
Rasanya adelia ingin menghilang saat itu juga. Bahkan ia rela jika tubuhnya harus di telan bumi hidup hidup. Dia tidak bisa membalikkan tubuhnya berhadapan dengan alva, wanita itu terlalu malu.
Adelia diam beberapa saat. Suara Alva tidak lagi terdengar, sepertinya pria itu langsung pergi begitu saja setelah mendapatkan jawaban darinya. Adelia menghela, dan menarik nafasnya lega. Ia bahkan memegang dadanya sendiri mencoba menenangkan detakan jantungnya yang bekerja tidak wajar. Tubuhnya kini bahkan tak merasa memiliki tulang lagi, begitu lemas. Hanya karena menghadapi Alva, ‘Apa aku terlalu berlebihan’ gumam adelia dalam hati.
‘Tapi aku rasanya memang malu sekali, Yang benar saja, aku melakukannya tadi malam, untuk pertama kalinya, bersama pria itu, pria tidak normal itu, apa aku bodoh? Wahhh aku benar benar gila sekarang’ gumam adelia sekali lagi dalam hati.
Adelia menggigit bibirnya menahan sesuatu, mengabaikan susu coklatnya begitu saja. Seleranya pada cairan itu menghilang sudah. Ia membalikkan tubuhnya berniat meninggalkan dapur, tapi justru dia menemukan sesuatu yang membuat jantungnya hampir copot dari tempatnya saat itu juga.
‘Deg deg deg’
Adelia mematung, tidak bisa bergerak karena kenyataannya pun tubuh belakangnya sudah terbentur meja counter dapur, dia sudah terpojok, dan terhimpit antara meja itu dan tubuh alva.
‘Ada apa dengan pria ini? kenapa dia masih di sini dan ada sedekat ini?’ Adelia membatin sambil melotot melihat alva.
“Kedipkan matamu” tegur Alva.
“A-apa?” Adelia berkedip berulang kali, apa tadi itu matanya tak berkedip dalam waktu yang lama. Astaga memalukan sekali. “Apa yang kau lakukan di sini?” gumam adelia lagi.
“Apa? Ini dapurku, aku bebas berkeliaran di manapun yang aku mau” Balas alva datar.
‘Ahh benar itu, tentu saja ini rumanya, aku hanya benalu yang menumpang tinggal dan makan di sini. Pria ini kenapa selalu bisa membuatku kesal dan emosi diwaktu yang bersamaan’ gerutu adelia dalam hatinya.
“mana kopi ku?” tanya alva.
Liatkan, dengan tanpa dosanya Alva menyuruh adelia, seenaknya saja. Apa pria ini masih tidur dan belum juga tersadar mengenai kejadian yang terjadi tadi malam. Kenapa Alva terlihat begitu tennag, bahkan raut wajahnya masih saja seperti itu, datar dan dingin, pria itu memang tidak peka.
Adelia kembali membalikkan tubuhnya membelakangi Alva. Tangannya bergerak membuka salah satu pintu bupet di mana dia menyimpan kopi yang biasanya akan dia buat untuk sang suami. Ia berusaha mengabaikan kehadiran pria itu, yang masih berdiri di sana tanpa suara, di belakang tubuhnya.
Lagi pula Alva tidak berniat beranjak dari sana. Memilih untuk melihat segala gerakan wanita itu saat membuatkan kopi untuk dirinya sendiri.
Haruskah dia menyesali kejadian tadi malam bersama wanita ini. Kejadian yang sebenarnya luar biasa Alva rasakan untuk pertama kalinya selama dia hidup, kejadian yang tidak pernah dia lakukan pada wanita manapun termasuk Lana, bahkan dia tidak pernah mencium lana, seperti dia mencium istrinya.
‘Apa adelia baik baik saja? Apa dia akan semakin membenciku? Ahhh aku bisa gila’ pikir alva.
Dari apa yang Alva lihat, Adelia tidak menunjukkan kebencian. Wanita itu hanya menunjukkan sikap anehnya yang membuat alva bingung harus menghadapi Adelia seperti apa.
Apa mungkin dia hanya perlu bersikap seperti biasanya, bersikap seolah olah tak pernah terjadi apapun, lagi pula semalam dia yakin tidak menerima penolakan dari istrinya itu, saat dirinya hilang kontrol dan berakhir meniduri adelia.
Alva sendiri bahkan tidak mempercayai atas apa yang dia lakukan pada wanita itu semalam, padahal selama ini dia sudah berusaha menahan diri dan tidak hilang kontrol, tapi semalam sebuah naluri telah menuntunnya, dengan sendirinya, tanpa sadar.
“terima kasih” alva menarik cangkir kopi yang di sodorkan adelia dan berlalu begitu saja meninggalkan wanita itu.
.
Meskipun sudah begitu terlambat untuk pergi ke kantor, Alva tetap pergi ke sana meninggalkan Adelia yang memang tidak mau diantarkan ke kantornya, karena wanita itu tiba tiba malas untuk pergi ke butik, akhirnya wanita itu sendirian di apartemen. Tapi rasanya itu jauh lebih baik dari pada dia harus terus berada dalam satu lingkup bersama alva. Selalu memalukan dirinya sendiri akibat adelia yang tidak bisa bersikap wajar di depan pria itu.
“Wahhh ternyata bosan di rumah saja” gumam adelia pelan. Adelia adalah wanita pekerja di mana sangat jarang dia bersantai seperti itu, kalaupun dia bersantai akan ada Alva yang menemani dia. Dan sekarang adelia merasakan jenuh karena tiba tiba tidak jadi ke kantor karena masih merasa sakit pada tubuh bagian bawahnya. Wanita itu melirik keseliling apartemen mewah alva, tidak ada yang bisa dia lakukan, semuanya sudah bersih dan tidak ada yang bisa dia lakukan, apa dia jadi saja pergi ke butik, pikirnya tiba tiba.
‘apa aku memasak lagi?’ pikir adelia tiba tiba. Adelia kemudian menggelengkan kepalanya, hal itu hanya dia lakukan jika alva pulang cepat dan ingin makan di apartemen bersamanya, dan sepertinya hari ini alva akan pulang larut, mengingat kebiasaan pria itu yang suka melarikan diri atas setiap tindakannya.
Adelia sudah sampai di titik kejenuhannya, dia benar benar bosan dan ingin mencari sesuatu yang membuatnya tidak harus menggerutu seharian karena kebosanan. Terlebih otaknya tidak bisa berhenti memikirkan pria itu, kejadian bersama Alva semalam. Kejadian yang membuat Adelia gila karena memikirkan banyak alasan kenapa alva menidurinya. Dia butuh sesuatu yang bisa mengalihkan rasa bosan dan segala pikirannya yang tidak pernah terjawab.
“apa aku pergi ke butik saja ya” gumam adelia lagi, setelah hanya berdiam diri seharian.
‘Yakin tidak pergi ke butik? Aku akan mengantarkanmu’ adelia mengingat ucapan alva tadi pagi sebelum dia berangkat ke kantor, apa jadinya kalau dia malah pergi ke kantor, padahal sudah jelas jelas dia menolak ajakan alva.
“wahhh aku benar benar bisa gila!” teriak adelia kencang. Alva sudah membuat adelia mulai berubah, dari wanita yang cerewet menjadi pendiam. Adelia tiba tiba duduk tegak saat otaknya memikirkan sebuah ide baru, “apa aku telepon Nara untuk ke sini?” gumam adelia dengan senyum yang sudah merekah di bibirnya.
Adelia tersenyum puas dengan ide yang baru saja muncul di dalam otaknya, dia dengan cepat mengirim pesan pada Nara untuk datang ke apartemen secepatnya.
Seingat Adelia, alva membolehkan adelia memanggil temannya asal jangan membawa pria ke dalam apartemen itu, entah kenapa Alva terus memperingatkan dia untuk tidak membawa pria ke dalam apartemen itu.
‘ting’
📩‘Baiklah aku akan segera ke sana, tapi setelah aku menyelesaikan pekerjaanku’ balas Nara.
Senyum Adelia mengembang cantik, setelah mendapatkan balasan pesan dari Nara.
📩‘Oke aku tunggu, sekalian bawakan makanan dan bir ya’ adelia kembali mengirim pesan sambil terkikik geli.
📩‘Tidak mau, aku takut pada suamimu, jangan bilang kau sudah mulai kecanduan alcohol del’ balas Nara.
📩‘kalau bisa bawakan kalau tidak ya sudah tidak apa’ balas adelia lagi.
...🎸🎸🎸🎸🎸...