
Setelah tiga hari nnisa dizinkan pulang ke rumah. Disana gadis itu memulihkan penyembuhan. Setelah itu aku pulang ke rumah
kontrakan di ujung desa. Kontarakan milik Bu Hadi. Pemilik kontrakan itu
berusia lima puluh tahun. Memiliki badan gemuk, tapi orangnya ramah dan santai. Malah biaya kontrakan itu terbilang murah meriah.
Hari efektif
sekolah aku mulai masuk. Sekedar perkenalan dengan guru-guru dan anak-anak aku
lakukan di lapangan, selepas upacara.
Setelah itu, aku
masuk ke kelas. Dari jadwal mengajar, aku mendapat kelas XI dijam pertama.
“Selamat pagi anak-anak!” sapaku
saat hari pertama kali masuk kelas XImata pelajaran Matematika.
“PagiPak Guru..” jawab mereka serentak.
“Oh ya, sebagai guru baru di
sekolah ini, maka alangkah baiknya jika berkenalan terlebih dahulu,” ujarku
seperti yang dilakukan setiap guru baru.
“Saya Aldiansyah. Biasa dipanggil Pak Aldi. Aku tinggal di
kota Tegal....” Panjang lebar aku
menjelaskan pada mereka.
“Umurnya berapa Pak,” tanya anak laki-laki yang duduk di pojok
belakang.
“Hmm….,Sudah hampir dua puluh lima.”
“Wuih kita dapat
guru muda dan ganteng!” celetuk siswi perempuan tepat dihadapanku, tubuhnya gembrot dengan rambut di kepang dua.
Aku menanggapi
dengan tersenyum santai.
“Sudah menikah
belum Pak?” tanya siswi perempuan yang lain. Yang ditanggapi suara riuh renyah
seisi kelas.
Aku berusaha bersikap asyik di awal masuk. Dan mengusahakan memberikan kesan menyenangkan dimata mereka. Supaya mereka betah dengan metode mengajarku.
“Oh ya, apa hari ini masuk semua?”
tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Ada yang izin Pak. Katanya dia
sakit,” kata salah satu siswa laki-laki yang
merupakan ketua kelas XI A.
“Baiklah. Untuk mempersingkat
waktu, Bapak akan absen kalian satu persatu.”
Hari pertama mengajar, aku puas sekali. Ternyata anak-anak SMA di desa tidak sekeras dan sekhawatir yang
kubayangkan. Awalnya aku menganggap mereka super bandel dan miskin etika. Ternyata
pikiranku salah. Mereka justru sopan santun dan penurut.
***
Beberapa waktu berada di Karanganyar aku sudah mulai
mengenal lingkungan sekitar. Bu Hadi, pemilik tempat kontrakan banyak memberi
tahu banyak hal di Karanganyar. Terutama soal tradisi-tradisi yang ada didesa.
Disana kebiasaan anak-anak lulusan SMA pergi meninggalkan desanya demi merantau ke kota-kota besar. Sebagaian
besar mereka bekerja sebagai buruh. Dan sebagian kecil berdagang. Mereka
kembali jika benar-benar berhasil mendapatkan cukup uang untuk membina rumah
tangga.
Wanita berusia
setengah baya itu juga menceritakan tradisi nikah muda. Banyak anak gadis dinikahkah setelah tujuh belas tahun. Alasannya klasik, bahwa
perempuan tidak dituntut berkarir ataupun berpendidikan tinggi. Warga desa
Karanganyar menganut tradisi
perempuan didapur, sumur dan kasur.
Mereka seolah terikat aturan tersebut. Meski pada kenyataannya sebagian kecil
dari mereka tidak beruntung
mempertahankan rumah tangga sehingga terjadi perceraian.
Lima tahun yang
lalu, pihak pemerintah desa berusaha mengantisipasi hal itu dengan cara
dirikannya sekolah. Maka pemerintah daerah menanggapi positif dengan membangun
sekolah negeri sekalian. Untuk meningkatkan perkembangan sekolah, pemerintah mengangkat kepala sekolah dari wilayah kota Pemalang.
Penjelasan dari Bu
Hadi membuatku miris. Ternyata desa yang indah ini masih dalam tahap
perkembangan. Tanah yang subur dan luas. Diimbangi dengan pendidikan yang
memadai. Dengan begitu pada masanya, desa sekecil Karanganyar akan berkembang
pesat.
Sebulan di tempat
baru, aku lupa belum beranri memberi kabar kepada ibu via telepon.
Terhitung aku hanya berkomunikasi dengan pesan singkat saja. Aku
takut, ibu masih marah dan menganggu pikiranku. Terbukti ibu gencar meminta alamatku, tapi aku tetap keukeuh tak memberinya.
***
Menjelang sore aku
kedatangan tamu. Lelaki itu bernama Pak Rudi, ayahnya Annisa. Aku berpikir dia
akan marah-marah dan minta ganti rugi. Tetapi
untuk meminta maaf karena kesalahfahaman waktu itu.
“Saya minta maaf.
Sudah mengotori tangan saya,” terang Pak Rudi menyesal.
“Sudahlah Pak.
Semuanya sudah dimaafkan,” jawabku ramah.
“Terima kasih,
Pak...”
“Aldi. Nama saya
Aldiansyah.”
“Oh Pak Aldi. Terima kasih atas kebaikan Bapak.”
“Ah, jangan panggil
‘bapak’. Saya kan masih ‘bocah’ Pak?”
“Tidak apa-apa. Itu
panggilan kehormatan bagin seorang guru,” kata Pak Rudi.
Lalu kami bercerita
banyak hal. Lalu obrolan kami selanjutnya seputar masalah asal usulku. Dan juga
tentang keluarga Pak Rudi. Aku jadi tahu anak Pak Rudi dua. Masih ada adik
Annisa yang masih kecil. Pekerjaan Pak
Rudi hanya buruh tani. Pak Rudi juga membahas
tentang tradisi nikah muda seperti yang digambarkan Bu Hadi.
Tak lama kemudian,
aku teringat dengan Annisa.
“Oh ya, bagaimana keadaan putri Bapak?”
“Masih harus
bersabar. Dia masih belum bisa berjalan,” jelas Pak Rudi.
“Semoga cepat sembuh ya Pak. Maaf lho, saya belum bisa menjenguk.”
Lalu obrolan kami
selanjutnya seputar masalah asal usulku. Dan juga tentang keluarga Pak Rudi.
Aku jadi tahu anak Pak Rudi dua. Masih ada adik Annisa yang masih kecil. Pekerjaan Pak Rudi hanya
buruh tani.
***
Har-hariku diisi
dengan mengajar dan mengajar. Meski asyik dan menikmati, tetap saja aku butuh
sesuatu yang baru. Dan terus terang aku belum pernah beranjak pergi keliling
desa dan berbaur dengan masyarakat. Aku
lebih sering duduk dan mengobrol dengan Bu Hadi saja. Selain nyambung sama dia,
perempuan yang bersuamikan Pak Hadi itu
memiliki selera humor tinggi sehingga aku merasa terhibur.
Pak Hadi adalah
seorang petani tulen. Berangkat menjelang pagi dan pulang menjelang siang.
Makanya aku jarang sekali bertemu Pak Hadi, terutama disiang bolong. Pak Hadi
dan Bu Hadi tidak memiliki anak. Makanya mereka terlihat kesepian dalam
menjalani hari-harinya. Ada pemuda
tanggung seumuranku bernama Firman yang sering aku lihat di rumahnya. Tapi itu adalah keponakan mereka. Firman sudah bekerja di sebuah bengkel motor di
Batukumpul. Namun agaknya pemuda
tanggung yang rambutnya di cat merah itu kurang bisa berkomunikasi dengan baik.
Dia selalu buang muka jika bertatap denganku.
“Dia memang
begitu,” ujar Bu Hadi suatu saat. “Gaulnya sama anak-anak bengjel, jadi ya
hidupnya susah diatur.”
Aku hanya tersenyum
mendengarnya.
***
Dengan berbagai
pertimbangan, akhirnya suatu sore aku putuskan menjenguk Anisa di rumahnya. Kebetulan sepulang dari puskesmas aku belum pernah menjenguknya. Rumah Pak Rudi terletak di ujung desa Kranganyare.
Rumahnya sangat sederhana. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang sudah dimakan usia. Mungkin
puluhan tahun rumah itu ditinggali tanpa mampu menggantinya. Aku sadar
penghasilan buruh tani, memang tidak seberapa. Hanya cukup untuk makan
sehari-hari saja.
Saat kuayunkan langkah memasuki
ruang tamunya yang sangat sederhana, seorang bocah kecil menyambutku.
“Kakak yang menabrak Kak Anis ya!” katanya tiba-tiba.Dia berlagak sok memarahi.
Tapi malah terkesan lucu dan menggemaskan.
“Oh, bukan aku yang
“Tidak. Kakak yang
nabrak!” jeritnya sambil marah-marah.
“Hei, Dion.
Jaga sikapmu. Kamu harus sopan sama tamu.” Bu Rudi yang
baru muncul mengingatkan.
“Tapi Bu...Dia...”
protes Dion.
“Jangan Dion!”
tegas Pak Rudi, membuat Dion lari kepelukan Ibunya.
Aku senyam-senyum
geli melihat tingkah bocah itu. Umurnya kira-kira baru lima tahun. dan banyak
“Dion, jangan begitu ah,” ujar ibunya sambil
mengelus kepalanya. Lalu Dion lari ke dalam kamar.
Aku mengobrol
dengan Pak Rudi dan istrinya. Tidak lama kemudian, aku pamit pulang.
“Pak, bolehkah aku
melihat Annisa?” tanyaku.
Pak Rudi dan istrinya bertukar pandang.
“Ya tentu boleh.
Tapi maaf kamarnya jelek dan berantakan,” sahut Bu Rudi.
“Tidak masalah.
Jangan terlalu dipikirkan Pak,” jawabku seraya masuk ke dalam kamar Annisa.
Kulihat Anisa duduk di bibir
tanjang. Kaki kanannya masih terlilit gips dan harus
berjalan dengan kruk atau tongkat
penyangga.
Gadis itu menoleh dengan gugup.
“Bagaimana keadaan
Dik Annis?” kataku prihatin.
“Tidak apa-apa,” jawabnya. “Memang sudah waktunya terjadi. Jangan terlalu disesalkan.”
Aku menunduk haru. Kata-katanya membuatku tersentuh. Ada rasa simpatik yang
besar dalam hatiku.
“Bagaimana dengan
sekolahmu. Apa sudah mengurus izin dari dokter?” tanyaku lagi.
“Sementara belum.”
Bu Rudi yang menjawab.
“Memang sekolahnya
dimana?”
“SMA,” jawab Annis.
“SMA apa?”
“Pelangi!”
“Masya Allah. SMA
Pelangi?” pekikku.
“Kenapa Mas?” tanya
Pak Rudi heran
“Aku mengajar
disana.”
Sepontan Annisa kaget.
“Jadi Bapak....
adalah guru baru itu?” tanya Annisa kaget.
Aku mengangguk.
***
Hari-hari berikutnya aku mulai
menyesuaikan diri di desa Karanganyar. Malam hari ikut ke mushola untuk shalat
berjamaah. Kadang malam harinya ikut ronda. Dan
setiap ada
kesempatan aku datang Annisa.
Seperti minggu pagi
ini aku datang ke rumah Pak Rudi. Aku sengaja datang sambil membawa martabak
untuk Annisa. Kata Pak Rudi, Annisa suka sekali dengan martabak.
Pukul sembilan aku
sampai dirumahnya. Namun kali ini tampak
sepi. Pak Rudi dan istrinya tidak ada
dirumah.
Dion yang menjawab
salam dan membukakan pintu. Aku mendapati Annisa sedang duduk di ruang tamu.
Dia memakai pakian olah raga dibalut jilbab putih. Luka dipipinya masih
membekas.
Dia tampak terkejut
melihat kedatanganku. Dia gugup sekali sampai salah tingkah.
“Maaf kalau aku
mengganggu,” kataku.
Dia diam sambil
berusaha tersenyum
“Bagaimana keadan
Dik?” sapaku seraya menyodorkan martabak.
“Sudah agak baikan.
Tapi belum bisa tanpa tongkat.”
“Tidak
apa-apa.Sabar saja.”
Annisa mengangguk.
“Maaf martabaknya
dingin. Maklum belinya semalam. Sebab kalau pagi tidak ada yang jualan.” Aku
berusaha menghibur.
Kulihat senyumnya
mengembang. Luka dipipinya masih mengganggu wajahnya.
Setiap kupandang
wajahnya, Annisa selalu menyebunyikan sebagian wajahnya.
“Jangan malu dengan
luka itu. Nanti kalau sudah waktunya pasti sembuh,” kataku menenangkan.
Tidak lama-lama aku
berada di rumah Annisa. Aku tidak enak berada di sana tanpa orang tuanya.
***
Sejak itu aku
merasa sangat prihatin dengan keadaan Annisa. Salah satu muridku itu belum bisa
berjalan. Dua bulan berlalu, belum juga nampak sembuh total. Hanya saja sudah
mulai berjalan tanpa tongkat.
Kali ini aku datang
disaat Annisa sedang latihan berjalan di depan rumah. Aku disambut hangat Bu Rudi yang sedang mengangkat pakaian.
“Mau kemana Pak?”
tanyanya.
“Mau kesini Bu.
Menjenguk Annisa.
“Oh. Tuh, dia lagi
latihan berjalan bersama Dion.”
Bu Rudi menunjuk ke
halaman samping.
“Sudah ada
perubahan, Dik?” tanyaku
“Ada Pak. Ini aku
sudah bisa berjalan agak cepat. Meski masih ngilu rasanya.” Dia tertawa.
“Syukur.”
Ketika sedang melanjutkan latihan berjalan, kakinya
terkatuk tanah dan hilang keseimbangan.
Dengan cepat, aku tubruk tubuhnya dan masuk kedalam pelukan tanganku.
Annisa diam
seketika berada dalam pelukanku. Hal itu berlangsung beberapa saat. Sampai aku
sadar bahwa hal tersebut tidak perlu terjadi.
“Maaf...” kataku
salah tingkah.
Wajah Annisa
memerah. Dia merasa malu ditolong oleh gurunya sendiri.
Kami diam dalam
beberapa saat. Berusaha mengembara dengan pikirannya masing-masing sampai Bu
Rudi datang.
“Ada apa ini?
Makanya kalau belum bisa, jangan dipaksakan,” katanya seraya memapah putrinya ke dalam rumah. “Jadi
merepotkan Pak Aldi terus.”
“Tidak apa-apa Bu.”
Aku menghela
nafas panjang. Hatiku dag dig dug bergetaran. Baru kali ini aku merasakan hati,
jantung dan jiwaku bergetar hebat. Aku tak mengerti, apa yang terjadi
pada diriku.
***