
Malam belum berlalu. Suara TV dari ruang tengah masih jelas terdengar. Aku juga masih berbaring sambil melihat-lihat handphone.Berharap panggilan mengajarku segera datang. Sudah hampir sebulan, pengajuan
lamaranku ke sekolah-sekolah di daerah Pemalang.
Sudah dua tahun akumenganggur. Selepas mendapatkan ijazah, tidak juga beruntung. Lamaran pekerjaan yang kusebar belum membuahkanhasil. Hari berganti hari, rasa jenuh mulai menyergapku. Hari-hari yang
kujalani mulai membosankan.
“Tidak usah jadi guru tidak masalah. Tidak usah
mengajar,” ujar Ibu membuyarkan lamunanku. “Paman Hasan tadi menelpon, katanya disana ada pekerjaan.”
Aku mendesahdalam-dalam. Paman Hasan, adik dari ibuku menyuruhku datang ke Cirebon dan
membantu usaha meubelnya. Bukannya aku pilih-pilih pekerjaan, tetapi sayang
ijazah kuliahku. Empat tahun plus uang tidak sedikit yang ibu korbankan untuk
masa depanku.
Lalu kuletakan handphone di meja dekat ranjang.
“Bukannya aku tidakmau jadi tukang kayu. Tapi aku pengin coba pekerjaan lain. Terutama pekerjaan yang berbau ‘kantoran’ Bu.”
“Ya kalau tidakbisa, Ibu tidak memaksa. Hanya menyampaikan pesan Pamanmu saja.”
Aku diam takmenyahut.
“Tapi setidaknya,kamu ada rencana sendiri?” Ibu mendesak.
“Aku sedangmemikirkannya Bu.”
“Menurut Ibu sih,sebaiknya kamu teruskan pekerjaan almarhum Bapakmu itu. Kan sayang tidak ada
yang ngurus.” Ibu menyarankan.
Saran beliau kali ini cukup membuatku bimbang. Beliau memintau menggantikan bapak berjualan bakso
di pasar Moga. Tapi lagi-lagi berbenturan dengan nuraniku. Apalagi aku tidakmenguasai ilmu berdagang.
“Kalau terusbegini, mendingan Ibu nikahkan kamu dengan anak teman Ibu,” kata ibu membuatku terkejut.
“Apa? Ibu bercanda
ya? Masa belum kerja sudah menikah.”
“Ya, kalau kamu
berminat tidak masalah. Gadis itu bernama Nima Marcelina, anak Bu Hajah Rosdah,teman ibu dulu. Nima itu bukan gadisbiasa. Dia sudah mapan. Nima memiliki usaha salon kecantikan dan butik di Kota Tegal. Jadi kamu tidak perlu pusing cari kerja,” ujar Ibu penuh semangat.
“Jangan ngaco Bu. Aku masih belum ingin menikah.Aku mau cari kerja dulu,” tegasku.
Ibu mendesah panjang.
“Kerja apa? Nyatanya suruh dagang bakso saja yang sudah jelas nggak mau. Bantu Paman, juga nggak mau. Ibu bingung memahami kamu.”
Ya, iyalah Bu. Masalulusan UNSOED jualan bakso atau nukang kayu. Lagian sayang ijazahnya Bu?”
“Ah, kamu ini banyak ngeles. Makanya ibu dulu tidak setuju kamu kuliah. Anak kuliah itu pintar bantah omongan orang tua. Apalagi anak kuliah pasti gensi. Malu jualan bakso!”
Panjang lebar ibu menanggapi soal itu. Aku sampai bosan mendengarnya. Memang, dulu beliau selalu
berdebat dengan almarhum bapak mengenai kuliah. Ibu ingin aku langsung bekerja sehingga dapat bantu ekonomi
keluarga. Tapi bapak berkehendak lain. Beliau ingin aku jadi guru. katanya guru itu mulia. Pahlawan tanpa tanda jasa.
"Bilang saja kamu gensi. Malu jualan bakso.”
Aku tersenyum mengiyakan.
“Pokoknya Ibu tidakmau tawar-menawar.” Ibu mempertegas. “Jika dalam tiga bulan ini belum dapat kerjaan, kamu akan Ibu nikahkan dengan Nima. Titik!”
Ibu keluar buru-buru. Mengabaikan segala upaya protesku.
****
Waktu silih berganti dengan cepatnya. Aku berusaha mengabaikan perdebatan dengan ibu. Aku terus berusaha melamar pekerjaan ke sekolah-sekolah. Surat lamaranku sebagian besar diterima dan dipelajari pihak sekolah. Namun setelah itu tidak ada kabar beritanya lagi. Pernah aku mengkonfirmasi via telepon ke sekolah itu. Tapi
memang hasilnya belum sesuai harapan.
Tiga bulan berlalu. Ternyata Ibu tidak main-main. Dia benar-benar ingin aku menikah dengan Nima. Suatu malam beliau mengajakku membicarakan soal itu.
“Menikah?” pekikku tak percaya.
Ibu mengangguk antusias.
“Ini sudah keputusan Ibu. Lagian kamu tidak juga bekerja. Mau apa lagi?”
“Tapi Bu? Aku belum siap?”
“Ya wis. Paling tidak kamu dan Nima tunangan dulu. Bu Hajah Rosidah sudah siap kok menikahkan kalian. Pokoknya kamu manut saja sama ibu!”
Kepalaku pening. Dunia seakan berputar-putar mempermainkan perasaanku.
“Tapi aneh Bu.Kenapa dia minta aku menikah. Padahal mereka belum kenal sama aku?”
“Sewaktu kamu kuliah di Purwokerto, mereka sering kesini. Nima sering memperhatikam fotomu diruang tamu,” jelasnya.
“Bu, menikah itu bukan segampang itu. Perlu waktu untuk memikirkannya. Karena menikah itu untuk sekali seumur hidup. Dan yang paling penting dia itu cocok nggak sama aku?”
Perempuan tuaberumur lebih dari lima puluh tahunan itu mendesah berat, sambil pandangannya menerawang jauh.
“Aku paham maksudmu, Aldi. Kamu ingin menikah dengan gadis yang kamu cintai, bukan?”
Secara spontan aku mengangguk.
“Memang menikah butuh cinta.” Ibu meneruskan. “Tapi urusan cinta gampang,Nak. Asal kalian mau menikah cinta akan datang sendiri. Percayalah. Wiwiting tresno jalaran soko kulino.*)“Tapi....”
“Nak.... Usiamu sudah cukup. Kamu mau apa lagi? Kalau mau kerja, kerja apa? Ijazah sarjananya
juga nganggur. Suruh jualan bakso tidak mau. Bantu paman ogah.”
“Baik Bu, mending aku jualan bakso saja,” tawarku.
“Tidak. Sudah terlambat. Dari dulu Ibu tawarkan tidak mau,” ujar ibu.
Aku terdiam. Ibu sudah memegang kartu as-ku.
**
Aku bisa saja menentang kemauan ibu, bahwa sekarang sudah tidak jaman menjodoh-jodohkan anaknya.Namun melihat wajah teduh, rasanya tidak tega terus melakukan niat itu. Aku tidak mau dicap sebagai anak yang durhaka. Aku takut kualat sama beliau perempuan istimewa yang sudah mengandung dan membesarkanku selama 24 tahun.
Sebenarnya masalahnya tidak seberat ini, kalau aku masih sendiri. Sampai saat ini, detik ini, aku masih memiliki
hubungan dengan gadis pilihanku. Nima, adalah gadis mandiri yang siap menikah kapan saja. Sejauh ini yang kudengar dari Ibu, usia Nima tiga puluh tahun. Meski sudah tidak muda lagi, tapi wajahnya masih terlihat baby face. Masih tampak belia jika disandingkan dengan anak-anak kuliahan. Selain itu, Nima sudah mapan.
“Nima tidak memiliki cacat sedikitpun. Dia boleh dibilang wanita sempurna. Tapi kenapa aku
masih susah untuk menerimanya?”
Perdebatan kecil namun menyesakkan hati jelas dimenangkan oleh ibu. Aku sadar bahwa aku harus mencari
ridhonya. Ridho orang tua adalah ridho Allah, itulah kalimat penyejuk hati yang kusematkan setiap kali batin ini meronta.
***
Pagi hari, disaat matahari bersinar cerah dihalaman rumah, aku dikejutkan oleh tukang pos yang
datang untuk mengaratkan surat. Tukang pos itu meminta maaf karena surat itu sudah terlambat. Seharusnya kemarin sudah sampai ke tanganku.
Aku terhenyak saat kubuka surat itu di kamar. Isinya tentang panggilan mengajarku yang baru. Rasanya masih
tak percaya, menatap berkali-kali lembaran putih yang masih membentang diatas tangan. Rasanya seolah aku menemukan intan permata yang sangat berharga. Surat panggilan
mengajarku sudah menjadi penolong dari perjanjian sepihak ibu. Yah, dengan surat itu berarti tempo waktu yang
ditentukan beliau batal seketika. Sebab surat itu seharusnya sampai kemarin. Dan ini bukan salahku.
Ibu menatapku kecewa berbaur sedih saat kuberitahukan surat itu. Seolah apa yang diharapkannya sirna seketika.
“Jadi kamu akan, menerima panggilan itu dan meninggalkan ibu sendiri?”
Aku masih menduduk sambil meneteskan air mata. Perasaanku sedih bercampur rasa bersalah. Bagaimanapun juga, ibu tetaplah ibu. Tak pernah tergantikan. Tetapi kemantapan hati dalam diriku sulit dibinasakan dan itu bukan berarti aku kejam terhadap beliau.
“Maafkan aku, Bu. Ini masa depanku. Wasiat almarhum bapak, “ jelasku dengan nada sesak. “Tapi kalau ibu tidak berkenan, aku akan merobek surat ini dan tinggal bersama ibu. Asal jangan ibu lakukan satu hal, yaitu memaksakan aku menikah.”
Ibu menangis tersedu-sedu. Akan tetapi tidak berkata sepatah kata pun sampai beliau beranjak meninggalkanku.
****
*) Cinta akan tubuh seiring dengan kebiasaan bertemu