Trapped in Love

Trapped in Love
36. Rencana



“Haaahhhh” Adelia menghembuskan nafas beratnya sambil meneguk minumannya sekali lagi, “haahhhh” lagi lagi adelia menghembuskan nafas beratnya seperti orang yang sedang banyak masalah.


‘plak’ pukulan pelan mendarat di kepala adelia, siapa lagi kalau bukan Nara yang berani memukul gadis itu.


“cewek tu duduknya anggun, adelia!” peringat Nara pasalnya saat ini adelia duduk mengangkang sambil minum minuman yang baru saja dia beli. Keduanya baru saja pulang dari bertemu dengan client baru yang tertarik dengan desain baju milik adelia, kemudian mereka mampir sebentar untuk beristirahat di sebuah taman.


“Sakit nara!” gerutu adelia sambil memegangi kepalanya yang di pukul Nara.


“makanya yang anggun kalau duduk” balas nara tidak mau kalah.


“Ahhh! Nara kau penyelamatku!” pekik adelia tiba tiba setelah berpikir cukup panjang.


Nara menatap adelia curiga, “sedang dapat solusi masalahmu? Dan apakah aku solusinya?” tebak nara.


Kepala adelia mengangguk cepat, gadis itu langsung meletakkan minumannya ke lantai dan menggenggam tangan Nara, “Tolong bantu aku bunda peri” pinta adelia sambil menatap nara dengan wajah memelas.


“Bantu apa? Awas kalau yang susah susah” ucap nara pasrah.


“nar, aku sedang punya misi menormalkan suami aku” ungkap adelia.


“lalu, aku dibutuhkan untuk apa? Tidak mungkin kamu menyuruh aku membantu menggoda suamimu kan? aku sih siap siap aja untuk menggodanya” canda Nara.


‘Plak’ adelia memukul lengan nara, “enak aja, yang kamu goda itu bukan suami aku, tapi pasangannya si ervan” seru adelia bersemangat.


“hah?! Ni anak emang ada rada rada gila nya sedikit!” tuduh Nara.


“nar~ dengarin dulu, si ervan itu kan ganteng, kalau aku dekati alva si ervan bisa marah sama aku karena berusaha merebut kekasihnya, jadi untuk menghindari aku ditabok sama Ervan, kamu dekati si ervan biar aku bisa leluasa mendekati suami aku” usul Nara bersemangat.


“Gak ahh! Ogah ! kenapa harus gue!” protes nara sambil mulai menggunakan bahasa biasanya dia gunakan yaitu lo dan gue, mungkin karena tidak terima dan emosi.


“Ayolah nar~ please” bujuk adelia.


“enggak adel, kenapa harus gue!” tolak nara sekali lagi.


Adelia kembali menggenggam tangan Nara sambil menatap gadis itu dengan mata memelas, “Nar, please~ lo gak kasian sama gue, masak sahabat cantik ini harus jadi perawan tua selamanya, Ervan itu ganteng Nar, dia juga kaya raya, alva bahkan pernah mengatakan kalau Ervan itu bisa saja berhenti dari pekerjaannya tapi karena masih mau bersama alva dia tetap menemani alva, please Nar~” bujuk adelia sekali lagi, dia akhirnya ikutan menggunakan bahasa lo gue seperti nara.


“Del, lo liat sendiri gimana cintanya ervan ke alva, mana mungkin gue bisa ngegoda tu cowok, mending lo goda suami elo sendiri, pakai lingerie sexy saat tidur atau apalah” tolak Nara sekali lagi.


“Udah” lirih adelia.


“apa?!”


“Udah, gue udah pakai lingerie sexy di depan dia bahkan yang transparan lagi, yang bisa melihat pakaian dalam gue doang, boro boro dia nerkam gue, liat aja enggak” ungkap adelia.


Nara langsung tertawa keras sambil memegangi perutnya, gadis itu membayangkan bagaimana adelia menggoda alva dengan menggunakan lingerie yang sexy, “lo yakin ngegoda si alva, udah pose sexy belum?” ujar Nara di sela tawanya.


“berhenti menertawakan gue, gue udah pose sexy tapi dia hanya bertampang datar melihat pose gue, padahal itu sudah hot banget” ungkap adelia sekali lagi.


“Ya ampun del, hahahhaha” nara semakin tertawa keras mendengar cerita adelia.


“Berhenti tertawa nara!” teriak adelia kesal.


“hahahha bentar del, hahahha” nara berusaha menghentikan tawanya tapi tidak juga bisa berhenti. Otaknya sudah membayangkan adegan lucu seperti apa adelia menggoda alva, Nara yakin si alva bukan tidak tergoda, tapi tergoda plus nahan ketawa ngelihat adelia.


“nara!” adelia bersungut kesal melihat sahabatnya yang tertawa puas kearahnya.


“Oke oke” nara berusaha mengendalikan tawanya, “jadi lo aja gak bisa goda alva, gimana gue bisa goda ervan, jelas kami gak pernah ketemu, gimana caranya adel?”


“Ya cari cara aja, apa kek lo pengen belajar bisnis atau apalah, yang penting setiap kita berempat, lo harus berusaha mendekati ervan”.


“oke oke terserah elo lah del, gue nolak tetap bakal elo paksa, jadi gue nyerah, harusnya elo minta fira sana buat dekatin Ervan, dia itu berbakat untuk menggoda pria” balas Nara.


“Oke oke, gue bantuin, jadi nanti malam gue udah mulai dekati ervan gitu?” tanya Nara. Adelia, Alva, Nara dan Ervan memang berencana akan makan malam di rumah alva, untuk membahas tentang konversi pers yang ditunggu tunggu para wartawan dan netizen.


Adelia menganggukkan kepala dengan senyum yang merekah sangat lebar, “benar banget, pintar banget sih sahabat gue” puji adelia.


“kalau ada maunya aja baru muji gue” nara mulai ngedumel.


...🎤🎤🎤🎤🎤...


“Bersulang! demi kelancaran konversi pers besok!” Seru Ervan diikuti yang lainnya.


‘Nar, ajak ngomong dia nar’ adelia memberi kode pada nara yang duduk disebelahnya melalui tatapan mata.


‘aku harus ngomong apa?’ balas nara juga dengan tatapan mata.


“Adel! Adel!” panggil Ervan berkali kali.


Adelia tersentak dan langsung tersenyum berusaha berpura pura tidak terjadi apa apa, “ya apa?!”


“Kamu udah hapal scenario yang bakal di tanya sama wartawan nanti?” tanya ervan.


“Cuma certain drama yang kita karang untuk orang tuaku bukan? Sudah hapal di luar kepala” ucap adelia penuh percaya diri.


“makanan kesukaanku apa?” sela alva tiba tiba.


Adelia menatap alva bingung, “kenapa tiba tiba?”


“Ahh!” ervan tiba tiba memekik dan menepuk kedua tangannya satu kali, “benar juga, bisa saja mereka bertanya pertanyaan random! Seperti makanan kesukaan, tanggal lahir hingga yang lainnya, kapan pertemuan kalian, kalau gak cocok bisa gawat” lanjut ervan.


“emang harus ya?” tanya adelia.


“ya harus adelia, kita perlu membuat skema dimana kalian bertemu dan kapan, dimana dan bagaimana” sambung Nara.


“kalau gitu kapan pertemuan pertama kalian?” tanya ervan.


“gimana kalau 6 tahun yang lalu, saat aku masih SMA” tawar adelia.


“gak bisa del, 6 tahun yang lalu alva gak ada di Indonesia, gimana kalau 7 tahun yang lalu?” bantah Ervan


“umur adel 14 tahun bertemu dengan alva yang berumur 24 tahun begitu?” tebak Nara.


“Aku bukan phedopille ervan” peringat Alva.


“Tapi mau gimana lagi alva, kalau gak segitu 3 tahun yang lalu saat kamu melarikan diri ke indonesia? Kalau itu rumor mu sudah tersebar alva!” protes ervan.


“ya gak papa lah, makanya menunggu adelia dewasa, tapi saat dewasa ternyata sudah diambil orang” nara berusaha menengahi agar tidak terjadi pertengkaran.


...🎸🎸🎸🎸🎸...


Bonus Pict


Adelia sedang stress



Pertemuan Alva, Ervan, Adelia dan Nara