Trapped in Love

Trapped in Love
58. Adelia Emosi



Adelia menatap kesal orang orang yang berani menghina suaminya. Apalagi ternyata yang menghina suaminya adalah sahabatnya sendiri, adelia tidak mengerti kenapa orang orang masih mempersalahkan apa suaminya normal atau tidak, yang tidak habis pikir adalah orang orang yang mendengarkan pembicaraan itu tidak ada yang menyela atau memberi peringatan pada ketiga wanita itu.


“Apa Perlu aku dan suamiku bercinta di sini? Di depan kalian untuk membuktikan jika suamiku alva adalah pria normal?” Amuk Adelia dengan mata berapi api.


Tanpa basa basi Adelia langsung meloloskan kalimat itu dalam satu tarikan nafas. Ketiga gadis tersebut diam membisu tanpa tahu caranya menjawab. Satu dari mereka malah sudah menundukkan kepalanya, terlihat takut. Berbeda dengan pandangan seluruh tamu yang sudah berhasil terundang oleh keributan itu, yang tadinya tidak tau kini mulai penasaran dan mendekat untuk mencari tau apa yang terjadi.


Ucapan vulgar istri seorang milyader muda dan sukses berhasil membuat mulut para tamu riuh. Dan jangan lupakan lampu Blitz wartawan yang saat ini sudah begitu memburu buas. Mereka tidak akan membiarkan satu bagian saja terlewatkan.


“maafkan kami del, kami tidak bermaksud_”


“Apa?! Kalian tidak bermaksud apa?!”potong adelia saat Fira hendak mengucapkan maaf padanya.


Adelia bahkan tidak membiarkan mulut ketiganya berbicara. Kali ini ketiganya menunduk serempak semakin ketakutan. Mereka tidak diberi kesempatan untuk melakukan pembelaan oleh adelia. Wanita itu benar benar membuat ketiganya terpojok. Bahkan tidak ada satupun tamu di ruangan itu yang berniat angkat bicara.


Ervan yang berdiri masih di posisinya, menutup mulut menahan tawa mendengar ucapan adelia, ini dia hal yang paling Ervan sukai dari adelia, jika dia sudah emosi dia tidak akan segan segan membantai orang itu dengan tanpa ampun.


“mampus kalian, langsung kicep kan kalau adelia udah ngamuk” kekeh Ervan dengan suara pelan.


“Kenapa kamu senang Van, itu adelia di liatin orang orang” bisik Alva cemas.


“Biarin aja, toh lebih bagus orang orang tidak akan berani membicarakan kamu lagi” balas Ervan dengan suara pelan.


Alva yang mulai tidak nyaman dengan situasi istrinya terlihat mendekat.pria itu tanpa bicara apapun menarik pergelangan tangan Adelia dari ketiga wanita itu. Alva akui, adelia begitu berani melakukan hal itu tanpa mempedulikan image nya hanya untuk menyelamatkan nama baik suaminya, bahkan mungkin kalau dibiarkan adelia bakal menghajar habis mereka semua.


Adelia langsung memberontak karena alva yang menariknya, “Lepaskan tanganku, aku belum selesai dengan mereka. Mereka harus tau jika suami ku ini adalah pria normal! Pria yang bisa membuat istrinya bahagia, pria yang bisa membawa istrinya pergi ke surga du_ euummpp” adelia tidak dapat melanjutkan ucapannya lagi.


Semua mata tanpa terkecuali menatap tak percaya atas apa yang terjadi saat ini, detik itu di tempat itu, blitz kamera semakin ramai terdengar.


Ervan, Jeremy, dan Luna melebarkan matanya. Sedangkan Keanu yang sebenarnya ada di sana juga sedang mengepalkan tangan dengan rahangnya yang terlihat mengeras.


Alva sedang mencium adelia begitu menggebu, berhasil menjadi buah bibir yang begitu riuh. Untuk membungkam adelia Alva hanya bisa melakukan itu.


Bibir Alva bergerak liar sama seperti halnya tangan pria itu. Dan yang lebih menakjubkannya lagi, Adelia memberi jawaban dengan mengikuti alur permainan bibir suaminya di atas permukaan bibirnya. Menekan kepala Alva, merusak tataan rambut suaminya.


Keduanya larut, mereka menikmati alur permainan yang tidak sengaja mereka buat. Tangan Alva yang semula melingkar di pinggang adelia naik menyentuh punggung, mengusapnya lalu kembali lagi bergerak, menekan tengkuk wanita itu, memperdalam ciuman liar mereka yang saat ini menjadi tontonan hebat para tamu.


Dunia seperti apa yang sedang mereka injak?


Scenario sejenis apa yang mereka perankan?


Dan ciuman jenis apa yang mereka lakukan?


Hanya dua orang manusia itu yang saling mengetahui.


Alva menyudahi ciumannya membuat adelia terdiam dan menunduk malu, setelah itu Alva menarik tangan adelia menjauh dari aula pesta itu, blitz kamera masih menerpa pasangan suami istri itu, tapi alva tetap berjalan lurus meninggalkan aula pesta, tinggallah Ervan yang memanggil bodyguard alva untuk menahan para wartawan yang masih penasaran untuk mengambil foto sepasang suami istri itu.


Ervan geleng geleng kepala sambil tersenyum, ‘katanya belum cinta, tapi kalian sudah seperti orang yang saling mencintai’ ujar ervan dalam hatinya, melihat punggung adelia dan Ervan yang mulai menjauh.


...🎤🎤🎤🎤🎤...


Adelia terus meringis, merasakan pergelangan tangannya yang masih di tarik paksa oleh alva. Langkah kaki Alva yang lebar membuat wanita itu kesulitan mengikutinya. Pria itu tidak membawanya keluar dari hotel seperti yang adelia pikirkan. Mereka memang keluar dari kerumunan orang orang terutama dari para wartawan yang terus saja memburu. Tentu semua itu tidak lepas dari bantuan Ervan dan bodyguard alva yang selalu siap siaga, siapa bilang alva tidak memiliki bodyguard, pria itu memilikinya hanya saja tidak terlihat dan selalu dalam jarak yang jauh.


Setelah apa yang pria itu lakukan di depan umum, mencium adelia, Alva langsung menarik tangan adelia menghiraukan segala bisikan orang orang tentang mereka. Berita besar pasti akan segera muncul dan menghebohkan dunia maya sebentar lagi.


Alva menarik Adelia memasuki lift dan menekan tombol untuk bagian paling atas hotel itu. Tangan alva masih mencengkram kuat pergelangan tangan istrinya meskipun mereka sudah tidak lagi berada di kerumunan banyak orang di aula hotel tadi.


Sebenarnya adelia ingin sekali melepaskan tangan yang sedang menggenggamnya mengadu jika alva telah menyakiti pergelangan tangannya. Tapi adelia menahannya, menggigit bibirnya sendiri agar ringisannya tak terdengar oleh alva. Adelia merasakan kemarahan pria itu, entah untuk alasan apa.


Apa karena dia membuat keributan dan membuatnya malu? Yang benar saja. Wanita mana yang tidak marah jika suaminya sendiri di katakana seorang Gay. Apa Alva tidak merasakan kemarahan adelia juga?


Tidak sampai lima menit bunyi lift terbuka menyadarkan adelia yang sempat terjerumus dalam asumsi singkatnya. Wanita itu mendongak setelah tadi terus saja menundukkan kepala. Mereka keluar dari dalam lift. Tidak seperti yang adelia bayangkan, mereka saat ini tidak berada disebuah Lorong ataupun loby yang terhubung ke beberapa pintu kamar hotel. Mereka langsung berada si ruangan yang terlihat seperti ruang tamu, itu lebih mirip seperti sebuah apartemen mewah.


Sepertinya lift tadi adaah lift khusus yang dibuat untuk orang orang khusus. Dan untuk ruangan itu? Adelia rasa itu juga ruangan khusus yang biasanya hanya dimiliki oleh sang pemilik hotel.


Alva tidak membiarkan adelia berpikir lebih lama untuk menebak nebak ruangan itu, dia kembali menarik Adelia melewati ruangan itu, mendekati sebuah pintu bercat putih. Alva membukanya dengan paksa dan menghentakkan adelia ke dinding tepat di samping pintu yang masih terbuka.


...🎷🎷🎷🎷🎷...