
Sedang menangis di pelukan nara, pintu ruangan itu kembali di ketuk oleh karyawan butik lagi.
“sekarang udah ya nangisnya, itu nia mulai mengetuk lagi, siapa tau itu pelanggan kita” nara menghapus air mata Adelia dan tersenyum hangat pada gadis itu.
Perlahan adelia tersenyum dan menganggukkan kepalanya, dia juga mengusap air matanya sendiri. “kamu benar, maaf aku kembali menangis”.
“tidak apa” kekeh Nara. “Masuk nia!” teriak nara karena Adelia masih sibuk menstabilkan emosinya.
Nia membuka pintu dengan perlahan dan kepalanya yang duluan menyembul untuk melirik ke dalam ruangan, “maaf kak nara, ini ada orang yang mau bertemu dengan kak Adel lagi, apa mereka boleh masuk?” tanya Nia.
“Siapa?” tanya adelia dengan suara agak serak akibat menangis.
Nia masuk dan berlari kecil mendekat ke arah Nara dan Adelia, “ituloh kak, pasangan gay kaya raya yang terkenal itu, kakak taukan pengusaha tampan dan kaya raya itu” bisik nia.
Nara dan adelia saling berpandangan, “sepertinya ini ulahmu kemarin del” sindir Nara.
Adelia menepuk jidatnya dan menggigit bibir bawahnya sambil tersenyum canggung, “aku menyesal nar, aku sudah bicara sama papa dan sekarang aku tidak berharap untuk menikah dengannya nar” bisik Adelia pada Nara.
Nara tertawa keras sambil memegangi perutnya, “itu salah kamu sendiri adel, sekarang tanggung jawab dengan masalah yang sudah kamu buat” ledek Nara.
“Anu kak, jadi ini gimana? Bolehkan mereka masuk atau di suruh pulang aja?” tanya nia yang sejak tadi menunggu perintah dari adelia.
Adelia menghembuskan nafasnya dengan berat, “suruh masuk saja” perintah Adelia.
.
Tidak lama Alva dan Ervan masuk bersama ke dalam ruangann Adelia, dimana adelia dan nara sudah duduk di sofa menunggu dua orang pria itu.
“Wahhh aku tidak menyangka ternyata butik milikmu sangat besar, padahal kamu masih berusia 21 tahun” puji ervan sambil mengedipkan sebelah matanya.
Adelia balas tersenyum pada Ervan, “apa anda baru saja mencari biodata tentangku?” tanya Adelia.
“Bukankah kamu sendiri yang memberi tahu tentang biodatamu pada kami, dari orang tua sampai kualifikasi untuk menikah denganmu” Tantang Ervan.
Adelia menganggukkan kepalanya, “benar, aku yang memang mengatakan itu, tapi bukannya dia menolak tawaranku, jadi kenapa kalian datang ke sini?”
“Tentu saja untuk menerima tawaranmu” ujar ervan.
“Bagaimana kalau aku mengatakan tawaran itu sudah hangus karena dia sudah berkali kali menolakku” Adelia kembali menekan penolakan yang dilakukan Alva padanya tadi malam.
Ervan tertawa meremehkan, “jangan meremehkan aku nona, wartawan yang membuat berita kami semakin heboh itu berasal dari anda bukan?” sindir Ervan.
“Nona adel, memang banyak orang yang ada di sana, tapi yang mengeluarkan berita pertama adalah wartawan yang berasal dari majalah fashion, anda masih kurang teliti dalam bertindak” Ervan tersenyum meremehkan, sebenarnya dia hanya menebak saja, dan setelah melihat reaksi adelia sekarang dia yakin bahwa adelia lah yang membuat masalah semakin besar.
“baiklah langsung saja ke inti permasalahannya” potong Nara, dia tau adelia sudah tidak dapat mengelak lagi. “Kalian datang ke sini untuk meminta pertanggung jawaban adelia begitu?” lanjut Nara.
“benar” angguk Ervan.
Nara menatap adelia, “adel, tanggung jawab dengan masalah yang sudah kamu buat, aku sudah memberimu peringatan bukan?” nara berbicara seperti seorang ibu yang sedang memberi nasehat anaknya.
Adelia menatap sendu nara lalu, mengalihkan pandangannya pada Alva dengan wajah cemberut, “aku minta maaf, tapi bukankah kalian berdua pasangan itu benar, aku tidak salahkan?”
‘plak’ Nara kini menjitak kepala adel dengan pelan, "maaf, dia memang seperti ini, kalau orang sudah menolaknya, harga dirinya terlalu tinggi” ujar Nara.
Adelia meringis sambil memegangi kepalanya, “nara! Sakit tau”
“Untung kamu masih bisa ngerasain sakit, apa jadinya masalah yang kamu buat sudah membuat luka di hati mereka berdua, hubungan mereka itu tidak bisa di akui begitu saja adel, negara kita ini sangat anti yang namanya pasangan seperti itu! Tidak semua orang akan menerima, coba kamu pikirkan apa yang dipikirkan oleh orang tua mereka?! Apa alasan mereka selama ini diam tidak melakukan perlawanan?! Tanggung jawab dengan masalah yang sudah kamu buat” omel Nara seperti ibu ibu.
“Iya iya baiklah,tapi apa benar dia bersedia menikah denganku?” tunjuk adel pada alva yang sejak tadi diam.
“mau” bukannya Alva yang menjawab melainkan Ervan.
Adelia mendengus kesal, “apa kamu juru bicaranya atau kamu mulutnya, aku itu bertanya padanya! Dia yang berkali kali menolakku kemarin” ujar adelia, “ganteng sih ganteng tapi kalau melencengkan gak ada gunanya” sambung adelia dengan suara pelan namun masih bisa terdengar oleh orang yang ada di sana.
“Aku mau” jawab Alva singkat benar benar singkat sampai membuat adelia kesal dengan jawaban darinya.
Adelia beralih menatap Ervan, “Ervan, apa kamu tidak cemburu alva menikah denganku? Apa kamu tidak merasa sedih melihat dia menikah denganku?” tanya Adelia penasaran.
Adelia merutuk bodoh, kenapa dia harus menanyakan pertanyaan menggelikan seperti itu. Karena pertanyaannya Ervan menundukkan kepalanya hingga Adelia dan Nara tidak bisa melihat ekspresi wajah Ervan yang mereka rasa pria itu merasa sedih dan terluka, padahal sebenarnya Ervan menahan tawa dan senyumannya.
“Ervan maaf” gumam Adelia pelan karena Ervan tidak juga menjawabnya.
Ervan yang cukup lama diam akhirnya mengangkat kepalanya, pria itu sudah bisa menahan tawa dan senyumnya. “kau bertanya tentang perasaanku?” Ervan menoleh pada Alva yang hanya diam bak patung manekin, pria yang dia lihat sama sekali tidak menoleh, malah dengan tenangnya pria itu mengambil gelas yang tadi sudah di sodorkan oleh nara, menyesapnya dan kembali tidak peduli, dengan pembahasan mereka. Bahkan dengan apapun yang terjadi nantinya, dia hanya bisa pasrah dengan keputusan Ervan dan Adelia, keputusan bodoh yang harus dia setujui mau ataupun tidak mau, karena karirnya sedang di pertimbangkan di sana.
“Tentu saja aku cemburu, bahkan aku sangat sedih harus mengambil keputusan ini, tapi aku yakin, alva tidak akan menghianatiku, aku percaya padanya” ucap Ervan mendramatisis. ‘Dengan begini kau akan membangun tembok yang tinggi untuk mencintai Alva, hahahha’ batin Ervan.
Adelia menelan ludahnya ragu, apa tadi itu sebuah ungkapan hati seorang kekasih pada pasangannya. Astaga, jika itu keluar dari bibir Ervan dan diungkapkan pada seorang wanita, mungkin adelia akan merasa tersentuh. Liat saja mata pria itu yang berkaca kaca. Tapi berhubung dikatakan untuk seorang pria hanya ada satu ucapan dalam pikiran adelia dan juga Nara
‘Yang benar saja, mereka membuatku ingin muntah’ pikir Adelia dan nara serentak.
...🎻🎻🎻🎻🎻...