Trapped in Love

Trapped in Love
83. Bertemu Lana



Alva termenung di salah satu taman, bukan karena dia tidak mencintai adelia, hanya saja alva cukup terkejut adelia mengetahui wanita itu, wanita yang takut alva ceritakan pada adelia kini adelia sudah mengetahuinya.


Alva mengusap wajahnya kasar, alva tau dia sudah mencintai adelia, bukankah itu artinya dia tinggal mengatakannya saja toh adelia sudah mengetahui semua itu, tapi sesuatu yang mengganjal di hatinya membuat pria itu memutuskan untuk memikirkan lebih dulu tindakan apa yang akan dia lakukan untuk membuat adelia percaya bahwa dia benar benar sudah melupakan Lana dan hanya mencintai Adelia.


‘Kau itu terlalu banyak berfikir alva, dan saat selesai kau baru menyesali semuanya’ ucapan yang pernah Lana lontarkan pada Alva tiba tiba terngiang kembali di telinga pria itu.


Alva tersenyum kecut, dia memang selalu memendam semuanya sendirian dan memikirkannya sendirian tanpa langsung bertindak, tanpa dia sadari tindakannya sudah membuat adelia sedih.


“Maafkan aku lana, maafkan aku, aku sudah mencintainya” akhirnya bibir alva bergumam pelan, pria itu menunduk dan menutup wajahnya sendiri dengan tangan. Ini pertama kalinya dia mengatakan itu dengan mulutnya sendiri.


Apa lana akan memaafkannya alfa tidak tau akan hal itu, dia benar benar menyesal telah mengikuti permainan Ervan dan sekarang jatuh cinta pada Adelia, dia seperti baru saja selingkuh.


Tiba tiba hembusan angin bertiup kencang, menggoyangkan ranting ranting pohon yang berdiri kokoh di sekitar sana. Alva bahkan tak mampu untuk tidak menutup matanya melawan tiupan angin yang tiba tiba datang. Dalam waktu beberapa detik saja semuanya berhenti. Bahkan alva merasakan waktunya pun berhenti di detik itu juga bersama angin. Satu bayangan di depannya tak mampu membuat alva mengerjabkan matanya, dia seperti mengalami dejavu. Mimpi yang bahkan sebuah kenyataan itu terjadi di hadapannya.


“Lana!”


Bayangan cantik di depannya hanya tersenyum, walau jarak mereka cukup jauh, tapi alva tau itu adalah lana.


Bayangan itu terbalut gaun putih selutut dengan rambut terurai cantik, kulit putihnya yang tertimpa sinar matahari senja tak menghilangkan Cahaya disekitar tubuhnya. Bayangan yang disebutnya lana bersinar begitu terang Bagai seorang malaikat. Alva tidak melihat lana dalam bentuk beberapa tahun yang lalu, gadis itu seperti dirinya, tumbuh dan menjadi dewasa begitu cantik.


Alva merasakan dirinya seperti berada di dunia yang berbeda dalam waktu beberapa saat. Gadis itu masih mempertahankan senyumannya menatap Alva dengan pancaran mata yang begitu lembut. Sungguh, alva tidak bisa mempercayainya, “Maafkan aku” bibir alva bergumam pelan, mata pria itu terpejam dalam hitungan detik lalu terbuka kembali, bayangan itu kini menghilang dari sana.


Entah itu halusinasi atau balasan pada Alva yang benar benar sudah melepaskan hatinya untuk Lana dan membiarkan adelia mengambil alih hatinya, tapi kedatangan Lana sebagai halusinasi itu mampu membuat hati alva tenang. Dia merasa Lana sudah melepaskan dirinya.


...🏒🏒🏒🏒🏒...


Tempat berdirinya sekarang benar benar gelap. Tak ada Cahaya sedikitpun di ruangan itu, bahkan di seluruh bagian apartemennya. Tirai besar yang menutupi jendela kaca tak mengizinkan sinar bulan untuk masuk ke dalam. Alva tak dapat melihat apapun saat ini.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, alva tidak sadar melamun terlalu lama, hingga akhirnya dia pulang sudah terlalu malam. Alva dengan ragu mengulurkan tangannya, menekan salah satu tombol lampu yang akan membuat ruangan berdirinya sekarang terang seketika. Bayangan tubuh wanita yang ada di hadapannya, duduk di salah satu injakan tangga kecil yang terhubung antara ruang tamu dan ruang tengah, bersandar tiang penyanggah yang menjadi pilar pemisah dua ruangan tersebut. Tangga yang hanya memiliki tidak lebih dari tiga injakan itu terlihat begitu nyaman di jadikan wanita itu untuk duduk di sana dengan kedua kaki yang tertekuk lebih rendah dari tubuhnya.


Adelia memang tidak sengaja tertidur di tempatnya menunggu alva refleks membuka mata saat Cahaya mengejutkan menembus kulit matanya yang tipis. Tidak terbiasa tidur dalam keadaan lampu menyala membuat wanita itu mampu terjaga. Kepalanya menoleh, tempat kea rah alva berada. Laki laki itu masih berdiri di sana, di dekat tombol lampu yang beberapa menit tekannya.


“Kau pulang?” adelia seperti menemukan kehidupannya kembali, wanita itu tersenyum ketakutannya beberapa jam lalu lenyap saat itu juga.


Adelia menyesal dengan perbuatan yang dia lakukan tadi siang, adelia bahkan terus mengutuk dirinya tanpa henti saat dia harus mengingat ulahnya yang membuat pria itu pergi. Tidak hanya kehilangan harapannya untuk dapat bersama pria itu hingga akhir dapat melihat alva seperti itu lagi saja rasanya adelia tidak bisa mengharapkannya lagi.


Sebenarnya adelia benar benar tidak ingin membicarakan Lana apa lagi mengungkit wanita itu di depan alva. Hanya saja hatinya terpancing tiba tiba untuk membicarakan wanita itu.


Adelia tidak ingin egois, tapi dia juga membutuhkan sebuah kepastian dalam hubungan mereka. Tidak seperti yang diharapkan, adelia juga harus mendapatkan situasi yang lebih sulit dari sekedar menjadi bayangan masa lalu pria itu.


Biarkan saja Lana tetap menjadi cinta pria ini jika itu yang bisa membuatnya tetap bertahan disisi Alva. Biarkan saja dia tak merasakan cinta pria itu asalkan kebersamaannya dengan Alva tidak akan pernah berakhir. Adelia berharap dia masih memiliki kesempatan untuk itu, untuk hidup lebih lama lagi bersama Alva. Dia sudah merelakan pikiran negative menguasai dirinya.


Adelia merasakan dirinya gila saat itu juga. Saat Alva meninggalkannya begitu saja, termenung selama hampir setengah hari membuatnya sadar jika pria yang menjadi suaminya adalah orang yang paling berharga yang tidak ingin Adelia lepas. Dulu dia mencintai Keanu, tapi Adelia masih bisa merelakan pria itu pergi. Tapi Alva, membayangkannya saja Adelia tidak sanggup bernafas dengan baik. Alva benar-benar berhasil membuat dirinya terlihat seperti orang bodoh.


Sepuluh meter bukanlah jarak yang jauh. Pria itu bergerak dalam kebungkaman nya demi menjangkau jarak yang dekat dengan Adelia. Menatap Adelia sama halnya wanita itu menatap dirinya. Dalam hitungan detik berikutnya, Adelia bisa merasakan kehangatan tubuh itu lagi mendekapnya.


“maaf”


Ada yang Adelia takuti dari kalimat itu. Permintaan maaf selalu menjadi alasan dan kata pertama untuk sebuah akhir. Kata yang terdengar sopan, tapi mampu membuat luka.


Jadi, apa Alva akan meninggalkannya?


“Al, aku?”


“Diam lah, kau terlalu banyak bicara.”


“Apa? Maaf”


Jadi dia harus benar-benar melepaskan pria ini? Keserakahan mu akhirnya mengantarkan dirimu sendiri pada kehancuran. Kau hanya memikirkan perasaanmu tanpa memikirkan perasaan Alva. Tapi tidakkah Alva memikirkan perasaannya juga, adelia mulai membatin.


Saat itulah butiran bening pertamanya jatuh satu titik membasahi pipi. Adelia menangis.


Alva yang menyadari atmosfir istrinya berubah dalam hitungan menit sontak menarik diri dari pelukan mereka. Alva tak memisahkan jarak, dia hanya memberikan sedikit luang agar bisa menatap wajah wanita dihadapannya. “Apa yang terjadi?”


”maafkan aku al, maaf kan aku” lirih adelia.


‘Apa yang wanita ini katakan? Minta maaf? Seharusnya itu kau Alva. Kau selalu berhasil membuat wanita ini menangis. Apa itu keahlianmu?’ alva membatin pelan.


Tangan Alva terulur, membingkai wajah Adelia yang tertunduk. Suara wanita itu berperang tangis, jari-jarinya bergerak lembut menghapus linangan air mata yang jatuh tanpa henti di pipi putih milik istrinya.


Apa dia terlalu melukai wanita ini? Sudah berapa banyak air mata yang jatuh akibat ulahnya.


Alva kembali menarik tubuh Adelia. Mendekap wanita itu menyampaikan permintaan maafnya. Untuk kesalahan yang terlalu banyak. Tangannya bergerak lembut mengusap kepala Adelia, mengecup bagian itu penuh sayang.


Haruskah dia mengatakan perasaannya? Sekarang?


...🎺🎺🎺🎺🎺...