
“Makanya cepat menikah!” mendengar ucapan Ervan, Adelia langsung terpikirkan sebuah ide dalam kepalanya, kini dia menatap sahabatnya Nara, dan Nara dengan cepat menggelengkan kepala dia tau Adelia akan membuat rencana licik di dalam otaknya. Sejak dulu Adelia yang dia kenal selalu bertindak tanpa pikir panjang.
“Del gue gak setuju dengan ide gila dalam otak lo!” tahan nara saat gadis itu ingin berdiri dari duduknya.
“stttsss tenang aja ini solusi untuk masalah gue nar, kapan lagi gue mendapat jackpot seperti ini” bisik Adelia sambil melepaskan tangan Nara.
“denganmu?” kekeh Alva.
“Hah?! Kau masih saja mengajak bercanda Alva! Maksud aku itu menikah deng_”
“Bagaimana denganku?” Adelia berdiri tepat di sebelah meja sambil menatap Alva dan Ervan, membuat kedua pria itu terkejut menatap Adelia.
“adel! Pernikahan itu bukan main main, adel!” omel Nara yang sekarang sudah berdiri di samping Adelia.
“Kalian menguping pembicaraan ku?” sindir Alva kesal.
Adelia nyengir lebar sambil garuk garu kepalanya yang tidak gatal, dia menggeser minuman di depan Alva dan kini duduk di meja itu dengan sangat santai, “Aku minta maaf karena sikapku yang mendengarkan pembicaraanmu secara sembunyi sembunyi, tapi aku bisa menawarkan bantuan padamu, aku bisa menjadi pengantin wanita mu” ulang Adelia dengan berbinar binar.
“kau mabuk nona?” sindir alva sekali lagi.
Adelia cepat cepat menggeleng dan menghembuskan nafasnya ke depan wajah Alva, “kau mencium bau alcohol dari mulutku? Tidak kan? aku baru datang dan belum minum apapun, memang aku memiliki masalah makanya datang kesini, ternyata kamulah solusi masalahku!” seru Adelia.
Ervan yang duduk di samping alva malah terkikik geli melihat tingkah Adelia, pasalnya ini pertama kalinya ada wanita seperti itu yang berani terang terangan mengajak alva menikah.
“solusinya menikah denganku?” sindir alva.
“Ding dong deng dong! Benar banget! Kamu dengan rumor mu dan aku dengan masalahku” sorak Adelia bersemangat.
“Jangan terlalu PD nona, aku tidak akan menikah dengan wanita manapun” ucap Alva tegas.
Adelia mendengus kesal lalu menatap pria yang sedang terkikik geli di samping alva, “hei ayo lah bujuk kekasihmu agar mau menikah denganku, aku menikah dengannya bukan karena cinta tapi karena kebutuhan terdesak” ujar Adelia pada Ervan.
“Aku?” Ervan menunjuk dirinya sendiri saat adelia menatapnya.
Adelia mengangguk cepat, “iya siapa lagi pacar pak tua ini, bukankah kalian datang kesini karena rumor tentang kalian, aku tidak peduli kalian saling cinta atau sepasang kekasih, aku tidak akan jatuh cinta pada kekasihmu aku janji, aku hanya butuh pria pengganti calon suamiku yang telah mengkhianati ku, kami akan menikah 1 bulan lagi tapi dia telah berhubungan badan dengan sahabatku, sedihkan jalan hidupku” adelia malah mencurahkan masalahnya pada dua orang asing yang baru dia temui.
“Adel! Aku tidak setuju!” sela Nara.
“nar, kamu bilang sendirikan kalau aku akan menanggung rugi dan menanggung malu kalau pernikahan ini tidak dilaksanakan, sekarang aku sudah tidak percaya dengan sosok pria, bagiku mereka semua sama, aku tidak akan jatuh cinta lagi, sekarang aku hanya ingin mengejar karir ku, aku tidak peduli dengan namanya cinta, makanya ini solusinya, aku tidak akan jatuh cinta padanya dan dia juga tidak akan jatuh cinta padaku” terang Adelia panjang lebar pada sahabatnya sambil menunjuk dirinya dan Alva bergantian.
“kamu yakin tidak akan jatuh cinta pada alva?” bukan Alva yang bertanya melainkan Ervan.
“yakin!” ucap Adelia tegas, Adelia akui pria didepannya sangat tampan dan mempesona, tapi bukannya pria itu gay jadi adelia yakin dia tidak akan jatuh cinta pada Alva apa lagi melihat alva yang sepertinya dingin dan pemarah.
“Yakin, kalau dia saja tidak tertarik dengan wanita mana mungkin aku bisa tertarik padanya” ucap Adelia tegas.
“Ervan! Kau apa apaan sih! Aku tidak mau menikah dengan wanita manapun!” sela Alva.
“kau diam saja Alva! Gadis ini benar, ini akan menguntungkan kedua belah pihak, dia sendiri yang mengatakan tidak akan menyukaimu, bukankah itu yang kamu cari, wanita yang tidak akan menyukaimu” bantah Ervan.
Adelia mengangkat sebelah tangannya seperti murid yang ingin bertanya pada guru, “tuan lebih baik terima usulku? Pertama dimana lagi anda bisa mencari wanita secantik diriku? jadi wajahku lumayan menjual, bukankah tuan sangat butuh wanita pajangan untuk menjadi istri pura pura untuk menutupi keterbatasan tuan yang menyukai sesama” ujar adelia dengan sangat lancar.
Alva hanya diam tidak membantah ucapan adelia, karena dia memang malas untuk berurusan dengan wanita, dia tidak peduli di sangka gay atau tidak.
“Lalu yang kedua, aku ini putri dari Pengusaha yang bernama Chalandra Aditama, aku yakin nama papaku bisa membantu tuan menutupi keterbatasan tuan” lanjut adelia dengan menunjukkan dua jarinya pada Alva. “lalu yang ketiga aku tidak membutuhkan uang, karena aku sudah punya banyak uang, aku hanya butuh suami pengganti yang mau menggantikan posisi calon suamiku yang telah berkhianat” lanjut adelia sambil menunjukkan 3 jari untuk menunjukkan dia mempunyai 3 kelebihan yang sangat unggul dari wanita lainnya.
“benar itu Al! Dia juga mengatakan tidak akan jatuh cinta padamu, dia sangat sempurna untuk kriteria kita” sambung Ervan.
Alva menghela nafas panjang lalu menggelengkan kepalanya, “aku tidak mau” tolak alva sekali lagi.
“Del! Kamu dengar dia tidak mau, jadi jangan memaksa orang yang tidak mau del” Nara berusaha menarik Adelia yang duduk di hadapan Alva.
“Nar! Aku butuh dia!” Adelia sengaja menepis tangan Nara lalu gadis itu beralih menatap sinis alva. “apa kau yakin tuan muda yang terhormat? Ohh aku tau, kamu pasti mau mencoba bunuh diri lagi kan?! ya aku akui itu jalan pintas untuk menyelesaikan masalah, aku pun juga berniat seperti itu awal_ nya” adelia menghentikan ucapannya dan menoleh ke arah nara yang saat ini terlihat seperti memiliki tanduk di kepalanya.
“Apa yang baru saja aku dengar adel?” tanya nara dengan tersenyum sinis pada adelia.
“Cuma niat Nar, aku gak jadi bunuh diri kok, buktinya aku masih hidup sekarang” geleng adelia cepat.
“Maaf adel, tadi kamu bilang dia juga mau bunuh diri?” sela Ervan sambil menunjuk alva.
“iya” jawab adel polos.
“Siapa bilang aku mau bunuh diri, aku hanya melihat struktur jembatan itu saja” elak Alva.
“mau melihat tapi kaki kamu sudah naik hampir ke atas, sedikit lagi kamu bisa terjun bebas dari jembatan itu” sindir Adelia.
“Baik pernikahan ini akan dilaksanakan” ujar ervan.
“van! Aku gak mau!” tolak Alva.
“ohh, dan jika rumor itu semakin berkembang, kamu akan berniat bunuh diri lagi?! Aku tau al! aku tau itu bukan pertama kalinya kamu mencoba bunuh diri, dan ini memang jalan satu satunya, kalian berdua sama sama hanya butuh status untuk pernikahan ini bukan?!” seru ervan kesal.
...🏑🏑🏑🏑🏑...
...🪕🪕🪕🪕🪕...