Trapped in Love

Trapped in Love
87. Rumah sakit



Alva tersenyum senang ketika adelia menggenggam tangannya seperti permohonannya, “Jangan pernah menggenggam tangan lain selain tangan ini. Mulai saat ini, untuk berpegang padanya” ujar alva.


Adelia mengangguk pasti. Air matanya kembali jatuh. Saat pria di depannya bergerak semakin dekat, mata adelia terpejam dengan sendirinya. Sentuhan bi_bir alva tenggelam bersama bi_birnya, sama seperti matahari senja di depan mereka yang tenggelam di balik danau.


...🎷🎷🎷🎷🎷...


“Kau yakin mereka pulang hari ini?”


Alva mengangguk kecil menjawab pertanyaan istrinya, sejak semalaman istrinya terus ingin menjenguk Nara untuk melihat keadaan sahabatnya, karena sejak dia keluar rumah sakit dia selalu ditahan alva untuk bertemu sahabatnya sendiri.


“Apa Fira sudah pulang?” tanya adelia pada suaminya yang memang tau apapun informasi di rumah sakit karena dia adalah pemilik rumah sakit itu.


“Udah” jawab alva.


“Jadi kita hanya akan melihat Nara” ujar adelia sambil terus menarik tangan alva yang malas malasan untuk berjalan.


“Fira kan sudah menjadi musuhmu, kenapa masih mau menjenguknya?” sindir alva.


Adelia menghentikan langkahnya dan menatap kesal suaminya, “dia hanya salah paham seperti kamu yang salah paham padaku” sindir balik adelia.


Alva tidak mampu lagi melawan istrinya karena memang dia cukup mengerikan saat cemburu pada istrinya dan dia menyesal harus percaya dengan ucapan Jeremy, mengingat nama pria itu alva berpikir ingin melempar pria itu sejauh jauhnya dari keluarganya, pria itu akan terus mengganggu keluarganya dan alva tidak bisa membiarkan itu lagi.


“Nara!”


Tanpa mengetuk dan dengan semangat yang meluap, Adelia menerobos pintu kamar Nara begitu saja. Membiarkan kedua orang di dalam sana mencelos cukup terkejut dengan teriakannya yang tiba-tiba. Nara dan Ervan menoleh bersamaan ke arah pintu.


“Kau ini sebenarnya makhluk dari planet mana?”


Tidak mempedulikan komentar pria di dalam sana, adelia melangkah semakin dalam. Menjulurkan lidahnya saat wanita itu melewati Ervan . Dia bahkan tidak mempedulikan alva yang tangannya sudah dia lepaskan dan pria itu ditinggal adelia begitu saja dibelakang sana.


“Hah! Dasar wanita ini_”


“Jangan memprotes istriku!” alva yang baru saja masuk berhasil menutup mulut ervan . Sudah dapat dipastikan, mulut itu akan memberi hujatan dan segala macam makian pada adelia. Alva melewati Ervan begitu saja dan berjalan mendekati istrinya yang saat itu sudah sampai disisi ranjang yang Nara tempati. “Bagaimana keadaan mu?” tanya alva pada Nara.


“Cukup baik. Sore ini aku sudah boleh pulang” balas Nara.


Alva mengangguk paham yang hanya di tanggapi senyuman dari bibir Nara.


“Sudah aku katakan untuk tidak dekat-dekat dengan pria itu.” Adelia membeo tanpa mempedulikan reaksi pria yang dia maksud dalam kalimatnya. Pria itu bahkan masih dalam keadaan sangat tidak di hargai setelah kedatangan Adelia dan Alva. “Lihat sekarang apa yang terjadi” tambah adelia sambil menggerutu dan menatap sinis Ervan.


Nara hanya bisa tersenyum. Dia tidak memiliki alasan untuk membela pria itu lagi sekarang. Sahabat berkata benar. Tidak seharusnya dia tertarik pada Ervan, “Kenapa kau baru kesini?”


Setidaknya, jika dia tidak memiliki kata-kata untuk membela pria itu. Nara bisa mengalihkan pembicaraan, mencegah Adelia menghakimi Ervan lebih lanjut.


“Maaf” adelia tidak bisa menyembunyikan raut wajah menyesalnya. Dia bahkan bingung harus memberi alasan apa. Adelia bukannya benar-benar bodoh saat Alva selalu mencegahnya untuk menemui Nara dengan berbagai alasan yang sebenarnya sedikit janggal untuk bisa di terima. Tapi setidaknya Adelia mencoba paham untuk sikap Alva selama ini. Suaminya pasti memiliki alasan.


Suara pria itu seperti menjadi dewa penyelamat. Alva berhasil memberikan pembelaan yang sepertinya terdengar cukup baik. Lagipula pernyataan pria itu memang benar. Bayi mereka kadang memang sedikit rewel.


“Hah? Benarkah?” Nara mencoba paham dengan keadaan itu. Setidaknya alasan yang di berikan Alva cukup masuk akal. “Selamat ya adel, untuk kehamilanmu, semoga kamu sehat terus” doa nara tulus.


“makasih, Aku benar-benar minta maaf karena baru mengunjungimu hari ini, bahkan disaat hari terakhirmu di rumah sakit” balas adelia.


“Tidak apa” ujar Nara tersenyum manis pada adelia.


Keduanya saling melempar senyum. Setelahnya mereka berada dalam suasana hangat penuh dengan obrolan yang tak lepas dari lelucon yang Ervan keluarkan. Gelak tawa terjadi di ruang kamar inap Nara hari itu. Dihari cerah yang malah menimbulkan suasana mendung di hati salah satunya.


Tatapan mencuri dari salah satu mata menjadi objek menyakitkan bagi salah satu wanita di dalam sana. Dia bahkan sangat paham dengan arti tatapan itu.


...🎮🎮🎮🎮🎮...


Setelah lebih dari dua jam Adelia dan Alva memutuskan untuk pulang. Saat inipun keduanya sudah berada di dalam lift untuk mencapai pintu keluar rumah sakit. Alva sejak tadi tak henti-hentinya memperhatikan wanita disampingnya. Wanita yang sepertinya cukup terlihat kebingungan.


Kegaduhan kecil sejak tadi terjadi pada wanita itu. Tas di tangannya terus menjadi objek penggeledahan sejak memasuki lift.


“Ada apa?” tanya alva.


“Sepertinya handphone-ku tertinggal di kamar Nara” ujar adelia.


Wanita menggigit kecil bibir bawahnya mencoba menyakinkan ingatnya saat meletakan benda persegi itu. Mulutnya yang akan kembali berbicara tertahan saat suara bunyi lift terbuka.


Adelia gagal mengeluarkan suaranya, matanya hanya menatap Alva dengan tidak pasti.


“Tunggu di mobil aku akan mengambilkannya untukmu.” Tanpa menunggu jawaban istrinya, Alva sudah lebih dulu memberikan kunci mobil ke tangan Adelia. Ekor mata pria itu mendelik memberi isyarat agar Adelia segera keluar. Dan wanita itu melakukannya tanpa protes. “Aku tidak akan lama” lanjut alva setelah memberikan ciuman di kening adelia pria itu kembali masuk ke dalam lift.


.


Ruangan itu sunyi sejak kepergian Adelia dan juga Alva. Di sana nara terlihat diam dan sama sekali tidak berniat membantu Ervan yang sibuk membereskan pakaiannya ke dalam tas, tatapannya pada pria itu begitu fokus dan tak terbaca. Nara mencoba menebak-nebak dan beberapa kali menolak asumsinya. Dia bahkan terlalu takut sekarang.


“Kau menyukainya?” ujar Nara tiba tiba.


Kalimat pertanyaan itu lolos. Nara bahkan tercengang dan hampir tak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulutnya. Saat melihat pria di depannya refleks menghentikan gerakan tangannya, Nara merasakan ketakutan itu semakin menjadi, terlebih ketika Ervan menatap dirinya dengan tatapan tak terbaca.


“Kamu ngomong apaan sih?” tanya Ervan balik sambil tertawa pelan.


“Adelia, Kau menyukainya kan?” ulang nara sekali lagi dengan suara yang cukup kuat, dan dipastikan ervan pasti mendengar ucapannya, mungkin juga orang lain pasti mendengar ucapan itu juga.


Tawa Ervan langsung terhenti, “Jangan ngadi ngadi” canda Ervan.


...🎭🎭🎭🎭🎭...