
Dari portal besar berwarna merah itu, keluar lah monster yang besarnya 5 kali lipat lebih besar dari ukuran manusia.
Dia cukup besar, dan monster itu mirip dengan dewa kematian dari mitologi mesir yang tidak lain adalah Anubis.
Dia benar-benar sangat mirip dengan anubis, dia datang sambil mengeluarkan aura kewibawaan nya.
Atmosfer di sekitaran sana pun berubah drastis jadi lebih mencengkam.
Mereka pun panik kecuali, Zear, Jane, Leonard, Silvi.
Zear di sini menyuruh mereka untuk tenang terlebih dahulu dan untuk tidak bertindak gegabah.
Mereka semua pun menganggukan kepalanya, namun mereka tidak berani berbicara.
Jane masih belum mencabut ancaman nya.
Wajar saja jika mereka semua sekarang panik, karena bisa di bilang monster yang ada di depan mereka tingkatnya sudah berada di level SSS.
Atau bisa jadi tingkat misterius, dan bagi mereka ini adalah pertama kalinya melihat monster dengan tingkat menyeramkan seperti itu.
"Siapa kalian dan ada urusan apa kalian datang kemari?" Tanya Anubis.
Zear, Jane, Leonard, Silvi sudah mengetahui bahwa monster yang ada di depan mereka bukanlah sembarang monster.
Sedangkan yang lain nya mereka cukup terkejut, karena mereka baru pertama kali mendengar para monster berbicara menggunakan bahasa manusia.
"Anubis sang dewa kematian, kami kemari hanya ingin memasuki portal tempat mu berada." Ucap Zear.
"Kami ingin mengunjungi teman kami yang terjebak di dalam sana." Ucap Zear.
Zear berbicara dengan sopan, karena Zear tau bisa jadi monster anubis ini bukanlah monster jahat.
Bisa jadi monster anubis ini hanyalah monster biasa yang tidak ingin ikut dalam perang manusia dan monster.
"Apa kau sudah gila wahai manusia?" Tanya Anubis.
"Apa kau sudah tau tempat apa yang kalian akan masuki nanti nya?"
"Tentu saja alam monster bukan?" Ucap Zear sambil tersenyum.
"Kau benar, ntah kenapa aku merasa kau bukan orang biasa." Ucap Anubis.
"Kalian akan kuberikan izin untuk masuk tapi dengan syarat, berikan sesuatu yang menarik untuk ku sebagai imbalan, karena kalian telah memakai portal buatan ku."
"Kalian seharusnya sudah tau bukan, ini adalah jalan tercepat menuju alam monster, di bandingkan dengan gurun itu." Ucap Anubis.
"Bagaimana jika ini?" Tanya Zear sambil memberikan sebuah batu permata yang bersinar sangat terang berwarna merah.
Batu permata itu merupakan batu permata yang Zear dapat dari tower kematian.
Melihat itu sang Anubis menelan ludahnya sendiri.
"Apa kau yakin akan memberikan permata dewa itu untuk ku? Bukan kah kau terlalu baik manusia?" Tanya Anubis.
"Ini tidak seberapa dengan jalan pintas yang kau berikan." Zear sambil tersenyum kepada Anubis.
"Hhahah dewa kematian ini sangat menyanjung mu siapa nama mu?" Tanya Anubis.
"Zear."
"Nama yang bagus, namaku adalah Orcas, ingat itu namaku mungkin saja akan berguna suatu saat nanti, dan nanti mungkin saja aku akan membalas kebaikan mu ini." Ucap Anubis yang bernama Orcas.
"Ya terima kasih sebelum nya, senang bertemu dengan mu Orcas."
Dan kami pun masuk portal itu tanpa halangan.
"Apa ini kekuatan dari sang pemimpin iblis Zear?"
"Dia benar-benar sangat menakutkan, bahkan sekelas monster tingkat SSS saja sangat menghormati nya."
"SI BAJINGAN BUSUK BAWAHAN KU SETELAH INI LIHAT SAJA, GARA-GARA MEREKA NYAWA KU HAMPIR HILANG."
"AKU MENYESAL MEMBAWA MEREKA, AKU PIKIR MEREKA AKAN SOPAN KEPADA TUAN ZEAR TERNYATA TIDAK AKU BENAR-BENAR KESAL."
"TAPI INGAT AKU TIDAK BOLEH BERBICARA WALAUPUN AKU SEDANG KESAL, ISTRINYA ZEAR NYONYA JANE. Pasti akan langsung membunuh ku di tempat jika aku berbicara."
Itulah kata hati mereka semua yang sedang di buat terkejut oleh Zear.
Apalagi orang yang telah bergosip tidak-tidak tentang Zear dan Jane, mereka sekarang sedang di landa ketakutan.
Sekarang kami berada di tempat misterius yang sangat gelap, namun masih ada cahaya dikit.
Di sini terdapat banyak bangkai monster dan tanah disini merupakan tanah keras yang mati, sejauh mata memandang kami hanya melihat pohon mati dan air beracun.
Pemandangan disini benar-benar sangat menyeramkan.
"Zear apa kau benar-benar manusia." Ucap Leonard.
"Iya ayah aku manusia memang nya kenapa?" Tanya Zear.
"Ya kau tau bagi kami para manusia kau adalah eksitensi yang tidak normal sama sekali, padahal kau sama seperti kami." Ucap Leonard.
"Hhahaha ayah ini bicara apa hahah tumben sekali ayah berkata seperti itu, apa ayah mengakui kekalahan?" Tanya Zear yang sedikit mengejek ayahnya itu.
"TENTU SAJA TIDAK PERTARUNGAN KITA MASIHLAH SERI INGAT."
"Iya iya hahaha."
"Zear anakku apa Reza dan yang lain nya ada di sini?" Tanya Silvi.
"Iya mereka ada di sekitaran sini dan sedang melawan para monster aku yakin itu." Ucap Zear.
"Jika Zear berkata seperti itu maka tidak di ragukan lagi ayah ibu."
"Iya kami mengetahuinya Jane anakku." ucap Leonard.
"Ayah, ibu, Jane kita akan bertarung serius, monster kali ini berbeda dengan monster yang pernah kalian jumpai, monster di sini benar-benar sangat kuat." Ucap Zear.
Yang membuat mereka semua terkejut dan memasang wajah serius.
"Sayang akhir-akhir ini portal bertambah kuat apa ini semua ada hubungan nya dengan para primordial demon?" Tanya Jane.
"Ya kamu benar seharusnya seperti itu, tapi aku tidak tau jika ada campur tangan lain nya." Ucap Zear.
"Dunia portal benar-benar sangat misterius Jane, sangat sulit untuk di ketahui sumber nya." Ucap Zear.
"Bahkan aku saja yang sudah hidup ratusan tahun lamanya, belum menemukan penyebab para monster menyerang berbagai dunia, dunia masa laluku dan BUMI." Batin Zear.
Zear pun disini memimpin perjalanan, karena dialah satu-satunya orang yang mengetahui dimana keberadaan Reza dan yang lain nya.
Zear dan yang lain nya di sini bergerak dengan cepat mereka semua menggunakan pasukan bayangan Zear, Zear baru mengingat bahwa dia punya pasukan bayangan yang bisa di gunakan sebagai kendaraan.
Mereka semua pun sekarang hampir sampai ke tempat Reza dan yang lain nya, mereka semua bergerak dengan cepat itu semua karena.
Hawa keberadaan Reza dan yang lain nya semakin menipis, itu artinya mereka semua mulai kelelahan.
"Sayang sudah sampai?" Tanya Jane.
"Di depan." Ucap Zear.
Sambil mengeluarkan pasukan bayangan berupa burung phoenix es.
Zear mengeluarkan 4, itu untuk kendaraan Leonard, Silvi, Jane, dan Zear.
Mereka berempat pun menaiki Phoenix es yang besar agar mereka lebih sampai duluan dari pada yang lain nya.
Mereka pun meninggalkan rombongan.
Dan akhirnya rombongan itu bisa membuka mulut mereka, mereka bernafas dengan sangat lega.
Para pemimpin pasukan, mereka memarahi orang yang telah berbicara tidak-tidak.
Bahkan saking kesalnya mereka, mereka hampir membunuh bawahan yang telah berbicara tidak-tidak tentang Jane, dan juga Zear.
Mereka tak jadi membunuh orang yang menghina Zear dan Jane, itu semua karena keadaan nya sedang genting.
Takutnya jika mereka bertindak gegabah, Zear akan menghabisi mereka.