Trapped in Love

Trapped in Love
88. Alva Marah



“Adelia, Kau menyukainya kan?”


Runtuh sudah pertahan yang wanita itu buat. Berpura-pura tidak tahu justru terlampau membuat hatinya sakit. Nara yang sejak dua jam berjalan sudah menahan diri dari hatinya yang ingin berteriak akhirnya meledak di detik itu juga. Air mata tak luput dari sana.


Menyaksikan orang yang dia cintai justru menatap wanita lain membuat lukanya kembali terbuka. Tatapan yang sangat begitu jelas di perlihatkan pria itu pada sahabatnya sudah dapat Nara artikan dengan mudah tanpa menyuruh orang pintar menebaknya.


Tawa Ervan langsung terhenti, “Jangan ngadi ngadi” canda Ervan.


“Kau menyukai adelia kak” ulang Nara sekali lagi.


“Apa yang kau bicarakan?” elak Ervan lagi.


“Berhenti membodohi ku Kak”


Keduanya tak mengubah posisi. Nara yang tetap duduk di atas tempat tidur dalam keadaan yang cukup kacau, dan Ervan yang masih berdiri didepannya. Mata keduanya bertemu. Pancaran mata yang sepertinya mencoba untuk saling bicara tanpa suara itu menggetarkan hati Nara.


Tangan pria itu masih berada di permukaan tas, pria itu benar-benar membeku. Ervan bahkan tidak menyembunyikan ekspresi wajahnya yang terlihat sangat terkejut.


“Nara aku____”


“Baiklah aku mengerti, Aku tahu.. kau mencintainya” potong nara cepat.


“Maafkan aku” akhirnya ervan mengucapkan maaf pada Nara.


“Van?!” Suara tak asing itu berhasil mengalihkan tatapan Nara dan juga Ervan, keduanya mematung. Rotasi bumi seperti berhenti saat mereka menemukan keberadaan Alva berdiri di ambang pintu kamar. Nara dan Ervan membeku di tempatnya.


Melihat bagaiman cara pria itu menatap ke arahnya membuat Ervan yakin jika Alva mendengar semua apa yang dirinya dan Nara bicarakan. Bahkan bisikan kecil suara Alva saat memanggilnya terdengar seperti sebuah tekanan, menjadi bukti kuat jika pria itu mendengar semuanya.


“Al?”


Tatapan itu semakin lama tak dapat diartikan. Di dalam ruangan itu semuanya seperti menghilang, hanya menyisakan kedua pria itu, mengabaikan sosok wanita diantaranya. Alva tanpa bicara sepatah katapun membiarkan kakinya masuk lebih dalam keruangan rawat nara. Matanya menerawang tajam pada satu arah.


Dan gerakan singkatnya yang tak terbaca berhasil membuat ruangan itu tiba-tiba di penuhi jeritan Nara saat satu pukulan mendarat di wajah Ervan.


“Alva! Berhenti! Alva!” pekik Nara kencang.


Alva seperti buta dengan siapa dia berhadapan, dan bahkan dia seperti tuli saat Nara mencegahnya beberapa kali agar dia tidak kembali memukul Ervan. Tangan Alva menjerat kerah kemeja pria itu, Ervan sama sekali tidak memberi perlawan, tidak satu katapun keluar, baik itu dari mulut Alva ataupun dari mulut Ervan. Alva bahkan tak menerima sangkalan dari bibir pria itu, dan itu berhasil membuat emosinya meluap. Tatapannya menggelap seperti tak mengenal sosok di depannya.


Tangan Alva yang hampir mendarat lagi di wajah pria itu gagal terjadi saat sebuah tangan lain menghalanginya. Nara entah mendapat kekuatan dari mana berhasil menarik Alva menjauh dari tubuh Ervan. Pria itu terpental dua langkah.


Dengan cepat Nara mendekap tubuh Ervan, menghalangi Alva kembali menyerangnya, “berhenti al! aku mohon berhenti” lirih Nara.


Ruangan itu sunyi untuk beberapa saat. Nara masih pada posisinya, Alva dan Ervan masih saling melempar tatapan di balik tubuh wanita itu. Deruan nafas memburu terasa jelas di dekapan dada Ervan. Pria itu tahu, Nara ketakutan.


Suara tangisan Nara akhirnya pecah di ruangan itu. Di lihat dari segi manapun, dia yang paling tersakiti disini. Seharusnya dia yang marah (?) kenapa disini dia yang malah melindungi Ervan ?


Alva seperti merasa di hantam begitu keras oleh suara itu, otak waras nya seperti kembali saat suara isakan Nara menggema di ruangan berdirinya sekarang. Alva terdiam mematung di tempatnya, menatap dingin kearah mata Ervan. Tanpa sepatah katapun dia melangkah keluar dari sana. Membawa perasaannya yang hampir tidak berbentuk.


...🎻🎻🎻🎻🎻...


“Tidak.” Alva menjawab cepat pertanyaan Adelia saat memasuki mobil. Wajah pria itu tidak berubah. Masih terlihat sama seperti saat dia meninggalkan kamar inap Nara, matanya terpejam beberapa saat dengan kepala menyandar pada stir mobil.


Tadi itu apa? kenapa rasanya seperti bermimpi, alva membatin.


“Kenapa?”


Mendengar suara itu membuat kepalanya menoleh. Alva menemukan Adelia yang sepertinya menunjukan wajah cemas penuh tanya. Buru-buru Alva tersenyum, menghilangkan kecurigaan wanita disampingnya.


“Tidak apa sayang” ujar alva lembut.


“Kau yakin?”


Kepala Alva mengangguk kecil, tangannya terulur mengelus kepala istrinya. Lagi-lagi Alva tersenyum dibalik kebohongannya. “Kita pulang sekarang.”


“tapi ponselku?” gumam adelia.


“Kita beli saja nanti” jawab alva singkat.


Adelia tidak membalas lagi dia hanya mengangguk pasrah dengan keputusan suaminya.


.


Dalam perjalanan, keduanya membisu di tempat masing-masing. Sudah dijelaskan, Adelia tak sebodoh itu. Hidup bersama selama beberapa bulan sudah cukup membuat Adelia kenal dengan baik sikap pria itu, pria kulkas yang sangat irit bicara. Keyakinannya kali ini begitu kuat, pasti ada yang tidak beres terjadi pada pria disampingnya. Alva pasti menyembunyikan sesuatu, ‘apa yang terjadi? Dan kenapa alva tiba tiba marah?’ tanya adelia dalam hati.


Apapun itu, Adelia tidak akan menuntut pria itu untuk menceritakannya. Jika Alva menyembunyikannya, itu artinya dia menginginkan yang terbaik untuk mereka. Adelia akan mencoba mengerti untuk itu.


“hmm, al, kalau kita ke rumah fira boleh?” tanya adelia tiba tiba.


Setidaknya Adelia tidak membiarkan suasana diantara mereka terlihat canggung. Bertanya dan mengajak Alva berbicara sepertinya jauh lebih baik. Tapi sepertinya prediksi Adelia kali ini meleset, kalimat itu justru merubah ekspresi wajah Alva nampak semakin menakutkan dari sebelumnya.


Menemui Fira? Itu artinya membiarkan Adelia bertemu dengan Keanu, membiarkan pria itu melihat istrinya. Alva tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Membiarkan pria lain mencintai istrinya. Keanu bahkan jauh terlihat lebih mengerikan dibandingkan Ervan.


“Al~ kamu kenapa sih” rengek adelia, dia sudah tidak bisa lagi membujuk kulkas dua pintu itu lagi.


“Sayang, tolong jangan bertanya dulu ya, aku sedang menyetir ini” elak alva.


Adelia menutup mulutnya ragu. Ekspresinya menunjukan jika dia terkejut dengan jawaban alva. Walau alva berkata dengan lembut tetap saja dirinya merasa tidak suka dengan jawaban yang dia terima.


“Maaf sayang” Menyadari sikapnya yang terlalu keras, Alva buru-buru meminta maaf. Tangannya bergerak meraih tangan Adelia, menggenggamnya. “Aku sedang banyak pikiran, nanti kita bicara lagi ya” ujar alva lembut.


“Tidak apa-apa. Aku mengerti.” wanita itu tersenyum, sebisa mungkin dia mencoba terlihat biasa. Tangannya bergerak membalas genggaman tangan suaminya. “Aku akan tidur” balas adelia ketus, mungkin karena bawaan ibu hamil makanya adelia mudah sekali tersinggung, padahal alva tidak meninggikan suaranya atau berbicara datar.


Alva menghembuskan nafasnya berat, dia mengelus puncak kepala istrinya sebentar lalu kembali fokus untuk menyetir mobil.


...🏑🏑🏑🏑🏑...