Trapped in Love

Trapped in Love
67. Pemakaman



“wow, hebat! Sejak kapan seorang alva begitu peduli pada seorang wanita?” ledek Ervan, dia memang sengaja memancing kemarahan Alva dan adelia, ingin melihat seberapa dekat hubungan mereka berdua.


“Kak~ sudahlah, kakak juga bukan anak kecil lagi” dengan lembut Nara menghalangi ervan yang berniat melakukan penyerangan terhadap istri sahabatnya. Tangan Nara bahkan tidak melepaskan pergelangan tangan ervan meskipun pria itu sudah kembali tenang.


“lepaskan tanganmu nara!” Adelia memerintah dengan suara kencang. Sengaja atau tidak, dia lagi lagi berhasil mengundang ervan untuk kembali mencari gara gara padanya. Tangan adelia yang menarik tangan Nara terlepas akibat di pukul pukul Ervan dengan tidak sabaran agar dia menjauh dari Nara.


“Sudahlah, biarkan saja” Alva ikut bergabung, pria itu menarik tangan istrinya yang tidak mau melepaskan tangan Nara dari Ervan, sedangkan Nara sediri justru semakin mengeratkan pegangannya di tangan ervan. Lalu ervan kembali dengan kenakalannya dengan memukul mukul tangan adelia lagi, alva yang tidak terima akhirnya ikut membalas memukul tangan Ervan.


Jelas pukulan Ervan dan Alva berbeda jauh. Jika Ervan hanya memukul mukul kecil, alva justru memukul tangan ervan dengan begitu keras hingga membuat pria itu reflek menjauhkan tangannya sendiri dari kekacauan itu, ia melepaskan genggaman tangan Nara yang sejak tadi dia pertahankan.


“Arrggghh! Alva gila! Kau memukulku terlalu keras, akhhh… ini sakit sekali” rintih ervan kesakitan.


Dan akhirnya tangan tangan itu terlepas dengan sendirinya, Nara dengan cemas meraih tangan Ervan yang dipukul oleh Alva. Sedangkan adelia dan Alva menatap bodoh kesana, kearah dua pasangan baru yang sedang menunjukkan kemesraan mereka, yang pria berpura pura kesakitan sedangkan wanita sedang mengusap usap lembut sambil meniup niup ke arah tangan Ervan yang sakit.


“aggrrhhh..” rintih Ervan lagi saat Nara sedikit memberikan pijatan pada tangannya.


“maaf kak” dengan lembut nara meniup niup tangan Ervan yang kembali meringis kesakitan. Menyampaikan kekhawatirannya melalui raut wajah gadis itu sendiri yang terlihat cemas.


“al~ apa kau benar benar memukulnya dengan sangat keras?” tanya adelia dengan suara pelan.


“entahlah, aku tidak terlalu yakin akan hal itu” balas alva ragu.


Mereka tidak tau saja itu adalah cara ervan untuk mengerjai Nara sekaligus membuat Adelia diam tidak mengganggunya lagi.


...🩰🩰🩰🩰🩰...


Pagi hari di hari minggu, alva sudah ada di sebuah pemakaman yang sangat besar, di mana menjadi tempat peristirahatan wanita yang pernah dia cintai. Pria itu Sudah minta izin dari Adelia, mengatakan kalau ada sedikit urusan, dan dia akan pulang secepatnya.


“Hai dek, kamu kangen kakak gak? Kenapa kamu pergi begitu cepat dek, pria itu bahkan sudah melupakanmu, dan mendapatkan wanita lain, kenapa kamu harus melindunginya dek” lirih Jeremy, mungkin pria itu sengaja berbicara seperti itu agar alva yang berada dibelakangnya sadar diri karena hidup pria itu ada karena adiknya, kalau tidak ada lana mungkin dia sudah mati dan tidak ada di sana bersama mereka lagi atau mungkin mereka yang akan mengunjungi alva di pemakaman.


“Hai lana! Lama tidak bertemu, biarkan saja alva bahagia ya, kamu kan sudah tenang di alam sana, urusanmu di dunia ini sudah selesai, berbeda dengan alva yang masih hidup, dia tidak bisa selamanya bersedih dengan kematianmu, jadi biarkan alva bahagia dengan pilihannya sekarang ya, aku janji akan sering sering mengunjungimu sebagai gantinya” sela Ervan, dia sengaja mengatakan itu agar Jeremy sadar kalau sudah cukup alva tidak bahagia.


Jeremy dan Luna sama sama mengepalkan tangannya geram, “Al, minta maaf pada lana, kau sudah menyakitinya”.


“maafkan aku” ucap alva singkat. ‘maaf aku tidak bisa melindungi mu, aku akan membiarkan kau mengejar ku begitu aku mati, tapi saat ini aku tidak bisa kehilangan orang yang ada di sisiku’ ucap alva dalam hati.


“hanya itu? Kak alva tidak merasa bersalah dengan apa yang kakak lakukan pada lana?” pekik Luna.


.


Mereka berempat sudah berjalan menuju mobil mereka masing masing dalam keadaan diam. Alva lebih dulu mendekati Jeremy untuk menghentikan pria itu yang hendak membuka pintu mobilnya.


“jangan menghubungi adelia” ucap alva dingin.


“apa maksudmu? Siapa adelia?” protes Jeremy yang dituduh tiba tiba oleh Alva.


“jangan pura pura tidak tau, aku tau semalam kau menghubungi adelia, apa yang mau kau bicarakan padanya?” tanya alva dingin.


“Aku benar benar tidak tau apa maksudmu!” pekik Jeremy.


“Aku yang menghubungi adelia menggunakan ponsel kakakku” sela Luna.


Alva melepaskan cengkraman tangannya dari Jeremy dan menatap luna dengan dingin. “kenapa kau menghubunginya”.


“Dia kan desainer dan aku adalah model, aku ingin memesan dress darinya, makanya aku menghubungi dia” jelas Luna berpura pura tidak merasa bersalah.


“Masih banyak desainer lain kenapa harus istriku? Mau membuatku dan adelia bercerai” tanya alva dingin.


“tolong professional kak! Aku ini adalah model, apa salahnya aku menghubungi seorang desainer yang sedang naik daun! Aku mendengar kabar bahwa dress dress yang dia buat itu bagus bagus, apa salahnya aku mencoba untuk mengenalnya siapa tau dia mau menunjukkan keahliannya padaku” seru Luna kesal.


Alva masih menatap sinis luna, “jangan cari istriku, cari saja desainer lain” ujar alva dingin lalu berbalik badan menuju mobilnya dan ervan.


“Kenapa? Kakak takut aku berbicara tentang Lana pada istri kakak? Apa yang akan wanita itu lakukan kalau aku mengatakan dia hanyalah pelarian bagi kak alva, dan dia hanya dibodoh bodohi oleh kakak agar bisa menutupi rumor buruk tentang kak alva?!” teriak Luna kencang, dia sengaja memancing emosi alva agar dia tau apa kelemahan Alva.


Alva menghentikan langkahnya dan berbalik badan menatap Luna dingin. “kenapa aku harus takut, justru kamu yang harus takut, karir mu akan hancur jika berani mengganggu istriku” ancam alva. Setelah itu dia berbalik dan masuk ke dalam mobil.


Luna tau alva bersungguh sungguh dengan ucapannya, dia tau dia tidak akan bisa mendekati wanita yang sudah menjadi istri alva, mengenal alva sejak lama membuat wanita itu hapal dengan ancaman yang keluar dari mulut alva akan selalu di laksanakan pria itu. Luna masih ingin berkarir, dia tidak mau karirnya hancur.


“sial” umpat luna saat mobil alva sudah benar benar hilang.


“tenang luna, aku tau bagaimana cara menjauhkan wanita itu dari alva” ujar Jeremy.


...🧩🧩🧩🧩🧩...