Trapped in Love

Trapped in Love
64. Kedatangan Jeremy



Setelah selesai berbicara dengan Nara, Adelia kembali ke arah dapur dimana suaminya masih memasak dengan celemek yang sudah dia lepas.


“Apa melepas celemek itu adalah kode untuk aku memasangkannya kembali?” canda adelia.


“benar” jawab alva, di tangannya sudah ada celemek yang sudah dia lipat kembali.


Adelia berjalan mendekati alva dan berusaha meraih celemek yang ada di tangan suaminya.


“Sini kemari kan, biar aku pasangkan” pinta adelia.


“Coba ambil kalau bisa” tantang alva yang berusaha menjauhkan celemek itu dari adelia.


“ihhh kemari kan alva!” adelia mulai kesal dengan tingkah suaminya, tanpa dia tau itu adalah rencana alva agar wanita itu mendekat ke arahnya. Alva sudah memegang pinggang adelia dan menatap istrinya itu lekat lekat.


“Al! kemari- kan_” adelia terdiam karena wanita itu akhirnya sadar sekarang alva sedang mengerjainya. Dia sudah tidak dapat melarikan diri lagi, karena wajah alva sudah sangat dekat dengan wajahnya.


Adelia hanya bisa menutup matanya dan saat itu terjadi dia kembali merasakan sapuan lembut dari bibir Alva.


...🎤🎤🎤🎤🎤...


“Siang” sapa Adelia pada karyawannya begitu memasuki butiknya, banyak karyawan yang menjawab dan beberapa tamu tersenyum menatap adelia. “Siang Nara” sapa adelia pada sahabatnya yang tampak sibuk di meja kerja.


Nara mengangkat kepalanya dan menatap sinis adelia sambil melipat tangannya di dada. “enak senang senangnya, ini udah jam berapa?” omel Nara.


“Apaan sih, kamu kan bisa gantikan aku, apa gunanya aku punya asisten kalau bukan untuk aku manfaatkan seperti ini” Adelia tertawa kecil sambil duduk di meja kerjanya.


Nara mengangguk anggukkan kepalanya, “benar, kamu benar banget, tapi sejak kamu jadi terkenal pekerjaanmu menjadi semakin banyak Del, kamu tau barusan ada artis papan atas yang ingin memesan gaun untuk pesta datang kesini, dia ingin bicara denganmu karena katanya kamu bisa memberikan ide gaun gaun yang bagus untuknya, karena kamu gak ada jadi dia memesan jadwal temu denganmu” terang Nara.


“Iya iya, sorry, suami aku tadi pagi minta jatah lagi, jadi gak bisa deh pergi cepat” ucap adelia merasa bersalah. Memang kenyataannya Adelia dan Alva sempat bermain 2 ronde sebelum mereka pergi ke kantor mereka, mungkin karena masih pasangan baru, mereka masih dalam jiwa yang menggebu gebu, apa lagi sekarang mereka sudah sama sama mengakui saling membutuhkan, walau belum ada kata cinta.


“Ampun deh, aku gak mau tau lagi bagaimana hubungan kalian, pokoknya aku gak mau dengar kamu menangis karena dia, dan apa Alva sudah memberi tau alasan dia berbohong?” tanya Nara penasaran.


Adelia kini terdiam mendengar ucapan Nara, sampai sekarang memang Alva tidak mengatakan apapun tentang hal itu, walau dia sudah mengetahui rahasia alva dari Ervan, tapi tetap saja Adelia ingin Alva sendiri yang mengatakannya. “aku tau, tapi bukan dari mulut alva, sudahlah gak penting, yang penting dia membutuhkanku dan tidak bisa berpisah dariku” ujar adelia berusaha membohongi hatinya sendiri.


Nara menatap adelia, lalu dia menghela nafas berat, dia tau masih ada keganjalan di hati sahabatnya itu, tapi nampaknya adelia tidak ingin membicarakan hal itu, “Keanu dan Fira tadi datang kesini” ujar nara sengaja mengalihkan topik pembicaraan.


“kenapa lagi sih mereka mencari ku” gerutu adelia.


“Pernikahan mereka ditunda sampai anak mereka lahir, dan mereka kesini katanya mau minta maaf sama kamu, udah mengkhianati mereka, aku kesal banget ternyata benar mereka itu pasangan bukan melakukan malam panas karena sengaja” Nara mulai emosi sambil mengepalkan tangannya.


“Kenapa mereka tidak menghubungi aku saja ya”


“Kamu lupa kalau kamu sudah memblokir nomor mereka berdua, gimana coba cara mereka menghubungimu, apa lagi kamu sudah tidak tinggal di apartemen atau rumah keluargamu” ujar nara.


Adelia menepuk keningnya pelan, “ya ampun aku lupa” Adelia cepat cepat membatalkan nomor yang telah dia blokir, “lagian kenapa lagi sih mereka masih mau datang ke sini buat minta maaf” gerutu adelia pelan.


Mata adelia melotot menatap Nara, “kenapa suami aku mengganggu mereka? Alva kan tidak pernah bertemu dengan mereka” ujar adelia.


‘Ya ampun keceplosan’ Nara membatin. “Tebakan aja del, siapa tau karena cintanya padamu dia mengganggu bisnis mantan kekasihmu karena dia pernah membuat kamu sakit” ralat nara dengan senyuman lebarnya, “Cuma tebakan adel, bisa benar bisa tidak” sambung gadis itu lagi.


“gak mungkin alva tidak mengenal mereka” balas adelia, dalam hati Nara sangat senang karena Adelia tidak menyelidiki lebih banyak, tentang itu adelia saja sampai sekarang tidak tau kalau Fira sudah tidak menjadi model lagi karena suaminya.


...🎮🎮🎮🎮🎮...


“Akhirnya kamu datang juga al” Ervan berucap syukur begitu melihat alva keluar dari pintu lift.


“mana Jeremy” tanya Alva cepat.


“Ada di dalam, masih menunggu kamu bersama Luna”


Alva geleng geleng kepala sambil mengirup nafas yang panjang. Dia berjalan pelan menuju ruang kerjanya, begitu pintu dia buka, alva tersenyum menatap Jeremy dan Luna.


“maaf aku lama” ucap alva sambil duduk di sofa depan Jeremy.


“Ya, sangat lama, jadi kau benar benar melupakan perasaanmu pada adikku” gumam Jeremy pelan.


“Jeremy! Aku sudah bilang jangan membahas Lana lagi, dia sudah mati dan biarkan alva bahagia dengan keputusannya, orang hidup dan orang mati itu tidak bisa bersama!” pekik Ervan marah.


Alva mengelus pundak ervan, agar pria itu tenang, lalu menatap Jeremy dengan sorot mata yang serius. “ya aku sudah melupakannya, aku menyesal melakukan itu” ucap alva, ‘aku tidak mau menyakiti adelia’ ucap alva dalam hati.


“Apa wanita itu tau tentang Lana?” tanya Jeremy lagi.


“Mau adelia tau ataupun tidak kenapa kamu bertanya itu?! Kamu mau membuat hubungan alva dan istrinya hancur” Ervan kembali emosi.


Jeremy menoleh menatap Ervan, “Setidaknya wanita itu harus tau pria yang dia cintai telah membuat wanitanya mati, jadi dia harus tau ada wanita lain yang mencintai suaminya dan rela mati untuk suaminya” sindir Jeremy.


“Alva tidak pernah meminta untuk di selamatkan! Adikmu saja yang berlari untuk menyelamatkan alva!” Ervan menggebrak meja di depannya dengan emosi yang sudah memuncak.


“Seharusnya dia bisa melindungi wanita yang dia cintai, kalau dia melakukan itu adikku pasti masih bersama ku saat ini” ujar Jeremy.


“kalau kamu datang kesini untuk meminta nyawaku sebagai ganti nyawa adikmu aku minta maaf aku tidak akan memberikannya lagi, aku sudah memberikan satu kesempatan padamu untuk membunuhku, tapi tidak ada kesempatan kedua, ada wanita yang menungguku pulang di rumah” alva akhirnya mengeluarkan suaranya setelah tadi cukup lama terdiam.


...🏑🏑🏑🏑🏑...


Bonus pict