
Alva beranjak lebih dulu dari depan pintu meninggalkan adelia di sana. Gadis itu kembali mengerjab. Meskipun tadi alva tidak berteriak kepada pria pengantar makanan itu, tapi adelia masih bisa merasakan hawa mengerikan yang memancar dari Alva.
‘Dasar pria aneh’ umpat adelia dalam hati.
“kau seharusnya tidak menakuti pengantar makanan itu, memang apa kesalahan pria itu?” omel adelia, gadis itu memang mulai berubah menjadi suka mengomel setelah pernyataan alva saat bulan madu mereka.
Alva sendiri tetap berjalan tidak peduli dengan lontaran komentar adelia yang membabi buta. Dia berbelok ke arah ruang makan dengan masih dibuntuti istrinya.
“aku benar benar tidak suka kalau bicara di cuekin! Setidaknya kau bicara alva! Kau membuatku dan orang orang semakin membencimu!” bentak adelia.
Alva menghentikan gerakannya tepat saat dia akan menarik kursi meja makan yang akan didudukinya. Ia menoleh kebelakang, menatap adelia yang berdiri menantang ke arahnya.
“Apa? Huh!? Apa? Apa aku salah mengatakan sesuatu?!" Tantang adelia dengan mata melotot.
Alva menghela nafas samar, dia tidak ingin berdebat dengan adelia, akhirnya alva kembali memutuskan tidak peduli, dan melanjutkan gerakannya menarik kursi meja makan.
Karena alva yang diam saja, semakin membuat adelia marah dan kesal, kembali gadis itu mengumpati alva dengan kesal, “dasar pria aneh, tidak peka, kulkas dua pintu, tidak normal__aarrggghhh!”
Adelia tidak sempat melanjutkan ucapannya, dia menyerjabkan matanya berulang kali, dia tidak bisa merasakan tubuhnya lagi selain fakta jika tubuhnya didorong mundur secara paksa hingga terbentur dinding, terhimpit tubuh tinggi di depannya. Dan tidak hanya terhimpit.
Bibirnya terbungkam kaku dalam kuasa bibir alva.
Alva sudah beberapa hari menahan dirinya untuk tidak menyentuh adelia di malam hari, dia juga berusaha menahan diri untuk tidak mencium gadis itu, tapi melihat bibir kecil itu terus menggodanya alva akhirnya tidak mampu lagi menahan diri, anggap saja itu hukuman karena terus menghina dirinya, padahal itu adalah keinginan yang selama beberapa hari ini alva tahan.
Bibir lembut alva menempel manis di permukaan bibirnya, tidak hanya itu alva memaksakan lidahnya untuk menerobos masuk kedalam mulut adelia.
Luapan emosi yang tidak tertahankan terasa di sana. Ini kedua kalinya mereka berciuman dengan kesadaran oleh kedua orang itu, sebelumnya adelia selalu tidur saat alva menciumnya tapi kini mata gadis itu terbuka dan dia dalam keadaan sadar.
‘Deg deg deg’
‘apa ini? kenapa alva mencium ku? Kenapa jantungku berdebar keras seperti ini?’ Tuhan apa yang akan terjadi padaku? Ada apa dengan pria ini?’ adelia hanya bertanya tanya dalam hatinya karena dirinya sendiri menikmati ciuman yang diberikan alva padanya.
Alva menyudahi ciumannya, pria itu mengepalkan tangannya sendiri berusaha menahan dirinya agar tidak melakukan lebih, sesudah mencium adelia pria itu sama sekali tidak mengatakan apapun, dia berlalu ke kamar mereka dan tidak lama pria itu keluar dari rumah.
“hah?! Pria gila! Tidak normal! Apa apaan itu barusan! Mencium ku dan meninggalkanku begitu saja! Apa mau mu Alva gila!” adelia mengumpat kesal sambil meninju ninju udara untuk melampiaskan kekesalannya pada alva.
Bagaimana tidak marah dia seperti baru saja di perkeos lalu ditinggalkan begitu saja.
...🪕🪕🪕🪕🪕...
“Nara!” adelia mendatangi Nara yang sekarang memakai apartemen yang dia miliki. Seharusnya itu adalah apartemen dia dan Keanu, tapi sekarang menjadi milik nara dan adelia.
“Apa itu del?” tanya Nara heran pada barang belanjaan yang adelia bawa.
“Bir! Aku ingin mabuk di rumahmu” jawab Adelia sambil menyelonong masuk kedalam apartemen yang baru di tinggali Nara beberapa bulan ini.
“Del kamu itu gak pernah mabuk, kenapa sekarang beli bir?!” pekik Nara tidak percaya.
“Udah biarin hari ini aku mabuk disini dari pada aku mabuk di klub malam” gerutu adelia sambil mulai membuka kaleng Bir yang dia beli.
“huuuu ayo Nara kita bersulang!” teriak adelia yang sudah langsung mabuk baru menghabiskan satu gelas bir. “hhaaaa nara aku bisa gila lama lama hidup bersama pria itu” racau adelia yang sudah mabuk.
Nara akhirnya mendekati sahabatnya yang sudah dipastikan dia sudah mabuk berat. Adelia meraih kaki nara dan menyandarkan kepalanya di kaki Nara.
“Nara ayo kita bersulang!” teriak adelia lagi sambil tersenyum, tapi beberapa detik kemudian senyuman itu hilang, “nar kau tau pria tidak normal itu jahat padaku, tampangnya itu sangat tampan nar, hatiku sampai dag dig dug setiap melihatnya” adelia memukul mukul dadanya memperagakan seperti apa detak jantungnya yang terasa aneh.
“jadi kau jatuh cinta padanya?” tanya Nara.
“Cinta?” adelia melihat ke arah nara lalu tertawa keras, “aku cinta padanya, mana mungkin aku mencintainya! Kau taukan nara perjanjian kami itu tidak boleh ada cinta! No no no aku tidak mencintainya” protes adelia.
“lalu kenapa kau bisa seperti ini?” tanya nara lagi.
“Nara!” adelia kembali melihat nara, “dia itu_” Adelia langsung menutup mulutnya dengan tangannya sendiri.
“Dia kenapa del?” tanya nara.
“dia itu adalah kulkas dua pintu! Aku selalu kedinginan berada didekatnya!” adelia tidak mengatakan bahwa alva baru saja membuatnya menjadi gila karena bingung dengan sikap alva yang menciumnya tiba tiba.
“benarkah?”
“Tidak juga, kadang sikapnya hangat padaku, dia tidak pernah mengumpat padaku, padahal aku setiap hari mengumpatinya” adelia tertawa kecil di akhir ucapannya.
“berarti dia baikkan?”
“baik, tapi dia membuat hatiku sakit! Dia hanya menjagaku dia bilang dia akan memberikan apapun padaku tapi dia tidak bisa memberikan hatinya padaku nara! Aku sekarat Nara” adelia sudah menyandarkan kepalanya di sofa dan mata gadis itu benar benar terpejam sekarang.
Nara hanya bisa geleng geleng kepala melihat adelia yang sudah tidak sadarkan diri setelah bercerita dengannya.
“Adel kamu itu jatuh cinta padanya, makanya kamu seperti ini, aku doakan semoga dia juga akan jatuh hati padamu adel” ucap nara tulus. Gadis itu berjalan mengambil selimut dan bantal untuk adelia, dia bukan pria yang bisa menggendong tubuh adelia dan dibawa ke tempat tidur. Jadi Nara memilih opsi kedua saja.
“dasar kulkas dua pintu” igau adelia pelan.
Nara tertawa kecil melihat adelia yang mengigau, ini pertama kalinya adelia mabuk dan pertama kalinya dia tau ada orang mabuk di pagi hari, nara berjalan menuju dapurnya, menyiapkan sup dan obat sakit kepala, dia yakin sahabatnya itu akan sakit kepala setelah bangun nanti.
...🥍🥍🥍🥍🥍...
Bonus Pict
Alva dan Adelia Kiss
Adelia sedang mabuk