Trapped in Love

Trapped in Love
47. Malu



Tangan Adelia Terulur dengan sendirinya, bergerak lembut menghapus air mata Alva yang jatuh melewati pipinya. Adelia tercengang, air mat aitu nyata, dan rasanya dia merasakan sesuatu yang sesak dalam dirinya sendiri. Melihat Alva seperti ini, Adelia merasakan sesuatu yang menyakitkan. Sepertinya dia tidak suka melihat pria dingin itu menangis, lebih suka melihat sikap acuh dan sombongnya.


‘Tapi kenapa? Kenapa? Bukankah kau membenci pria ini. Kau bahkan memakinya setiap hari, bahkan merututuki pria ini yang sudah hadir di kehidupanmu dan merusak masa depanmu sendiri yang harus menikah tanpa cinta, kau bahkan baru mengenalnya hanya dalam beberapa bulan adelia, ada apa denganmu?’ Adelia terus bertanya tanya dalam hati mengenai perasaan aneh yang dia rasakan untuk pria dinginnya.


‘Ya tuhan perasaan apa ini?’ adelia kembali membatin.


Alva dan adelia masih saling menatap.


Entah dorongan dari mana, Mata adelia terpejam saat alva mendekatkan wajahnya sendiri ke arahnya. Sapuan lembut mendarat sempurna di permukaan bibirnya, menyesap bi-bir itu dengan hati hati.


Sadar atau tidak, Adelia membalas lu-ma-tan bi-bir Alva, gadis itu mengikuti permainan bi-bir pria itu. Bergerak teratur saat bi-bir mereka terpisah dan kembali menyatu. Tangannya bahkan sudah bergelayut manja di leher pria itu. Mengelus pipi lembutnya, menekan kepala dan kembali pada tengkuk pria itu lagi. Sama halnya seperti yang Alva lakukan padanya.


Mereka terlalu sibuk menikmati percum-buan manis itu. Hingga tanpa sadarpun Alva menuntun tubuh adelia untuk terbaring di bawahnya. Membiarkan tangan masing masing bergerak sesuka hati mengikuti naluri. Bahkan ketika tangan tangan itu bergerak menanggalkan satu persatu pakaian di tubuh mereka.


Bi-bir Alva sudah tidak lagi berada di bi-bir Adelia, benda itu mendarat di area leher Adelia lalu turun lagi ke bawah, ke belahan squisy milik gadis itu. Menggerayanginya dengan indra pengecapnya, dan itu berhasil meloloskan desisan dari mulut istri nakalnya itu.


“Al~ Ahhh”


Cum-buan Alva tak berhenti hanya di squisy milik adelia, pria itu kembali naik, mencari-cari bi-bir wanitanya kembali untuk di ajak berperang. Tangan Alva bahkan bergerak turun setelah lebih dulu berada squisy Adelia. Memainkan squisy lembut itu, lalu turun ke pusar dan berhenti di bagian tubuh milik istrinya. Menyentuhnya, membelainya, menikmati ke_lem_bapan bagian itu yang memang sudah mulai basah.


“Alva~ Al~ ahhh!” De-s-ahan tak tertahan lolos begitu saja ketika Alva berhasil menerobos jari tangannya di bagian tubuh gadis itu, menggerakkan jari jarinya berputar teratur. Membuat Adelia bergerak semakin gelisah. Alva menekannya , lagi dan semakin dalam hingga sampai jari jarinya terjepit kuat dan diakhiri dengan lu-mu-ran cai-ran ke-ntal yang keluar dari bagian tubuh itu.


Adelia mengatur deru nafasnya yang memburu, belum selesai dia mengatur kerja paru parunya, tubuh Alva bergerak, di bawah sana, Adelia merasakan sesuatu yang berusaha memasuki tubuhnya. Sementara bi-bir Alva kembali bekerja, untuk men_ci-um lagi bi-bir mungil gadis di bawahnya. Tidak lama, pria itu berpindah tempat menge-ra-yangi area telinga adelia, men-ci-umnya, bahkan menggigit gigit kecil benda itu. “bisakah aku masuk sekarang?” Suara berat Alva terdengar Bagai bisikan angin.


Begitu lembut hingga adelia masuk dalam godaan itu. Tanpa sadar gadis itu menganggukkan kepalanya memberikan jawaban anggukan sebagai izin. Dan dalam beberapa hentakan kuat namun hati hati, Alva berhasil mem-bo-*** pertahanan tubuh istrinya untuk pertama kalinya. Benar istrinya, wanita itu adalah istrinya, istri sahnya, dan sekarang Adelia benar benar menjadi seorang istri sah Alva.


Adelia melenguh antara sakit dan menikmati penya-tuan tubuh Alva di dalam tubuhnya.


Pria itu tersenyum, dan Adelia membalas senyuman itu, merasakan kebahagiaan yang entah nyata atau tidak ketika bi-bir Alva telah menyentuh lembut dahinya, matanya, hidungnya, kedua pipinya dan jangan lupa bi-bir adelia. Sentuhan alva yang begitu lembut dan memuja, membuat adelia merasa dia wanita special Alva.


Luar biasa, mereka sudah menyatu menjadi satu. Bahkan bergerak bersama dalam penyatuan itu. Berada dalam kuasa dan kurungan tubuh serta tangan kekar suaminya, terasa begitu sempurnya.


“Adel~”


Pekikan pria itu berhasil mengundang rang-sang-an lebih di tubuh adelia. Terlebih saat Alva memanggil namanya. Rasanya dengan hanya mendengar suara suaminya, Adelia sudah dapat merasakan bagian tu-buh-nya ber-den-yut hebat. Tubuhnya kembali gusar, mereka terus bergerak, bahkan semakin cepat. Dengan tangan dan bi-bir yang bahkan tak pernah diam, mengejar surga ke-nik-matan itu bersama.


“Al~ A-aku___ooohhh!”


“arrggghh!”


Keduanya me-le-nguh panjang, mendaki puncak ke-nik-ma-tan itu bersama. Pele-pasan yang begitu hebat. Beberapa sem-protan kuat di dalam ra-himnya masih dapat Adelia rasakan saat tubuhnya terus ber-de-nyut men-je-pit milik Alva.


Membiarkan tubuh pria itu tergeletak bebas di atas tubuhnya tanpa merasakan beban berat tubuh pria itu. Mengikis jarak dengan kepala Alva yang berada di lekukan lehernya, sesekali bahkan Alva men-ci-um permukaan lembut kulit istrinya, pipinya telinganya dan bebisik disana dengan lembut.


“terima kasih sayang, tidur lah”


...🎷🎷🎷🎷🎷...


Pagi harinya harus Adelia rasakan dengan canggung, Bukan perasaan bahagia yang memuncak yang biasanya di rasakan pasangan pengantin kebanyakan saat mereka berhasil melakukan malam pertama.


Bukan berarti dia tidak benar benar tidak bahagia, karena pada kenyataannyapun adelia sendiri yang terus berusaha memancing suaminya tapi Adelia masih belum bisa menegaskan seperti apa perasaannya saat ini. Namun yang pasti, Adelia tidak menemukan perasaan menyesal di salah satu perasaan yang sedang hatinya rasakan. Wanita itu bahkan tidak menangisi mahkotanya yang sekarang sudah di renggut oleh pria itu.


Bukankah Ava adalah suaminya? Jadi wajar bukan dia memberikan apa yang memang menjadi hak untuk Alva dapatkan.


Adelia bangun lebih dulu membiarkan Alva yang masih tertidur, tidak berniat membangunkan pria itu meskipun faktanya ini bukanlah hari libur suaminya masuk kantor.


Adelia hanya sedang berniat menghindari alva, itu yang adelia ingin lakukan, sebisa mungkin, berharap dia tidak akan bertatapan dengan mata pria itu. Akan seperti apa dia menanggung malu jika alva melihatnya.


Dan, ada yang aneh di sini, kenapa mereka bisa melakukan hal itu semalam? Apa alva kerasukan setan? Bagaimana bisa pria tidak normal menyentuhnya terlalu jauh.


Adelia duduk di dapur dengan segelas susu yang baru dia buat, ingat lagi gadis itu masih malu bercampur kebingungan dengan apa yang suaminya lakukan, jadi dia berusaha menghindari alva.


“kenapa tidak membangunkanku?” suara Alva yang berat terdengar dari arah kamar utama.


Tubuh Adelia menegang hebat di detik itu juga. Otaknya langsung berhenti bekerja dengan sendirinya, dunia seakan akan berhenti sama halnya dengan gerakannya mengaduk gelas susu coklat miliknya. Sesuatu di belakang tubuhnya terditeksi memancarkan aura tidak aman.


“i-itu, a-aku hanya khawatir saja kau masih sakit” ucap adelia asal.


‘dasar adel bodoh, apa yang sedang kau katakan? Apa kau sedang memperlihatkan perhatianmu kepada pria ini secara jeas? Kau semakin memalukan adel, harusnya kau bersikap seperti biasanya kau mempermalukan alva, memakinya, meneriakinya atau merutukinya, kau bahkan terdengar gugup adelia’ teriak Adelia dalam hatinya.


...🏸🏸🏸🏸🏸...