Trapped in Love

Trapped in Love
Episode 3 Ketika Senyum Itu Menyapa



 


 


 


Setelah tiga hari nnisa dizinkan pulang ke rumah. Disana gadis itu memulihkan  penyembuhan. Setelah itu aku pulang ke rumah


kontrakan di ujung desa. Kontarakan milik Bu Hadi. Pemilik kontrakan itu


berusia lima puluh tahun. Memiliki badan gemuk, tapi  orangnya  ramah dan santai. Malah biaya kontrakan itu terbilang murah meriah.


Hari efektif


sekolah aku mulai masuk. Sekedar perkenalan dengan guru-guru dan anak-anak aku


lakukan di lapangan, selepas upacara.


Setelah itu, aku


masuk ke kelas. Dari jadwal mengajar, aku mendapat kelas XI dijam pertama.


“Selamat pagi anak-anak!” sapaku


saat hari pertama kali masuk kelas XImata pelajaran Matematika.


“PagiPak Guru..” jawab mereka serentak.


“Oh ya, sebagai guru baru di


sekolah ini, maka alangkah baiknya jika berkenalan terlebih dahulu,” ujarku


seperti yang dilakukan setiap guru baru.


“Saya Aldiansyah. Biasa dipanggil Pak Aldi. Aku tinggal di


kota Tegal....” Panjang lebar aku


menjelaskan pada mereka.


“Umurnya berapa Pak,”  tanya anak laki-laki yang duduk di pojok


belakang.


“Hmm….,Sudah hampir dua puluh lima.”


“Wuih kita dapat


guru muda dan ganteng!” celetuk siswi perempuan  tepat dihadapanku, tubuhnya gembrot dengan rambut di kepang dua.


Aku menanggapi


dengan tersenyum santai.


“Sudah menikah


belum Pak?” tanya siswi perempuan yang lain. Yang ditanggapi suara riuh renyah


seisi kelas.


 Aku berusaha  bersikap asyik di awal masuk. Dan  mengusahakan memberikan  kesan menyenangkan dimata mereka. Supaya mereka betah dengan metode mengajarku.


“Oh ya, apa hari ini masuk semua?”


tanyaku mengalihkan pembicaraan.


“Ada yang izin  Pak. Katanya dia


sakit,” kata salah satu siswa laki-laki yang


merupakan ketua kelas XI A.


“Baiklah. Untuk mempersingkat


waktu, Bapak akan absen kalian satu persatu.”


Hari pertama mengajar,  aku puas sekali. Ternyata anak-anak SMA di desa tidak sekeras dan sekhawatir yang


kubayangkan. Awalnya aku menganggap mereka super bandel dan miskin etika. Ternyata


pikiranku salah. Mereka justru sopan santun dan penurut.


***


Beberapa waktu berada di Karanganyar aku  sudah mulai


mengenal lingkungan sekitar. Bu Hadi, pemilik tempat kontrakan banyak memberi


tahu banyak hal di Karanganyar. Terutama soal tradisi-tradisi yang ada didesa.


Disana kebiasaan anak-anak lulusan SMA  pergi meninggalkan desanya demi merantau ke kota-kota besar. Sebagaian


besar mereka bekerja sebagai buruh. Dan sebagian kecil berdagang. Mereka


kembali jika benar-benar berhasil mendapatkan cukup uang untuk membina rumah


tangga.


Wanita berusia


setengah baya itu juga menceritakan tradisi nikah muda.  Banyak  anak gadis dinikahkah setelah tujuh belas tahun. Alasannya klasik, bahwa


perempuan tidak dituntut berkarir ataupun berpendidikan tinggi. Warga desa


Karanganyar menganut  tradisi


perempuan  didapur, sumur dan kasur.


Mereka seolah terikat aturan tersebut. Meski pada kenyataannya sebagian kecil


dari mereka tidak  beruntung


mempertahankan rumah tangga sehingga terjadi perceraian.


Lima tahun yang


lalu, pihak pemerintah desa berusaha mengantisipasi hal itu dengan cara


dirikannya sekolah. Maka pemerintah daerah menanggapi positif dengan membangun


sekolah negeri sekalian. Untuk meningkatkan perkembangan sekolah, pemerintah mengangkat  kepala sekolah dari wilayah kota Pemalang.


Penjelasan dari Bu


Hadi membuatku miris. Ternyata desa yang indah ini masih dalam tahap


perkembangan. Tanah yang subur dan luas. Diimbangi dengan pendidikan yang


memadai. Dengan begitu pada masanya, desa sekecil Karanganyar akan berkembang


pesat.


Sebulan di tempat


baru, aku lupa belum beranri memberi kabar kepada ibu via telepon.


Terhitung  aku hanya  berkomunikasi dengan pesan singkat saja. Aku


takut, ibu masih marah dan menganggu pikiranku. Terbukti ibu  gencar meminta alamatku, tapi aku tetap keukeuh tak memberinya.


***


Menjelang sore aku


kedatangan tamu. Lelaki itu bernama Pak Rudi, ayahnya Annisa. Aku berpikir dia


akan marah-marah dan minta  ganti rugi. Tetapi


untuk meminta maaf karena kesalahfahaman  waktu itu.


“Saya minta maaf.


Sudah mengotori tangan saya,” terang Pak Rudi menyesal.


“Sudahlah Pak.


Semuanya sudah dimaafkan,” jawabku ramah.


“Terima kasih,


Pak...”


“Aldi. Nama saya


Aldiansyah.”


“Oh Pak Aldi.  Terima kasih atas kebaikan Bapak.”


“Ah, jangan panggil


‘bapak’. Saya  kan masih ‘bocah’ Pak?”


“Tidak apa-apa. Itu


panggilan kehormatan bagin seorang guru,” kata Pak Rudi.


Lalu kami bercerita


banyak hal. Lalu obrolan kami selanjutnya seputar masalah asal usulku. Dan juga


tentang keluarga Pak Rudi. Aku jadi tahu anak Pak Rudi dua. Masih ada adik


Annisa  yang masih kecil. Pekerjaan Pak


Rudi hanya buruh tani. Pak Rudi  juga membahas


tentang tradisi nikah muda seperti yang digambarkan Bu Hadi.


Tak lama kemudian,


aku teringat dengan Annisa.


“Oh  ya, bagaimana  keadaan putri Bapak?”


“Masih harus


bersabar. Dia masih belum bisa berjalan,” jelas Pak Rudi.


 “Semoga cepat sembuh ya Pak. Maaf lho, saya belum bisa menjenguk.”


Lalu obrolan kami


selanjutnya seputar masalah asal usulku. Dan juga tentang keluarga Pak Rudi.


Aku jadi tahu anak Pak Rudi dua. Masih ada adik Annisa  yang masih kecil. Pekerjaan Pak Rudi hanya


buruh tani.


***


Har-hariku diisi


dengan mengajar dan mengajar. Meski asyik dan menikmati, tetap saja aku butuh


sesuatu yang baru. Dan terus terang aku belum pernah beranjak pergi keliling


desa dan berbaur dengan masyarakat.  Aku


lebih sering duduk dan mengobrol dengan Bu Hadi saja. Selain nyambung sama dia,


perempuan yang bersuamikan Pak  Hadi itu


memiliki selera humor tinggi sehingga aku  merasa  terhibur.


Pak Hadi adalah


seorang petani tulen. Berangkat menjelang pagi dan pulang menjelang siang.


Makanya aku jarang sekali bertemu Pak Hadi, terutama disiang bolong. Pak Hadi


dan Bu Hadi tidak memiliki anak. Makanya mereka terlihat kesepian dalam


menjalani hari-harinya. Ada  pemuda


tanggung seumuranku bernama Firman yang sering aku lihat di rumahnya. Tapi  itu  adalah keponakan mereka. Firman sudah bekerja di sebuah bengkel motor di


Batukumpul. Namun agaknya  pemuda


tanggung yang rambutnya di cat merah itu kurang bisa berkomunikasi dengan baik.


Dia selalu buang muka jika bertatap denganku.


“Dia memang


begitu,” ujar Bu Hadi suatu saat. “Gaulnya sama anak-anak bengjel, jadi ya


hidupnya susah diatur.”


Aku hanya tersenyum


mendengarnya.


***


Dengan berbagai


pertimbangan, akhirnya suatu sore aku putuskan menjenguk Anisa di rumahnya. Kebetulan sepulang dari puskesmas aku belum pernah menjenguknya. Rumah Pak Rudi terletak di ujung desa Kranganyare.


Rumahnya sangat sederhana. Dindingnya terbuat dari  anyaman bambu yang sudah dimakan usia. Mungkin


puluhan tahun rumah itu ditinggali tanpa mampu menggantinya. Aku sadar


penghasilan buruh tani, memang tidak seberapa. Hanya cukup untuk makan


sehari-hari saja.


Saat kuayunkan langkah memasuki


ruang tamunya yang sangat sederhana, seorang bocah kecil menyambutku.


“Kakak yang menabrak Kak Anis ya!” katanya tiba-tiba.Dia berlagak sok memarahi.


Tapi malah terkesan lucu dan menggemaskan.


“Oh, bukan aku yang


“Tidak. Kakak yang


nabrak!” jeritnya sambil marah-marah.


“Hei, Dion.


Jaga  sikapmu.  Kamu harus sopan sama tamu.” Bu Rudi yang


baru muncul mengingatkan.


“Tapi Bu...Dia...”


protes Dion.


“Jangan Dion!”


tegas Pak Rudi, membuat Dion lari kepelukan Ibunya.


Aku senyam-senyum


geli melihat tingkah bocah itu. Umurnya kira-kira baru lima tahun. dan banyak


 “Dion, jangan begitu ah,” ujar ibunya sambil


mengelus kepalanya. Lalu Dion lari ke dalam kamar.


Aku mengobrol


dengan Pak Rudi dan istrinya. Tidak lama kemudian, aku pamit pulang.


“Pak, bolehkah aku


melihat Annisa?” tanyaku.


Pak Rudi  dan istrinya bertukar pandang.


“Ya tentu boleh.


Tapi maaf kamarnya jelek dan berantakan,” sahut Bu Rudi.


“Tidak masalah.


Jangan terlalu dipikirkan Pak,” jawabku seraya masuk ke dalam kamar Annisa.


Kulihat Anisa  duduk di bibir


tanjang.  Kaki kanannya masih terlilit gips dan harus


berjalan dengan kruk atau tongkat


penyangga.


Gadis itu menoleh dengan gugup.


“Bagaimana keadaan


Dik Annis?” kataku prihatin.


“Tidak apa-apa,” jawabnya. “Memang sudah waktunya terjadi. Jangan terlalu  disesalkan.”


Aku menunduk haru. Kata-katanya membuatku tersentuh. Ada rasa simpatik yang


besar dalam hatiku.


“Bagaimana dengan


sekolahmu. Apa sudah mengurus izin dari dokter?” tanyaku lagi.


“Sementara belum.”


Bu Rudi yang menjawab.


“Memang sekolahnya


dimana?”


“SMA,” jawab Annis.


“SMA apa?”


“Pelangi!”


“Masya Allah. SMA


Pelangi?” pekikku.


“Kenapa Mas?” tanya


Pak Rudi heran


“Aku mengajar


disana.”


Sepontan  Annisa kaget.


“Jadi Bapak....


adalah guru baru itu?” tanya Annisa kaget.


 Aku mengangguk.


***


Hari-hari berikutnya aku mulai


menyesuaikan diri di desa Karanganyar. Malam hari ikut ke mushola untuk shalat


berjamaah. Kadang malam harinya ikut ronda. Dan


setiap ada


kesempatan aku datang Annisa.


Seperti minggu pagi


ini aku datang ke rumah Pak Rudi. Aku sengaja datang sambil membawa martabak


untuk Annisa. Kata Pak Rudi, Annisa suka sekali dengan martabak.


Pukul sembilan aku


sampai  dirumahnya. Namun kali ini tampak


sepi. Pak  Rudi dan istrinya tidak ada


dirumah.


Dion yang menjawab


salam dan membukakan pintu. Aku mendapati Annisa sedang duduk di ruang tamu.


Dia memakai pakian olah raga dibalut jilbab putih. Luka dipipinya masih


membekas.


Dia tampak terkejut


melihat kedatanganku. Dia gugup sekali sampai salah tingkah.


“Maaf kalau aku


mengganggu,” kataku.


Dia diam sambil


berusaha  tersenyum


“Bagaimana keadan


Dik?” sapaku seraya menyodorkan martabak.


“Sudah agak baikan.


Tapi belum bisa tanpa tongkat.”


“Tidak


apa-apa.Sabar saja.”


Annisa mengangguk.


“Maaf martabaknya


dingin. Maklum belinya semalam. Sebab kalau pagi tidak ada yang jualan.” Aku


berusaha menghibur.


Kulihat senyumnya


mengembang. Luka dipipinya masih mengganggu wajahnya.


Setiap kupandang


wajahnya, Annisa selalu menyebunyikan sebagian wajahnya.


“Jangan malu dengan


luka itu. Nanti kalau sudah waktunya pasti sembuh,” kataku menenangkan.


Tidak lama-lama aku


berada di rumah Annisa. Aku tidak enak berada di sana tanpa orang tuanya.


***


Sejak itu aku


merasa sangat prihatin dengan keadaan Annisa. Salah satu muridku itu belum bisa


berjalan. Dua bulan berlalu, belum juga nampak sembuh total. Hanya saja sudah


mulai berjalan tanpa tongkat.


Kali ini aku datang


disaat Annisa sedang latihan berjalan di depan rumah. Aku disambut hangat  Bu Rudi yang sedang mengangkat pakaian.


“Mau kemana Pak?”


tanyanya.


“Mau kesini Bu.


Menjenguk Annisa.


“Oh. Tuh, dia lagi


latihan berjalan bersama Dion.”


Bu Rudi menunjuk ke


halaman samping.


“Sudah ada


perubahan, Dik?” tanyaku


“Ada Pak. Ini aku


sudah bisa berjalan agak cepat. Meski masih ngilu rasanya.” Dia tertawa.


“Syukur.”


Ketika  sedang melanjutkan latihan berjalan, kakinya


terkatuk tanah dan  hilang keseimbangan.


Dengan cepat, aku tubruk tubuhnya dan masuk kedalam pelukan tanganku.


Annisa diam


seketika berada dalam pelukanku. Hal itu berlangsung beberapa saat. Sampai aku


sadar bahwa  hal  tersebut tidak perlu terjadi.


“Maaf...” kataku


salah tingkah.


Wajah Annisa


memerah. Dia merasa malu ditolong oleh gurunya sendiri.


Kami diam dalam


beberapa saat. Berusaha mengembara dengan pikirannya masing-masing sampai Bu


Rudi datang.


“Ada apa ini?


Makanya kalau belum bisa, jangan dipaksakan,” katanya seraya memapah  putrinya ke dalam rumah. “Jadi


merepotkan  Pak Aldi terus.”


“Tidak apa-apa Bu.”


Aku menghela


nafas  panjang. Hatiku dag dig dug  bergetaran. Baru kali ini aku merasakan hati,


jantung dan jiwaku bergetar hebat. Aku  tak  mengerti, apa yang terjadi


pada diriku.


 


 


***