Trapped in Love

Trapped in Love
Episode 5 Jiwa yang Resah



 


 


Hari ini kelas XII Seorang gempar. Seisi kelas sedang sibuk menyambut teman baru. Mereka sedang siap kejutan kecil berupa kue sebagai simbol kekeluargaan.


 


 


Kue kecil dengan tulisan Selamat datang Annisa tertera jelas. Selain itu ada potonga pita kecil-kecil untuk ditabur.


 


 


Begitu sosok gadis Berseragam abu-abu dengan jilbab putih itu membuka pintu, letusan balon mengawali kejutan. Lalu kertas itu menghujani Annisa.


 


 


Selamat datang bernyanyi juara!


Selamat datang bernyanyi bintang!


Selamat datang sahabat tercinta!


 


 


Tepuk tangan mengiringi keharuan jiwa Annisa. Sebegitu besarkah teman sekelasnya


menunggu kedatangannya. Setelah hampir tiga bulan tidak masuk, kini kehadirannya dielu-elukan bagai artis.


 


 


Siapakah dia? Kenapa Annisa menjadi bahan yang perhantian teman-teman-teman-teman.


 


 


Annisa adalah siswa biasa. Putri dari keluarga miskin di Kranganyar. Meski begitu semangat Pak Rudi


dan istrinya begitu tinggi.Dia ingin mengan mengangkat rusa kedua


orang tua menjadi lebih baik.Annisa bercita-cita jadi wanita karir yang mengentas


mereka kekurangan.Dalam tekadnya, dia ingin berkarir terlebih dahulu.Dia


tidak akan menikah sebelum cita-citanya terwujud dan membahagiakan orang


orang tua.


 


 


Maka sebab itu,Annisa tampil sebagai sosok yang kuat, pekerja keras, sabar dan baik hati. Dia


memiliki kecerdasan yang cukup tinggi.Dia mampu menjadi pemenang lomba sains


di kabupaten.Sekaligus menjadi juara dua di provinsi.


 


 


Teman-teman sangat sayang dia. Mereka berkerumun. Annisa jika waktu istirahat tiba.


Meski cerdas, dia tidak pernah sombong.Bagi teman-teman lelaki, sosok Annisa


sangat istimewa.Dia memiliki rupa cantik


dan tinggi semampai.Selain itu dia murah senyum dan rendah hati.Cowok-cowok merasa gemas jika melihat Annisa.


Jadi intinya, semua orang menyayangi Annisa.


 


 


Kalau ada siswa yang tidak suka dengannya hanya satu orang yaitu Rada Rentana. Putri seorang juragan ternak di Kranganyar itu memiliki perangai angkuh dan sok kecakepan. Kerjanya hanya mencari sensasi. Mentang-metang anak orang kaya, dia seenaknya dalam bertindak. Rasa bencinya kepada Annisa karena dia kalalahperhatian.


 


 


***


 


 


Aku berdiri di depan kelas. Berusaha dengan baik menernangkan materi tentang anatomi tubuh manusia. Namun sejak pertama masuk kelas, pikiranku kacau. Entah kenapa itu terjadi begitu saja. Rasanya


hati ini mulai resah tes Annisa.


 


 


Ya Ampun ternyata sampai sejauh ini ... batinku mengerang.


 


 


Sesekali aku edaran pandangan kearah Annisa. Dia tidak menyadari keresahanku.


Usaha metode peneranganku berjalan sampai waktu selesai.


 


 


Aku keluar dari kelas dengan buru-buru.


 


 


“Pak Aldi!” Sebuah suara mengejutkanku. Hatiku bergetar hebat. Aku berharap Annisa yang


memaggilku.


 


 


Aku memutar tubuh. Sekilas kekecewaan menyergap. Rada berlari menghampiri. Kali ini dia tidak


sendiri.Ada Cindy dan Metul.


 


 


“Apa kabar Pak? Nanti masuk ke kelas saya kan Pak? ” tanyanya basa-basi.


 


 


“Iya. Itu sudah jadi tugas saya, ”jawabku singkat dan tanpa senyum.


 


 


“Lho, kok kaku amat sih Pak, ”protes Rada seraya menggamit lenganku.


 


 


Seketika aku terperanjat. Disaat aku dapat melepaskan diri, pandangan mata Annisa


memancarkan ketidaknyamanan.Aku langsung berontak dan meninggalkan Rada yang


tengah heboh sendiri.


 


 


Dik Annisa tunggu! ” Aku memanggilnya ketika pulang di pintu gerbang.


 


 


“Saya turut senang Dik Annisa kembali ke sekolah. Saya salut sama Dik Annisa. Sambutan teman-teman


sungguh luar biasa. ”


 


 


Annisa yang awalnya


mau menghindar tidak bisa berkutik.Mau tidak mau, dia pasti.


 


 


“Ah, biasa sajaPak. Teman-teman saya saja yang berlebihan, ”jawabnya malu-malu.


 


 


Suasana hening.Aku


dan dia sama-sama bingung mau membicarakan apa.


 


 


“Oh ya, maaf soal


tadi, ”kataku dengan gugup.


 


 


“Soal apa?”


 


 


“Soal Rada.Dia


memang begitu. ”


 


 


“Tidak apa-apa Pak.


Memang dia seperti itu? ”membantu Annisa dengan nada yang kurang nyaman.Aku menebak


Annisa tidak suka dengan sika Rada.


 


 


“Yah.Syukur. ”


 


 


“Oh ya, kita pulang


searah.Apa mau pulang bersama? ”tawarku basa-basi.


 


 


“Tidak.Terima


kasih Pak.Saya sudah ada yang jemput. ”Annisa menunjuk seorang tema cowoknya


di parkiran.Cowok yang pernah mengantarnya tempo hari ke rumah.


 


 


Lagi-lagi hati ini


tak nyaman.Rasa cemburu menyelinap


dalam hati.


 


 


***.


 


 


Pagi ini aku


berjalan santai.Sengaja aku berangkat agak pagi karena ada pekerjaan yang


harus besar.Ketika aku keluar dari jalan kecil menuju sekolah.Aku


melihat suara motot ngebut.Motor itu digeber-geberkan melaju dengan kencang.


Pengendara itu memakai helm rapat, tanpa mudah dikenali.


 


 


Disaat yang


bersamaan, aku melihat, Annisa berjalan


menunduk.Sejenak aku berpikir buruk.Akan terjadi sesuatu yang terjadi


keselamatan Annisa.Ingatanku pada kecelakan pertama.


 


 


Tiba-tiba aku


bergerak cepat.Berlari menerjang jalan kecil menuju ke arah Annisa


berjalan.Sepeda motor itu sudah dekat dibelakang gadis itu.


 


 


Dan ....


 


 


Dengan cepat aku


menarik tubuh Annisa dan jatuh tanaman


kemuning, sejenis pagar hidup yang ditanam sepanjang jalan desa.Annisa menjerit.


Sepeda motor hanya mengenai tempat kosong.


 


 


Sepeda motor melaju


dan menghilang ditikungan.Aku masih memegang dengan erat.Sekilas


kutatap wajahnya yang panik.Kami saling pandang dalam beberapa saat.Aku


merasakan getaran hati Annisa.Terasan


nyaman dan damai.Dan aku sadar, ternyata cinta sudah bersemi dihati sejak


menolongnya dari kecelakaan pertama.


 


 


“Oh maaf,” kataku


setelah sadar aku masih berada dekat sekali.Kesadaranku juga muncul bahwa


sudah tiga kali menyelamatnya, termasuk ketika jatuh saat latihan berjalan.


 


 


Nampak Annisa salah


tingkah.Dia gugup sekali.


 


 


“Terima kasih, Pak.


Sudah dua kali membantu, ”jawabnya pelan seraya membenarkan bajunya yang kusut.


 


 


“Sama-sama.Oh ya,


sepertinya dia sengaja ingin mencelakai Dik Annisa. ”


 


 


Wajah Annisa


terlihat pucat ketakutan.


 


 


“Tidak tahu.Tapi


siapa ya yang tega begitu, ”jawabnya.“Perasaan saya tidak punya musuh.


 


 


“Dik Annisa tidak


perlu khawatir.Saya akan menjaga keselamatan Dik Annisa, ”kataku dengan dalam.


 


 


Sekilas wajah


Annisa merona merah.Dia malu penyediaan spesial olehku.


 


 


“Tapi bagaimana


dengan Rada .... ”ujar Annisa.


 


 


berpikir.“Rada bukan siapa-siapa.Dia cuma cari senasi saja.Saya juga dibuat risih


olehnya. ”


 


 


Annisa tersenyum.


 


 


Entah kenapa,


Aku menikmati senyum manis itu.


Kemudian, aku dan Annisa berangkat bersama dengan jalan kaki.


 


 


***


Entah kenapa., Setiap mendengar


nama gadis itu hatiku selalu bersimpati.Bukan cuma itu, mungkin juga ada


benih-benih kekaguman dihatiku.Wajar saja, Annisa adalah siswi kelas XII terpandai di SMA.Sebagai guru matematika, aku turut senang dan terus memberi suport.


 


 


Namun disisi lain,


tak dapat dipungkiri, ada perasaan aneh menyesap dalam relung hati.Sebuah


perasaan bahagian kalau melihat bahkan dekat dengannya.Serta Perasaan kecewa


dan galau kalau Annisa dekat dengan orang lain.


 


 


Hatiku terus berbunga-bunga.Seperti taman bunga yang


bermekaran di musim semi.Jiwa ini semakin berkobar-kobar kala mengingat wajah dan rupanya.Korban jiwa itu


terus memberi semangat.Terutama ketika melihatnay melintas di


depan kontrakanku bersama Dion.


Dia tampak terkejut melihatku tengah menjemur pakaian.


 


 


“Mau kemana Dek Anis,” sapaku denga dada berdesir hebat.


 


 


Dia menoleh sambil tersenyum malu-malu.


 


 


“Eh, Pak Aldi,” jawabnya salah


tingkah. “Ini mau ngajak Dion jalan-jalan.”


 


 


“Oh jalan-jalan.Mau mampir dulu? ”


Aku menawarkan.


 


 


“Tidak.Terima


kasih Pak, ”jawabnya sambil kembali menunduk.


 


 


“Kak Annis, kita


main dulu ke rumah Kak Aldi ya? ”Tiba-tiba Dion merengek.


 


 


Aku senang


mendengar kemauan Dion.


 


 


“Tapi, Dion.Kita


kan mau beli kue kesukaan kamu? ”ujar


Annisa setengah bingung.


 


 


“Aku punya kue.


Barangkali Dion mau? ”tawarku kembali.


 


 


Sekilas Annisa


menatapku.Malu-malu menyisir bibirnya.


 


 


 Sekilas kulirik Anisa.He dia mau


menolak tawaranku, tapi buru-buru


Dion menerimanya.


 


 


“Dion mau kue, Kak Annis!”


 


 


“Kamu harus sopan Dion,” bisik Anis.


 


 


“Pokoknya Dion mau kue,” rengeknya


lagi.


 


 


“Tidak apa-apa Dik Anis,” kataku sambil mengarahkan mereka


masuk ke dalam rumah kecil tempatku ngekos. ”


 


 


Aku mengambil sekotak kue kering


yang bawa dari sekolah.Tadi siang ada acara syukuran kepala sekolah sehabis


pulang dari umrah.


 


 


Makan kue itu dengan


lahapnya.Sementara aku duduk di teras bersama Anisa.Aku menyadari


sejak, dia tahu aku seorang yang mengajar di sekolahnya, dia menjadi batasan


diri.


 


 


“Saya tak menyangka Dik Anis ini siswa SMA,” kataku sambil


tersenyum geli.“Sudah itu Dik Anis ini istimewa.Pernah mewakili sekolah kita ditingkat provinsi. ”


 


 


Di sampingku agak jauh, gadis itu


tersenyum sambil menunduk malu.


 


 


“Bapak bisa saja,” katanya sopan.“Tapi saya cuma


juara dua. ”


 


 


“Juara dua juga


bagus.Kan hanya Dik Annis yang bisa begitu. ”Aku mencoba bergurau.


 


 


“Semua


itu berkat guru-guru dan teman-teman yang sudah mendukung dan mendoakan saya. ”


 


 


“Terus terang, saya kagum pada Dik Annis,” kataku terus.“Sudah pintar, baik,


penurut dan… .. ”


 


 


“Bapak jangan berlebihan begitu,”


kata Anaisa risih.


 


 


“Oh ya, setelah lulus mau melanjutkan


kemana? ”penasaran.


 


 


“Tidak tahu Pak,” jawabnya polos.


 


 


“Jujur,” kataku dengan penuh pertimbangan.


“Kalau melihat siswa-siswinya berprestasi seperti Dik Annisa, sangat ditayangkan mereka tidak


lanjutkan.Karena semua orang tahu, pendidikan adalah gerbang masa depan. ”


 


 


Anisa hanya mengangguk.Aku jadi


tidak enak sendiri.Barangkali dia


merasa terbebani dengan pembicaraan ini.


 


 


“Oh ya, barangkali orang sudah sakit


tuamu menunggu-nunggu, ”kataku menyarankan.


 


 


“Oh ya Pak, terima kasih atas kuenya,” katanya


sambil meraih tangan adiknya.Dion sepertinya masih ingin menghabiskan waktu


kue-kuenya.Baru dengan rayuan, dia mau diajak pulang.


 


 


“Kuenya di bawa aja,” ujarku “


Sambil memberikan


plastik kresek untuk membungkus kotak kue.


 


 


“Sekali lagi terima kasih


Pak, ”katanya sambil menyelidiki pergi.


 


 


Aku tersenyum sendiri.Berada dekat dengan Annisa merupakan kebahagiaan


yang sangat besar.Rasanya semua masalah


dan rasa lelaluhku hilang.Kehadiran Annisa membuat hari-hariku lebih berwarna.


Melenyapkan Nima yang mulai menjalin komunikasi.


 


 


Nama Annisa begitu terang dalam hatiku.Entah apa


artinya, aku berusaha menjadikan nama itu sebagai penawar rasa simpati saja.


Namun sepertinya tidak semudah itu, gadis 18 tahun itu rupanya bukan saja merasuk kedalam hatiku dan menumbuhkan


benih-benih kekaguman yang besar.Terus


terang aku takut perasaan itu berubah haluan.Ketakutan akan rembesan


ombak-ombak cinta yang mulai pelan membasahi nahkoda hati ini.Aku tidak ingin mengambil risiko besar dalam


hatiku.Ingat, Annisa


adalah muridku sendiri.Tidak baik dekat bahkan menjalin hubungan.Atau aku


akan menjadi bahan tertawaan semua orang.


 


 


Guru SMA memacari muridnya!Bagaimana dong.Bisa-bisa aku


didepak dari sekolah.Tidak.Tidak.


 


 


Hatiku yang sedang


hiasan-bunga udah berguguran sendiri.Semangat yang tengah menggelora,


tumbang oleh pemikiran-pemikiran sendiri.Aku masih berpedoman dengan akal dari


sisi profesi.Sedangkan aku menyambut Annisa dengan penuh cinta, jika takdir


yang menjalankannya.


 


 


Lama aku ujian


soal itu, membuat ait mata kebimbanganmenetes.


 


 


Ya Allah, Aku jatuh cinta dengan muridku.Apa yang haru


aku lakukan?


 


 


Udara mataku tumpah dihadapan


Rob-Nya, untuk meminta petunjuk-Nya.


 


 


*****