Trapped in Love

Trapped in Love
66. Sifat Asli Ervan



Kegiatan panas Alva dan Adelia harus terhenti karena bunyi bell pintu yang terus berbunyi nyaring tidak berhenti henti.


“sial” umpatan kecil yang keluar dari mulut Alva, dan adelia tersenyum mendengar umpatan pria itu.


Alva menahan istrinya saat wanita itu ingin beranjak, dia menghapus jejak saliva-nya yang masih tersisa di bibir Adelia, “tetap di sini, biar aku saja yang buka, dan rapikan rambut serta bajumu” perintah alva.


Setelah mendaratkan kecupan singkat pada bi-bir Adelia, Alva beranjak dari sofa menuju pintu masuk. Membukakan pintu untuk tamu yang sama sekali tidak alva harapkan kehadirannya.


“Halo kekasihku!” pekik Ervan begitu melihat Alva yang membukakan pintu untuknya.


Ervan tersenyum polos melambaikan tangannya tepat saat pintu terbuka menampakkan wajah Alva. Lihat saja, dengan tanpa dosa pria itu menyapa alva dengan sangat tidak pantas di depan wanita yang dia bawa.


Alva mendelik ke sana, alis pria itu sedikit terangkat saat melihat tangan Ervan yang menggandeng wanita itu, tidak biasanya Ervan membawa wanita untuk berkunjung ke rumahnya, dan bukan hanya itu gandengan tangan itu berarti si wanita punya arti penting bagi ervan. ‘Adel pasti akan mengamuk’ alva membatin sambil menutup pintu.


“Siapa_?!” teriakan adelia terhenti saat melihat dua orang yang sedang berdiri diantara ruang tengah dan Lorong pintu. “Nara!” Pekik adelia memanggil nama wanita yang dibawa oleh Ervan.


“hai adel” sapa Ervan dengan senyum polosnya.


Tanpa mempedulikan sapaan Ervan, Adelia menarik Nara dengan cepat dan menyembunyikan gadis itu di belakang punggungnya, membuat tangan ervan dan Nara yang tadi bertautan terlepas, “Bagaimana bisa kau ke sini dengan pria gila itu? Kalian Cuma HANYA bertemu di depankan?” desak adelia seolah olah ervan adalah pria paling jahat yang harus di singkirkan dari Nara.


“namanya Ervan, adelia” ralat Nara.


“peduli apa dengan nama pria gila itu, jangan dekat dekat dengannya, dia berbahaya” omel Adelia sambil mencengkram kedua bahu Nara.


Alva tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan tangannya, sementara Ervan geleng geleng kepala, emang adelia tidak akan pernah bisa bersikap baik padanya, dia akan selalu jadi pria jahat di depannya.


“Hello~ adelia! Aku mendengarnya! Kamu bicara di depan orangnya langsung, dan bukannya kamu yang meminta nara buat mendapatkan hatiku” sela Ervan.


Adelia mendengus kesal kearah Ervan, “udah batal, pria jahat sepertimu tidak pantas untuk sahabatku” balas adelia dengan tatapan sinis pada Ervan. Dia sama sekali tidak peduli Ervan akan marah atau tidak padanya, adelia dan adelia akan selamanya menjadi musuh bebuyutan dimanapun mereka berada. Dan adelia membatalkan niatnya untuk menjodohkan Nara dengan ervan karena dia baru menyadari Ervan itu mirip dengan pria playboy, dia tidak mau menyerahkan sahabat polosnya pada pria buaya seperti Ervan.


Coba kita flashback lagi Ervan terlihat mudah akrab dengan wanita, dia bahkan dengan mudahnya menyentuh adelia atau mendapatkan perhatian wanita, sekarang adelia mulai bertanya tanya kenapa dia selama ini tidak sadar dengan perilaku buaya Ervan malah menuduh pria itu adalah kekasih dari suaminya. Dan yang paling bodoh disini adalah adelia yang pernah memaksa Nara untuk mendekati Ervan, malah memaksa gadis polos itu. Jelas jelas Adelia pernah mendengar gossip gosip bahwa ervan sering bermain main dengan wanita. Adelia baru mengetahui itu karena Alva yang mengatakan padanya.


Lalu apa yang membuat pemburu berita itu mencantumkan lelaki tidak waras itu adalah kekasih Alva? Bodoh bukan, per situ tidak akan mau tau untuk memperbaiki nama orang yang bisa membuat berita mereka menjadi terkenal, selama alva mau melawan tidak akan bisa kecuali ada buktinya.


.


Setelah meletakkan dua orange juice dan beberapa cemilan di atas meja kaca di depan nara dan Ervan. Adelia ikut menjatuhkan tubuhnya duduk tepat disamping Nara, lalu disusul alva yang juga ikut duduk di samping adelia. Tadi Alva ikut membantu istrinya membuatkan minuman untuk kedua tamu tak diundang yang sudah mengganggu kegiatan panas kedua pasangan itu. Alva lebih memilih duduk pada sandaran sofa di samping istrinya, sehingga membuat posisinya jadi terlihat lebih tinggi di banding ketiga orang yang benar benar duduk di atas permukaan sofa.


“apa yang membuat kalian berkunjung ke sini?” cecar adelia pada Ervan dan Nara.


“Kak Ervan yang mengajakku ke sini” jawab Nara jujur.


“Wahhh, gadis ini benar benar polos”


Seharusnya tadi ervan berunding dulu dengan nara, setidaknya dia memastikan kondisi hati adelia dulu sebelum kesana, jika tidak seperti sekarang jadinya, ervan yakin dia tidak akan selamat dari tangan adelia.


“nara aku menyesal mengenalkanmu dengan pria gila ini! mulai sekarang jangan dekat dekat dengan pria gila ini, dia tidak baik untukmu” nasehat adelia sambil menunjuk kea rah Ervan.


Ervan melongo dan menunjuk dirinya sendiri. “Emang apa yang salah dariku? Sebenarnya apa masalahmu denganku adelia?” Ervan mulai tidak terima dengan kemarahan sepihak adelia.


“tidak ada” jawab adelia singkat.


“lalu kenapa kau mengganggu sekali hubunganku dengan nara?” protes Ervan.


“Jelas karena kamu buaya darat, jadi mulai sekarang jangan dekat dekat dengan Nara” balas Adelia.


Ervan langsung menatap horror pada Alva yang hanya diam sambil mengedikkan bahunya berpura pura tidak tau.


“ALVA!” pekik Ervan marah. Nara yang berada tepat di samping Ervan reflek menutup telinganya. Menjauh beberapa sendi, menyampaikan rasa terganggunya atas nada suara Ervan yang terlalu keras.


Sedangkan Alva, pria itu lagi lagi hanya bisa mengulum senyum, karena dialah yang telah membocorkan rahasia ervan pada Adelia. “Alva! Lihat kau bahkan memperlakukanku di depan kedua wanita ini” tambah ervan emosi.


“bagus kan, jadi kami sudah tau busuk mu” ucap adelia santai.


Ervan sudah kehilangan kesabarannya, dia meraih satu bantal sofa dan melayangkannya ke arah Adelia. Beruntung alva memutar tubuh istrinya dengan cepat menghadap ke arah tubuhnya. Menyembunyikan wajah istrinya di permukaan perut alva, dan dengan cepat juga alva menangkis bantal itu dengan tangannya sendiri.


“Wahhhh!” Ervan memegangi tengkuknya seperti orang yang merasakan darah tingginya naik, “Alva! Ajarkan istrimu itu sopan santun yang benar terhadap orang yang lebih tua darinya” pekik ervan murka.


“diam kau, ervan! Kau baru saja melakukan penyerangan terhadap istriku” alva mendongakkan wajah adelia agar melihatnya. Tangannya bergerak mengelus wajah putih istrinya. Memastikan wanita itu baik baik saja.


“Apa?!” Ervan mencibir tak percaya dengan reaksi berlebihan yang dilakukan Alva pada adelia, terlebih dengan sikap sok manis alva yang diperlihatkan dengan jelas di depan matanya. Yang benar saja, pria itu sahabatnya bukan, “kau membela wanita itu sekarang? Ingat aku ini kekasihmu alva!”


Ervan membeo asal, kebiasaannya yang sering bergurau dan mendramatisir sejak berita dirinya dan alva dinyatakan gay tidak pernah hilang. Ervan jadi selalu berlebihan.


“jaga ucapan bodoh itu! Dia suamiku” protes adelia.


“Diam kau, aku tidak menyuruhmu berbicara wanita arogan” balas Ervan dingin.


Tanpa rasa peduli, Alva memukul kepala Ervan, “jaga sikapmu terhadap istriku” ucap alva dingin.


Adelia semakin percaya diri, karena alva terang terangan membela dirinya bahkan di depan Ervan, dengan sangat percaya diri ia menjulurkan lidahnya kea rah ervan, sengaja memancing kemarahan pria itu lagi.


...🎻🎻🎻🎻🎻...