Trapped in Love

Trapped in Love
84. I Love You



Hampir dua puluh menit Alva bertahan di sana. Disamping wanita yang masih memejamkan matanya. Garis hitam disekitar bawah mata Adelia membuktikan jika wanita ini mengalami beberapa waktu yang buruk. Menangis dan tidak memiliki istirahat yang cukup, dan sudah dapat dipastikan siapa penyebab dari itu semua. Itu kau Alva.


Sejak awal membuka mata Alva memang tak berniat membangunkan Adelia. Semalaman wanita ini menangis dalam pelukannya, mereka terdiam dalam waktu lama hingga Adelia terlelap begitu saja dalam pelukan Alva. Tidak ada percakapan apapun semalam setelah ucapan ‘maaf-nya.’


‘Kau memang bodoh Alva. Kau pengecut’ Pria itu merutuk dirinya dalam diam, dalam sorot mata yang tak lepas dari paras letih wajah istrinya yang tertidur.


Waktu yang tidak pernah letih berhenti itu berlahan membawa kesadaran Adelia kembali dari dunia mimpi. Mata wanita itu terlihat mengerjab kecil, berulang kali, mencoba menyesuaikan retina matanya dengan sinar matahari. Dalam kesadaran yang belum sepenuhnya utuh, Adelia menangkap satu bayangan seseorang ada dihadapannya. Alva, pria itu tersenyum kecil menyambut paginya.


“Kau bangun?” tanya alva dengan lembut.


“Al?” tanpa sadar adelia bergumam nama alva, mungkin karena suara alva yang membuat adelia hanyut.


Tangan Alva yang awalnya bertumpu untuk kepalanya sendiri merosot turun, satu tangannya menarik tubuh Adelia dan membiarkan kepala wanita itu bersandar pada lengannya, satu tangannya yang lain melingkar di sekitar tubuh Adelia. Mendekap wanita itu begitu erat. Mata Alva terpejam menghirup aroma bayi dari tubuh istrinya, merekam sebanyak mungkin kebersamaanya dengan wanita ini. Menciumnya beberapa kali tepat diatas pucuk kepala Adelia.


Kebahagian yang bahkan tak pernah berani dia bayangkan itu terjadi lagi padanya saat ini. Dalam pelukan pria ini, dalam sentuhan bibirnya yang begitu lembut. Adelia semakin takut sekarang. Takut nantinya semua kebahagian itu menghilang.


“I love you adelia” ucap alva.


Kecupan terakhir Alva menjadi satu dalam kalimat itu. Mata keduanya terpejam. Adelia harus dengan rela membiarkan air matanya jatuh membasahi pipi saat matanya terpejam meredakan rasa bahagianya.


Apa dia bermimpi? Jika benar, Adelia tidak mau terbangun bahkan sampai kapanpun. Biarkan saja kebahagiannya hanya berada dalam mimpi.


Beberapa menit, tubuhnya tertarik sedikit menjauh. Adelia tetap menutup matanya rapat, mempertahankan mimpinya. Dia tidak mau terbangun dan membiarkan kebahagiannya berakhir. Biarkan dia menikmati semua itu lebih lama, tapi sentuhan pria itu di pipinya mengundang mata Adelia untuk terbuka. Adelia bisa melihat wajah suaminya berada dalam radius jarak yang begitu dekat, bibir Alva masih tersenyum sama seperti saat pertama kali dia membuka mata. Waktu tersenyum pria itu begitu panjang dari biasanya. Meskipun hanya senyuman kecil, tapi itu cukup membuat jantungnya berdesir hebat.


“Katakan sesuatu” suara alva yang berbicara padanya, seperti mengharuskan dia untuk sadar, apa ini mimpi atau nyata, kalau mimpi adelia tidak ingin terbangun dari mimpi indahnya.


“Kenapa dalam mimpi seseorang terlihat begitu nyata” Adelia bergumam lirih bersama lukisan senyum di wajahnya.


Tangannya bergerak kecil menyentuh seluruh bagian wajah Alva. Bibir pria itu tertarik lebih lebar, lekukan yang menurut Adelia sendiri sangat tidak menyenangkan untuk dilihat. Apa pria ini sedang mengejek mimpinya.


“Kau bodoh?” ledek alva.


“apa?” Adelia terhentak polos. Mata dan mulutnya terbuka. “Aww!”


“Sakit?” tanya alva dengan senyum menggoda.


“Al! kenapa mencubit ku!”


“Hanya memberitahu jika ini bukan mimpi.” Alva tidak hanya tersenyum. Sesuatu yang sangat jarang sekali terjadi itu kini terlihat begitu nyata. Alva tertawa. Pria itu bahkan tersenyum licik dan tidak meringis saat Adelia memukulnya dengan sangat keras. Alva justru malah semakin menggoda istrinya dengan menggelitik tubuh Adelia. Menindih tubuh mungil istrinya, memenjarakannya dalam dekapan pria itu.


“Al~ itu geli bodoh! Ahh.. Alva, berhenti…” teriak adelia sambil tertawa keras karena ulah sang suami.


“Alva~ geli!!” teriak adelia lagi disertai tawa lepas. Wanita itu sudah bisa tertawa lepas, karena ternyata itu bukanlah mimpinya.


...🎤🎤🎤🎤🎤...


Akan selalu ada pelangi setelah hujan, akan ada awan cerah setelah mendung. Kehidupan sama persis seperti itu. Akan ada saatnya bahagia itu tiba setelah melewati penderitaan.


Siang itu di hari yang sama, adelia dan Alva masih di apartemen mereka, keduanya memang sengaja tidak pergi kerja apa lagi karena adelia masih belum boleh kerja terlalu berat, dan alva juga ingin menjaga adelia.


“Persiapkan dengan baik. Aku akan segera kesana.”


Kalimat itu menjadi akhir dari sambungan teleponnya yang terhubung beberapa menit. Buru-buru Alva meletakan ponselnya asal saat satu bayangan wanita melesat keluar dari kamar mereka. Rambut Adelia yang masih terlihat basah memperjelas jika wanita itu baru menyelesaikan mandinya.


Harusnya mandi di pagi hari saat dia bangun, tapi berkat ulah Alva, Adelia harus sampai rela berperang di atas ranjang terlebih dahulu dengan pria itu. Menghabiskan waktu paginya hingga siang menjelang untuk bercinta.


“Aku mendengar kau berbicara dengan seseorang” ujar adelia sambil duduk dan bersandar pada suaminya.


“Hanya menghubungi pelayan di rumah” Alva menimpali dengan cepat. Pria itu bisa merasakan aroma bayi kembali menyeruak saat istrinya duduk disamping tubuhnya sendiri. “Kau lapar?”


“Tentu saja. Tidak ingat jika kau sudah menguras tenagaku didalam sana tuan?” Jawaban ambigu Adelia menghasilkan senyuman kecil penuh pesona di wajah Alva. Arah tangan wanita itu memperjelas pernyataannya. Ke arah kamar, dimana mereka menghabiskan waktu di sana hingga beberapa jam diatas ranjang.


“Aku membuat nasi goreng seafood kesukaanmu” ujar alva sambil mengelus kepala adelia dan memberikan kecupan pada kening serta pipi adelia.


“benarkah? Kalau begitu cepatlah” seru adelia bersemangat.


Tanpa repot-repot menunggu pria itu kembali berbicara, Adelia bertindak lebih dulu menarik tangan Alva menuju ruang makan meninggalkan ruang tengah. Kebahagian itu terlihat semakin jelas. Acara makan siang mereka terjadi dengan hangat mengalahkan cuaca dingin akibat hujan seharian.


“Aku akan pergi keluar sebentar.” Alva membuka mulutnya saat nasi goreng diatas piring tangkas tanpa sisa. Dia menatap lekat wanita didepannya. Lebih dari sekedar menanti jawaban, Alva memuja wajah itu.


“kemana?” tanya adelia penasaran.


“Menemui seseorang” balas alva, sebenarnya dia berniat untuk memberikan kejutan pada adelia.


Adelia hanya mengangguk paham. Jika Alva hanya berbicara seperti itu, itu artinya dia tidak perlu banyak tahu mengenai siapa dan dimana. Pria di depannya hanya tersenyum menangapi reaksi wanitanya, dia tau adelia penasaran namun dia tidak berani bertanya. ‘tenang sayang, aku akan membuat kejutan untukmu’ ucap alva dalam hati.


“Jangan pergi kemanapun tanpa sepengetahuanku” ujar alva tegas tidak terbantahkan.


“Iya aku mengerti” angguk adelia cepat.


...🩰🩰🩰🩰🩰...