
Adelia bangun lebih pagi dari biasanya, gadis itu sudah mandi dan sekarang sedang bersiap siap. Biasanya adelia menyempatkan diri untuk menatap wajah suaminya sebelum melanjutkan aktifitas, tapi sekarang dia langsung mengabaikan kebiasaan itu, adelia mencoba untuk menjauhi suaminya sekali lagi.
Dia sudah tidak mau melanggar perjanjiannya dengan alva. Jadi dia tidak mau memupuk perasaannya semakin dalam pada alva.
Karena adelia buru buru untuk menyiapkan memasak, dia sampai hanya mengenakan kemeja putih yang menutupi sebagian pahanya, adelia tau itu bukan jam bangun alva, apa lagi pria itu tidak akan pernah tertarik padanya, jadi dia akan bersikap seperti dia biasanya di apartemen miliknya.
Adelia adalah wanita yang cepat beradaptasi, kedatangan Ervan kemarin membuat semua usahanya luntur, sudah berkali kali mencoba tapi dia masih gagal, dan sekarang adelia menyerah. Dia hanya akan menganggap alva sebagai pemilik kontrakkan.
‘Ceklek’ pintu kamar utama terbuka, alva sudah tampak lengkap dengan setelan jas untuk bekerja.
Pria itu terdiam melihat adelia yang berjalan seperti orang yang sangat mengantuk.
“Astaga! Kamu selalu mengejutkanku alva” ujar adelia dingin.
Alva hanya diam melihat adelia yang tampak berbeda dari biasanya.
“Sarapan sudah siap, kalau mau makan, makan saja duluan, aku mau siap siap kerja” ujar adelia lagi dengan dingin.
“Del” panggil alva pelan sambil menatap punggung adelia dengan lekat.
“Hmm?” adelia hanya berhenti tanpa membalikkan badannya untuk menatap alva.
“tidak makan bersama?” tanya alva.
“enggak, aku sudah makan duluan” bohong adelia, padahal tadi dia ingin menyantap sarapan yang sudah dia buat tadi, tapi keburu alva ada, adelia ingin cepat cepat pergi dari sana. Kembali gadis itu bersikap dingin seperti kedua kali alva menciumnya tanpa alasan.
Adelia sudah tidak mau tau lagi, alva itu normal atau tidak, karena dia merasa semua usahanya sia sia.
Alva ingin mengatakan sesuatu tapi melihat sikap adelia pria itu kembali diam, dia memang tidak terlalu pandai dalam berbicara atau membujuk, dia pikir adelia mungkin sedang menstruasi makanya bersikap dingin seperti itu.
“Al, aku pergi” suara adelia tiba terdengar dari kamar utama, baru saja alva mengangkat kepalanya untuk melihat adelia, gadis itu sudah melenggang pergi tanpa menunggu jawaban alva.
‘Deg deg deg’ alva memegang dadanya yang terasa sesak dan sakit.
“ada apa dengan gadis itu” gumam alva tanpa sadar.
...🏒🏒🏒🏒🏒...
“Al! Alva! Alva kita perlu bicara!” teriak Ervan. Pria itu sudah berkali kali memanggil alva, tapi pria it uterus melamun, bahkan sampai tidak fokus dalam bekerja.
“Hmm ada apa?” jawab alva singkat.
“kita perlu bicara serius alva” ulang Ervan sekali lagi.
“ya sudah bicara saja” sekali lagi pria itu bersikap dingin.
“ada apa denganmu? Kau terlihat aneh hari ini” tegur ervan heran.
Alva diam beberapa saat sebelum dia membuka mulutnya untuk berbicara kembali, “Adelia hari ini dingin padaku” gumamnya tiba tiba.
“lalu kenapa? Kau sering bersikap dingin padanya, dan bukankah itu bagus buatmu?! Itu tandanya adelia tidak punya perasaan padamu! Kenapa kau mempermasalahkan sikap adelia yang dingin? Atau kau sudah menyukai gadis itu?!” Sindir Ervan secara tidak langsung.
“tidak! Aku tidak menyukainya” elak alva langsung.
“Benarkah? Kau tidak menyukainya?! Tapi kenapa aku melihat kau seperti menyukai gadis itu!” sindir Ervan lagi.
“Kenapa Alva?! Kau tidak ada larangan untuk mencintai dia! Hanya kau sendiri yang melarang dirimu untuk mencintai gadis lain! Berhenti memikirkan Lana! Aku bahkan ragu kamu benar benar menyukai Lana atau tidak!” bentak Ervan yang mulai geram.
“Aku mencintai Lana! Dia mati karena melindungi ku ervan! Mana berhak aku mencintai wanita lain selain Lana!” balas Alva dengan berteriak juga.
Pria itu akhirnya mengungkapkan alasan dia tidak mau mendekati wanita, dan rela menerima rumor buruk tentangnya, dari pada menikah dengan wanita lain.
“Alva! Kematian Lana sudah lama, dan kau tidak bisa seperti ini terus, kau_”
“Jangan membahas itu Ervan” potong Alva, “Aku mohon jangan membahas hal itu untuk saat ini” tolak alva sekali lagi.
Ervan menatap Alva yang terlihat seperti alva dulu yang belum bertemu adelia, “baiklah aku akan menghentikan itu untuk saat ini, tapi aku tidak akan berhenti selamanya, kedepannya aku akan terus mengungkit itu, karena sebentar lagi Jeremy dan Luna akan kembali ke Indonesia, mereka sudah tau berita tentang pernikahanmu” ujar ervan.
“Aku sudah tau kalau mereka akan kembali cepat atau lambat” kata alva tenang.
“lalu, apa yang akan kau lakukan? Ingat alva, perjanjiannya kau tidak boleh memberi tahu siapapun tentang pernikahan kontrak yang kau jalani, kau juga tidak boleh mengatakan jika kau tidak mencintai adelia dan hanya mencintai Lana, ingat perjanjianmu Alva” tegur Ervan.
“aku tidak akan melakukannya, aku sudah siap menerima amukan Jeremy, aku sudah siap bahkan sebelum perjanjian kontrak itu dibuat, aku siap menerima semua konsekuensinya karena telah mengkhianati adiknya” ujar alva lemah.
Ervan menatap alva sendu, pria itu terlalu keras kepala dan tidak mau mengakui bahwa perasaannya sudah berpindah dari Lana menjadi adelia.
“baiklah kalau kau sudah tau, aku tidak bisa melakukan apapun lagi padamu” ujar Ervan pasrah dan meninggalkan alva sendirian di ruang kerjanya. “oh iya alva” ervan berhenti dan menatap alva yang sedang memejamkan matanya.
“Apa?” tanya alva.
“kata nara, kalau adelia memutuskan untuk keluar sendirian, atau gadis itu memutuskan untuk pergi berarti dia sedang marah dan benci pada sesuatu, kalau kau membiarkan dia pergi, maka adelia akan menyerah dengan masalahnya” peringat ervan.
“untuk apa kau memberi tahuku itu?” gumam alva.
“kau bilang tadi adelia bersikap dingin padamu bukan? Itu adalah tanda adelia akan menjadi orang asing dalam hidupmu, dan jika dia memutuskan untuk pergi, kau tidak akan bisa mendapati adelia yang seperti biasanya lagi, dia akan benar benar berubah seperti orang asing” peringat Ervan.
...🏸🏸🏸🏸🏸...
Adelia menatap jam yang sudah menunjukkan pukul 8 malam, tidak biasanya pria itu pulang lebih malam.
‘apa karena aku bersikap dingin pada alva tadi pagi?’ pikir adelia.
“ahhh, sepertinya aku harus memberitahu alva melalui pesan saja” gumam adelia pelan, dia kembali mengemas baju bajunya ke dalam koper. Setelah itu adelia Bersiap untuk pergi keluar.
‘Ceklek’ pintu terbuka, adelia dan Alva saling tatap dan sama sama terdiam.
“mau kemana dengan koper itu?” tanya Alva sedikit marah.
“Pergi_”
“Kau ingat perjanjiannya Adelia! Kita tidak bisa bercerai sebelu dua tahun!” pekik alva marah, ini pertama kalinya pria itu berkata kasar pada adelia.
...🎸🎸🎸🎸🎸...
Bonus Pict