
Dua puluh menit berlalu sejak pesan terakhir yang adelia kirimkan pada Nara, tidak ada jawaban dari Nara dan adelia hanya sibuk menggambar desain baju di sofa, untuk menghilangkan kebosanannya.
‘ting tong ting tong’
Adelia mengernyitkan keningnya bingung karena waktu terasa sangat cepat berlalu karena Nara datang lebih cepat dari perkiraannya, mengabaikan kebingungannya adelia segera turun dari sofa, dia meloncat kegirangan karena Nara sudah sampai, dan dia tidak akan bosan lagi.
Dengan gerakan tak sabaran Adelia membuka pintu apartemennya begitu semangat. Ia melebarkan senyumannya bahkan sebelum pintu itu berhasil terbuka. Dan sayangnya senyuman adelia langsung pudar saat itu juga, saat di mana pintunya sudah benar benar terbuka.
“Hai adel” dengan lugunya Ervan melambaikan tangan menyapa wanita yang membukakan pintu untuknya. Tersenyum begitu lebar hingga memperlihatkan deretan gigi kelinci miliknya.
‘Brak’
Tanpa membalas senyuman dari Ervan, Adelia membanting pintu agar kembali tertutup, sayang saja Ervan sudah berhasil mendaratkan kakinya yang terbungkus sepatu lebih dulu, mencegah pintu itu tertutup.
“Apa yang kau lakukan? Aku ingin masuk kenapa kau menutup pintunya?” teriak Ervan berusaha membuka pintu yang sedang adelia tarik.
“Kau mau apa?! Alva tidak ada di rumah” teriak adelia tidak kalah kencang dengan suara Ervan.
Mereka berbicara dengan keadaan seperti itu, Adelia yang tetap bersikeras menutup pintu dan menendang nendang kaki pria itu agar tidak mengganjal jalannya menutup pintu, lalu Ervan yang tetap pada pendiriannya ingin tetap masuk ke dalam apartemen dengan terus menahan pintu memakai sepatunya sendiri, tidak peduli jika sepatu mahal itu harus rusak sekalipun.
“aku kesini untuk menemuimu, bukan alva, jadi biarkan aku masuk” teriak Ervan lagi.
“Untuk apa?! Aku tidak mengundangmu untuk datang ke sini!” balas Adelia masih dengan posisi yang sama.
“adel! Anggap saja kau mengundangku”.
“tidak mau! Singkirkan kakimu sekarang juga!” tolak adelia.
Ervan masih tidak mau menyerah, pria itu dengan semangat juang yang tinggi mencoba menyelipkan tubuhnya sendiri ke cela kecil pintu itu. Tentu saja tidak akan berhasil. Celanya terlalu kecil untuk badannya, ervan hanya berhasil menyelipkan tangannya saja ke dalam sana.
“Adel! Buka bodoh, aku ingin masuk!” Sepertinya Ervan mulai emosi pada adelia.
“Tidak! Alva melarangku membawa masuk pria ke dalam apartemen ini!”
Ervan langsung membelalakkan matanya tidak percaya dengan apa yang menjadi alasan Adelia tidak membolehkan dia masuk. “Apa? Tapi ini aku, ervan! Kenapa aku tidak boleh masuk!” protes Ervan.
“kau pria bukan?” ujar adelia.
“tentu saja aku pria” Ervan menggerutu kesal mendapat pertanyaan bodoh dari adelia, wanita yang menurutnya tidak waras.
“makanya karena itu kau memang tidak boleh masuk bodoh!” balas adelia.
“Agghhhh adel! Kauuu!!!” teriak Ervan kesakitan.
Akhirnya adelia berhasil membuat pintu itu tertutup. Tidak mudah memang mengingat dia berhadapan dengan tenaga pria. Tapi dengan usaha kerasnya, dia berhasil membuat pria itu mundur dengan sendirinya. Tentu saja akibat ulah jahat adelia yang menggigit tangan pria itu.
Adelia tersenyum puas berbangga hati dengan hasil kerjanya mengusir pria itu, pria yang membuat alva sakit semalaman, yang sudah membuat alva mimpi buruk, dan pria yang sudah membuat alva berhasil meniduri dirinya.
‘Astaga, sepertinya sekarang aku sangat membenci pria itu, bahkan sangat banyak’ batin adelia.
Adelia berusaha mengabaikan dan tidak memperdulikan suara bel dan gedoran pintu yang sudah jelas dilakukan oleh Ervan. Adelia melangkah pergi begitu saja menjauh dari pintu, sekali lagi wanita itu berusaha mengabaikan teriakan kemarahan dari Ervan. Ia berpura pura tuli ketika ponselnya berbunyi memberitahukan sebuah panggilan masuk.
*Ervan calling*
Adelia melangkah ke sana mendekati pintu, kali ini dia tidak langsung membukanya, melainkan melihat layar intercom terlebih dulu di samping pintu. Dan Adelia tersenyum senang mendapati wajah sahabatnya ada di depan layar itu siapa lagi kalau bukan Nara.
Dengan senang hati Adelia membukakan pintu dan sesuatu terjadi di sana, dia hampir terhempas jatuh saat tubuhnya tiba tiba saja di terobos seseorang ketika tepat saat pintu itu terbuka.
“akhirnya aku bisa masuk juga” seru Ervan.
“Ervan sialannnn!!” Murka Adelia.
...🎮🎮🎮🎮🎮...
Adelia meletakkan orange juice di atas meja kaca dengan sangat tidak menyenangkan. Terutama saat melihat wajah Ervan. Pria itu yang hampir saja membuat dirinya tersungkur bebas jika saja Nara tidak membantunya menahan tubuh itu agar tidak jatuh.
Nara yang tidak tau permasalahan antara Ervan dan Adelia, dengan mudahnya terhasut tipu daya Ervan. Pria itu mengatakan pada Nara, ada sesuatu hal penting yang harus dia ambil di apartemen Alva, tapi adelia melarang dia masuk karena dia pria, Nara yang kasihan pada Ervan akhirnya membantu pria itu untuk masuk ke dalam apartemen itu.
“Kenapa kau memanggilku del?” tanya nara lembut.
Adelia masih diam sambil menatap sinis Ervan.
“kenapa pandanganmu begitu padaku? Aku ke sini karena ada masalah penting” ucap Ervan penuh keyakinan.
“masalah penting apa?” tanya adelia dingin dan pandangan yang menusuk.
“wahhh apa aku melakukan kesalahan padamu del? Kenapa kau selalu melihatku dengan pandangan seperti itu?” protes Ervan sambil berakting seperti orang yang baru saja di sakiti oleh adelia.
“del, jangan seperti itu” nasehat Nara dengan lembut.
“Aku membenci pria ini Nara!” geritu adelia sambil menunjukkan.
“apa salahku?” tanya ervan dengan wajah polos tidak bersalahnya sambil bersembunyi di belakang punggung nara mencari perlindungan.
“adel~” panggil nara lembut agar sahabatnya tidak menatap Ervan dengan wajah mengerikan itu.
“Gara gara dia Nar! Gara gara dia Al_” adelia segera menutup mulutnya dan kembali menatap ervan dengan pandangan membunuh.
“Apa salahku adel?” tanya ervan sekali lagi.
“Sudahlah lupakan, katakan mau apa kau kesini” adelia kembali pada topik utama dan berusaha menutupi kesalahan yang baru saja dia buat.
Ervan menatap nara, lalu menatap Adelia lagi, “nanti saja” ujar ervan.
“apa karena ada aku di sini? Kau ingin bicara berdua dengan adelia?” tebak Nara.
“ya, ini masalah Alva, dan aku belum bisa memberitahu banyak orang tentang masalahnya, jadi lanjutkan urusan kalian dulu baru aku akan berbicara dengan gadis ini berdua saja” ujar Ervan.
“kalau gitu aku pulang saja gimana?”
“gak perlu Nara, lanjutkan saja apa yang ingin kalian lakukan berdua, aku akan menunggu giliranku nanti” kekeh Ervan.
“Sebenarnya aku datang kesini karena adel yang minta ditemani, tapi karena sepertinya urusanmu sangat penting lebih baik aku pergi saja” ucap Nara.
...🎷🎷🎷🎷🎷...