Trapped in Love

Trapped in Love
25. Pagi yang tegang



“bagaimana bisa?” tanya adelia.


“tentu saja bisa, siapa yang mengantarkan koper kita?” balas alva, pria itu menarik koper miliknya dan mendekat ke arah adelia dan mulai membuka koper miliknya.


“mama” jawab adelia spontan.


“Benar, kedua mama kita yang menggantinya dan lihat” alva membentangkan kopernya dan terlihatlah beberapa obat kuat yang diselipkan oleh mamanya.


Wajah adelia langsung memerah membaca obat obat yang dia lihat, “mama yang punya kerja? Hahahha untung saja lingerie ini tidak berpengaruh padamu hahaha mama ada ada aja” adelia kembali menutup koper miliknya dan tertawa keras berjalan menuju kamar mandi dengan membawa salah satu lingerie untuk dia gunakan.


“siapa bilang tidak berpengaruh” gumam alva pelan, dan adelia tidak akan mungkin mendengar ucapan alva barusan. ‘apa aku harus bergadang lagi malam ini?’ batin alva.


.


Alva tersenyum menatap Adelia yang sudah tertidur di sebelahnya, pria itu kini mendekati adelia sedikit menoel pipi adelia untuk memastikan apakah adelia sudah tertidur atau tidak.


“kau selalu membuatku gila adel” gumam alva sambil menempelkan bibirnya pada bibir adelia, Sejak tadi alva terus menahan diri untuk tidak menerkam istrinya, sekarang saat gadis itu tertidur alva baru melancarkan aksinya.


Menambah bekas kissmark yang tidak disadari oleh adelia semalam dan mulai kelepasan kembali. Setelah itu dia menjauhkan diri dari adelia sambil memegangi jantungnya yang berdetak kencang.


“aku kenapa sih? Apa lama tidak menyentuh wanita aku menjadi begini? Saat pulang dari bulan madu aku harus mencoba berdekatan dengan wanita bar” gumam Alva pelan.


Pria itu tidur sambil menatap wajah adelia yang masih nyenyak, alva mendekat ke arah adelia dan itu membuat adelia langsung masuk ke dalam pelukannya dan wanita itu memeluk alva dengan erat, mengingat tidak ada bantal guling, adelia kembali menjadikan alva sebagai bantal guling.


“Aku ingin tau bagaimana reaksinya saat bangun” alva mengabaikan adik kecilnya yang bangun, dia terus berusaha memejamkan mata sambil menghitung domba di dalam kepalanya, berharap cara itu mampu membuat dirinya tertidur.


.


Pagi harinya, mata adelia perlahan terbuka, gadis itu hampir memekik keras karena saat ini dia sedang memeluk tubuh alva.


Adelia dengan cepat menutup mulutnya sendiri, “apa aku tidur memeluknya?” ucap adelia pelan, dengan perlahan dia mencoba menarik kaki dan tangannya yang memeluk alva.


Tubuh adelia langsung menegang begitu merasakan benda pusaka alva yang menegang, sebenarnya alva sudah lebih dulu bangun tetapi pria itu masih memejamkan mata berpura pura tidur.


“a-apa itu?” adelia melihat ke arah kakinya yang tertutup selimut. Dia langsung menggigit bibir bawahnya karena tau apa yang tidak sengaja menyentuh kakinya. “apa pria tidak normal bisa bangun itu nya pagi pagi?” gumam adelia pelan. Gadis itu kembali bergerak sepelan mungkin agar tidak membangunkan alva. Padahal jelas alva sudah terbangun.


“wuuaaahhhh, dia masih tidurkan?” gumam adelia pelan sambil mendekatkan wajahnya pada wajah alva. “syukurlah dia masih tidur, apa jadinya kalau dia bangun” keluh adelia, “ini tangan dan kaki kenapa gerak sendiri memeluk suamimu sih! Nanti dia alergi kalau tau kamu sentuh” omel adelia sambil memukuli tangan dan kakinya yang tadi memeluk alva.


Seperti pencuri adelia berjalan pelan menuju kamar mandi, secepat kilat gadis itu bersiap siap.


“astaga!” pekik adelia kencang saat dia membuka pintu kamar mandi alva sudah duduk di kasur sambil membaca buku di tangannya. Untung saja gadis itu sudah memakai baju lengkap apa jadinya jika dia hanya mengenakan handuk, bisa bisa handuknya melorot. “kenapa kau selalu mengejutkanku alva!” pekik adelia.


Alva tidak menjawab hanya berjalan melewati adelia untuk masuk ke dalam kamar mandi.


Adelia segera mempersiapkan sarapan untuk mereka berdua, kebetulan di sana ada roti dan juga kopi, jadi dia bisa mempersiapkan dengan cepat.


‘Ceklek’


“al_” adelia segera menghentikan ucapannya dan gadis itu memalingkan wajahnya dari alva. Saat ini alva keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk untuk menutupi bagian bawahnya sedangkan bagian atasnya tidak menggunakan apapun. “alva! Kalau keluar kamar mandi itu pakai baju yang lengkap!”


Alva tersenyum sambil mengambil bajunya, hanya dalam waktu singkat pria itu keluar dari kamar mandi dan segera duduk di dekat adelia.


“kenapa? Kamu tertarik padaku?” goda alva.


“Kamu bukan wanita murahan kan? Mau dengan pria manapun” goda alva lagi. Alva ingin membalas adelia yang berkali kali membuat pria itu hilang akal.


“maksud aku, bukan seperti itu, kamu tidak malu dilihat oleh orang lain?! Apa jadinya kalau orang lain yang lihat?!” bela adelia.


“sudah jangan banyak protes, cepat habiskan makananmu dan kita segera pergi” sela alva.


Adelia mendengus kesal, “al boleh aku tanya, aku saaangggat penasaran ini”.


“hmm?”


“apa pria tidak normal kalau pagi itunya masih berfungsi ya?”


“huk huk huk huk” alva langsung terbatuk batuk mendengar pertanyaan adelia, apalagi adelia menunjuk ke arah adik kecilnya yang sudah di jinakkan dalam kamar mandi. “pertanyaan pribadi, ingat peraturan kita” peringat alva masih terbatuk batuk.


“maaf aku cuma penasaran, kalau saat pagi itu mu menegang apa masih menegang kalau digunakan untuk menyoblos wanita?” tanya adelia sekali lagi.


“huk huk huk huk” alva kembali terbatuk keras hingga matanya memerah karena mulai tersedak kopi yang dia minum, “apa maksud pertanyaanmu?” tanya balik alva.


“Itu” adelia menggaruk lehernya sambil tersenyum kaku, “apa kamu sudah pernah mencoba tidur dengan wanita saat pagi hari? Di saat itu mu bangun?” tanya adelia sambil nyengir lebar.


“belum pernah, kamu mau mencobanya?” tantang alva tiba tiba.


“apa?! Mencoba denganku, kenapa harus aku?”


“Kamu istriku”


“kamu masih memiliki Ervan, aku takut dibunuh ervan, pria itu badannya lebih besar dariku” adelia cepat cepat menggeleng, dia bergidik ngeri membayangkan Ervan marah padanya.


“kenapa ervan harus marah?” tanya alva santai.


“Alva! Ervan itu kekasihmu, tentu saja dia marah, ahhh apa kalian pernah melakukan itu?” tanya adelia lagi.


“melakukan apa?”


“itu..” adelia menempelkan kedua telapak tangannya, “itu loh hubungan badan” kali ini gadis itu tersenyum lebar.


‘Tak’ alva memukul kening adelia dengan kuat dan segera tegak dari kursinya, berjalan menuju koper mereka.


“jangan berpikir aneh, mana mungkin aku melakukannya” jawab alva tegas, lalu berjalan mengambil kopernya dan juga koper adelia.


Adelia berjalan mengikuti alva, “jadi kenapa kamu menyukai Ervan? Itu membuatku semakin penasaran” desak adelia.


“Ingat peraturan” peringat alva.


“hah~ baiklah, susah benar berteman denganmu” gerutu adelia.


Alva mengulum senyum melihat adelia yang cemberut sambil berjalan mengikutinya.


...🪕🪕🪕🪕🪕...