Trapped in Love

Trapped in Love
59. Adelia dan Alva



Tanpa peringatan apapun pria itu tiba tiba kembali menyerang bi-bir istrinya seperti di aula tadi layaknya orang yang sedang kehilangan kesadarannya.


Tapi bedanya kali ini adelia menolak gerakan Alva. Karena pria itu terkesan memaksa dan kasar. Tangan Adelia bertumpu di depan da-da berusaha menjauhkan tubuh suaminya untuk menyampaikan penolakannya. Tapi alva tetap memaksa, kepala adelia terus menggeleng ke sana kemari yang justru semakin di buru alva dengan bu-as dan tidak sabaran.


Tidak suka dengan penolakan Adelia, Alva menekan paksa kepala wanita itu agar tidak lagi bergerak, emosi mungkin sudah benar benar merasuki dirinya. Namun sayangnya alva tidak berhasil membuat tangan adelia terus menekan da-danya bahkan kini wanita itu memukul daerah itu dengan sekuat tenaga. Menghiraukan gerakan tangan wanita itu, Alva terus bergerak tak merasa terganggu sama sekali.


Dalam waktu beberapa menit saja tubuh adelia mulai diam. Tangan wanita itu tidak lagi bergerak memukul da-da suaminya. Wanita itu mulai terlihat pasrah yang justru di manfaatkan oleh alva. Tidak ada lagi gerakan, alva semakin gila mengu-lum bi-bir adelia saat wanita itu terlihat menyerah.


Hingga beberapa menit kemudian Alva menyadari satu hal, Rasa asin yang ia ke-cap membuat pria itu berhenti.


Alva mendongak, menjauhkan bi-birnya dari bi-bir adelia tanpa mengikis jarak mereka berdua. Pria itu terdiam tanpa tahu harus melakukan apapun saat melihat wajah wanita di depannya yang terlihat sangat tersakiti. Adelia menangis, matanya tertutup rapat menahan takut.


‘Apa yang sudah kau lakukan bodoh! Kau menyakiti dia lagi!’ umpat alva dalam hati pada dirinya sendiri.


Sentuhan tangan alva berhasil membuat mata adelia terbuka. Tangan itu bergerak lembut menghapus jejak air mata di pipi istrinya. Mereka saling melihat.


‘Deg deg deg’


Tatapan keduanya tidak terbaca. Alva kembali merasakan perasaan aneh itu lagi, ada apa dengan hatinya? Jantungnya bergemuruh tidak jelas.


Keinginan untuk menjangkau wanita di depannya kembali meluap. Alva kembali mendekatkan wajahnya lagi. Kembali menghalau jarak bi-birnya dan bi-bir wanita itu. Sepertinya dia banyak kehilangan akal sehatnya malam ini. Alva selalu ingin menjangkau wanita itu, lagi dan lagi.


Mata kedua pasangan itu kembali terpejam. Untuk kali ini adelia tidak menolak gerakan alva. Gerakan pria itu justru berhasil mengundang adelia untuk membalas lu-ma-tan bi-bir suaminya. Adelia sendiri tidak mengerti dengan apa yang di lakukannya sekarang. Beberapa menit sebelumnya dia menolak, tapi sekarang dia menikmatinya. Tindakannya bertolak dengan keinginannya yang ingin menjauh dari pria itu, hanya karena Tindakan alva yang berubah lembut.


Alva lagi lagi membawa kesadarannya pergi. Adelia mulai hanyut dalam sapuan lembut bi-bir alva yang hangat dan begitu adelia dambakan.


Pada akhirnya alva kehilangan lagi kendalinya untuk tetap bermain lembut. Dia kembali bergerak li-ar untuk menguasai bi-bir adelia. Meng-ulum bi-bir itu dengan rakus atas dan bawah. Hebatnya kali ini adelia malah justru mengikuti alur permainan alva yang semakin me-ma-nas.


Kedua nya sudah sama sama lepas kendali. Tangan alva dan Adelia sudah mulai aktif menjelajah. Menyentuh apapun yang bisa mereka jangkau. Menang-gal-kan satu per satu kain pembungkus tu-buh mereka hingga tidak menyisakan sehelai benang pun.


Bi-bir Alva menyusul turun dan mendarat di atas permukaan squisy adelia yang tidak terjamah oleh tangan alva. Meng-e-cap, meng-hi-sap bahkan meng-gi-git gemas benda itu yang kembali berhasil meloloskan desisan istrinya.


Adelia hanya menikmati itu dan tetap membiarkan Alva menjamah seluruh tu-buh-nya sendiri. Dia selalu merasa hilang kesadaran saat alva men-yen-tuh terlalu banyak seperti itu, sesuatu yang membuat adelia terbang.


“Al~ Ahhh!” Desi-san itu kembali lolos dari mu-lut adelia. Jari jari alva yang berhasil menerbos masuk ke dalam bagian tu-buh adelia berhasil membuat des-isan wanita itu semakin tidak terkendali. Adelia dapat merasakan ke-nik-ma-tan itu lagi. Ke-nik-matan yang sama seperti yang alva berikan di malam perta-ma mereka.


Gerakan jari jari alva membuat adelia semakin gelisah. Tubuhnya mulai berge-tar meliuk tak beraturan saat jari jari itu bergerak dengan tempo cepat. Darahnya berdesir hebat. Dan tidak perlu menunggu waktu lama. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, adelia berhasil meloloskan de-sah-han panjangnya, ke-nik-matan mencapai pele-pasan hanya karena ulah jari jari alva.


Mata Adelia terpejam dengan mu-lutnya yang terbuka. Kepalanya mendongak bersandar di dinding, da-danya naik turun memburu oksigen memberikan pemandangan luar biasa bagi alva untuk dinikmati. Pe-luh menghiasi kulit putihnya. Tangan pria itu bergerak lembut menyentuh pipi istrinya mengagumi tekstur lembut kulit wajah adelia.


Mereka berdua saling melihat, tatapan keduanya kembali terpancar dan tidak terbaca. Ada tatapan saling membutuhkan di sana, tatapan untuk ingin saling memiliki. Tapi mereka justru terlalu bodoh untuk menyadari hal itu. Karena keduanya sama sama tidak bisa menebak isi pikiran satu dengan yang lain.


Alva kembali bergerak, ia kembali mengikis jarak wajah mereka berdua dan dengan reflek mata adelia kembali tertutup. Mereka kembali mele-bur dalam ci-u-man hangat yang mereka ciptakan sendiri tanpa sadar.


Dengan gerakan lembut, Alva mengelus ka-ki mulus adelia semampu yang bisa dia jangkau dalam keadaan berdiri seperti itu. Lalu sentu-hannya naik dan berakhir di pang-kal pa-ha wanita itu, memberi rangsangan tak terelakan di tu-buh istrinya.


Alva dengan tidak sabaran akhirnya mengangkat tu-buh wanita itu dalam gendongannya. Dengan kaki adelia yang terlebih dulu alva kaitkan pada tu-buh-nya, berjalan menjauh dari dinding yang menyisakan ke-nik-matan untuk mencapai tempat tidur yang berada persis di tengah ruangan itu. Menemukan lagi tempat yang akan menjadi saksi bisu per-cin-taan mereka.


“Al~ arghh!”


Suara itu berhasil menghentikan gerakan alva. Dia menatap Wanita di bawahnya lagi, wanita yang matanya terpejam menahan sesuatu. Tangannya bergerak lagi membelai pipi adelia, membiarkan mata istrinya kembali terbuka, tatapan alva begitu lembut menembus pandangan wanita itu, dan itu menenangkan wanitanya, “biarkan aku masuk”.


Bisikan alva yang selalu terdengar lembut seperti angin, selalu berhasil membuat Adelia merasa tenang. Kepala wanita itu mengangguk setelah tadi dilingkupi keraguan saat alva berusaha kembali me-nem-bus milik nya. Adelia tidak lagi menolak dan membiarkan tangan alva saat berusaha melebarkan ka-kinya meminta jalan masuk.


Usaha pria itu tidak sia sia. Dengan gerakan selembut yang ia bisa, Alva berhasil menghentak milik nya masuk ke dalam tu-buh adelia. Merasakan lagi ke-hang-atannya saat berada di dalam sana. Saat tu-buh mereka menya-tu tanpa jarak. Saat wanita itu berada dalam kua-sanya. Alva begitu menikmati itu, penya-tuan yang sempurna kembali terjadi dengan istrinya.


...🎻🎻🎻🎻🎻...