
Ervan mematung di sana, di ambang pintu ruangan Nara menjalani perawatan. Matanya hanya mendelik dan terus fokus dengan apa yang dilakukan Dokter terhadap wanita itu. Tangan, kaki bahkan kepala Nara terbalut perban.
Kaki Nara mengalami patah tulang di bagian pergelangan, hanya sedikit perban di sana, tidak lebih dari sepuluh senti panjang perban itu membungkus pergelangan kaki putih mulusnya yang justru sekarang terbalut luka. Lalu tangannya, bagian itu terlihat cukup parah karena panjang perbannya saja membelit dari pergelangan hingga sikut. Dan kepalanya, Gadis itu mendapat benturan di dahi akibat terpental oleh mobil yang menabraknya. Dahi yang biasanya mulus ter-expose harus terlilit perban juga.
Haruskah Ervan menyalahkan dirinya atas segala yang wanita itu alami. Kecelakan itu, bukan kah itu karena kesalahannya? seharusnya dia tidak mengejar Nara dan membiarkan gadis itu terus lari agar menjauh darinya. Bodoh, yang benar itu seharusnya kau tidak melakukan tindakan menjijikan dengan wanita penggoda itu di depan Nara. Jika dia tidak melakukannya maka Nara tidak akan pergi, kau tidak perlu mengejarnya dan dia tidak perlu lari untuk menjauh.
“Mohon permisi sebentar”.
Ervan terlonjak cukup terkejut saat seorang perawat memintanya untuk memberikan jalan masuk. Dengan canggung Ervan mengeser tubuhnya agar perawat yang saat itu mendorong meja troli rumah sakit yang berisikan makanan bisa masuk.
Kejadian itu cukup mengundang Nara dan beberapa perawat menoleh ke arah pintu. Nara yang baru sadar setengah jam yang lalu akhirnya selesai diperiksa.
“Kau harus makan, koma beberapa jam setelah operasi pastinya membuatmu cukup lapar” jelas dokter yang memeriksa.
Nara tersenyum kecil mendengar lontaran Dokter. Dia memang merasakan itu, lapar. Sulit dipercaya, Rasanya baru saja dia sedang menemui pria itu, lalu kejadian pria itu yang memberinya pemandangan luar biasa menyakitkan, dan kecelakan itu. Itu terjadi siang kemarin, tapi sekarang dia berada di siang hari yang lain. Jadi selama hampir 24 jam dia tidak sadarkan diri.
“Tolong bantu dia memakan makanannya, dia akan sangat kesulitan makan dengan kondisi tangan seperti itu, tangannya tidak cukup kuat untuk bergerak saat ini” perintah dokter pada Ervan yang sejak tadi di sana.
Ervan mengangguk kecil mendengar lontaran perintah dari dokter sebelum pria berjas putih dan beberapa perawat keluar dari ruangan kamar rawat Nara.
Perlahan Ervan mendekat, dia bisa melihat wanita itu yang sepertinya berusaha sangat keras untuk menggerakkan tangan dan tubuhnya agar dapat meraih sendok yang sekarang sudah berada dihadapannya beserta nampan yang berisikan makanan. Jangan lupakan keadaan tangan kirinya yang tidak memiliki cedera, Nara dengan mudah mengambil nampan itu dari nakas samping ranjangnya dengan tangan kiri. Tapi Nara tidak terbiasa mengunakan tangan kirinya untuk makan. Jadi dia kesulitan sekarang.
Saat Nara sudah berhasil memegang sendok dengan usaha yang tidak mudah justru sendok itu harus terlepas dari tangannya dengan begitu sangat mudah saat tangan Ervan merampasnya.
“Biar aku saja” tolak nara dingin.
Nara menatap ke sana, ke wajah pria yang sangat dikaguminya. Pria yang saat ini sudah memindahkan nampan makanannya berada disamping tubuhnya tepat dihadapan pria itu. Ervan terlihat menyendok bubur dan lauk dari salah satu mangkuk dan menyodorkannya ke mulut Nara.
“Aku bisa makan sendiri” ujar nara sekali lagi dengan dingin.
Nara tetap menutup mulutnya terkantup rapat saat Ervan menghiraukan penolakannya. Bahkan pria itu seperti tuli tak mendengar apapun dari bibir Nara.
“Jangan keras kepala Nara!” Ervan tidak berniat menekan nada suaranya sedikit menghentak. Tapi sikap Nara yang terus saja tidak mau membuka mulutnya cukup membuat emosi Ervan terpancing. Pria ini tidak marah, dia hanya khawatir. Nara harus makan agar kondisi tubuhnya bisa berkembang dengan baik untuk sembuh. “Aku mohon” kali ini dia melembut.
Mendengar permohonan dan suara Ervan yang melembut membuat gadis itu akhirnya luluh. Nara membuka mulutnya dan menerima suapan makanan dari tangan pria itu. Ini kali pertamanya dia di suapi oleh Ervan, pria yang disukainya.
‘Apa yakin kau masih menyukainya setelah apa yang pria ini lakukan padamu?’ pertanyaan itu tiba tiba muncul dalam benak Nara.
Tiba-tiba saja air matanya meluncur kurang ajar tanpa ijin. Kejadian dia melihat pria ini bercumbu di depan matanya terbayang jelas di ingatan Nara. Dengan tangan kirinya gadis itu buru-buru menghapus linangan air mata itu, memalingkan wajahnya dari hadapan Ervan, dan saat itu juga dia mendapatkan kepalanya kembali berputar. Pria itu sudah tidak lagi diposisi duduk melainkan berdiri saat tangannya bergerak memutarkan kepala Nara agar menghadapnya.
Mata mereka bertemu, dihadapan pria itu Nara justru semakin kehilangan kontrol mengendalikan air matanya sendiri agar tidak jatuh. Rasanya dia mengalami guncangan hati yang dahsyat. Apa dia patah hati? Ter hianati oleh pria itu? Tapi kau siapa Nara.
Peringatan peringatan Adelia kembali muncul di dalam kepalanya, gadis itu menyesal membiarkan dirinya hanyut dengan cinta, tanpa mendengarkan ucapan adelia.
Saat Nara akan memutar lagi kepalanya untuk menyembunyikan air matanya lagi di depan Ervan. Tangan itu lagi-lagi menahannya, tidak hanya menahan. Tangan kekar dengan telapaknya yang begitu lembut itu membiarkan kepala Nara sedikit mendongak, membiarkan bibir pria itu mendarat mulus di permukaan bibir Nara. Menekannya dengan waktu cukup lama tanpa bergerak, dan saat itulah air mata gadis itu sudah tidak dapat terelakan lagi. Bersama terpejam nya mata Nara, bersama jatuhnya juga air mata itu melesat membasahi pipinya hingga berakhir di permukaan kedua bibir mereka.
Ervan merasakan rasa air mata gadis itu. Merasakan bagaimana luka gadis ini melalui air mata yang jatuh karena ulahnya. Ervan tahu, dia menyakiti gadis ini. “Maafkan aku” lirih Ervan. Nara hanya diam dan terus menangis membiarkan pria itu memeluknya.
.
Jangan tanya kenapa tidak ada orang tua nara di rumah sakit, gadis itu memang sudah lama hidup berpisah dari orang tuanya, dia hanya rutin mengirimkan uang pada kedua orang tuanya, dan ervan juga takut untuk membuka ponsel nara mencari tau tentang orang tuanya, dia takut nara akan berpikir dia bersikap tidak sopan, mungkin saja Nara tidak ingin keluarganya tau tentang kecelakaan itu. Makanya sampai saat ini hanya ervan yang ada di ruang nara.
Adelia juga belum tau tentang kondisi sahabatnya itu, karena mereka semua masuk ke rumah sakit, kalau adelia karena syok ulah suaminya sedangkan nara syok karena ulah Ervan.
...🎻🎻🎻🎻🎻...