Trapped in Love

Trapped in Love
Episode 6



Semakin hari rasa cinta ini tumbuh bersemi dengan indahnya. Aku tidak bisa menolak perasaan ini. Meski betapa kuatnya aku memungkiri, tetap saja cinta itu semakin kuat mendera.  Sepertinya hati dan jiwa ini sudah terjerat gadis SMA itu.


   Duh, gusti aku  harus bagaimana? lirihkudisaat selesai shalat.


Suatu hari, tanpa diduga, aku mendapat kejutan.  Annisa datang mengantar singkong


pesanan ke rumah Bu Hadi dari ayahnya. Sore itu kebetulan aku sedangmengangkat  jemuran. Terus terang,  hati ini berdegup kencang melihat gadis pujaan hati.


     “Dik Annis, kebetulan kamu kesini,” kata Bu Hadi. “Tuh, bantu guru kamu ngangkat jemuran.”


     Annisa nampak terkejut. Dia tidak menyangka akan mendapati situasi seperti itu.


     “Jangan malu-malu, Dik Annis. Pak Aldi, ggak bakal nggigit!” goda Bu Hadi sambil tertawa.


     Aku yang mendengar jelas ucapan pemilik kontrakan itu langsung berbunga-bunga. Hati ini  mengembang seketika. Tapi aku pura-pura tidak mendengarnya. Supaya Annisa tidak malu denganku.


     Nyata saja, ketika aku baru mengangkat setengahnya, Annisa ikut membantu. Gadis  SMA itu memakain  jilbab  biru muda dengan kemeja hijau. Rok panjang  warna hitam menyelaraskan penampilannya.


     “Aduh, jadi ngrepotin  Dik Annis,” kataku basa-basi.


     Annisa menungguk sambil tersenyum. Sepasang tangannya yang lentik sibuk mengumpulkan jemuran ke dalam keranjang.


     “Nggak apa-apa,” sahutnya lirih.


     Kulirik sekilas perubahan wajanhnya. Pipinya merona merah  karena malu.


     “Kalau sudah selesai, sebaiknya sekalian dilipati.” Suara Bu Hadi kembali terdengar. Wanita itu tengah sibuk menyapu teras.


     Tak sengaja aku menatap Annisa. Dia pun melakukan hal yang sama. Kami saling menatap.  Cukup lama dan  berkesan. Aku merasa ada  sesuatu yang  dalam dan istimewa di balik mata bening gadis itu. Sesuatu tersebut adalah cinta.


     Annisa  menunduk. Dia semakin salah tingkah, seperti  halnya aku.


     “Maksudnya apa, Bu Hadi?” tanyaku, sengaja  memancing wanita itu untuk meneruskan perkataan tadi.


     “Iya, Pak,” jawab Bu Hadi. “Maksudnya, kalau tidak ada kerjaan, Dik Annisa membantu Bapak merapikan pakaian. Ya, sekali-kali murid  bantu gurunya nggak apa-apa.”


     “Tidak usah Bu,”  sahutku dengan perasaan bingung  bercampur senang. “Aku takut merepotkan Dik Annisa.”


     “Nggak apa-apa, Pak. Lagian  belum sore, kok,” sela Annisa dengan suara


lirih.


     “Nah begitu dong,” tukas Bu Hadi. Kemudian sambil tertawa, dia meneruskan. “Nanti nilai raportnya ditambahin ya Pak!


     “Aku tertawa lirih. Ku dengar, Annisa tertawa juga. Aku berusaha menetralkan perasaanku darinya. Tapi semakin dekat dengan gadis SMA itu, hatiku semakin berbunga-bunga.


Kemudian aku sengaja meminta Annisa melipati pakaian di rumah Bu Hadi. Hal itu aku lakukan untuk mencegah hal-hal yang buruk. Jujur, aku tidak ingin terjadi situasi yang nantinya menimbulkan keresahan bagi Annisa khususnya.


Setelah selesai, Bu Hadi masih mendesak supaya aku mengantar Annisa pulang. Meskipun


sebenarnya  itu sangat menguntungkanku, tapi tidak  sampai aku turuti. Aku ingin


membuat perasaan ini tetap terjaga dari fitnah.


***


Di waktu istirahat, aku dan Pak Marto, guru olah raga berada di kantin. Kanti itu bernama Bu


Ngatin. Dia perempuan bertubuh gempal yang suka bercanda. Pak Marto jika sudah


bertemu dengan Bu Ngatin sudah tidak disangkal lagi  hobohnya. Apalagi Guru olah raga itu orangnya


memang suka guyon.


     “Bu mie gorengnya dua ya,” kata Pak Marto  seraya duduk disampingku.


     “Aduh, Pak Ganteng...” Begitulah Bu Ngatin memanggil. “Maaf banget, mie gorengnya sudah habis. Bagaimana kalau yang lain


saja?”


     “Memannya ada apa saja?” tanyaku.


     “Mie rebus?”  ujar Bu Ngatin.


     “Yang lain?” cecar Pak Marto.


     “Maaf, kehabisan,” jawab Bu Ngatin sambil tersenyum.


     “Ya sudah. Buatin dua mie rebus. Satu yang pedas!” pinta Pak Marto dengan suara ngebas, seperti pada waktu mengajar olah raga anak-anak.


     “Kok, yang satu nggak pedas?” tanya Bu Ngatin, sambil melirikku jenaka.


     “Ah, Ibu ini kaya nggak tahu saja. Pak Aldi kan nggak suka pedas. Sukanya manis!” canda Pak Marto.


     Aku tersenyum singkat.


     “Pak Marto ini ada-ada saja sih,” gumamku.


     “Iya, bener, Pak Aldi. Makanya Bapak terlihat manis lho....” Bu Ngatin menimpali.


     Aku menelan ludah. Lalu tertawa.  “Memangnya gula manis.”


     “Makanya saya traktir Pak Aldi, karena  beliau manis.”


     Bu Ngatin dan aku kembali tertawa.


     “Berarti  guru manis seperti Pak Aldi sudah punya pacar dong!” tukas Bu Ngatin tiba-tiba.


Aku juga agak kaget mendengarnya.


“Ya punya dong, Bu.” Pak Marto menimpali. “Kalau belum ya kebangeten. Lagian orang seperti Pak Aldi ini, bukan lagi pacar. Tapi calon.”


“Oh iya. Orang mana toh,  calonnya Pak?” desak  Bu Ngatin.


Aku semakin terdesak. Gelisah dan tidak berkutik.


“Pak Aldi ini orangnya pemalu,” ujar Pak Marto.


Aku semakin terdesak. Jadi objek pembicaran itu tidak enak. Obrolan yang mengarah


ketidakjelasan  akhirnya membuat jengahjuga.


“Oh ya Bu manapesanan saya?” potongku.


“Oh Maaf, Ini baru selesai,” jawab Bu Ngatin. “Dari tadi asyik ngobrol sih.


Bu Ngatin menyuguhkan pesanan kami. Lalu aku bersiap makan.


Suara itumendebarkan jantungku. Suara khas sekali. Aku yang  belum  makan sambil menunduk, menoleh seketika. Dan ku lihat Annisa berada di kantin.


“Aduh, habis Neng,” ujar Bu Ngatin menyesal. “Saya lupa kalau Neng Annis pesan mie. Aduh bagaimana ini.”


Entah apa yang ada dalam pikiranku. Aku segera berdiri dan menyerahkan mie itu kepada Bu  Ngatin.”


“Maaf, Bu.  Saya sudah kenyang. Sayang mie ini kalau tidak dimakan.”


Annisa yang tahu itu aku, langsung menutup mulutnya. Dia kaget sekaligus malu.


“Tapi, Bapak kan belum makan?” kata Bu Ngatin bingung.


     “Sudahlah. Saya tidak apa-apa. Lihat Pak Marto makan, saya ikutan kenyang,” jawabku sambil guyon.


“Iya sudah kalau begitu.”


“Tapi mie ini punya Bapak,” ujar Annisa menolak.


“Tidak. Mie ini punya  Bu Ngatin,” jawabku santai.


“Sudahlah, mie ini buat Dik Annis saja.”


“Hmm, tidak Pak.  Terima kasih. Saya jadi tidak enak,” jawab Annisa seraya pergi.


Sejenak aku memandangi Annisa saat masuk ke dalam kelas. Hati ini benar-benar kacau. Seulas


senyum tanpa sadar melintas dibibirku.


“Kok, senyum sendiri?” goda Bu Ngatin.


Aku serta merta jadi salah tingkah.


“T—tidak, Bu.


Aku  cuma lagi memikirkan nasib siswa sini selepas lulus.”


Ternyata pancingan pengalihan ucapanku tidak ditanggapi Bu Ngatin. Malah Pak Marto  membahas hal lain.


 “Apa? Pak Aldi manggil Annisa ‘Dik’?” tanya Guru olah raga itu,


Kata-kataku  ternyata membuat Pak Marto heboh. Dia sampai


tersedak dan bantuk-batuk.


Aku baru sadar telah melakukan kecerobohan. Panggilan spesialku pada Annisa diketahui orang


lain. Dan kalau Pak Marto yang mendengarnya sudah dipastikan akan heboh.


“Benar, saya memanggilnya begitu?” jawabku tegas.


“Apa dia keluarga Pak Aldi atau orang terdekatnya?” desak Pak  Marto.


“Dia... Dia tetangga kontrakan saya,”


“Oh,” Pak Marto menimpali.


“Saya pikir...”


“Apa Pak?” desakku panik.


“Tidak. Tidak apa-apa.” Guru olah raga itu tertawa.


Aku hanya menelan ludah. Bagaimanapun aku tidak ingin siapapun tahu tentang perasaan ini.


Bisa-bisa dipermalukan di depan teman-teman guru, seperti yang aku khawatirkan


selama ini.


“Tapi lagi trend lho, Pak. Murid naksir guru atau sebaliknya?” gumam Bu Ngatin tiba-tiba.


Raut wajahku semakin panas. Sindirannya benar-benar tahu soal ini atau memang hanya sebatas


kata-kata saja. Huh, aku jadi deg-degan begini!


“Ngetrend apanya Bu?” sambung Pak Marto penasaran.


“Iya,  cewek-cewek SMA pada suka sama gurunya sendiri. Apalagi yang ganteng seperti Pak Aldi ini”


     Aku terbatuk-batuk sambil berusaha menenangkan diri.


     “Ah, masa sih Bu?”


     “Benar. Buktinya ada, keponakan budeku yang di Solo, sekarang menikah sama mantan gurunya sendiri.”


Aku seketika terkejut.


“Apa benar?” desakku penasaran.


“Masa saya bohong sih, Pak.”  Bu Ngatin menunjukkan ekspresi serius. “Namanya Ayu, usinyanya sekarang dua puluh satu tahun sewaktu menikah dengan Pak Bandi yang usianya tiga puluh satu.”


“Lho, kenapa bisa menikah, Bu?” sela Pak Marto ikut penasaran.


“Ya sudah saling cinta toh,” sahut Bu Ngatin.


“Benar. Kalau sudah saling umur, status atau  jabatan tidak


penting!” gumam Pak Marto seraya menyeruput minuman.


“Nah, begitulah cinta,” tukas Bu Ngatin sambil cengar-cengir kerahku.


“Kenapa Bu?” tanyaku.


 


 


“Tidak. Cuma lagi membayangkan seandainya Pak Aldi menikah dengan siswanya sendiri....”


            Sebelum Bu Ngatin menyelesaikan


kalimatnya aku sudah tersedak dan batuk-batuk. Kebetulan bel masuk  pertanda istrirahat usai menggema keras. Lalu buru-buru aku kabur, meninggalkan Pak Marto yang sedang kekenyangan serta Bu


Ngatin yang memanggilku lantaran mie-nya tidak jadi dimakan.


***