
Sunyi beberapa saat, Ervan terlihat mengulur waktunya untuk menjawab pertanyaan Nara, pria itu lagi-lagi hanya mengeluarkan senyum tak bersalahnya tanpa menoleh ke arah Nara.
“Cepat jawab” desak Nara.
“Yang terpenting bukan kemana aku pergi, tapi kepulanganku sekarang” ujar Ervan.
“Cih, kau menyebalkan” Rengutan gadis itu sukses membuat Ervan kembali menarik ujung bibirnya. “Kau bahkan tidak pernah menghubungiku selama di sana” Nara tambah menyindir Ervan.
“Hei! bagaimana bisa kau bicara seperti itu? aku menghubungimu” ujar Ervan.
“Apa?” Nara tersenyum miris seperti gadis tidak waras. tidak jelas dia menertawakan siapa. Dirinya, atau pria disampingnya. “Tiga bulan sekali? Ah bukan, empat bulan sekali, tidak lima bulan sekali. Benar, kau melakukannya dalam waktu itu” gerutu Nara.
“Setidaknya aku menghubungimu walaupun hanya lima bulan sekali” kekeh Ervan.
“Itu tak sebanding dengan diriku yang hampir setiap hari mengirim pesan padamu. Menghubungimu bagai orang gila tanpa mendapat jawaban!” sindir Nara sekali lagi.
Diam-diam Ervan menahan tawanya agar tidak meledak. Setidaknya dia harus terlihat menghargai gadis itu yang sekarang sedang dalam protes besar-besaran. Entah kenapa semua ocehan gadis itu justru terdengar lucu.
“Jangan tertawa Ervan!” amuk Nara.
“Apa? aku bahkan diam saja sejak tadi”.
“Aku tahu kau sedang menahannya”.
“Baiklah, aku minta maaf” ujar Ervan dengan senyum mempesonanya.
Nara yang akan kembali membuka mulutnya tertahan saat tiba-tiba wajahnya tersentuh lembut telapak tangan Ervan, pria itu membelai pipinya lembut, tangannya merambat naik ke atas kepala mengacak rambut Nara. Gadis itu membeku bahkan saat Ervan tersenyum kearahnya.
“Aku merindukanmu” Nara semakin membeku saat bisikan manis itu dia dengar dari mulut Ervan, bukan hanya membeku, Ervan membuat Nara merona merah.
...🧩🧩🧩🧩🧩...
Di kediaman Alva dan Adelia tampak terlihat tenang. Tentu saja, setidaknya malam hari adalah waktu yang tepat untuk beristirahat. Wanita di dalamnya terlihat menutup pintu kamar dengan hati-hati, dengan harapan tak menimbulkan suara dan membuat keberadaan dua malaikat kecilnya yang tertidur terganggu.
Setelah pintu itu tertutup tampak pintu lainnya terbuka berkat ulah tanganya sendiri. Adelia tersenyum lembut saat menemukan keberadaan suaminya berada di dalam sana, duduk tenang dan tampak terlihat serius dengan beberapa lembar kertas ditangannya. Pria itu bahkan seperti tak menyadari kehadiraan Adelia disana, sampai akhirnya Adelia mengetuk pintu ruangan itu dengan niat menyindir pria di dalamnya.
“Apa aku mengganggu Tuan besar?” canda Adelia.
Alva tampak tersenyum kecil menanggapi wanita yang berdiri diambang pintu ruang kerjanya.
“Masuklah sayang” ujar alva lembut.
Tanpa disuruhpun Adelia pasti akan tetap masuk. Wanita itu hanya berniat menggoda suaminya saja. “Kau seharusnya beristirahat”, sejak Ervan berhenti pekerjaan Alva semakin bertambah banyak tapi pria itu masih tidak mau menghubungi ervan untuk meminta bantuan pada pria itu, alhasil dia sering membawa pulang pekerjaannya untuk dilanjutkan di rumah.
Adelia memang selalu mengingatkan suaminya untuk beristirahat tapi selalu saja alva menaggapinya hanya dengan senyuman kecil. Sekarang posisi adelia sudah bersandar meja tepat di depan suaminya yang duduk.
“Aku hanya memeriksa beberapa laporan perusahan sayang” ucap alva.
“Tapi aku dan anak anak butuh kamu sayang, jangan liat pekerjaan terus, kalau di rumah itu luangkan waktu untuk kami” protes adelia.
“Berhenti menggodaku Adelia”
Adelia tersenyum bahkan meloloskan tawa kecilnya yang berhasil membuat Alva mengikuti reaksi itu. “apa ada masalah di perusahaan?”
“Alan dan Alana tidur?” tanya alva sambil mencium punggung tangan istrinya.
Sebelum Adelia benar-benar menjawab, pria itu sudah lebih dulu menariknya duduk diatas pangkuan Alva. Refleks Adelia mengalungkan tangannya di leher pria itu menghindari dirinya terjatuh. Ya, meskipun suaminya tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
“Aku dengar dia kembali” mengabaikan pertanyaan Alva, adelia memilih bertanya tentang hal yang membuatnya seharian ini penasaran.
“Dia? siapa?” Tanya balik Alva tidak mengerti.
“Kak Ervan”
“Sayang! sejak kapan kau memanggilnya semanis itu?” protes Alva tidak terima.
Adelia tersenyum mendapatkan suaminya merengut meskipun tidak benar-benar serius. Sejak kelahiran anak anaknya pria ini menunjukan perubahan yang cukup drastis. Alva lebih sering meng-ekspresikan dirinya sendiri dalam keadaan yang dia dapat. Tersenyum saat dia senang, tertawa saat mendapatkan sesuatu yang lucu, dan akan marah-marah jika mendapatkan situasi yang tidak dia sukai.
“Nara memberitahumu?” tebak Ervan.
Wanita itu mengangguk yang dibalas perlakukan yang sama dari Alva. Faktanya pria ini juga tahu mengenai kembalinya Ervan ke Indonesia. Alva yang mengklaim dirinya memiliki kesalahan besar pada pria itu tentunya sangat menanti-nantikan waktu ini tiba.
Dua tahun, Alva merutuk kebodohannya sendiri yang bersikap terlalu kasar pada sahabatnya itu. Dua tahun juga Alva seperti hidup dalam dosa-nya kepada Ervan. Alva yang sebenarnya tidak benar-benar menanggapi ucapan pria itu saat terakhir kali bertemu tentunya terkejut saat mendengar pria itu pergi meninggalkan Indonesia. Secara tidak langsung, alasan pria itu meninggalkan Indonesia adalah Alva.
‘Aku tidak berniat melakukannya, sungguh perasaan ini muncul dengan sendirinya tanpa aku duga.’
Alva seharusnya bisa memahami kalimat itu. Dia bukanlah anak kecil yang tidak mengerti mengenahi hal tersebut. Bukankah Alva sendiri merasakannya. Saat perasaan itu muncul tiba-tiba dengan sendirinya tanpa ia sadari, saat tiba-tiba dia mencintai Adelia.
Hanya saja kesadaran Alva bekerja terlalu lambat, dia kehilangan Ervan lebih dulu sebelum dia menyadari kesalahnya sendiri.
Hati seseorang, siapa yang yang bisa mengendalikannya, sekalipun itu hatimu sendiri.
Alva benar-benar bodoh saat itu, dia hanya di penuhi dengan perasaan takutnya akan kehilangn Adelia. Benar, Alva cemburu. Kecemburuannya membuatnya harus kehilangan seorang sahabat sekaligus sosok kakak yang begitu luar biasa.
Ervan, pria itu. Dia banyak ikut adil dalam kebahagiaan yang Alva dapatkan sekarang. Secara tidak langsung, pria itulah yang menjadi perantara Tuhan untuk menunjukan jalan kebahagiaannya.
“Kau merindukannya bukan?” tanya adelia sambil menyentuh pipi suaminya.
“hmmm” Gumaman dan anggukan kecil itu lolos dari tubuh Alva.
“Kau harus menemuinya” ujar adelia, dia tau suaminya itu masih terlalu gengsi untuk bertemu dengan ervan.
“Tentu” balas alva singkat.
Wanita itu hanya tersenyum. Respon yang di tunjukan Alva begitu jelas. Tangan wanita itu bergerak, membingkai wajah suaminya. Adelia mendekati wajah itu, bibirnya mencium kecil hidung suaminya, suaranya terdengar berbisik di sana. “I love You my love”.
Bibir alva yang mendarat dibi_bir Adelia adalah jawaban Alva. “Kenapa kau terlihat semakin menggodaku?”
“Apa?! Siapa yang sedang menggoda” Adelia tidak bisa menyembunyikan senyumannya bahkan kikikan tawanya sendiri. Rasanya mendengar Alva berbicara seperti itu membuat perutnya geli. “Aku rasa kau yang sedang menggodaku sekarang” elak adelia sekali lagi.
Kalimat itu memberi efek yang sama pada Alva. Pria itu terkikik kecil. Setelahnya dia menatap lekat wajah istrinya. Tangannya membelai lembut wajah itu. Mereka terdiam beberapa saat dengan tatapan yang sama. Keduanya mengagumi satu sama lain. “Mau bercinta denganku Nona?”
“Dengan senang hati” jawab adelia.
...🎺🎺🎺🎺🎺...