
Ervan mengabaikannya. Pria itu sebisa mungkin tidak menunjukan sisi tidak sukanya di depan pria bernama Bobby tersebut.
“Maaf untuk berlaku tidak sopan, tapi aku harus membawa wanita ini pergi sekarang” Ujar Ervan tanpa menunggu jawaban pria didepannya, dia melesat begitu saja dengan menarik tangan Nara secara paksa. Wanita itu bahkan belum mengucapkan permintaan maafnya pada Bobby. Atas sikap tidak sopan Ervan dan permintaan maafnya untuk tidak bisa memenuhi ajakannya.
Sementara pria bernama Bobby itu hanya mematung dengan ekspresi wajah yang sulit di tebak. Matanya mengekor dengan sendirinya mengikuti kedua orang itu.
“Apa-apaan kau ini, lepaskan!” protes Nara kesal.
“Tidak akan!”
“Ervan!!” Teriak Nara sekali lagi.
Nara tercekat saat tiba-tiba Ervan menghentikan langkah kakinya, otomatis posisinya yang di tarik-tarik oleh pria itu ikut berhenti. Ervan menoleh ke arahnya dengan memberi tatapan yang cukup terlihat menakutkan.
“A-Apa?”
“Sejak kapan kau memanggilku seperti itu?”
“Seperti apa?”
Tanpa memberi tanggapan, Ervan kembali menarik Nara memasuki lift. Didalam lift tidak hanya ada mereka berdua, tangan itu masih tetap menjerat manis di pergelangan tangan Nara. Sedikit malu karena orang-orang didalam sana memperhatikan mereka, terlebih karena Nara adalah putri dari pemilik hotel itu, ini adalah hadiah yang diberikan nara pada ayahnya, dengan dibantu oleh alva dan adelia sebagai investor di hotel itu, jangan tanya hanya dalam 2 tahun hotel itu kenapa bisa menjadi besar dan terkenal, karena merupakan anak perusahaan yang berada di bawah nama alva. Dengan begitu nara yang miskin sudah tidak ada lagi berganti dengan nara si anak pemilik hotel.
Setelah sampai di lantai 31, Ervan kembali menarik Nara melewati koridor hotel. Bingung sebenarnya dia mau di bawa kemana? Seingatnya ini lantai di mana ruangan ayah Nara berada.
“Hei! sebentar. Sebenarnya kita mau kemana? Bagaimana dengan makan siang?”
“Lupakan makan siang.”
“Apa?” Ah gila, sebenarnya apa mau laki-laki ini. Jalan pikirannya berbelok-belok dan sulit diikuti.
“Kak Ervan? kau kah itu?”
Suara seseorang berhasil membuat gerakan pria itu berhenti. Tentu saja, setidaknya dia lebih peka saat ada yang memanggil namanya, terlebih seorang wanita.
Wanita yang tidak sengaja berpas-pasan dengan mereka itu terlihat menunjukan raut wajah gembira. Sepertinya bertemu dengan pria itu bagai bertemu dengan seorang idol pujaannya. Berbeda dengan pria disampingnya yang justru menampakan wajah menebak-nebak.
“Rina, Meihasrina. Kau ingat aku kan?”
“Ah, kau? meihasrina, putri dari keluarga pemilik perusahaan agency.” Tebak ervan asal.
“Tidak”
“Tidak?”
Nara ingin meledak saat itu juga. Rasanya dia ingin tertawa sekeras mungkin, tapi wanita itu menahannya, menggigit bibirnya dengan gemas dengan kepala yang menunduk. Kedua orang di hadapannya tampak terlihat konyol. Bagaimana bisa Ervan melakukan kesalahan terhadap wanita cantik di depannya. Pasti sangat memalukan sekali, berpura-pura ingat padahal dia tidak tahu.
Jika tebakannya tidak meleset, wanita ini pasti pernah menjadi salah satu korban permainan Ervan. Pria ini benar-benar mengagumkan.
“Kau melupakanku? padahal kita pernah berkecan.” Wanita itu tak menyembunyikan raut wajah kecewanya.
“Benarkah?”
“Aku kehilangan nomer contact-mu, boleh aku memintanya lagi kak?”
“Tentu saja.”
Mulai muak dengan pembicaraan tidak penting kedua orang itu, Nara mulai memikirkan beberapa cara agar dia bisa terlepas. Lagian apa gadis itu gila, bagaimana bisa dia terus mengajak Ervan berbicara tanpa menghiraukan kehadiran wanita di samping pria ini. Dia buta atau bagaimana? Benar-benar pasangan serasi. Mereka menyebalkan. Matanya mendelik tidak suka menatap kedua orang itu. Tidak lebih dari satu menit, tiba-tiba saja bibirnya tertarik menghasilkan sebuah senyuman.
“Aww!!!” ringis ervan.
Nara yang berhasil lepas dari jeratan tangan Ervan tidak melepaskan kesempatannya untuk segera pergi dari sana, menghiraukan teriakan pria itu.
“Nara! Kau?!” Tanpa mempedulikan reaksi gadis yang di sebut Meihasrina itu, Ervan pergi begitu saja dari sana, meninggalkan gadis yang nampaknya mengeluarkan raut wajah tak percaya. Gadis itu baru saja dicampakan.
Mengejar gadis yang menggigit tangannya hingga meninggalkan bekas sepertinya jauh lebih penting di bandingakan dengan wanita yang memiliki tubuh sangat sexy tersebut.
“Nara berhenti!!” Ervan mengejar Nara tanpa berlari. Lagi pula gadis itu juga tidak melakukannya, Nara hanya berjalan lebih cepat dengan langkah yang lebih lebar. “Nara! aku bilang berhenti!!”
Mau tidak mau Nara menghentikan langkahnya. Suara pria itu terlalu mengganggu, akan berefek tidak baik jika orang-orang pengunjung hotel ini terganggu oleh suara itu.
“Kau? kemari?” Ervan yang ikut berhenti tepat di dijarak lima langkah dari Nara hanya berdiri di sana. Menatap tajam wanita yang sudah membalikan tubuhnya menatap dirinya juga.
Karena malas berdebat, Nara akhirnya mengalah dan mencoba mendekati pria itu, memenuhi keinganan Ervan. Memangnya kapan dia bisa menolak pria itu.
“Tunggu sebentar, diam di sana”.
Nara berhenti saat pria itu menyuruhnya berhenti. Dia baru saja bergerak satu langkah. Astaga, pria itu mempermainkanku. Nara berdecak frustasi membuang wajahnya dari hadapan pria itu tidak lebih dari lima detik. “Sebenarnya kau sedang apa?”
“Diam dan tetap berdiri di sana.” Ervan kembali memerintah.
Pria itu bergerak dengan pasti mendekati Nara yang berdiri di depannya. Entah bagaimana bisa, gerakan pria itu terlihat sangat mempesona dimata Nara. Astaga, dasar gadis bodoh. Nara merutuk hingga pria itu sampai di hadapannya. Mata keduanya bertemu, beradu dalam diam.
“Mulai sekarang, aku yang akan berjalan menghampirimu. Kau hanya perlu menungguku” ujar Ervan.
‘Astaga apa yang pria ini katakan? Apa sekarang dia sedang membual? menggodaku? Terkutuk kau Ervan, kenapa kau suka sekali mempermainkan perasaanku’ umpat Nara dalam hatinya.
“Aku tidak sedang membual Nara.”
Nara tidak menyembunyikan keterkejutannya saat kalimat itu sukses membuat matanya melebar meskipun gagal. “Kau membaca pikiranku?”
“Hanya melihat ekspresimu saja aku sudah dapat menebak apa yang sedang kau pikirkan di sana.”
Bola mata Ervan bergerak mengarah pada kepala Nara, mungkin lebih tepatnya untuk menunjuk isi kepala gadis itu.
“Aku tidak akan tertipu lagi. Berhenti mempermainkanku.” Nara menatap tajam iris mata pria di depannya, menunjukan keseriusannya saat berbicara. Kali ini, dia tidak main-main dengan ucapannya. Mungkin memang seharusnya dia menyerah pada pria ini. “Aku akan berhenti kak. Mulai sekarang, aku akan berhenti mencintaimu.”
Ekspresi wajah tenangnya berhasil menyembunyikan keterkejutan pria itu. Bagaimanpun, ucapan itu menusuk cukup dalam. Ervan tidak bisa menyangkal perasaan kecewanya. Gadis yang selama ini selalu berjuang mendapatkan hatinya kini memilih untuk menyerah. Menyerah disaat dia sendiri sadar dengan perasaannya terhadap gadis itu.
Nara yang tidak mendapatkan respon apapun akhirnya memilih untuk berbalik, rasanya sangat aneh mendapatkan keadaan seperti ini dengan pria itu. Biasanya suasana diatara mereka begitu sangat ramai penuh perdebatan yang tidak penting.
Bukankan pria itu selalu mengganggap semuanya seperti lelucon.
Nara yang awalnya hanya diam membelakangi pria itu akhirnya memilih untuk melangkah. Kenapa rasanya lebih sakit dibandingan dengan melihat pria itu menggoda gadis-gadis lain. Apa karena mulai saat ini dia harus terbiasa untuk menjauh dan menjaga jarak dengan pria itu. Dadanya begitu terasa sesak yang akhirnya mendorong air matanya untuk keluar.
“Berhenti disana Nara!!” teriak Ervan sekali lagi.
...🎸🎸🎸🎸🎸...