
Adelia tampak bosan menunggu alva di taman itu tapi entah kenapa alva tidak juga datang, akhirnya adelia tegak dari kursinya, dia sedikit terkejut begitu melihat kea rah belakang, sudah ada beberapa tanda tanda penunjuk arah seperti menyuruh adelia untuk berjalan menyusuri arah itu. Para pelayan sudah tampak tidak ada, rumah itu tampak kosong seperti berbeda dari yang awal tadi.
Adelia berjalan perlahan mengikuti tanda panah itu, dirinya tertegun saat melihat siluet suaminya sedang duduk di sebuah kursi dan di hadapannya ada kursi seperti mempersilahkan dia untuk duduk.
“Selamat datang di konser kecil alva” ujar ala begitu adelia sudah duduk di hadapannya, adelia melihat alva mulai memetik gitar ditangannya. “Apa kau ingin mendengarkan laguku?” tanya alva lagi.
Adelia tidak dapat berkata apapun dia hanya mengangguk pelan sambil berusaha air menahan air matanya untuk meluncur bebas.
“Baiklah silahkan nikmati pertunjukkannya nona” alva mulai bernyanyi dengan sangat merdu, dia menyanyi lagu You are the reason by calum scott, suara pria itu sangat merdu hingga membuat adelia menutup mulutnya tidak percaya. Adelia bahkan seperti sulit membuka mulutnya hanya untuk sekedar memberi komentar dan berbagai macam pujian untuk pria di depannya. Adelia hanya bisa menangis haru hingga lagu itu selesai dinyanyikan oleh alva.
Wanita mana yang tidak merasa bahagia jika mendapatkan jenis keadaan seperti ini. Terlebih dengan orang yang di cintainya.
Air mata yang alva selalu berikan untuknya karena rasa sakit seperti terbayar dengan perasaan bahagianya hari ini. Adelia bahkan rela jika harus menangis di setengah hidupnya demi mendapatkan kebahagian ini bersama Alva . Demi kebersamaannya dengan pria itu.
“Nona kenapa anda menangis?” tanya alva setelah menyelesaikan nyanyiannya.
Adelia menggelengkan kepalanya sambil terus tersenyum pada alva.
Alva meletakkan gitar ditangannya, pria itu merentangkan tangannya lebar lebar, “Kemari lah sayang” dalam hitungan detik adelia langsung mengikuti perintah alva, dirinya sudah masuk kedalam pelukan alva. Pria itu tersenyum senang sambil mengeratkan pelukannya. “I love you adelia” bisik alva tepat ditelinga adelia, ciuman kecil hingga sapuan halus pada wajah adelia terus diberikan alva untuk istrinya membuat wanita itu semakin merasa bahagia.
Bisikan sayang dari suaminya semakin membuat air mata adelia meluncur keluar, “I love you too alva” ucap adelia, akhirnya bibir itu mengeluarkan juga untaian kata yang selama ini alva tunggu tunggu.
“kenapa menangis sayang?” tanya alva sambil berusaha menghapus air mata adelia dengan tangannya.
“Aku terlalu bahagia” ucap adelia disela isakkannya.
.
Cukup lama adelia menangis dalam pelukan alva, mata wanita itu bahkan sampai bengkak akibat perbuatan alva yang memberikannya kejutan seperti ini.
“aku gak tau kamu bisa memainkan gitar dan bernyanyi” ujar adelia dengan matanya sudah bengkak habis menangis.
Alva tersenyum merasa lucu melihat wajah istrinya yang terlihat menggemaskan, “Apapun bisa aku lakukan untukmu sayang” balas alva.
Adelia mendengus kesal, sejak saling menyatakan perasaan pria itu lebih sering menggombal. Tapi tidak dipungkiri adelia senang dengan perubahan itu, dia malah ingin berteriak pada dunia bahwa suaminya adalah suami terromantis sedunia. Alva menarik tangan adelia menuju tempat kejutan adelia yang kedua, pria itu mengeluarkan kotak hadiah kecil yang ternyata isinya adalah Sebuah liontin.
“Apa ini?” tanya adelia bingung.
“Sesuatu yang memang seharusnya kau miliki” balas alva.
Adelia beralih lagi setelah tadi menatap penuh tanya pada alva, tangannya kembali menyentuh benda kecil yang menjadi liontin kalung pemberian suaminya. Liontin berbentuk sebuah kunci dengan hiasan titik-titik berlian disekitarnya.
“Itu adalah kunci pembuka hatiku, yang selama ini aku simpan dan tidak aku berikan pada siapapun, dan sekarang aku sepenuhnya menyerahkan hatiku padamu, terserah akan kamu lakukan apapun pada hatiku_” alva menjeda ucapannya mengambil tangan adelia dan menempatkan di dadanya, “tempat ini hanya kamu yang miliki sekarang tidak ada orang lain dan tidak akan pernah aku buka lagi untuk siapapun, hanya kamu seorang yang boleh memasukinya”.
“Aku harap si pemilik kunci tidak akan pernah meninggalkan tempatnya” sambung alva lagi.
“Aku tidak akan pergi” Adelia membalas cepat pernyataan alva padanya. “Apa tidak seharusnya saja aku membuang kunci ini? dengan begitu, tidak akan ada yang membuka tempat itu. Tidak akan ada yang keluar dan tidak akan ada orang lain yang memasukinya” tambah adelia.
“Aku juga berpikir seperti itu akan jauh lebih baik” angguk alva.
Keduanya tersenyum dan membiarkan tubuh mereka sedikit bergetar karena tawa. Setelahnya Alva kembali menarik adelia kedalam pelukannya, tangannya bergerak lembut di atas permukaan rambut istrinya. “Maaf untuk semua rasa sakit yang aku berikan, untuk kesalahan dan kebodohanku, maukah kau memaafkan ku sayang?”
“Aku sudah melupakannya. Maafkan aku juga yang terlalu egois, aku tidak akan memintamu lagi untuk melakukannya” balas adelia.
“Tidak, kau berhak melakukannya, dan aku akan melakukannya untukmu” ujar alva cepat.
“al~ aku_”
Alva semakin mengeratkan pelukannya pada adelia, sedikit memberi jarak agar matanya dapat melihat wajah itu. Matanya menelusur lembut wajah adelia sama seperti tangannya. “Terima kasih untuk hadir dalam kehidupanku” potong alva.
Adelia tidak mampu membuka mulutnya, senyumannya menjadi jawaban atas pernyataan alva, air matanya kembali jatuh. Kebahagian yang dia dapat seperti sudah melebihi ambang batas.
“Dan terima kasih untuk hadiah yang kau berikan.” Tangan Alva terulur menyentuh perut rata adelia, Didalam sana, ada dua malaikat kecil hasil kasih cinta mereka. Sesuatu yang menurut alva sangat menakjubkan. Pria itu kembali menarik adelia, membawanya lagi kedalam pelukannya. “Satu lagi, maaf untuk begitu terlambat mengatakannya sayang” lirih alva.
Adelia sedikit menarik tubuhnya demi menatap wajah Alva. Wanita itu menautkan alisnya dengan bola mata yang sedikit melebar “Apaan sih, tidak ada kata terlambat” balas adelia.
Sebelum mengeluarkan suaranya kembali, Alva lebih dulu mengecup dahi adelia, “selamat ulang tahun sayangku”.
Adelia harus kembali membeku di tempatnya. Alva kembali memberinya kejutan.
“Aku benar-benar bukan suami yang baik. Maaf untuk membuatmu terluka di hari ulang tahunmu” tambah alva.
Kepala adelia menggeleng kecil, dia seperti tak menyetujui asumsi itu. Setelahnya, mereka kembali terdiam, dengan mata yang masih saling bertemu. Alva terlihat menarik ujung bibirnya melukis senyum, pria itu mengulurkan tangannya ke depan Adelia.
“Maukah… menggenggam tangan ini dan tidak melepaskannya?”
Adelia menatap lekat kearah tangan yang alva ulurkan, perasaan wanita itu tak tergambarkan. Dengan di ikutin senyum haru di wajah cantiknya, adelia meraih tangan itu. Menggenggamnya, begitu erat.
Dulu tangan itu terulur untuk pertama kalinya demi menyelamatkan pernikahannya yang akan membuatnya malu. Dan selanjutnya, tangan itu terulur untuk mengajak Adelia berjalan ke depan Altar.
Tangan itu yang membawanya menuju kebahagian yang tidak sempat dia bayangkan. Tangan yang menjadi awal takdir mereka bertemu.
...🏸🏸🏸🏸🏸...