Trapped in Love

Trapped in Love
37. Konversi Pers



“ya gak papa lah, makanya menunggu adelia dewasa, tapi saat dewasa ternyata sudah diambil orang” nara berusaha menengahi agar tidak terjadi pertengkaran.


Ervan mengangguk mengerti, “benar juga” ucap Ervan.


Alva menatap ervan sendu, “kalau seperti ini akan ada orang yang tau” sela Alva.


Ervan terdiam sebentar lalu tersenyum kecut, “Sudahlah, kejadian itu sudah lama terjadi alva, dia tidak akan mengganggumu, aku yakin itu”ucapan ervan membuat Adelia dan nara berkenyit bingung, karena kedua gadis itu tidak mengerti siapa yang dimaksud oleh alva dan ervan.


“baiklah aku setuju” alva akhirnya ikut menyetujui drama yang mereka rancang.


Adelia terus memperhatikan interaksi alva dan Ervan, dia mulai curiga dengan sesuatu tapi gadis itu menggeleng cepat, berusaha menghilangkan kecurigaannya.


Cukup lama mereka berbincang tentang konversi pers yang akan diadakan hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, terlalu malam untuk seorang anak gadis untuk pulang ke rumahnya.


Adelia tersenyum misterius kearah Nara sambil memberikan kode matanya. “Van, kamu bisa antarkan Nara pulang ke apartemen dia gak? Ini sudah malam banget, aku takut dia pulang bawa mobil sendirian” kata adelia dengan senyum lebarnya.


“Oh boleh aja” sahut Ervan.


“enggak! Gak perlu, aku bawa mobil sendiri kok kesini” teriak Nara cepat.


Adelia melotot kearah Nara, “Bahaya nara, cewek pulang sendiri, nanti bisa kena begal di jalan” Adelia mulai menakut nakuti Nara sahabatnya yang memang sedikit takut dengan begal, soalnya pernah saudara sepupunya harus masuk rumah sakit karena kena begal di jalan.


“benar itu, bahaya cewek sendirian naik mobil, mending mobilnya di titip disini terus kamu pulang bareng aku, aku janji antar sampai depan pintu apartemen” ucap ervan berusaha meyakinkan Nara agar mau ikut bersamanya.


Adelia mengulum senyum sambil bertatapan dengan Nara, ‘apa lagi yang di tunggu ayo bantu aku dekati Ervan!’ kode mata dari adelia.


‘Del tega kamu biarkan aku pulang sama ni cowok?’ balas kode mata dari nara.


‘ayo semangat nara! Kamu bisa membantuku goda Ervan! buat Ervan normal nara’ balas kode mata dari Nara.


“Gimana nara? Kamu mau?” ucapan Ervan menghentikan kode kode-an mata dari dari adelia dan Nara.


“haah? Apa iya, ehh tidak” ucap Nara tanpa sadar.


“Yang benar yang mana Nar? Iya atau tidak? Mending kamu ikut aku” bujuk ervan sekali lagi.


“Iya dia mau” angguk Adelia cepat.


Nara menatap adelia dengan tatapan peringatan lalu akhirnya menganggukkan kepalanya. “baiklah, maaf menyusahkan Van” ujar nara pelan.


“gak apa, kalau gitu aku pulang ya Al” ujar Ervan sambil tersenyum, sebenarnya ervan sengaja bersikap seperti itu, pria itu memang suka mengerjai orang lain, apa lagi mengerjai Adelia dan Nara. Rasanya ervan ingin tertawa keras melihat wajah Adelia yang sekarang melotot sekaligus merasa jijik.


Sedangkan alva yang sudah hapal dengan kebiasaan bercanda Ervan hanya berwajah datar menanggapi hal itu. “hmm hati hati di jalan” ujar alva datar.


Adelia menatap Ervan sinis hingga pria itu menghilang di balik lift.


.


Besok harinya 2 jam sebelum konferensi pers.


Adelia terus merasa cemas, menunggu di dalam kamar hotel bersama alva, mereka berdua terus menghafalkan kalimat yang telah mereka rangkai kemarin, tidak ada waktu lagi untuk menunda konversi pers karena sekarang rumor tentang alva mulai membesar kembali.


“Adel, kemari” alva menepuk sofa disebelahnya, pria itu sejak tadi hanya membaca buku tentang bisnis, bagi alva menghadapi wartawan sudah makanan sehari harinya, dia juga sudah terlatih untuk menahan ekspresi wajahnya agar tetap datar. Terbukti adelia selalu tertipu dengan kemampuan acting alva.


“Al, nanti gimana kalau aku salah berbicara?” gumam adelia, tampak sekali gadis itu sedang merasa cemas.


Alva menarik gadis itu untuk masuk kedalam dekapannya dia mengelus bahu adelia lalu tersenyum, “jadi seperti adelia yang biasanya saja, kalau gak bisa jawab gak usah jawab”.


Adelia semakin menyandarkan kepalanya di bahu alva, “nanti kalau adel salah bicara gimana?” tanya adelia.


“Siap siap aja bayar denda kalau ketahuan” canda alva.


“Ihhh alva nyebelin” gerutu adelia kesal.


‘Ting tong ting tong’


Sayang kebersamaan alva dan adelia akhirnya berakhir karena kedatangan Nara dan ervan yang membawa baju ganti mereka, keduanya sudah harus Bersiap siap untuk acara konversi pers yang akan dilangsungkan beberapa jam lagi.


.


‘Clitzhh Clitzhh Clitzhh Clitzhh’


Begitu adelia dan alva masuk ke ruangan konversi pers banyak kilatan kamera yang menyoroti mereka, alva dan adelia berjalan ke kursi mereka sambil bergandengan tangan dan tersenyum ramah pada para wartawan.


“Pak Alva! Apa benar bahwa anda melakukan pernikahan palsu!” Teriak wartawan 1.


“Pak alva! Kenapa anda tidak mengatakan kebenarannya selama ini!” teriak wartawan 2.


“Pak alva Apa benar anda menikah hanya untuk menutupi rahasia anda?!” teriak wartawan 3.


“Bu adelia, apa kah benar anda adalah wanita yang dibayar untuk menutupi rahasia pak alva!” Teriak wartawan 4.


“Bu adelia, apakah benar anda menikah karena calon suami anda berselingkuh?!” teriak wartawan 5.


Banyak lagi pertanyaan pertanyaan para wartawan yang datang secara memberondong pada alva dan adelia, bahkan sekarang rahasia adelia pun sampai ketahuan oleh publik entah dari mana para wartawan mendapatkan berita itu tapi adelia cukup terkejut karena jelas mereka belum mengadakan konversi pers, tapi mereka sudah mengetahui rahasia adelia.


Alva menggenggam tangan adelia yang berada dibawah meja, dia tau gadis itu terkejut bercampur gugup karena masalahnya pun terbongkar, inilah salah satu hal yang alva takutkan, orang orang yang masuk dalam kehidupannya akan dibongkar habis oleh wartawan dan orang orang.


“Tenang semua, jika kalian bertanya secara ramai ramai begitu kami tidak akan bisa menjawab kalian satu persatu, mohon para wartawan tenang dulu, biarkan alva dan adelia memperkenalkan dirinya dulu, kita pasti akan menjawab semua pertanyaan kalian, tapi tolong jangan secara bersamaan, kami tidak tau yang mana harus kami jawab” ujar Ervan berusaha menenangkan, dia tegak di dekat wartawan agar bisa lebih mudah memberikan mike pada para wartawan, sedangkan nara duduk bersama adelia dan alva sebagai MC di depan dan dia juga salah satu saksi untuk kasus adelia.


“baik kita mulai saja, tolong angkat tangan anda jika ingin bertanya pada adelia dan alva” ujar Nara dengan tenang.


Banyak wartawan yang menunjukkan tangannya, mike diberikan pada wartawan yang pertama kali mengangkat tangannya lebih dulu.


“silahkan pak, mau bertanya apa?” tanya Nara sesopan mungkin.


“Selama ini pak alva selalu diam tentang rumor rumor nya kenapa pak alva baru mau angkat bicara sekarang?” tanya wartawan itu.


...🎮🎮🎮🎮🎮...


Bonus Pict