alva di depannya.
Ingat kejadian saat pembicaraan kontrak? Pria ini yang selalu mendramatiskan hubungan dan perasaannya terhadap Alva. Lalu saat Ervan datang ke apartemen mereka, ervan juga yang mengurut Alva, sedangkan Alva hanya diam saja, itu juga adelia liat jika pria itu memang sengaja melakukannya, adelia pikir itu agar membuat dia cemburu.
Adelia kembali ingat alva tidak pernah sekalipun mengiyakan atau mengatakan bahwa dia mencintai Ervan.
“Aku tertipu” lirih adelia nanar. Melihat wajah sendu Adelia, Ervan malah mengulum senyumnya.
“Kau memang mudah di tipu” kekeh ervan.
Adelia langsung merubah air mukanya. Wajah yang menyedihkan beberapa menit lalu kini berubah mengerikan. Ia menatap ervan memberikan peringatan. Tapi pria itu justru membalas tatapan mengerikan Adelia dengan tersenyum lima jari.
“Tapi yang harus kau ketahui, Alva memang terkadang bisa bersikap manja padaku” aku Ervan, karena dia sangat mengenal alva sejak pria itu masih kecil.
“bersikap manja padamu?” beo adelia.
“aku dan Alva adalah sahabat kecil, makanya saat ada rumor buruk tentang kami orang tua kami tidak ada yang menjauhkan kami berdua, karena mereka tau kebenarannya, dan mereka memang sejak dulu tidak pernah mau tau tentang masalah anak anak mereka” ungkap Ervan.
Adelia mencibir, dia merasa dirinya sedang dibodohi oleh pria itu, “aku masih belum percaya” ujar adelia.
“kau perlu bukti?” tantang Ervan.
Adelia kembali membeku di tempatnya. Bukan karena ucapan Ervan, tapi pergerakan pria itu yang tiba tiba menghimpitnya antara sandaran sofa dan tubuh Ervan di depannya.
Pria itu memenjarakan tubuh adelia, dengan kedua tangannya. Ia menatap adelia dengan pandangan tidak biasa. Adelia menelan saliva nya ngeri. Dia tidak bisa berkedip.
“Aku bisa melakukan apa yang ada dalam otak kecilmu sekarang” ancam Ervan dengan senyuman liciknya, jarak bibir mereka berdua hanya tinggal sejengkal lagi.
“A-apa?” ujar adelia gagu.
Ervan semakin menghimpitnya. Tubuh pria itu sedikit demi sedikit semakin mendekat ke wajah adelia. Adelia sudah benar benar tidak bisa menjauh lagi. Tiba tiba tubuh wanita itu bergetar hebat. Dia takut sekarang, tidak seperti alva yang mendekat, sekarang hanya ketakutan yang adelia rasakan. Memberontak bukan pilihan yang tepat. Bisa saja dia malah akan di perkeos dengan sangat tidak layak.
“Me-menyingkir dari hadapanku, di sini banyak kamera cctv tersembunyi” ancam adelia.
Ervan menarik satu ujung bibirnya ke atas, ia tersenyum semakin mengerikan, “lalu kenapa?” tantang ervan.
“Alva akan melihatnya” ucap adelia cepat.
“aku rasa dia tidak akan keberatan berbagi denganku” gumam ervan.
Satu detik, dua detik, tiga detik. Sesuai dengan dentingan jarum jam dinding yang bergerak, kepala Ervan pun bergerak semakin dekat. Jaraknya sudah tidak bisa di toleransi lagi. Adelia harus bertindak sekarang, Apa dia harus menjerit dan meminta tolong, tapi dia tau apartemen itu kedap suara, jadi apa yang harus dia lakukan.
Pikiran itu mengantarkan adelia pada posisi yang semakin sulit. Dia benar benar terkurung dan ketakutan sekarang. Dan Ervan semakin gencar mendekatkan wajahnya, menjangkau wajah adelia, dan saat waktu itu tiba, Adelia refleks memutar kepalanya ke samping. Menghindari serangan dari pria itu. Matanya terpejam takut, tubuhnya masih bergetar, tapi adelia tidak merasakan sesuatu apapun.
“hahaha” Suara tawa Ervan mulai menggema. Adelia membuka matanya ragu, “kau takut?” sambung ervan.
Adelia menemukan Ervan sudah tidak lagi berada di atas tubuhnya. Pria itu kembali pada posisi awalnya. Duduk di samping adelia, dengan mulut yang terbuka lebar menertawai dirinya. Suara pria itu sangat keras.
“Dasar bodoh, kau kembali masuk jebakanku Adel” ledek ervan.
“apa?! Kau mengerjai ku?!” pekik adelia tidak percaya.
“Sudah aku katakan bukan? Bahwa kau itu memang mudah di kerjai” ledek ervan masih dengan tawa kerasnya.
“Dasar pria gila!” umpat adelia kesal, seluruh bantal sofa akhirnya melayang tanpa henti berturut turut kea rah ervan. Pria itu sama sekali tidak meringis, ataupun melawan adelia, Ervan justru semakin membuka mulutnya, menertawakan wanita itu, dan menatap adelia penuh minat.
“Adel ayo lah berhenti, aku menyerah adel” ujar ervan di sela tawanya.
Akhirnya keduanya berhenti. Ervan dan Adelia kembali duduk berdampingan, nafas keduanya sama sama terengah engah. “Jangan melakukan hal itu lagi, aku takut bodoh” umpat adelia kesal.
“Baiklah aku mengerti” ervan tersenyum tanpa dosa, tangannya terulur, bergerak di atas kepala adelia, mengacak rambut wanita itu, “aku minta maaf ya” tambah pria itu.
Setelah merenggut beberapa menit, Adelia kembali diam, begitupun dengan Ervan. Mereka larut dalam kediaman, memikirkan hal yang sama, yaitu seorang pria bernama Alva.
“lalu bagaimana dengan Lana?” gumam adelia tiba tiba.
“Bagaimana apanya?” tanya balik Ervan.
“Apa Alva juga bersikap manja padanya” gumam adelia pelan sangat pelan malah.
Ervan menoleh sekilas untuk melihat raut wajah adelia, “dia terlalu naif terhadap wanita itu meskipun mencintainya”.
“maksudnya?” tanya adelia tidak mengerti.
“Alva dan lana saling suka tapi mereka belum pernah menyatakan perasaan mereka masing masing, hanya tau jika mereka saling mencintai” ungkap Ervan.
Beberapa detik kemudian mereka kembali dalam suasana kebisuan. Adelia bahkan tidak tahu lagi harus berkomentar apa. Tapi dia ingin mengetahui beberapa hal tentang gadis itu, gadis yang begitu di cintai oleh suaminya. Gadis yang berhasil membuat suaminya mampu menerima rumor buruk tentangnya, hanya untuk mempertahankan ego pria itu agar dia hanya mencintai Lana selamanya.
Suasana hati adelia kembali buruk mengingat sekarang lawannya bukanlah ervan melainkan wanita lain, wanita yang posisinya sejak dulu tidak pernah tergantikan oleh siapapun, apakah dia mampu menggantikan posisi wanita itu. “Apa yang terjadi pada lana, maksudku apa yang terjadi padanya?” tanya adelia setelah cukup lama diam.
Ervan menatap Adelia yang sekarang terlihat sangat menyedihkan, “kau siap untuk mendengar ceritaku?” tanya ervan tidak yakin. “ceritanya sedikit menyakitkan, kalau kau belum siap aku akan menceritakannya nanti” lanjut ervan.
...🏑🏑🏑🏑🏑...