
Pukul dua dini hari, adelia masih terjaga. Posisinya yang tadi duduk di samping kanan alva selama beberapa jam sudah berubah menjadi ikut terbaring di sisi kiri tubuh pria itu. Menjaga Alva semalaman cukup membuat adelia merasa lelah. Tapi gadis itu tidak bisa tertidur dan tidak ingin melakukan hal itu. Terlalu cemas memikirkan Pria itu membuat mata Adelia selalu terjaga.
Beberapa kali Adelia memang selalu tertidur tanpa sadar, tapi tidak pernah bertahan lebih dari sepuluh menit dia kembali terbangun. Hal yang dilakukan gadis itu yaitu kembali mengecek keadaan pria di sampingnya. Entah itu dengan cara menyentuh dahi alva untuk memastikan suhu tubuhnya, mengganti handuk kompres pria itu, atau sedikit membenarkan letak selimut alva yang sedikit berubah.
Adelia masih penasaran alasan kenapa pria itu bisa seperti itu, sudah dua hari menghilang dengan alasan menginap di apartemen Ervan karena ada masalah, dia pergi baik baik saat itu dan dan tiba tiba menelpon mengatakan tidak bisa pulang, sebenarnya apa yang terjadi di apartemen milik Ervan?
“apa Ervan tau kenapa Alva bisa begini?” gumam adelia pelan. “astaga apa jangan jangan mereka bertengkar? Atau mungkin berpisah karena aku? lalu alva terluka karena begitu memikirkan perpisahannya dengan Ervan hingga membuatnya sampai demam seperti ini” lanjut adelia sambil menutup mulutnya tidak percaya denga napa yang sedang dia pikirkan.
Seperti biasa khayalan gadis itu memang sangat tinggi, dan sangat absurd. Adelia kini mengulum senyumnya, “tunggu bolehkan aku bahagia jika memang hal itu terjadi? Bukankah itu yang aku tunggu tunggu selama ini?” gumam adelia pelan dengan senyum yang tidak dapat disembunyikan lagi.
Adelia memukul kepalanya sendiri karena pemikiran pemikiran gila yang sejak menikah dengan alva selalu berkembang pesat. Khayalan otaknya selalu membuat rancangan pemikiran gila yang selalu di luar nalar. Mungkin itu semua pengaruh dari suaminya yang dia anggap tidak normal, makanya dia jadi tidak normal.
“apa yang sedang kau lakukan?” gerakan tangan adelia yang sedang mengganti kompres pada kening alva terhenti karena suara serak pria dingin itu kini keluar dan bertanya padanya.
“Alva?! Kau bangun al?” pertanyaan yang alva berikan justru terbalas dengan pertanyaan balik dari adelia. Mata gadis itu langsung tersirat kecemasan.
“kau berisik sekali” gumam alva pelan.
‘Hah? Suamiku emang tiada duanya, kulkas dua pintu yang selalu bersikap dingin dan menyebalkan, padahal aku saat ini sangat mencemaskannya’ gerutu adelia dalam hati.
“ahh maaf, lanjutkan tidurmu” Tanpa menanggapi kalimat sinis dari bibir istrinya, alva kembali memejamkan mata. Dia memang lelah dan butuh tidur, karena memang dirinya masih dalam keadaan sakit akibat pukulan keras dari Jeremy, untung saja lebam di wajahnya sudah banyak menghilang, jadi adelia tidak mengetahui kalau suaminya dipukuli.
Alva kembali mencoba tidur, tapi mimpi buruk kembali mendatanginya, tanpa membuka mata ataupun menoleh, tangan alva bergerak meraih tangan adelia, pria itu menggenggam tangan itu begitu kuat hingga saat adelia berusaha melepaskannya tidak berhasil.
“Diamlah del, aku butuh tangan ini untuk mengusir setan dalam diriku” gumam alva pelan.
“Apa?!” Mulut adelia terbuka lebar, ‘Apa tadi katanya? Setan? Jadi maksudnya aku ini penangkal setan begitu? Kau sebut aku dukun atau paranormal apa? Astaga! Kenapa sejak menikah dengan alva aku menjadi punya banyak julukan’ otak adelia tak henti hentinya merutuk.
Niatnya untuk melepas paksa tangan yang berada dalam genggaman tangan alva diurungkan. Adelia diam beberapa saat, kepalanya sedikit miring dengan sendirinya, memperhatikan sesuatu, pria itu sudah kembali tertidur dengan raut wajah kesukaan adelia, lucu, polos dan menggemaskan. Tiba tiba saja bibirnya tertarik lebih lebar, adelia tersenyum manis.
Beberapa menit bertahan di sana, dengan posisi duduk di samping alva, membiarkan tangannya dalam genggaman pria itu, menikmati garis wajah alva, wajah yang hanya kedok untuk menutupi kekurangan Alva.
Lagi lagi Adelia harus menyesali fakta itu. Fakta jika suaminya bukanlah pria normal. Tapi pria ini sudah 3 kali menciummu. Ada yang salah disini, kenapa alva melakukannya? Sudah sejelas pertama karena memang kebutuhan dan keharusan di depan public tapi untuk selanjutnyakarena apa?
Tanpa sadar adelia menyentuh bibirnya sendiri, merasakan bibir alva menyentuh bibirnya sebelum akhirnya kepala adelia menggeleng kuat. ‘Tidak adel, lupakan itu, itu pasti hanya ketidak sengajaan saja’ sanggah adelia dalam hati. Kepalanya mengangguk tanpa henti meyakinkan dirinya sendiri.
Mimpi buruk, Adelia yakin Alva pasti sedang mimpi buruk.
Dengan hati hati adelia menyentuh dahi lalu pipi Alva, membelainya lembut. Seakan akan memberitahu ‘ada aku di sini, jangan takut semuanya akan baik baik saja’
“Tidak! Jangan!” igauan Alva terdengar sangat lirih.
Genggaman tangan adelia semakin kuat, alva benar benar mengalami mimpi buruk. Haruskah dia membangunkannya? Sekarang bukan hanya Alva yang gelisah di bawah alam sadarnya. Adelia bahkan merasakan kegelisahan yang sama, “alva, hei alva!”
Mata Alva mengerjab kecil, dalam mimpinya dia mendengar seseorang memanggil namanya. Sesuatu mengantarkan Alva kembali pada dunia nyata.
“Kau tidak apa?”
Alva diam beberapa saat, tak berniat menjawab pertanyaan istrinya. Dia menatap wajah di depannya sebelum akhirnya memutuskan untuk bangun dari posisinya yang sedang terbaring.
Tiba tiba saja sebuah tangan melingkar melewati tubuhnya. Mengusap punggungnya, Alva sedikit tercengang, “Tidak apa, itu hanya sebuah mimpi” bisik Adelia berusaha menenangkan.
Alva hanya diam menerima pelukan hangat adelia. Matanya menerawang kosong. Beberapa detik, sampai akhirnya dia menyeruakan wajahnya sendiri di lekukan leher adelia. Mencari perlindungan sendiri dengan ikut membalas pelukan istrinya. Bahkan Alva memeluknya begitu kuat, dia merasa nyaman berada di sana.
“itu bukan mimpi” lirih alva.
“Itu hanya mimpi, percaya padaku” sekali lagi adelia berusaha menenangkan alva dengan suara lembutnya.
Alva ingin sekali percaya pada gadis dipelukannya. Tapi mimpinya memanglah bukan sekedar mimpi. Kejadian dalam mimpi itu memang nyata, kejadian mengerikan itu memang pernah terjadi di hidupnya.
Adelia sedikit menjauhi tubuh Alva, menatap wajah itu memastikan jika pria ini dalam keadaan baik baik saja. Dan kenyataan itu justru jauh dari prediksinya sendiri.
Pria dingin itu menangis, Alva si kulkas dua pintu menangis. Adelia bahkan sulit mempercayai apa yang dilihatnya malam ini, ‘Apa dia bermimpi?’ pikir adelia.
Untuk pertama kalinya selama mengenal pria itu, baru kali ini Adelia melihat wajah Alva semenyakitkan itu. Wajah angkuh, dingin, datar milik pria ini menghilang dari sana. Apa yang terjadi? Seburuk apa mimpinya?
...🥍🥍🥍🥍🥍...