
“Apa apaan itu sengaja membuatku cemburu atau dia sengaja memanas manasi ku agar aku marah padanya!” gerutu adelia di dalam kamar. “kenapa dia harus ada disini sih!” Gerutu adelia sekali lagi.
Ingin sekali adelia berteriak keras melampiaskan kemarahannya, tapi tidak mau orang yang ada diluar kamar mengetahui bahwa dia sedang marah saat ini. Apa yang akan dua pria tampan itu katakan kalau adelia marah marah.
Adelia ingat dengan jelas peraturannya, ‘tidak boleh jatuh cinta dan tidak boleh ikut campur urusan orang lain’. ‘Buk buk buk’ Adelia melampiaskan kekesalannya pada bantal yang dia pukuli menjadi samsak. “siapa bilang aku suka! Aku hanya ingin menormalkan pria itu saja! Aku tidka menyukai alva!” ucap adelia sedikit ragu.
“Astaga, lihat saja mereka, kenapa kencan harus di sini? Mau pamer apa?! Tidak bisakah mencari tempat lain yang lebih pantas untuk melakukan adegan yang menyakiti mataku!” umpat adelia dengan suara kecil.
Tadi sebelum masuk ke dalam kamar, adelia melihat Ervan dan Alva duduk berdekatan hingga bahu mereka saling menempel, sebenarnya itu terlihat biasa saja, tapi entah dimata adelia, bagi adelia itu adalah adegan romantic sepasang kekasih.
Apalagi si rusuh Ervan semakin memanas manasi adelia dengan sengaja memberi pijatan pada bahu alva, jangan tanyakan bagaimana gondoknya adelia melihat adegan itu. Kalau adelia bisa dia ingin menarik Ervan dari Alva dan melempar pria itu jauh jauh dari suaminya.
“ngapain sih dia kesini? Mau pamer kemesraan?” gerutu adelia sekali lagi.
Adelia memang terlalu berlebihan dalam mengartikan Tindakan Ervan pada Alva, hal biasa diantara sahabat malah terlihat luar biasa dimatanya.
“ervan pasti sengaja datang kesini! Dia mau memanas manasi ku, dia mau menunjukkan bahwa usahaku menormalkan suamiku tidak akan berhasil karena alva akan terus mencintainya, huh! Dasar ervan menyebalkan!” omel adelia masih dengan tangannya yang meninju ninju bantal.
“Aku tidak akan cemburu ervan! Kau pikir aku semudah itu dibuat cemburu! Astaga! Kenapa tubuhku gerah sekali, apa pendingin ruangan ini rusak!” adelia menatap Ac yang berjalan dengan normal. Emang pada dasarnya gadis itu emosi jadi AC menjadi tempat pelampiasan kemarahan dia, mungkin kalau ada Nara, gadis itu yang akan dijadikan samsak dan sasaran omelan Adelia.
...🎸🎸🎸🎸🎸...
“berhenti memanasi nya, apa yang ingin kau katakan padaku?” tanya Alva.
“kenapa? Kau marah? Aku hanya merasa lucu padanya, dia percaya bahwa kita sepasang kekasih” ujar Ervan dengan suara pelan dan sesekali melihat ke arah kamar utama yang pintunya masih tertutup rapat.
“Hentikan Ervan, kenapa kau datang kesini?” ulang Alva.
“Hmmm” Ervan sekali lagi melirik ke arah pintu kamar utama yang tertutup, “kita tidak bisa bicara di sini” ervan memberikan kode pada Alva sambil melihat ke arah kamar.
Alva mengikuti arah pandang Ervan, “sangat penting sampai adelia tidak boleh mendengarnya?” tanya Alva lagi.
Ervan mengangkat alis matanya penasaran dengan kedekatan Adelia dan Alva, tapi dia tidak ingin bertanya sekarang karena tau alva belum sepenuhnya mengaku jika di tanya tentang adelia. “itu tergantung dirimu sih, kalau kamu mau rahasiamu terbongkar maka itu tidak begitu penting, tapi kalau tidak mau, hal itu akan menjadi penting” jawab ervan sambil sesekali melirik ke arah pintu kamar utama.
“Yup benar banget” angguk Ervan.
“Kalau_” ucapan Alva terhenti karena adelia keluar dari kamar dengan bunyi pintu yang ditutup sekali lagi dengan suara keras.
Gadis itu duduk di sofa yang berbeda dari Alva dan Ervan dengan wajah yang ditekuk masam, sambil membawa sandwich dan biscuit untuk dia makan di tempat yang sama dengan Ervan dan Alva makan.
Tidak lupa hentakan kaki keras yang menandakan dia sedang marah, ervan ingin sekali tertawa tapi dia berusaha menahan diri, sekarang ervan tau adelia sangat mudah dibaca suasana hatinya.
“kau terlihat lebih kurus, dari yang aku lihat terakhir kali, adel?” sapa ervan dengan senyum mempesonanya.
Adelia mendongak, menoleh kea rah pria yang baru saja bicara, Apa Ervan sedang mengejek dirinya dengan mengatakan dia lebih kurus? Wahh Ervan benar benar berani memancing singa betina yang sedang cemburu, pria itu bahkan tersenyum polos tanpa dosa kea rah adelia, hebat sekali bukan. Adelia membalas senyuman Ervan, senyuman yang bahkan tidak terlihat ketulusan di dalamnya. “tentu saja, aku tertekan hidup disini” bohong adelia.
‘Ini semua gara gara kamu bodoh! Kenapa kamu tidak bersenang senang dengan Nara saja sana! Kenapa masih harus kembali berkencan dengan suamiku? Apa memang benar hubungan kalian tidak akan bisa dipisahkan walau apapun yang terjadi?’ omel adelia dalam hatinya, lagi lagi dalam hati karena dia tidak berani mengungkapkan apa yang sedang dia pikirkan dan tahan.
Mendengar jawaban Adelia, di detik itu juga Ervan meloloskan tawanya, tawa pria itu menggema bebas menerobos telinga siapapun yang berada di ruangan yang sama dengannya.
‘memang apa yang lucu? Dasar pria aneh pria menyebalkan’ umpat adelia lagi dalam hatinya.
Dengan tanpa dosa, alva memukul kepala Ervan, sedangkan adelia melempar bantal kursi ke arah wajah ervan, catat wajah. Adelia mengulum senyum, dalam hati bersorak bahagia berhasil melepaskan satu emosinya tepat pada orang yang dia tuju. Jika dalam keadaan seperti ini alva dan Adelia cukup terlihat kompak.
“wahh, Kalian!!” Ervan menegakkan badannya dari posisi bersandar pada sofa, lalu memberi tatapan membunuhnya yang justru terlihat lucu, ervan sangat tidak cocok memakai wajah Alva yang menyeramkan, dia benar benar gagal membuat adelia dan alva takut.
“Aku ke sini karena merindukan pria tampanku” ujar Ervan, lalu dia mendorong bahu Alva, “dan kau Alva! Kau malah bekerja sama dengan gadis itu untuk menganiaya ke_ euumpp!”
Berkat ulah tangan usil Alva, satu potong biscuit yang ada di piring adelia menerobos masuk tanpa izin ke dalam mulut Ervan, berhasil menghentikan keributan yang dibuat Ervan. Sedangkan adelia hanya bisa menjadi penonton yang merasa kejenuhan akibat adegan yang membosankan di depannya. Bibir adelia mengumpat tanpa suara.
Di mata Adelia, pertengkaran Alva dan Ervan justru terlihat sangat manis, itu seperti sepasang kekasih yang berdebat kecil, terlihat menggemaskan bukan?
‘Ya tuhan kenapa aku harus masuk ke dalam dunia mereka?’ teriak adelia dalam hati, gadis itu hanya bis amenatap sendu Ervan dan alva yang bertengkar saling memasukkan makanan ke dalam mulut masing masing. ‘Ervan emang menyebalkan susah susah aku usaha untuk mendapatkan perhatian alva, tapi dia mengambilnya dengan sangat mudah, kalau memang tidak bisa di pisahkan kenapa dia harus meladeni Nara? Siapakah nara bagi ervan?’ adelia bertanya tanya dalam hatinya.
...🎺🎺🎺🎺🎺...