
Hari ini kelas XII Seorang gempar. Seisi kelas sedang sibuk menyambut teman baru. Mereka sedang siap kejutan kecil berupa kue sebagai simbol kekeluargaan.
Kue kecil dengan tulisan Selamat datang Annisa tertera jelas. Selain itu ada potonga pita kecil-kecil untuk ditabur.
Begitu sosok gadis Berseragam abu-abu dengan jilbab putih itu membuka pintu, letusan balon mengawali kejutan. Lalu kertas itu menghujani Annisa.
Selamat datang bernyanyi juara!
Selamat datang bernyanyi bintang!
Selamat datang sahabat tercinta!
Tepuk tangan mengiringi keharuan jiwa Annisa. Sebegitu besarkah teman sekelasnya
menunggu kedatangannya. Setelah hampir tiga bulan tidak masuk, kini kehadirannya dielu-elukan bagai artis.
Siapakah dia? Kenapa Annisa menjadi bahan yang perhantian teman-teman-teman-teman.
Annisa adalah siswa biasa. Putri dari keluarga miskin di Kranganyar. Meski begitu semangat Pak Rudi
dan istrinya begitu tinggi.Dia ingin mengan mengangkat rusa kedua
orang tua menjadi lebih baik.Annisa bercita-cita jadi wanita karir yang mengentas
mereka kekurangan.Dalam tekadnya, dia ingin berkarir terlebih dahulu.Dia
tidak akan menikah sebelum cita-citanya terwujud dan membahagiakan orang
orang tua.
Maka sebab itu,Annisa tampil sebagai sosok yang kuat, pekerja keras, sabar dan baik hati. Dia
memiliki kecerdasan yang cukup tinggi.Dia mampu menjadi pemenang lomba sains
di kabupaten.Sekaligus menjadi juara dua di provinsi.
Teman-teman sangat sayang dia. Mereka berkerumun. Annisa jika waktu istirahat tiba.
Meski cerdas, dia tidak pernah sombong.Bagi teman-teman lelaki, sosok Annisa
sangat istimewa.Dia memiliki rupa cantik
dan tinggi semampai.Selain itu dia murah senyum dan rendah hati.Cowok-cowok merasa gemas jika melihat Annisa.
Jadi intinya, semua orang menyayangi Annisa.
Kalau ada siswa yang tidak suka dengannya hanya satu orang yaitu Rada Rentana. Putri seorang juragan ternak di Kranganyar itu memiliki perangai angkuh dan sok kecakepan. Kerjanya hanya mencari sensasi. Mentang-metang anak orang kaya, dia seenaknya dalam bertindak. Rasa bencinya kepada Annisa karena dia kalalahperhatian.
***
Aku berdiri di depan kelas. Berusaha dengan baik menernangkan materi tentang anatomi tubuh manusia. Namun sejak pertama masuk kelas, pikiranku kacau. Entah kenapa itu terjadi begitu saja. Rasanya
hati ini mulai resah tes Annisa.
Ya Ampun ternyata sampai sejauh ini ... batinku mengerang.
Sesekali aku edaran pandangan kearah Annisa. Dia tidak menyadari keresahanku.
Usaha metode peneranganku berjalan sampai waktu selesai.
Aku keluar dari kelas dengan buru-buru.
“Pak Aldi!” Sebuah suara mengejutkanku. Hatiku bergetar hebat. Aku berharap Annisa yang
memaggilku.
Aku memutar tubuh. Sekilas kekecewaan menyergap. Rada berlari menghampiri. Kali ini dia tidak
sendiri.Ada Cindy dan Metul.
“Apa kabar Pak? Nanti masuk ke kelas saya kan Pak? ” tanyanya basa-basi.
“Iya. Itu sudah jadi tugas saya, ”jawabku singkat dan tanpa senyum.
“Lho, kok kaku amat sih Pak, ”protes Rada seraya menggamit lenganku.
Seketika aku terperanjat. Disaat aku dapat melepaskan diri, pandangan mata Annisa
memancarkan ketidaknyamanan.Aku langsung berontak dan meninggalkan Rada yang
tengah heboh sendiri.
Dik Annisa tunggu! ” Aku memanggilnya ketika pulang di pintu gerbang.
“Saya turut senang Dik Annisa kembali ke sekolah. Saya salut sama Dik Annisa. Sambutan teman-teman
sungguh luar biasa. ”
Annisa yang awalnya
mau menghindar tidak bisa berkutik.Mau tidak mau, dia pasti.
“Ah, biasa sajaPak. Teman-teman saya saja yang berlebihan, ”jawabnya malu-malu.
Suasana hening.Aku
dan dia sama-sama bingung mau membicarakan apa.
“Oh ya, maaf soal
tadi, ”kataku dengan gugup.
“Soal apa?”
“Soal Rada.Dia
memang begitu. ”
“Tidak apa-apa Pak.
Memang dia seperti itu? ”membantu Annisa dengan nada yang kurang nyaman.Aku menebak
Annisa tidak suka dengan sika Rada.
“Yah.Syukur. ”
“Oh ya, kita pulang
searah.Apa mau pulang bersama? ”tawarku basa-basi.
“Tidak.Terima
kasih Pak.Saya sudah ada yang jemput. ”Annisa menunjuk seorang tema cowoknya
di parkiran.Cowok yang pernah mengantarnya tempo hari ke rumah.
Lagi-lagi hati ini
tak nyaman.Rasa cemburu menyelinap
dalam hati.
***.
Pagi ini aku
berjalan santai.Sengaja aku berangkat agak pagi karena ada pekerjaan yang
harus besar.Ketika aku keluar dari jalan kecil menuju sekolah.Aku
melihat suara motot ngebut.Motor itu digeber-geberkan melaju dengan kencang.
Pengendara itu memakai helm rapat, tanpa mudah dikenali.
Disaat yang
bersamaan, aku melihat, Annisa berjalan
menunduk.Sejenak aku berpikir buruk.Akan terjadi sesuatu yang terjadi
keselamatan Annisa.Ingatanku pada kecelakan pertama.
Tiba-tiba aku
bergerak cepat.Berlari menerjang jalan kecil menuju ke arah Annisa
berjalan.Sepeda motor itu sudah dekat dibelakang gadis itu.
Dan ....
Dengan cepat aku
menarik tubuh Annisa dan jatuh tanaman
kemuning, sejenis pagar hidup yang ditanam sepanjang jalan desa.Annisa menjerit.
Sepeda motor hanya mengenai tempat kosong.
Sepeda motor melaju
dan menghilang ditikungan.Aku masih memegang dengan erat.Sekilas
kutatap wajahnya yang panik.Kami saling pandang dalam beberapa saat.Aku
merasakan getaran hati Annisa.Terasan
nyaman dan damai.Dan aku sadar, ternyata cinta sudah bersemi dihati sejak
menolongnya dari kecelakaan pertama.
“Oh maaf,” kataku
setelah sadar aku masih berada dekat sekali.Kesadaranku juga muncul bahwa
sudah tiga kali menyelamatnya, termasuk ketika jatuh saat latihan berjalan.
Nampak Annisa salah
tingkah.Dia gugup sekali.
“Terima kasih, Pak.
Sudah dua kali membantu, ”jawabnya pelan seraya membenarkan bajunya yang kusut.
“Sama-sama.Oh ya,
sepertinya dia sengaja ingin mencelakai Dik Annisa. ”
Wajah Annisa
terlihat pucat ketakutan.
“Tidak tahu.Tapi
siapa ya yang tega begitu, ”jawabnya.“Perasaan saya tidak punya musuh.
“Dik Annisa tidak
perlu khawatir.Saya akan menjaga keselamatan Dik Annisa, ”kataku dengan dalam.
Sekilas wajah
Annisa merona merah.Dia malu penyediaan spesial olehku.
“Tapi bagaimana
dengan Rada .... ”ujar Annisa.
berpikir.“Rada bukan siapa-siapa.Dia cuma cari senasi saja.Saya juga dibuat risih
olehnya. ”
Annisa tersenyum.
Entah kenapa,
Aku menikmati senyum manis itu.
Kemudian, aku dan Annisa berangkat bersama dengan jalan kaki.
***
Entah kenapa., Setiap mendengar
nama gadis itu hatiku selalu bersimpati.Bukan cuma itu, mungkin juga ada
benih-benih kekaguman dihatiku.Wajar saja, Annisa adalah siswi kelas XII terpandai di SMA.Sebagai guru matematika, aku turut senang dan terus memberi suport.
Namun disisi lain,
tak dapat dipungkiri, ada perasaan aneh menyesap dalam relung hati.Sebuah
perasaan bahagian kalau melihat bahkan dekat dengannya.Serta Perasaan kecewa
dan galau kalau Annisa dekat dengan orang lain.
Hatiku terus berbunga-bunga.Seperti taman bunga yang
bermekaran di musim semi.Jiwa ini semakin berkobar-kobar kala mengingat wajah dan rupanya.Korban jiwa itu
terus memberi semangat.Terutama ketika melihatnay melintas di
depan kontrakanku bersama Dion.
Dia tampak terkejut melihatku tengah menjemur pakaian.
“Mau kemana Dek Anis,” sapaku denga dada berdesir hebat.
Dia menoleh sambil tersenyum malu-malu.
“Eh, Pak Aldi,” jawabnya salah
tingkah. “Ini mau ngajak Dion jalan-jalan.”
“Oh jalan-jalan.Mau mampir dulu? ”
Aku menawarkan.
“Tidak.Terima
kasih Pak, ”jawabnya sambil kembali menunduk.
“Kak Annis, kita
main dulu ke rumah Kak Aldi ya? ”Tiba-tiba Dion merengek.
Aku senang
mendengar kemauan Dion.
“Tapi, Dion.Kita
kan mau beli kue kesukaan kamu? ”ujar
Annisa setengah bingung.
“Aku punya kue.
Barangkali Dion mau? ”tawarku kembali.
Sekilas Annisa
menatapku.Malu-malu menyisir bibirnya.
Sekilas kulirik Anisa.He dia mau
menolak tawaranku, tapi buru-buru
Dion menerimanya.
“Dion mau kue, Kak Annis!”
“Kamu harus sopan Dion,” bisik Anis.
“Pokoknya Dion mau kue,” rengeknya
lagi.
“Tidak apa-apa Dik Anis,” kataku sambil mengarahkan mereka
masuk ke dalam rumah kecil tempatku ngekos. ”
Aku mengambil sekotak kue kering
yang bawa dari sekolah.Tadi siang ada acara syukuran kepala sekolah sehabis
pulang dari umrah.
Makan kue itu dengan
lahapnya.Sementara aku duduk di teras bersama Anisa.Aku menyadari
sejak, dia tahu aku seorang yang mengajar di sekolahnya, dia menjadi batasan
diri.
“Saya tak menyangka Dik Anis ini siswa SMA,” kataku sambil
tersenyum geli.“Sudah itu Dik Anis ini istimewa.Pernah mewakili sekolah kita ditingkat provinsi. ”
Di sampingku agak jauh, gadis itu
tersenyum sambil menunduk malu.
“Bapak bisa saja,” katanya sopan.“Tapi saya cuma
juara dua. ”
“Juara dua juga
bagus.Kan hanya Dik Annis yang bisa begitu. ”Aku mencoba bergurau.
“Semua
itu berkat guru-guru dan teman-teman yang sudah mendukung dan mendoakan saya. ”
“Terus terang, saya kagum pada Dik Annis,” kataku terus.“Sudah pintar, baik,
penurut dan… .. ”
“Bapak jangan berlebihan begitu,”
kata Anaisa risih.
“Oh ya, setelah lulus mau melanjutkan
kemana? ”penasaran.
“Tidak tahu Pak,” jawabnya polos.
“Jujur,” kataku dengan penuh pertimbangan.
“Kalau melihat siswa-siswinya berprestasi seperti Dik Annisa, sangat ditayangkan mereka tidak
lanjutkan.Karena semua orang tahu, pendidikan adalah gerbang masa depan. ”
Anisa hanya mengangguk.Aku jadi
tidak enak sendiri.Barangkali dia
merasa terbebani dengan pembicaraan ini.
“Oh ya, barangkali orang sudah sakit
tuamu menunggu-nunggu, ”kataku menyarankan.
“Oh ya Pak, terima kasih atas kuenya,” katanya
sambil meraih tangan adiknya.Dion sepertinya masih ingin menghabiskan waktu
kue-kuenya.Baru dengan rayuan, dia mau diajak pulang.
“Kuenya di bawa aja,” ujarku “
Sambil memberikan
plastik kresek untuk membungkus kotak kue.
“Sekali lagi terima kasih
Pak, ”katanya sambil menyelidiki pergi.
Aku tersenyum sendiri.Berada dekat dengan Annisa merupakan kebahagiaan
yang sangat besar.Rasanya semua masalah
dan rasa lelaluhku hilang.Kehadiran Annisa membuat hari-hariku lebih berwarna.
Melenyapkan Nima yang mulai menjalin komunikasi.
Nama Annisa begitu terang dalam hatiku.Entah apa
artinya, aku berusaha menjadikan nama itu sebagai penawar rasa simpati saja.
Namun sepertinya tidak semudah itu, gadis 18 tahun itu rupanya bukan saja merasuk kedalam hatiku dan menumbuhkan
benih-benih kekaguman yang besar.Terus
terang aku takut perasaan itu berubah haluan.Ketakutan akan rembesan
ombak-ombak cinta yang mulai pelan membasahi nahkoda hati ini.Aku tidak ingin mengambil risiko besar dalam
hatiku.Ingat, Annisa
adalah muridku sendiri.Tidak baik dekat bahkan menjalin hubungan.Atau aku
akan menjadi bahan tertawaan semua orang.
Guru SMA memacari muridnya!Bagaimana dong.Bisa-bisa aku
didepak dari sekolah.Tidak.Tidak.
Hatiku yang sedang
hiasan-bunga udah berguguran sendiri.Semangat yang tengah menggelora,
tumbang oleh pemikiran-pemikiran sendiri.Aku masih berpedoman dengan akal dari
sisi profesi.Sedangkan aku menyambut Annisa dengan penuh cinta, jika takdir
yang menjalankannya.
Lama aku ujian
soal itu, membuat ait mata kebimbanganmenetes.
Ya Allah, Aku jatuh cinta dengan muridku.Apa yang haru
aku lakukan?
Udara mataku tumpah dihadapan
Rob-Nya, untuk meminta petunjuk-Nya.
*****