
Mencoba memastikan kondisinya Adelia mengerjab berulang kali dengan sangat malas. Wangi tubuh Alva tercium jelas di indra penciumannya sekarang, dia seperti bergerak tapi Adelia tidak berjalan, dan akhirnya wanita itu memutuskan untuk benar-benar membuka matanya, mengumpulkan kesadarannya yang sepertinya pergi beberapa waktu tenggelam bersama mimpi.
Dugaannya memang tepat, dia berada di posisi yang begitu dekat dengan Alva, dalam pelukan pria itu. Suaminya menggendongnya memasuki gedung apartment. Astaga pria ini? dari parkiran menuju kamar apartement mereka bukanlah jarak yang dekat.
“Apa tidak berat?”
Alva berhenti sebentar dalam hitungan detik, memastikan jika yang didengarnya bukalah kesalahan. Wanita dalam gendongannya terbangun dan baru saja berbicara kepadanya. Alva hanya melihat sekejap mata dengan gelengan kepala memberi jawaban pada wanita itu. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk kembali berjalan menyusuri koridor apartemen menuju kamarnya yang memang sudah dekat.
“Aku bisa berjalan sendiri.”
“Diam lah, gerakanmu menganggu.”
Adelia mencibir. Jawaban Alva jelas tak semanis perlakuannya saat ini. Akhirnya Adelia memutuskan untuk diam dari pada dia harus kembali berbicara dan mendapat tanggapan tidak menyenangkan lagi dari pria itu. Diam-diam wanita itu mengulum senyum, Alva memang pria dingin, tapi suaminya memiliki kehangatan yang luar biasa, terlebih dalam pelukannya. Adelia menyerukan wajahnya semakin dalam di dada Alva, mencium wangi tubuh pria itu yang selalu membuatnya merindukan aroma itu. Tangannya terulur keatas melingkari leher Alva, mendekapnya semakin erat.
Dalam keadaan seperti ini, alangkah baiknya jika apartemen mereka berjarak lebih jauh lagi. Setidaknya Adelia bisa terus merasakan nyamannya dalam pelukan tubuh pria ini. Tapi nyatanya, mereka bahkan sudah berada di dalam kamar. Alva yang menurunkan tubuh Adelia dan membaringkan istrinya diatas tempat tidur. Membelai lembut dahi wanita itu.
“Tidurlah.”
“Kenapa kau suka sekali menyuruhku tidur?”
Pria itu diam dan tidak lagi berbicara. Adelia selalu memberi pernyataan yang tidak masuk akal untuk dijadikan pertanyaan. Alva mendesah, dia sama sekali tidak ingin berdebat sekarang. Alva bahkan sedang pusing memikirkan sesuatu yang ingin ia berikan pada wanita ini sebagai kado. Tapi apa? Adelia bahkan tak menginginkan apapun saat ini. Dan menanyakannya secara terang-terangan-pun sepertinya bukanlah ide yang bagus. Dia hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.
‘Cinta’ Alva bergumam dalam hati. Adelia hanya menginginkan cinta. Apa dia bisa memberikan cinta pada wanita ini?
“Al~”
“Hm?”
Diam beberapa saat. Alva menunggu wanita itu kembali berbicara. Sedangkan Adelia justru terlihat berpikir menimbang-nimbang apakah dia harus membicarakan hal ini dengan Alva. Bagaimana jika nanti pria ini marah?
“Apa del?”
“tidak ada”
Jawaban Adelia menjadi keputusan Alva untuk melangkah pergi dari sisi ranjang, tapi pria itu berhenti. Alva kembali menoleh kearah wanita yang saat ini justru sudah merubah posisinya duduk diatas ranjang. Tangan Adelia melingkar erat dipergelangan tangan Alva, menahan pria itu pergi.
“Kenapa?”
“Al~ aku__ ingin berbicara denganmu.”
Adelia menarik nafasnya sama halnya dia menarik tangan Alva. Menyuruh pria itu duduk disampingnya. Dia harus berbicara, apapun resikonya.
“Alva~__ dia? wanita itu__”
Alva mengerut dahi. Ucapan Adelia terdengar ragu, membuat pria itu menebak-nebak dengan apa yang akan dibicarakan istrinya. Sepertinya bukan sesuatu yang sepele. Adelia terkesan begitu hati-hati membuka mulutnya. “Wanita? siapa?"
“Lana”
Keduanya mematung. Entah mendapat kekuatan dari mana Adelia bisa menyebut nama sakral itu. Nama seorang wanita yang terpahat abadi di dalam hati Alva.
‘Tuhan, memikirkannya saja sudah membuat hatiku sesak seperti ini. Apa tidak akan ada kesempatan bagi dirinya untuk masuk kedalam hati pria ini’ gumam adelia dalam hati. Tapi lihat wajah itu, ekspresi Alva cukup menampar perasaan Adelia. Haruskah dia menyesali tindakannya membicarakan hal ini. Haruskah Adelia mengutuk bibirnya, menjahitnya serapat mungkin.
“Al, aku___”
“Aku tidak ingin membahasnya.”
Dalam gerakan sekejap mata, Alva berhasil melepaskan tangannya dari genggaman tangan Adelia. Berdiri dari posisinya yang duduk disamping wanita itu. Alva berniat pergi dari sana, dari kamar yang membuat suhu tubuhnya berguncang aneh saat satu nama menggema di telinganya sendiri. Terlebih dengan siapa yang mengucapkan nama itu. Adelia. Alva cukup terguncang karena adelia mengetahui siapa Lana.
“Maafkan aku” lirih adelia.
Alva berhenti melanjutkan langkah kakinya.
“Aku tahu, dia__ wanita itu. Lana, wanita yang sangat kau cintai, bahkan sampai saat ini. Cinta pertamamu. Tapi Alva, dia sudah tidak ada, tidak bisakah kau memulai hidupmu tanpa bayangan-bayangannya lagi. Kau hanya akan menyiksa dirimu sendiri dengan melakukan hal seperti itu terus.” Lirih adelia. ‘Dan kau juga menyiksa perasaanku. Aku sudah jatuh Alva. Aku mohon, jangan lakukan ini padaku’ tangis adelia dalam hati.
Adelia bahkan tidak bisa mengungkapkan perasaannya. Dia tidak ingin egois dengan membebani pria ini. Membicarakan Lana saja dia sudah cukup merasa sangat bersalah. Setidaknya Adelia harus bisa menahan perasaannya sendiri demi menjaga perasaan pria itu, adelia berpikir alva masih sangat mencintai wanita itu.
“Mungkin aku terlalu lancang membicarakan ini, tapi aku tidak suka melihatmu dalam bayangan-bayangan masa lalu mu itu. Kau harus tetap hidup, bahagia dengan caramu sendiri. Dan aku yakin, Lana tidak akan marah. Justru mungkin dia mengharapkan itu. Kebahagian mu.” Gumam Adelia lagi dengan suara yang sudah terisak kecil.
Alva tetap mematung di sana. Pria itu terdiam, entah kenapa mendengar nama Lana dari mulut Adelia membuat perasaannya menjadi campur aduk, apa lagi mendengar ucapan istrinya, awalnya alva berpikir dia sudah bisa melupakan Lana, tapi dia merasa heran kenapa ketika adelia menyebutkan nama itu, hatinya merasa sakit, sebenarnya apa dia sudah cinta pada adelia atau cinta itu masih ada untuk lana. Entah dari siapa adelia tahu segala hal tentang lana, Alva akan mencari tahu nya nanti.
“Aku mohon Alva, buka hatimu. Biarkan Lana menjadi masa lalu mu. Aku tidak menyuruhmu untuk menghapus Lana dari dalam ingatanmu, biarkan dia hanya menjadi sebuah kenangan. Dan mulailah kehidupanmu dengan cinta yang lain, cinta yang sesungguhnya, bukan cinta yang sudah tidak ada keberadaannya di dunia ini” ujar adelia lagi karena sejak tadi alva diam saja.
Setelah kalimat itu. Alva benar-benar hilang kesabarannya untuk tetap bertahan di sana, air matanya sudah mengenang. Alva membenci itu, membenci dirinya yang harus terlihat lemah. Akhirnya Alva benar-benar pergi dari sana, dari kamar yang menyisakan sakit dalam hatinya. Menjauh beberapa saat untuk memikirkan lagi apa yang terjadi pada dirinya. Mengenang lagi lana dan adelia, apa dia boleh benar benar melakukan hal yang adelia minta padanya, padahal baru beberapa hari sebelumnya dia menyadari cintanya pada adelia, tapi kembali lagi ketika nawa wanita yang pernah dia cintai itu muncul dari mulut adelia ada perasaan aneh yang alva rasakan.
Dia seperti merasa telah berselingkuh dari Lana, atau dari adelia. Tidak mau membuat adelia bingung dengan keadaannya dia memilih untuk pergi, padahal kepergiannya malah membuat adelia tersiksa.
Kembali keduanya berada dalam keadaan kesalahpahaman.
...🪕🪕🪕🪕🪕...